Posts Tagged ‘Ira Wibowo’

crazy-love-header

Sukses dengan Tampan Tailor yang dirilis beberapa bulan lalu, sutradara Guntur Soeharjanto kembali bekerjasama dengan duo penulis naskah Cassandra Massardi dan Alim Sudio untuk film terbarunya, Crazy Love. Berbeda dengan Tampan Tailor yang menawarkan kisah drama hubungan ayah dan anak yang menyentuh, Crazy Love adalah sebuah drama romantis yang mencoba untuk menggali hubungan persahabatan dan asmara yang terjalin antara karakter-karakternya yang masih berusia remaja. Terdengar klise? Memang. Dan sayangnya, presentasi klise itulah yang dapat dirasakan disepanjang durasi penceritaan Crazy Love, mulai dari alur cerita, dialog hingga penampilan para jajaran pemerannya – sebuah kualitas yang kemudian membuat Crazy Love terasa berjalan begitu monoton dan bertele-tele dalam menyampaikan jalan ceritanya.

(more…)

get-m4rried-header

Meski tak satupun diantara seri lanjutan Get Married (2007) yang mampu menghadirkan kualitas presentasi cerita maupun guyonan sekuat seri pemulanya, namun harus diakui bahwa seri film tersebut telah mendapatkan sejumlah penggemar loyal dari kalangan penonton film Indonesia. Seri terakhirnya, Get Married 3 (2011) – yang hadir dengan kualitas paling buruk jika dibandingkan dengan dua seri Get Married sebelumnya, bahkan masih mampu meraih kesuksesan dengan perolehan jumlah penonton berada di atas angka 500 ribu. Karenanya, tidak mengherankan jika kemudian Starvision Plus kembali mengumpulkan para jajaran pemeran serta kru produksi seri film ini untuk membuat seri keempat yang diberi judul Get M4rried dan berusaha untuk mengulang kesuksesan tersebut.

(more…)

bangun-lagi-dong-lupus-header

Dengan kisah yang diperkenalkan pertama kali sebagai cerpen sisipan di majalah Hai pada pertengahan tahun 1980an sebelum akhirnya dirilis sebagai sebuah novel dengan judul Tangkaplah Daku Kau Kujitak karangan Hilman Hariwijaya pada tahun 1986, karakter Lupus kemudian tumbuh menjadi salah satu karakter ikonik di kebudayaan pop remaja Indonesia, bersanding dengan karakter-karakter lain seperti Boy dan Olga. Dalam perjalanannya, kisah petualangan Lupus – yang digambarkan sebagai sosok pemuda dengan berbagai tingkah laku yang konyol, tengil, gemar mengkonsumsi permen karet namun tetap merupakan sosok yang taat beragama dan patuh terhadap berbagai aturan sosial – kemudian dilanjutkan dalam deretan seri novel yang masih berlangsung hingga saat ini, lima seri film serta beberapa serial televisi yang tetap mempertahankan popularitas karakter Lupus meskipun telah melampaui beberapa generasi.

(more…)

Membagi sebuah penceritaan film menjadi dua bagian jelas bukanlah sebuah hal yang baru di industri film dunia. Beberapa franchise besar yang mendasarkan kisahnya dari sebuah novel – seperti Harry Potter, The Twilight Saga sampai The Hobbit – telah (atau dalam kasus The Hobbit, akan) melakukannya dengan dasar alasan bahwa agar seluruh detil dan konflik yang ada di dalam jalan cerita dapat ditampilkan dengan baik. Tentu saja, mereka yang skeptis akan berpendapat bahwa keputusan tersebut diambil tidak lebih hanyalah karena alasan komersial belaka – dibuat agar rumah produksi dapat meraih keuntungan dua kali lebih besar dari satu material cerita yang sama. Well… beberapa pendapat skeptis tersebut mungkin saja benar. Namun, bagaimanapun, ketika berada di tangan sutradara yang tepat, sebuah material cerita yang memang sengaja diperpanjang akan setidaknya mampu tetap memberikan kenikmatan tersendiri bagi penonton untuk menyaksikannya.

(more…)

Wajar jika begitu banyak orang memiliki ekspektasi yang tinggi bagi Perahu Kertas. Selain diarahkan oleh Hanung Bramantyo – salah seorang sutradara film Indonesia yang dikenal seringkali mampu memadukan unsur kualitas dengan nilai jual komersial pada setiap karyanya, naskah cerita Perahu Kertas sendiri diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Dewi Lestari yang memiliki tingkat penjualan serta jumlah penggemar yang cukup tinggi. Layaknya setiap film yang naskah ceritanya mengadaptasi sebuah novel, jelas merupakan sebuah tantangan besar bagi Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari untuk menghasilkan sebuah karya adaptasi yang benar-benar mampu menangkap esensi dari isi novel yang telah membuat banyak orang jatuh cinta tersebut. Lalu… apakah mereka dapat melakukannya?

