Untuk membuat sebuah film pendek yang efektif serta mampu memaparkan seluruh ide yang dimiliki oleh para pembuatnya secara tepat dan padat dalam waktu yang ringkas jelas memiliki sebuah tingkat kesulitan tersendiri. Film-film omnibus Indonesia yang banyak dirilis pada tahun lalu – dan seringkali dijadikan ajang perkenalan talenta-talenta baru pembuat film Indonesia – sayangnya justru membuktikan kelemahan tersebut: banyak diantara pembuat film pendek tersebut terlalu menggebu-gebu dalam menghasilkan film pendek mereka sehingga akhirnya justru menghantarkan sebuah film yang terasa terlalu banyak mengandung ‘apa yang diinginkan oleh sang pembuat film’ daripada tentang ‘apa yang sebenarnya bisa dihantarkan oleh sang pembuat film.’ Megah dari segi konsep namun sangat lemah dari sisi eksekusi akhirnya.
Posts Tagged ‘Hannah Al Rashid’
Review: 3Sum (2013)
Posted: February 5, 2013 in Movies, ReviewTags: 3Sum, Aline Adita, Andri Cung, Asian Cinema, Dimas Argoebie, Gesatta Stella, Hannah Al Rashid, Indonesian Cinema, Joko Anwar, Movies, Natalius Chendana, Review, William Chandra, Winky Wiryawan, Witra Asliga
Review: Modus Anomali (2012)
Posted: April 28, 2012 in Movies, ReviewTags: Aridh Tritama, Asian Cinema, Gema Vyandra Avanta, Hannah Al Rashid, Indonesian Cinema, Isabelle Patrice, Izzati Amara Isman, Joko Anwar, Jose Gamo, Marsha Timothy, Maxi, Modus Anomali, Movies, Review, Rio Dewanto, Roy Cunong, Sadha Triyudha, Surya Saputra
Anda harus mengakui, sekalipun Anda bukanlah penggemar karya-karyanya, Joko Anwar merupakan salah satu sutradara dengan resume yang paling mengagumkan di industri film Indonesia saat ini. Bukan karena film-filmnya yang seringkali mampu berbicara banyak di berbagai ajang penghargaan film berskala nasional maupun internasional, namun karena Joko, di setiap filmnya, mampu memberikan sebuah inovasi gaya penceritaan yang baru, segar sekaligus mendobrak pakem penceritaan dan tampilan visual tradisional yang banyak digunakan oleh para sutradara film Indonesia lainnya. Tidak heran, walaupun film-filmnya jarang menyentuh kesuksesan komersial yang besar, Joko dan setiap film yang ia hasilkan kemudian berhasil memperoleh pengagum loyal dalam jumlah yang tidak sedikit.
Review: Hafalan Shalat Delisa (2011)
Posted: December 30, 2011 in Movies, ReviewTags: Asian Cinema, Chantiq Schagerl, Fathir Muchtar, Gina Salsabila, Hafalan Shalat Delisa, Hannah Al Rashid, Indonesian Cinema, Joehana Sutisna, Loide Christina Teixeira, Mike Lewis, Movies, Nirina Zubir, Reska Tania Apriadi, Review, Reza Rahadian, Riska Tania Apriadi, Sony Gaokasak, Teuku Umam
Bertepatan dengan peringatan tujuh tahun terjadinya bencana tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 yang lalu, sebuah film drama keluarga berlatar belakang salah satu tragedi alam terbesar yang pernah dialami umat manusia tersebut dirilis di banyak layar bioskop Indonesia. Berjudul Hafalan Shalat Delisa, yang diangkat dari sebuah novel berjudul sama karya Tere Liye, film ini sekaligus menandai kali kedua Sony Gaokasak untuk duduk di kursi penyutradaraan sebuah film layar lebar setelah sebelumnya mengarahkan Tentang Cinta (2007). Berkisah mengenai usaha seorang anak yang selamat dari hantaman tsunami untuk terus melanjutkan kehidupannya, Hafalan Shalat Delisa harus diakui memiliki beberapa momen yang dapat membuat penontonnya terhenyak dan bersimpati atas segala cobaan yang dilalui karakter-karakter yang hadir di dalam jalan cerita film ini. Pun begitu, seringnya naskah cerita Hafalan Shalat Delisa berusaha terlalu keras untuk menjadikan film ini sebagai sebuah tearjerker yang inspiratif membuat banyak adegan di film ini terasa berjalan tidak alami dan kurang mengesankan.














