Posts Tagged ‘Hugo Weaving’

cloud-atlas-header

Diangkat dari novel berjudul sama karya David Mitchell, Cloud Atlas mengisahkan enam cerita yang berjalan pada enam era yang berbeda – tepatnya terjadi sepanjang hampir 500 tahun masa kehidupan karakter-karakternya, dimulai dari tahun 1849 hingga tahun 2321. Terdengar seperti premis film-film yang menawarkan banyak cerita kebanyakan? Mungkin saja. Namun oleh tiga sutradaranya, duo Lana dan Andy Wachowski (trilogi The Matrix, 1999 – 2003) serta Tom Tykwer (The International, 2009), premis tersebut mampu dikembangkan menjadi salah satu presentasi film paling ambisius selama beberapa tahun terakhir: digerakkan dengan gaya penceritaan interwoven, diperankan oleh deretan pengisi departemen akting yang sama serta dihadirkan dengan kualitas tata produksi yang begitu memukau. Dan yang lebih mengagumkan lagi, terlepas dari berbagai tampilan audio visualnya yang megah, Cloud Atlas tetap mampu menghadirkan sentuhan emosional yang kuat dari setiap sisi ceritanya.

(more…)

the-hobbit-header

Hampir satu dekade semenjak Peter Jackson merilis seri terakhir trilogi The Lord of the Rings, The Lord of the Rings: The Return of the King (2003), kini sutradara asal Selandia Baru tersebut bersiap untuk menggelar sebuah trilogi cerita lainnya dengan mengadaptasi novel The Hobbit yang menjadi prekuel dari seri The Lord of the Rings karya J. R. R. Tolkien. Benar… Jackson siap untuk membuat tiga film baru berdasarkan satu novel karya Tolkien. Rasa skeptis jelas akan membayangi banyak penonton atas keputusan Jackson tersebut. Apakah dunia membutuhkan sebuah perjalanan lain ke Middle Earth? Mampukah Jackson mengulangi daya tarik serta kesuksesan kualitas berkelas dari trilogi The Lord of the Rings (2001 – 2003)? Apakah The Hobbit hanyalah sebuah proyek yang bertujuan komersial belaka? Dan sayangnya, dengan apa yang disajikan Jackson pada seri pertama The Hobbit, The Hobbit: An Unexpected Journey, rasa skeptis tersebut sepertinya tidak akan begitu cepat menghilang dari benak banyak orang.

(more…)

Lima tahun kemudian, banyak orang masih merasa penasaran mengapa Happy Feet (2006) mampu merebut Academy Awards di kategori Best Animated Feature dari tangan film-film animasi yang lebih superior seperti Cars (2006) dan Monster House (2006). Film animasi perdana karya sutradara asal Australia, George Miller, tersebut sebenarnya bukanlah sebuah karya yang buruk. Jalan cerita yang berkisah mengenai usaha seekor penguin untuk membuktikan kemampuan dirinya kepada orangtua dan anggota kelompoknya – dan disertai dengan banyak tarian dan nyanyian – mampu dirangkai dengan tampilan visual yang apik. Namun, jika dibandingkan tata visual yang dicapai Disney/Pixar lewat Cars – walaupun dituding memiliki jalan cerita yang tergolong  lemah – serta usaha Sony Pictures untuk menghadirkan sebuah kisah horor yang ternyata mampu bekerja dengan baik pada Monster House, Happy Feet jelas berada pada beberapa tingkatan di bawah dua film animasi kompetitornya tersebut.

(more…)

Tidak ada satu bagianpun dalam kisah Captain America: The First Avenger yang belum pernah Anda saksikan sebelumnya dalam berbagai versi cerita film-film bertemakan superhero lainnya. Anda dapat memandang hal ini sebagai sebuah usaha untuk mempertahankan kisah tradisional komik Captain America yang bertemakan sikap patriotisme sang karakter utama dalam membela negaranya. Namun, pada banyak bagian, Captain America: The First Avenger terasa bagaikan rangkaian kisah kepahlawanan yang cheesy, begitu mudah ditebak dan gagal dalam menghadirkan sebuah kisah petualangan yang mampu untuk tampil menarik dan berbeda jika disandingkan dengan film-film bertema sama yang akhir-akhir ini banyak diproduksi Hollywood.

(more…)

Adalah sebuah pengetahuan umum bagi setiap pecinta film di dunia bahwa Michael Bay adalah seorang sutradara yang sangat handal ketika ia menghantarkan sebuah film yang disertai dengan begitu banyak adegan ledakan yang memerlukan tingkat pengarahan special effect yang tinggi. Namun, merupakan rahasia umum pula bahwa dalam setiap film-film yang diarahkan oleh Bay, tidak seorangpun seharusnya mengharapkan adanya pengembangan karakter yang jelas, kontinuitas jalan cerita yang terjaga maupun aliran emosi yang akan mampu membuat penonton peduli dengan apa yang terjadi pada setiap karakter di film yang mereka tonton. Transformers: Dark of the Moon sepertinya menjadi sebuah pembuktian kembali atas kenyataan tersebut.

(more…)

Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole menandai kali pertama sutradara Zack Snyder (300 (2007), Watchmen (2009)) menangani sebuah film yang bergenre animasi dengan jalan cerita yang ditujukan bagi penonton kalangan keluarga. Hal ini tentu saja adalah merupakan sebuah dunia yang sangat baru bagi Snyder – yang selama ini mengerjakan film-film dengan genre dewasa yang seringkali mengandung unsur kekerasan dan seksual yang tinggi. Walau begitu, melihat apa yang dicapai oleh Snyder lewat Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole – dengan tetap menggunakan beberapa teknik khasnya, seperti gerakan slow motion yang dramatis – terbukti kalau Snyder sangatlah mudah untuk beradaptasi dengan dunia baru tersebut.

(more…)