Bagaimana sesungguhnya rasa cinta itu bermula? Dari ketertarikan pandangan terhadap rupa seseorang? Deretan dialog puitis yang terdengar begitu romantis di telinga? Atau dari kemampuan mulut untuk mengolah dan memadukan kata yang ingin didengarkan oleh seseorang? Bagaimana jika mata, mulut atau telinga tidak lagi dapat berfungsi dengan sempurna untuk menghantarkan berbagai sensasi perasaan tersebut? Apakah manusia tetap mampu merasakan indahnya jatuh cinta? Problematika inilah yang ingin dijabarkan oleh Mouly Surya dalam film terbarunya, What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Di tangan kebanyakan sutradara, premis tersebut mungkin akan berakhir sebagai sebuah kisah romansa yang manis atau menyentuh atau justru melelahkan – seperti kebanyakan kisah romansa yang hadir di industri film Indonesia belakangan ini. Namun Mouly Surya jelas bukanlah “kebanyakan sutradara”. Dengan pendekatan yang berani dan jauh dari kesan biasa – serta akan memberikan banyak ruang kepada setiap penonton untuk menginterpretasikan jalan cerita film ini, Mouly berhasil menyajikan sebuah presentasi yang tidak hanya sekedar manis atau menyentuh, namun juga kembali membuktikan bahwa dirinya adalah seorang sutradara dengan visi dan kemampuan bercerita yang begitu brilian.
Posts Tagged ‘Jajang C Noer’
Review: What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013)
Posted: May 12, 2013 in Movies, ReviewTags: Adella Fauzi, Alya Syahrani, Anggun Priambodo, Angkasa Ramadhan, Anindya Krisna, Asian Cinema, Ayushita Nugraha, Debbie Rivinandya, Don't Talk Love, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Karina Salim, Khiva Iskak, Lupita Jennifer, Mouly Surya, Movies, Nicholas Saputra, Review, Tidak Bicara Cinta, Tutie Kirana, What They Don’t Talk About When They Talk About Love, Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta
Review: Belenggu (2013)
Posted: March 12, 2013 in Movies, ReviewTags: Abimana Arya, Arswendi Nasution, Asian Cinema, Avrilla, Belenggu, Bella Esperance, Davina Veronica, Imelda Therinne, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Laudya Cynthia Bella, Masayu Anastasia, Movies, Review, Teuku Rifnu Wikana, Upi, Verdi Solaiman
Menilai sekilas berdasarkan presentasi cerita dan penampilan visualnya, adalah sangat mudah untuk menduga bahwa Belenggu adalah hasil sebuah petualangan lain dari seorang Joko Anwar dalam melanjutkan kisah-kisah berdarahnya yang sebelumnya disajikan lewat film-film seperti Kala (2007) maupun Pintu Terlarang (2009). Salah! Terlepas dari gaya presentasi yang demikian serupa, Belenggu sendiri merupakan karya perdana Upi (Oh Tidak…!, 2011) dalam menyutradarai sebuah film thriller. Dan harus diakui, Upi memiliki kemampuan yang cukup dalam menghadirkan deretan misteri yang akan terus mampu menarik perhatian setiap penggemar film-film sejenis. Sayangnya, secara perlahan, deretan misteri tersebut menjadi terlalu rumit dan kemudian menyebabkan Upi terlihat terjebak sehingga akhirnya kebingungan untuk memberikan jalan penyelesaiannya.
