Posts Tagged ‘Guy Pearce’

Lawless-header

Mempertemukan kembali sutradara asal Australia, John Hillcoat (The Road, 2009), dengan penulis naskah Nick Cave (The Proposition, 2005) serta aktor langganannya, Guy Pearce, Lawless merupakan kisah yang diadaptasi dari novel berjudul The Wettest County in the World yang ditulis oleh Matt Bondurant dan berkisah mengenai kehidupan kakeknya, Jack Bondurant, serta dua kakaknya, Forrest dan Howard Bondurant, yang sempat menjadi pembuat dan penyelundup minuman keras secara ilegal di Amerika Serikat ketika negara tersebut melarang adanya segala bentuk produksi, penjualan serta distribusi minuman beralkohol pada tahun 1920 hingga tahun 1933. Sayangnya, meskipun menawarkan premis cerita dengan kapasitas dunia kejahatan serta kekerasan yang begitu kental, Lawless justru terasa… lifeless akibat pengembangan narasi yang terlalu datar serta penggalian karakter yang begitu dangkal.

(more…)

iron-man-3-header

Sowhat’s next for Marvel Studios after the huge success of that little movie called The Avengers (2012)? It’s the return of the Iron Man, apparently. Dan di bagian ketiga penceritaannya – yang masih dibintangi oleh Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow dan Don Cheadle namun kini disutradarai oleh Shane Black (Kiss Kiss Bang Bang, 2005) yang menggantikan posisi Jon Favreau, Iron Man terkesan menyerap secara seksama pola penceritaan yang diterapkan Joss Whedon dalam The Avengers yakni dengan memasukkan lebih banyak unsur komedi ke dalam jalan penceritaannya. Hasilnya mungkin akan menghasilkan pendapat yang beragam dari banyak penggemar franchise ini. But then again… jelas sama sekali tidak ada salahnya untuk mengambil rute penceritaan yang berbeda ketika Anda sedang menangani sebuah tema yang telah begitu familiar. Khususnya ketika Anda mampu menanganinya dengan baik dan berhasil muncul dengan sebuah presentasi cerita yang benar-benar cerdas dan menghibur.

(more…)

Hollywood sepertinya belum akan berhenti untuk mengeksplorasi mengenai asal usul mengenai darimana kehidupan manusia berasal. Setelah Terrence Malick tahun lalu menyajikan The Tree of Life yang syahdu, kini giliran Ridley Scott yang melakukannya lewat Prometheus. Prometheus merupakan film pertama yang diarahkan oleh Scott setelah merilis Robin Hood pada tahun 2010 lalu sekaligus menandai kembalinya Scott ke genre science fiction setelah dalam dua dekade terakhir terus menerus mengarahkan film-film drama – yang kemudian berhasil memberikannya tiga nominasi Best Director di ajang Academy Awards untuk Thelma and Louise (1991), Gladiator (2000) dan Black Hawk Down (2001).

(more…)

Dengan berbagai penghargaan dan nominasi yang ia raih dari banyak penghargaan film kelas internasional, Guy Pearce tidak dapat disangkal adalah salah satu ekspor akting terbaik dari Australia. Namun, pemilihan Pearce untuk lebih banyak berakting dalam film-film aksi kelas dua cenderung membuat kemampuan akting Pearce dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Padahal, tak peduli bagaimana kualitas cerita film yang ia bintangi, Pearce sepertinya selalu mampu menemukan cara untuk dapat membuat karakter yang ia perankan menjadi cukup berkesan – seperti yang ia lakukan pada peran-perannya di film Don’t Be Afraid of the Dark (2011) dan Seeking Justice (2011). Peforma akting yang sama juga akan ditunjukkan Pearce dalam Lockout, sebuah film aksi arahan James Mather dan Stephen St. Leger yang akan mampu memberikan hiburan yang cukup mumpuni bagi para penggemar film-film aksi terlepas dari kedangkalan jalan ceritanya.

(more…)

Diproduseri oleh Guillermo del Toro, yang bersama Matthew Robbins turut menuliskan naskah cerita film ini berdasarkan film televisi berjudul sama yang sebelumnya pernah ditayangkan di Amerika Serikat pada tahun 1973, Don’t be Afraid of the Dark adalah sebuah film horor yang lebih menggantungkan tingkat intensitas ceritanya pada atmosfer suasana dan gambar yang dihadirkan untuk kemudian memberikan sebuah psychological terror kepada para penontonnya. Sayangnya, Troy Nixey, yang memberikan pengarahan pertamanya di sebuah film layar lebar melalui film ini, bukanlah seorang sutradara yang berbakat untuk menjaga kadar intensitas ketegangan tersebut. Don’t be Afraid of the Dark berhasil menghadirkan sebuah drama keluarga yang dinamis. Namun, sebagai sebuah film horor, Don’t be Afraid of the Dark gagal untuk menghadirkan intensitas menegangkan yang mampu hadir untuk tampil menarik bagi para penggemar film horor.

(more…)

Selama beberapa tahun terakhir, Nicolas Cage, yang merupakan seorang pemenang Academy Awards, sepertinya selalu menyatakan persetujuannya terhadap setiap tawaran peran yang datang kepadanya. Pun begitu, Seeking Justice, yang kali ini menempatkan Cage untuk bermain bersama Guy Pearce dan January Jones, sebenarnya bukanlah sebuah film yang dapat dipandang sebelah mata. Benar, premis balas dendam dan pembuktian akan sebuah kebenaran yang dibawakan kisah film ini merupakan sebuah premis yang sepertinya telah digunakan ribuan kali oleh banyak film Hollywood. Namun dibawah arahan Roger Donaldson, seorang sutradara yang telah memiliki rentangan karir sepanjang lebih dari 30 tahun dan menghasilkan film-film semacam Cocktail (1988), Species (1995), Dante’s Peak (1997) dan The Bank Job (2008), premis familiar tersebut masih mampu dikelola dengan baik menjadi sebuah action thriller yang masih cukup layak untuk dinikmati.

(more…)

Berbeda dengan kebanyakan miniseri yang tayang di jaringan televisi Amerika Serikat, Mildred Pierce memiliki beberapa elemen yang membuatnya menjadi salah satu karya sinematik yang paling layak ditunggu di sepanjang tahun ini. Mengadaptasi kisahnya dari novel berjudul sama (1941) karya James M Cain – yang sebelumnya telah difilmkan oleh Michael Curtiz di tahun 1945 dan memenangkan Joan Crawford satu-satunya Academy Award di sepanjang karirnya – Mildred Pierce merupakan peran pertama yang dilakoni Kate Winslet selepas memenangkan Academy Award untuk perannya di The Reader (2008). Diarahkan oleh Todd Haynes (Far from Heaven, 2002) yang seringkali menyertai setiap filmnya dengan pilihan gambar yang begitu indah, Mildred Pierce memang terasa memiliki jalan cerita yang sedikit repetitif dengan durasinya yang mencapai lima jam itu. Pun begitu, ada begitu banyak hal yang akan memberikan rasa puas bagi mereka yang telah begitu menanti kehadiran miniseri ini.

(more…)