Posts Tagged ‘Javier Bardem’

the-counselor-header

Setelah sebelumnya bekerjasama lewat Prometheus (2012), Michael Fassbender kini kembali berada di bawah arahan Ridley Scott untuk film terbaru yang diarahkannya, The Counselor. Dalam film ini, Fassbender berperan sebagai seorang pengacara tampan dan sukses yang dalam kesehariannya dipanggil dengan sebutan sang konselor – dan nama karakternya sama sekali tidak pernah diungkap hingga akhir film. Atas saran sahabatnya, seorang pengusaha – sekaligus pengedar obat-obatan terlarang, Reiner (Javier Bardem), yang selalu menilai bahwa sang konselor kurang mampu mengembangkan harta dan posisi yang dimilikinya saat ini, sang konselor lalu memutuskan untuk turut terlibat dalam perdagangan obat-obatan terlarang yang menjanjikan keuntungan sangat besar.  Meskipun menguntungkan, rekan bisnis sang konselor, Westray (Brad Pitt), mengingatkan bahwa bisnis haram tersebut sangat beresiko tinggi mengingat sang konselor akan berhubungan langsung dengan kartel obat-obatan terlarang asal Meksiko yang dikenal tidak ragu untuk mengambil tindakan kekerasan jika mereka merasa dirinya terancam. Tetap saja, sang konselor memilih untuk terjun dan terlibat dalam bisnis perdagangan gelap tersebut.

(more…)

Casino Royale (2006) memang menandai sebuah era baru dalam perjalanan franchise film James Bond yang kini telah berusia 50 tahun tersebut. Tidak hanya film tersebut telah memperkenalkan Daniel Craig sebagai sesosok James Bond dengan imej yang jauh lebih gelap dan serius, namun Casino Royale juga berhasil membuktikan bahwa sebuah seri James Bond mampu tampil dengan kualitas jalan cerita yang lebih dari sekedar film yang hanya mampu menawarkan deretan adegan aksi dan wanita cantik belaka – sebuah pernyataan yang kemudian membuat Quantum of Solace (2008) yang lebih berorientasi pada adegan aksi dinilai sebagai sebuah kemunduran bagi banyak kritikus film dunia. Tidak hanya membutuhkan sesosok aktor yang berkharisma tinggi dalam memerankan karakter agen rahasia ikonik tersebut, seri James Bond jelas juga membutuhkan kehadiran seorang sutradara yang benar-benar tahu mengenai berbagai seluk-beluk penceritaan seri tersebut yang sesungguhnya.

(more…)

Sangat mudah untuk menyatakan bahwa Biutiful adalah sebuah lanjutan petualangan sutradara Alejandro González Iñárritu dalam mengeksplorasi cerita-cerita yang bertemakan kematian. Seperti halnya Amorres Perros (2000), 21 Grams (2003) dan Babel (2006), Biutiful tampil sama kelamnya – dengan mengetengahkan kisah yang berhubungan dengan kanker, pengkhianatan, eksploitasi pekerja ilegal, obat-obatan terlarang hingga kejahatan domestik. Namun, berbeda dengan tiga film tersebut yang murni akan membawa penontonnya pada rasa depresi akibat kelamnya jalan cerita, Iñárritu menawarkan sebuah sentuhan optimisme di akhir kisah Biutiful. Tetap bernada tragis, namun mampu membawakan pesan kuat bahwa secuil cahaya terang masih akan mampu muncul dari tengah-tengah kekelaman yang mendera.

(more…)

Film arahan sutradara asal Inggris, Tom Hooper, The King’s Speech, memimpin daftar perolehan nominasi pada ajang penghargaan The 83rd Annual Academy Awards, dengan meraih 12 nominasi, termasuk nominasi Best Picture, Best Achievement in Directing untuk Hooper serta nominasi Best Actor in a Leading Role untuk aktor Colin Firth. Kesuksesan The King’s Speech tersebut diikuti oleh True Grit yang meraih 10 nominasi serta The Social Network dan Inception yang sama-sama meraih 8 nominasi. Keempat film tersebut akan bersaing untuk memenangkan kategori Best Picture bersama film Black Swan, The Fighter, The Kids Are All Right, 127 Hours, Toy Story 3 dan Winter’s Bone.

(more…)

Eat Pray Love dibuka dengan adegan dimana Elizabeth Gilbert (Julia Roberts) yang dalam perjalanan tugasnya ke Bali, berjumpa dengan seorang pria tua, Ketut Liyer (Hadi Subiyanto), yang kemudian memberikannya sedikit ramalan mengenai kehidupannya di masa yang akan datang: ia akan memiliki dua pernikahan, kehilangan seluruh uangnya dan untuk kemudian akan kembali ke Bali untuk bertemu kembali dengan pria tua tersebut. Adegan sepanjang 10 menit ini menggambarkan seluruh kejadian yang dialami Elizabeth di sepanjang film Eat Pray Love. Namun, seperti halnya buku memoir yang menjadi asal naskah cerita film ini, Eat Pray Love bukanlah sebuah film yang hanya disaksikan untuk menyimak kisah perjalanan Elizabeth. Eat Pray Love dibuat agar penonton dapat merasakan pengalaman perjalanan yang sama seperti yang dialami Elizabeth.

(more…)