So… here we go again. Setelah beberapa waktu yang lalu mengumumkan 15 film yang berhasil lolos dari seleksi awal, Senin (26/11), Festival Film Indonesia 2012 resmi mengumumkan daftar film yang berhasil meraih nominasi di ajang penghargaan film tertinggi bagi kalangan industri film Indonesia tersebut. Dan secara mengejutkan… sebuah film kecil berjudul Demi Ucok mampu mencuri perhatian dan menguasai perolehan nominasi, termasuk meraih nominasi di kategori Film Bioskop Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik serta Penulis Skenario Terbaik. Walau telah dirilis secara terbatas melalui berbagai ajang festival di beberapa daerah di Indonesia selama kurun waktu satu tahun terakhir, Demi Ucok baru akan dirilis secara luas pada bulan Januari 2013 mendatang.
Posts Tagged ‘Garuda Di Dadaku 2’
Festival Film Indonesia 2012 Nominations List
Posted: November 27, 2012 in Awards, Festival Film Indonesia, Movies, NewsTags: A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman, Acha Septriasa, Annisa Hertami, Atiqah Hasiholan, Awards, Bandung Lintas Masa, Bena Eksotika Megalitik, Butet Kartaredjasa, Christine Hakim, Cita-Citaku Setinggi Tanah, Dedey Rusma, Demi Ucok, Di Batas Kekuasaan, Donny Damara, Emir Mahira, Erwin Arnada, Festival Film Indonesia, Fuad Idris, Garuda Di Dadaku 2, Geraldine Sianturi, Hanung Bramantyo, Hello Goodbye, Herwin Novianto, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Kenes Andari, Langka Receh, Long Imagine, Lovely Man, Lukman Sardi, M. Syihab Imam Muttaqin, Mak Gondut, Mata Tertutup, Memburu Harimau, Meriam Bellina, Modus Anomali, Movies, News, Perahu Kertas, Rahasia, Rayya Cahaya di Atas Cahaya, Reza Rahadian, Rio Dewanto, Rumah di Seribu Ombak, Sammaria Simanjuntak, Soegija, Tanah Surga... Katanya, Teddy Soeriaatmadja, Test Pack: You're My Baby, Tio Pakusadewo, Wae Rebo Menjaga, Wan-An, Wulan Guritno
A Year in Review: Best Indonesian Movies of 2011
Posted: January 8, 2012 in Movies, Personal, Review, Top 10Tags: Asian Cinema, Batas, Catatan Harian Si Boy, Garuda Di Dadaku 2, Indonesian Cinema, Kentut, Khalifah, Laut Bercermin, Movies, Personal, Review, Rindu Purnama, Sang Penari, Tanda Tanya, Tendangan Dari Langit, The Mirror Never Lies, Top 10
Jika Anda sampai detik ini masih mempertanyakan film Indonesia apa yang dapat dianggap sebagai film terbaik di sepanjang tahun 2011 lalu, kemungkinan besar itu terjadi karena Anda sama sekali tidak memperhatikan penuh dengan rilisan-rilisan film Indonesia di sepanjang tahun 2011. Untuk pertama kalinya, dalam waktu yang sekian lama, semua orang sepertinya menempatkan pilihan film Indonesia terbaik mereka pada sebuah film, Sang Penari. Wajar memang, Sang Penari tidak hanya pantas untuk digelari sebagai film terbaik yang dirilis di sepanjang tahun 2011 namun juga film Indonesia terbaik yang dirilis di Indonesia selama dalam jangka waktu beberapa tahun terakhir. Mari berharap Sang Penari akan mampu berbicara lebih banyak ketika film itu nantinya akan dibawa ke berbagai festival film tingkat internasional. Kalaupun tidak, Sang Penari jelas telah ditakdirkan untuk menjadi sebuah film klasik di catatan sejarah panjang perfilman Indonesia.
Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)
Posted: December 17, 2011 in Movies, ReviewTags: Aldo Tansani, Asian Cinema, Dorman Borisman, Emir Mahira, Garuda Di Dadaku 2, Indonesian Cinema, Joshua Pandelaki, Maudy Koesnaedi, Mayo Ramzi Fuhaira, Monica Sayangbati, Movies, Muhammad Ali, Ramzi, Rendi Krisna, Review, Rio Dewanto, Rudi Soedjarwo
Setelah Lima Elang, petualangan Rudi Soedjarwo dalam mengeksplorasi kemampuannya dalam mengarahkan film-film yang temanya sebagian besar ditujukan bagi para penonton muda dan mereka yang menggemari film-film keluarga berlanjut dalam Garuda Di Dadaku 2. Namun, kali ini Rudi harus mengemban beban yang cukup berat dalam mengarahkan sebuah sekuel dari film yang berhasil menjadi salah satu film dengan raihan jumlah penonton terbesar ketika dirilis pada tahun 2009 lalu. Bukan, beban utama Rudi bukan terletak pada cara dirinya untuk mengajak kembali sejumlah besar penonton tersebut untuk kembali menyaksikan sekuel dari Garuda di Dadaku. Rudi kini harus mengambil tampuk kepemimpinan produksi dari tangan seorang Ifa Isfansyah yang telah berhasil meramu naskah karya Salman Aristo yang sebenarnya terasa begitu familiar namun tetap berhasil tampil dengan daya pikat yang penuh. Dan hal itu jelas bukanlah sebuah tugas yang mudah.