Review: Gending Sriwijaya (2013)
Posted: January 12, 2013 in Movies, ReviewTags: Agus Kuncoro, Anwar Fuady, Asian Cinema, Early Ashy, Gending Sriwijaya, Goeteng, Hafsary Thanial Dinoto, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Julia Perez, Mathias Muchus, Movies, Oim Ibrahim, Qausar Harta Yudana, Review, Sahrul Gunawan, Slamet Rahardjo, Teuku Rifnu Wikana, Yati Surachman
In case you’ve been living under the rock lately, Hanung Bramantyo telah menguasai layar bioskop Indonesia semenjak bulan Agustus 2012 lalu. Dimulai dengan merilis Perahu Kertas – dan sekuelnya pada bulan Oktober, memproduseri Habibie & Ainun yang dirilis pada awal Desember dan menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang tahun lalu serta bersama Hestu Saputra menyutradarai Cinta Tapi Beda yang dirilis pada akhir Desember dan menjadi perbincangan masyarakat luas akibat tema ceritanya yang dinilai kontroversial hingga saat ini. Tahun 2012 jelas adalah salah satu tahun keemasan Hanung. Di awal tahun 2013 ini, Hanung kembali merilis sebuah film baru, Gending Sriwijaya, yang kali ini berusaha untuk menampilkan kemampuannya dalam menggarap sebuah film kolosal. Akankah film ini mampu mencapai kesuksesan layaknya film-film drama yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo sebelumnya?
Review: Cinta Tapi Beda (2012)
Posted: December 29, 2012 in Movies, ReviewTags: Agni Pratistha, Agus Kuncoro, Aris Gepeng, Asian Cinema, August Melasz, Ayu Dyah Pasha, Choky Sitohang, Cinta Tapi Beda, Hanung Bramantyo, Hestu Saputra, Hudson Prananjaya, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Leroy Osmani, Movies, Nungky Kusumastuti, Rara Nawangsih, Ratu Felisha, Review, Reza Nangin, Sitoresmi Prabuningrat, Suharyoso
Cinta Tapi Beda mengisahkan hubungan percintaan berliku antara dua karakter yang berasal dari latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda, Cahyo (Reza Nangin) dan Diana (Agni Pratistha). Cahyo, yang berasal dari keluarga Muslim yang taat di Yogjakarta, adalah seorang juru masak berbakat yang bekerja di salah satu restoran paling populer di Jakarta. Sementara itu, Diana, yang berasal dari keluarga dengan latar belakang kepercayaan Katolik di Padang, merupakan seorang mahasiswi jurusan tari yang saat ini sedang akan menghadapi ujian akhirnya. Keduanya secara tidak sengaja bertemu di sanggar tari yang dikelola oleh bibi Cahyo, Dyah Murtiwi (Nungky Kusumastuti). Pertemuan tersebut kemudian secara perlahan berlanjut menjadi hubungan percintaan yang akhirnya tidak dapat memisahkan keduanya.
Festival Film Indonesia 2012 Nominations List
Posted: November 27, 2012 in Awards, Festival Film Indonesia, Movies, NewsTags: Movies, Awards, Christine Hakim, Atiqah Hasiholan, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Reza Rahadian, Tio Pakusadewo, Acha Septriasa, Hanung Bramantyo, Wulan Guritno, Donny Damara, Emir Mahira, Lukman Sardi, News, Festival Film Indonesia, Meriam Bellina, Rio Dewanto, Garuda Di Dadaku 2, Kenes Andari, Mata Tertutup, Modus Anomali, Teddy Soeriaatmadja, Lovely Man, Annisa Hertami, Butet Kartaredjasa, Soegija, Fuad Idris, Tanah Surga... Katanya, Herwin Novianto, Perahu Kertas, Dedey Rusma, Erwin Arnada, Rumah di Seribu Ombak, Test Pack: You're My Baby, Rayya Cahaya di Atas Cahaya, M. Syihab Imam Muttaqin, Cita-Citaku Setinggi Tanah, Demi Ucok, Sammaria Simanjuntak, Geraldine Sianturi, Hello Goodbye, Mak Gondut, Langka Receh, Long Imagine, Memburu Harimau, Rahasia, Wan-An, A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman, Bandung Lintas Masa, Bena Eksotika Megalitik, Di Batas Kekuasaan, Wae Rebo Menjaga
So… here we go again. Setelah beberapa waktu yang lalu mengumumkan 15 film yang berhasil lolos dari seleksi awal, Senin (26/11), Festival Film Indonesia 2012 resmi mengumumkan daftar film yang berhasil meraih nominasi di ajang penghargaan film tertinggi bagi kalangan industri film Indonesia tersebut. Dan secara mengejutkan… sebuah film kecil berjudul Demi Ucok mampu mencuri perhatian dan menguasai perolehan nominasi, termasuk meraih nominasi di kategori Film Bioskop Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik serta Penulis Skenario Terbaik. Walau telah dirilis secara terbatas melalui berbagai ajang festival di beberapa daerah di Indonesia selama kurun waktu satu tahun terakhir, Demi Ucok baru akan dirilis secara luas pada bulan Januari 2013 mendatang.