(more…)

Brandal Brandal Ciliwung berkisah mengenai sekelompok anak yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta yang masing-masing berasal dari latar suku dan kebudayaan yang berbeda namun mampu saling bersahabat erat satu sama lain. Terdengar seperti puluhan film anak-anak Indonesia lainnya yang diselipi berbagai pesan moral tentang sikap nasionalisme dan rasa saling menghargai terhadap adanya perbedaan? Benar. Walau diadaptasi dari sebuah novel arahan Achmad MS berjudul sama yang diterbitkan pada tahun 1974, Brandal Brandal Ciliwung nyaris hadir tanpa sebuah adanya perbedaan cerita yang dapat membedakannya dari kebanyakan film-film Indonesia modern yang ditujukan bagi para penonton muda. Konfliknya juga cenderung datar dengan pendeskripsian cerita yang cenderung bertele-tele yang akhirnya membuat durasi film ini melebar menjadi sepanjang 111 menit dengan tanpa kehadiran esensi cerita yang kuat.

(more…)

Disutradarai oleh Robert Ronny, yang sebelumnya menjadi bagian dari film omnibus Dilema yang dirilis beberapa bulan lalu, Hattrick dipasarkan sebagai film pertama di dunia yang mengangkat mengenai olahraga futsal di dalam jalan ceritanya. Tidak seperti film-film bertema olahraga, khususnya sepakbola, yang banyak digarap oleh para sutradara film Indonesia akhir-akhir ini, Hattrick menjauhkan dirinya dari penceritaan drama yang mengharu biru dan lebih berfokus pada tema nasionalisme yang berbalut komedi dan adegan aksi. Sayangnya, usaha untuk menjauhi wilayah drama dan hasrat untuk memadukan berbagai unsur cerita alternatif justru membuat jalan cerita Hattrick sering terasa kurang fokus dengan banyak bagian cerita yang terasa kurang begitu esensial untuk dipaparkan.

(more…)

Setelah beberapa kali mengalami penundaan masa rilis – awalnya akan dirilis di Indonesia pada bulan Maret 2011 sebelum dipindahkan ke bulan Agustus 2011 dan untuk kemudian tayang terlebih dahulu di Filipina dengan judul Jayden’s ChoirSimfoni Luar Biasa akhirnya justru menemui masa rilisnya pada akhir September 2011. Menampilkan akting penyanyi asal Filipina, Christian Bautista, Simfoni Luar Biasa harus diakui bukanlah sebuah film yang mampu menawarkan sesuatu yang baru dalam jalan ceritanya. Berkisah mengenai seorang pemuda yang menemukan jati dirinya dengan menjadi seorang pengajar musik bagi sekelompok anak-anak berkebutuhan khusus, Simfoni Luar Biasa terlihat seperti perpaduan dari film Perancis, The Chorus (2004), dan serial televisi Glee dengan tanpa kehadiran akting meyakinkan para pemerannya, penggarapan maksimal dari para produsernya, lagu-lagu yang memikat serta naskah cerita yang mampu berjalan menarik.

(more…)

Sebenarnya, sangat tidak mengherankan untuk mendengar bahwa Starvision merilis seri ketiga dari franchise Get Married, Get Married 3, pada liburan Lebaran tahun ini. Walaupun seri kedua dalam franchise ini, Get Married 2 (2009), secara jelas menunjukkan adanya sebuah penurunan kualitas yang cukup signifikan, namun Get Married 2 masih mampu tampil sebagai salah satu film dengan raihan jumlah penonton terbanyak pada tahun rilisnya. Jelas merupakan sebuah pertanda bahwa franchise ini masih mampu tampil menarik bagi banyak orang sekaligus memiliki potensi besar untuk kembali menghasilkan keuntungan jika kisahnya dilanjutkan. Dan Get Married 3 pun akhirnya menemui masa rilisnya.

(more…)

Sindiran terhadap budaya, sosial dan politik yang biasa dapat ditemukan di dalam kehidupan Anda selama masih berbangsa, bernegara dan bertanah air Indonesia menjadi topik pembicaraan utama dalam Kentut, sebuah film arahan Aria Kusumadewa yang menjadi karyanya setelah memenangkan status sebagai Sutradara Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2009 lewat film Identitas (2009). Seperti halnya Identitas (2009), ada begitu banyak nada-nada satir yang dapat ditemukan dalam cara penceritaan Aria pada Kentut – yang membuat Aria semakin menjauhi gaya penceritaan simbolis yang dulu sempat melekat pada dirinya lewat dua karya pertamanya, Beth (2002) dan Novel Tanpa Huruf R (2003). Hanya saja, Aria kali ini terlihat lebih santai dalam bercerita. Dengan menggunakan komedi yang mengalir ringan dari deretan dialog yang disampaikan para karakter di film ini, Aria berhasil membuat setiap penonton menertawakan bagaimana kehidupan yang sebenarnya mereka jalani di setiap kesehariannya. Bagian tercerdasnya, tidak seorangpun yang sadar bahwa diri merekalah yang sedang ditertawakan.

(more…)