Disajikan dengan gaya interwoven, dimana setiap cerita dihadirkan dalam satu lini masa yang sama walaupun tidak pernah benar-benar saling bersinggungan antara satu dengan yang lain, Rectoverso mencoba untuk menghadirkan lima buah cerita berbeda dengan satu tema cerita yang sama: cinta yang tak terucap, yang kisahnya diangkat dari novel berjudul sama karya Dewi Lestari (Perahu Kertas, 2012). Rectoverso sendiri digarap oleh lima nama sutradara wanita pemula namun merupakan nama-nama yang cukup popular di kalangan dunia seni peran Indonesia: Olga Lydia, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Happy Salma dan Marcella Zalianty.
Posts Tagged ‘Happy Salma’
Review: Rectoverso (2013)
Posted: February 19, 2013 in Movies, ReviewTags: Acha Septriasa, Amanda Soekasah, Asian Cinema, Asmirandah, Cathy Sharon, Dewi Irawan, Dwi Sasono, Fauzi Baadilla, Hamish Daud, Happy Salma, Indonesian Cinema, Indra Birowo, Lukman Sardi, Marcell Domits, Marcella Zalianty, Movies, Olga Lydia, Priangga Adiyatama, Prisia Nasution, Rachel Maryam, Rangga Djoned, Rectoverso, Review, Sophia Latjuba, Tetty Liz Indriati, Tio Pakusadewo, Widyawati, Yama Carlos
Review: Sang Penari (2011)
Posted: December 8, 2011 in Movies, ReviewTags: Aji Santosa, Arswendi Nasution, Asian Cinema, Dewi Irawan, Happy Salma, Hendro Djarot, Ifa Isfansyah, Indonesian Cinema, Landung Simatupang, Lukman Sardi, Movies, Ni Made Aurel, Oka Antara, Prisia Nasution, Review, Sang Penari, Slamet Rahardjo, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusadewo, Yayu Unru, Zainal Abidin Domba
Dirangkum dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk – Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986) – karya Ahmad Tohari, Sang Penari memfokuskan kisahnya pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk di tahun 1960-an, di masa ketika setiap masyarakat masih memegang teguh aturan dan adat istiadat leluhurnya serta jauh dari modernisasi – termasuk pemahaman agama – kehidupan yang secara perlahan mulai menyentuh wilayah di luar desa tersebut. Salah satu prinsip adat yang masih kokoh dipegang oleh masyarakat Dukuh Paruk adalah budaya ronggeng, sebuah tarian adat yang ditarikan oleh seorang gadis perawan yang terpilih oleh sang leluhur. Layaknya budaya geisha di Jepang, gadis perawan yang terpilih untuk menjadi seorang ronggeng nantinya akan menjual keperawanan mereka pada pria yang mampu memberikan harga yang tinggi. Bukan. Keperawanan tersebut bukan dijual hanya untuk urusan kepuasan seksual belaka. Bercinta dengan gadis yang terpilih sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah bagi masyarakat Dukuh Paruk yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat memberikan sebuah kesejahteraan bagi mereka.
Review: True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (2011)
Posted: July 2, 2011 in Movies, ReviewTags: Alex Komang, Asian Cinema, Cinta Sepanjang Amazon, Dedi Setiadi, Edo Borne, Fanny Fabriana, Fikri Ramadhan, Happy Salma, Indonesian Cinema, Mario Lawalata, Movies, Panca Prakoso, Pierre Gruno, Review, True Love, True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W
Well… sinema Indonesia meraih sebuah titik terendahnya kembali dalam sebuah film yang berjudul True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (Precious: Based on the Novel Push by Sapphire (2009), anyone?). Seseorang yang belum pernah membaca novel yang mendasari naskah cerita film ini dipastikan akan merasa penasaran mengapa sebuah novel yang memiliki jalan cerita berputar-putar dengan deretan karakter yang sangat tidak simpatik mampu meraih gelar sebagai best-selling novel – atau apapun yang dituliskan sang produser True Love pada kredit film ini. Dengan durasi yang mencapai dua jam penuh (!), True Love adalah sebuah film yang dipastikan akan mampu membuat siapapun merasa menyesal telah menghabiskan uang dan waktu mereka untuk sebuah karya yang tidak hanya dapat dikatakan sebagai sebuah karya yang tidak tergarap baik, namun juga karya yang seharusnya belum siap atau tidak pernah dirilis ke publik umum.
Festival Film Indonesia 2010 Winners List
Posted: December 6, 2010 in Awards, Festival Film Indonesia, MoviesTags: 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Awards, Benni Setiawan, Festival Film Indonesia, Happy Salma, I Know What You Did On Facebook, Indonesian Cinema, Laura Basuki, Minggu Pagi di Victoria Park, Movies, Rasyid Karim, Reza Rahadian
Diluar dugaan berbagai pihak, film karya Benni Setiawan, 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta, ternyata berhasil menyingkirkan para pesaingnya, termasuk film arahan Deddy Mizwar yang pada awalnya diperkirakan akan menjadi pemenang besar, Alangkah Lucunya (Negeri Ini), untuk menjadi pemenang utama di ajang Festival Film Indonesia 2010. Kemenangan 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta termasuk dalam memenangkan penghargaan utama, Film Cerita Panjang Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik sekaligus Skenario Cerita Adaptasi Terbaik.
Festival Film Indonesia 2010 Nominations List
Posted: December 3, 2010 in Awards, Festival Film Indonesia, MoviesTags: 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Angga Dwimas Sasongko, Awards, Awi Suryadi, Azrul Dahlan, Benni Setiawan, Cinta 2 Hati Dilema..., Deddy Mizwar, Edo Borne, Ella Hamid, Fanny Fabriana, Festival Film Indonesia, Happy Salma, Hari Untuk Amanda, Henidar Amroe, I Know What You Did On Facebook, Indonesian Cinema, Intan Kiflie, Jaja Miharja, Jajang C Noer, Kimmy Jayanti, Laura Basuki, Lola Amaria, Lukman Sardi, Minggu Pagi di Victoria Park, Movies, Oka Antara, Rasyid Karim, Red CobeX, Reza Rahadian, Tika Bravani, Tio Pakusadewo, Titi Sjuman
Sebenarnya, di tengah persaingan antara banyak film-film berkualitas, adalah sangat wajar bila sebuah film yang dianggap sangat berpotensial untuk memenangkan banyak penghargaan ternyata tidak mendapatkan perhatian sedikitpun. Namun, tentu hal tersebut akan terdengar cukup mengherankan bila hal tersebut datang dari sebuah industri film yang kebanyakan film yang dihasilkannya adalah film-film berkualitas ‘buruk.’ Dan akan lebih sangat mengherankan lagi bila salah satu dari hanya beberapa film terbaik yang dihasilkan pada satu tahun di industri film tersebut malah sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari sebuah penghargaan film terbesar di industri film tersebut.
