Review: Jakarta Hati (2012)
Posted: November 11, 2012 in Movies, ReviewTags: Agni Pratistha, Agus Kuncoro, Andhika Pratama, Asian Cinema, Asmirandah, Bastian Bintang Simbolon, Cowboy Junior, Didi Petet, Dion Wiyoko, Dwi Sasono, Framly Nainggolan, Herdin Hidayat, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Jakarta Hati, Movies, Rendy Ahmad, Review, Roy Marten, Salman Aristo, Shahnaz Haque, Slamet Rahardjo, Surya Saputra, Yayu AW Unru
Seperti halnya Jakarta Maghrib (2010) – film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Salman Aristo, Jakarta Hati juga merupakan sebuah film yang terdiri dari beberapa potong kisah dengan menjadikan Jakarta sebagai latar belakang lokasi ceritanya. Terdiri dari enam kisah yang tidak saling berkaitan satu sama lain, Jakarta Hati dibuka dengan kisah berjudul Orang Lain yang menceritakan mengenai kisah pertemuan seorang lelaki yang berusia di pertengahan 30-an (Surya Saputra) dengan seorang gadis muda (Asmirandah) di sebuah pub malam. Keduanya telah menjadi korban pengkhianatan cinta dari pasangannya masing-masing. Bersama, keduanya kemudian menyusuri kelamnya malam di kota Jakarta sambil berusaha menjawab pertanyaan mengapa mereka bisa menjadi korban atas rasa cinta mereka terhadap pasangan masing-masing.
Review: Mata Tertutup (2012)
Posted: March 18, 2012 in Movies, ReviewTags: Andryani Isna, Asian Cinema, Dyah Arum, Eka Nusa Pertiwi, Ign Wahono, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Kedung Darma R, Kukuh Riyadi, M Dinu Imansyah, Mata Tertutup, Movies, Nanang Rakhmat Hidayat, Review, Rijal Maj, Taslim Idrus, Tri Sasongko, Yesi Yoane, Yoga Bagus Satatagama
Dirilis dengan publikasi dan promosi yang minimalis, film terbaru karya sutradara Garin Nugroho, Mata Tertutup, ternyata mampu memiliki sudut pandang cerita tentang kondisi struktur sosial dan relijius masyarakat Indonesia lebih maksimal daripada kebanyakan film bertema sama yang beberapa kali dirilis oleh industri film Indonesia akhir-akhir ini. Dengan penyampaian cerita yang lebih dinamis daripada kebanyakan film-film karya Garin Nugroho sebelumnya – walau hal tersebut tidak murni berarti bahwa film ini akan dengan mudah dapat dinikmati oleh penonton dalam skala yang lebih luas – Mata Tertutup berjalan secara perlahan dalam membangun struktur ceritanya. Pun begitu, dengan dukungan tata teknis dan kemampuan akting jajaran pemerannya yang begitu solid, Mata Tertutup akan mampu menarik hati, jiwa dan pemikiran setiap penontonnya secara mendalam kepada tiga alur cerita yang dihadirkan Garin di dalam film ini.
Review: Dilema (2012)
Posted: March 2, 2012 in Movies, ReviewTags: Abimana Arya, Adilla Dimitri, Ario Bayu, Asian Cinema, Baim Wong, Dilema, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Kenes Andari, Lukman Sardi, Movies, Panca Maknum, Pevita Pierce, Rangga Djoned, Ray Sahetapy, Review, Reza Rahadian, Rinaldy Puspoyo, Robby Ertanto Soediskam, Robert Ronny, Roy Marten, Roy Sungkono, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Verdi Solaiman, Winky Wiryawan, Wulan Guritno
Empat orang sutradara muda film Indonesia menulis dan menyutradarai lima film pendek yang mencoba untuk menggambarkan kelamnya sisi-sisi kehidupan di kota Jakarta. Tidak seperti kebanyakan film-film omnibus lain yang akhir-akhir ini banyak diproduksi di Indonesia – yang semoga hanya merupakan menjadi sebuah alternatif bentuk kreativitas lain dari para insan film Indonesia dan bukan karena terlalu malas atau ketidakmampuan untuk memproduksi sebuah film panjang – lima kisah pendek yang dihantarkan dalam Dilema tidak diceritakan secara bergantian. Kelima kisah pendek tersebut berjalan beriringan satu sama lain hingga membentuk satu benang merah yang akhirnya mampu menghubungkan kelima cerita tersebut.
