2012 jelas memberikan kesan manis tersendiri bagi industri film Indonesia. Setelah dimulai dengan langkah yang goyah, film-film Indonesia secara perlahan mulai kembali menemui penonton tetapnya. Jika pada tahun lalu tidak ada satupun film Indonesia yang mampu meraih raihan satu juta penonton, maka tahun ini terdapat tiga film Indonesia yang mencapai prestasi tersebut – plus, tiga film tersebut adalah film yang digarap dengan kualitas yang benar-benar memuaskan. Mungkin secara perlahan penonton film Indonesia telah tahu film mana yang layak diberikan apresiasi dan yang mana harusnya dilupakan dan ditinggalkan begitu saja.
Posts Tagged ‘Jakarta Hati’
A Year in Review: Best Indonesian Movies of 2012
Posted: January 6, 2013 in Movies, Personal, Review, Top 10Tags: Ambilkan Bulan, Asian Cinema, Habibie & Ainun, Hello Goodbye, Indonesian Cinema, Jakarta Hati, Kita Versus Korupsi, Lovely Man, Mata Tertutup, Movies, Negeri 5 Menara, Personal, Rayya Cahaya di Atas Cahaya, Review, Test Pack: You're My Baby, Top 10
Review: Jakarta Hati (2012)
Posted: November 11, 2012 in Movies, ReviewTags: Agni Pratistha, Agus Kuncoro, Andhika Pratama, Asian Cinema, Asmirandah, Bastian Bintang Simbolon, Cowboy Junior, Didi Petet, Dion Wiyoko, Dwi Sasono, Framly Nainggolan, Herdin Hidayat, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Jakarta Hati, Movies, Rendy Ahmad, Review, Roy Marten, Salman Aristo, Shahnaz Haque, Slamet Rahardjo, Surya Saputra, Yayu AW Unru
Seperti halnya Jakarta Maghrib (2010) – film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Salman Aristo, Jakarta Hati juga merupakan sebuah film yang terdiri dari beberapa potong kisah dengan menjadikan Jakarta sebagai latar belakang lokasi ceritanya. Terdiri dari enam kisah yang tidak saling berkaitan satu sama lain, Jakarta Hati dibuka dengan kisah berjudul Orang Lain yang menceritakan mengenai kisah pertemuan seorang lelaki yang berusia di pertengahan 30-an (Surya Saputra) dengan seorang gadis muda (Asmirandah) di sebuah pub malam. Keduanya telah menjadi korban pengkhianatan cinta dari pasangannya masing-masing. Bersama, keduanya kemudian menyusuri kelamnya malam di kota Jakarta sambil berusaha menjawab pertanyaan mengapa mereka bisa menjadi korban atas rasa cinta mereka terhadap pasangan masing-masing.