Review: Arisan! 2 (2011)
Posted: December 2, 2011 in Movies, ReviewTags: Adinia Wirasti, Aida Nurmala, Amink, Asian Cinema, Atiqah Hasiholan, Cut Mini, Cynthia Lamusu, Edwan Handoko, Edward Gunawan, Indonesian Cinema, Isabelle Patrice, Iwet Ramadhan, Jajang C Noer, Keiko Marwan, Lily Harahap, Melissa Karim, Movies, Nia Dinata, Pong Hardjatmo, Rachel Maryam, Renny Sutiyoso, Review, Ria Irawan, Rinaldy A. Yunardi, Rio Dewanto, Salmaa, Salwaa, Sapto Soetarjo, Sarah Sechan, Shanty, Shelomita, Stephanie, Surya Saputra, Titi DJ, Tora Sudiro, Wilza Lubis
Di tahun 2003, Nia Dinata berhasil memberikan sebuah asupan tontonan yang sama sekali belum pernah dirasakan para pecinta film Indonesia sebelumnya. Lewat Arisan!, Nia, yang menulis naskah film tersebut bersama Joko Anwar, memberikan sebuah satir jujur mengenai kehidupan kaum kosmopolitan di Indonesia (baca: Jakarta), tentang bagaimana pergaulan mereka, orang-orang di sekitar mereka hingga hitam putih kehidupan yang menyeruak dalam keseharian mereka. Arisan! juga menjadi film pertama yang mendapatkan rekognisi nasional dalam mengangkat kehidupan kaum homoseksual – yang di kala itu jelas merupakan sebuah terobosan yang sangat berani. Hasilnya, Arisan! sukses menjadi sebuah kultur pop dalam dunia hiburan Indonesia, meroketkan nama Tora Sudiro dan berhasil memenangkan kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2004.
Review: Batas (2011)
Posted: May 20, 2011 in Movies, ReviewTags: Alifyandra, Amroso Katamsi, Ardina Rasti, Arifin Putra, Asian Cinema, Batas, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Marcell Domits, Marcella Zalianty, Movies, Norman Akyuwen, Otig Pakis, Piet Pagau, Review, Rudi Soedjarwo, Tetty Liz Indriati
Ketika Jaleswari (Marcella Zalianty) ditugaskan oleh pimpinan perusahaannya (Amroso Katamsi) untuk menyelidiki mengapa kegiatan Corporate Social Responsibility dalam bidang pendidikan perusahaan mereka tidak berjalan dengan lancar pada sebuah perkampungan di wilayah Entikong, Kabupaten Sangau, Kalimantan Barat, Jaleswari tentu saja tidak akan mengharapkan bahwa ia akan tertahan lama di wilayah tersebut. Jaleswari, seorang wanita yang terbiasa hidup dengan gaya hidup modern dan baru saja kehilangan suaminya sekaligus menyadari bahwa ia sedang hamil, hanya ingin agar masalah tersebut cepat selesai. Karenanya, walau sang ibu (Tetty Liz Indriati) dengan tegas meminta agar Jaleswari menolak penugasan tersebut, Jaleswari tetap bersikukuh untuk pergi ke wilayah terpencil itu selama dua minggu. Jauh dari peradaban dan keluarganya di Jakarta, Jaleswari akan segera mengenal sejauh mana batas ketahanan dirinya dalam mengenal dan bertahan dalam sebuah lingkungan baru.




















