Posts Tagged ‘Ferry Salim’

Street Society (Ewis Pictures, 2014)

Street Society (Ewis Pictures, 2014)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh duo Agasyah Karim dan Khalid Kashogi (Madame X, 2010), Street Society berkisah mengenai perseteruan panjang antara dua orang pembalap mobil jalanan, Rio (Marcel Chandrawinata) dan Nico (Edward Gunawan). Perseteruan itu sendiri pertama kali dimulai ketika Rio yang berasal dari Jakarta berhasil mengalahkan Nico di jalanan kota kelahirannya, Surabaya. Tak ingin menanggung rasa malu akibat kekalahannya tersebut, Nico lantas menantang Rio untuk melakukan tanding ulang. Sayang, dunia balapan tidak lagi menjadi perhatian penuh dalam kehidupan Rio. Semenjak mengenal seorang gadis cantik bernama Karina (Chelsea Elizabeth Islan), pemuda tampan tersebut telah memutuskan untuk meninggalkan dunia balapan mobil ilegal dan berusaha untuk menata kembali kehidupannya sebagai seorang pria yang lebih dewasa.

(more…)

soekarno-header

Setelah menggarap Sang Pencerah (2011) serta membantu proses produksi film Habibie & Ainun (2012), Hanung Bramantyo kembali hadir dengan sebuah film biopik yang bercerita tentang kehidupan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Berbeda dengan sosok Ahmad Dahlan – yang kisahnya dihadirkan dalam Sang Pencerah – atau Habibie yang cenderung memiliki kisah kehidupan yang lebih sederhana, perjalanan hidup Soekarno – baik dari sisi pribadi maupun dari kiprahnya di dunia politik – diwarnai begitu banyak intrik yang jelas membuat kisahnya cukup menarik untuk diangkat sebagai sebuah film layar lebar. Sayangnya, banyaknya intrik dalam kehidupan Soekarno itu pula yang kemudian berhasil menjebak Soekarno. Naskah cerita yang ditulis oleh Hanung bersama dengan Ben Sihombing (Cinta di Saku Celana, 2012) seperti terlalu berusaha untuk merangkum kehidupan Soekarno dalam tempo sesingkat-singkatnya – excuse the pun – sehingga membuat Soekarno seringkali kehilangan fokus penceritaan dan gagal untuk bercerita serta menyentuh subyek penceritaannya dengan lebih mendalam.

(more…)

satu-hati-sejuta-cinta-header

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Sally Anom (Xia Aimei, 2012) berdasarkan lirik lagu Hargai Aku milik kelompok musik asal Palembang, Sumatera Selatan, Armada – yang juga membintangi film ini, Satu Hati Sejuta Cinta memulai jalan ceritanya dengan mengisahkan mengenai usaha seorang pemuda, Aris (Krisshatta Luis), untuk memulai hidupnya di Jakarta. Pertama kali menginjakkan kakinya di wilayah ibukota, Aris memiliki pengharapan yang begitu besar bahwa Jakarta akan mampu memberikannya sebuah pekerjaan sekaligus penghidupan yang layak daripada yang sebelumnya telah ia miliki di kampungnya. Sayang, dengan hanya bermodalkan ijazah pendidikan yang seadanya, secara perlahan, Aris mulai menyadari bahwa kehidupan di Jakarta sama sekali tidak semudah yang ia bayangkan selama ini.

(more…)

tampan-tailor-header

Tampan Tailor bercerita mengenai serangkaian kisah perjuangan seorang pria bernama Topan (Vino G. Bastian) dalam usahanya untuk menghidupi dan membesarkan putera tunggalnya, Bintang (Jefan Nathanio). Perjuangan tersebut dimulai ketika Topan harus kehilangan sang istri yang meninggal dunia akibat penyakit kanker yang ia derita. Tidak berhenti disitu, ia harus kehilangan tempat tinggal sekaligus memaksa Bintang untuk putus sekolah setelah usaha toko jahit yang ia bangun bersama dengan istrinya dahulu – dan dinamakan Tampan Tailor sebagai gabungan nama mereka, Tami dan Topan – harus ditutup karena mengalami kebangkrutan. Walau begitu, keberadaan sang anak membuat Topan sadar bahwa ia tidak dapat menyerah begitu saja.

(more…)

sang-pialang-header

Sang Pialang memulai kisahnya dengan menceritakan persahabatan antara Mahesa (Abimana Arya) dengan Kevin (Christian Sugiono) yang sama-sama bekerja sebagai pialang saham di sebuah perusahaan sekuritas terbesar yang dimiliki oleh ayah Kevin, Rendra (Pierre Gruno). Walaupun bersahabat dekat, namun Mahesa dan Kevin memiliki pola pemikiran yang saling bertolak belakang, khususnya dalam menangani pekerjaan mereka. Mahesa dikenal sebagai sosok konservatif yang selalu berusaha sedapat mungkin untuk mengikuti dan mematuhi setiap prosedur serta peraturan yang ada. Sementara itu, Kevin adalah sosok yang lebih berani dalam melintasi aturan-aturan yang tergaris untuk mencapai keinginannya. Dua pemikiran yang berbeda inilah yang kemudian mulai menimbulkan friksi dalam hubungan persahabatan keduanya.

(more…)

Potong-Bebek-Angsa-header

Tak ingin banyak penonton film Indonesia melupakan begitu saja atas kesan pahit yang ia berikan di awal tahun lewat Xia Aimei, sutradara Alyandra merilis sebuah film baru berjudul Potong Bebek Angsa tepat menjelang penutupan tahun 2012. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Hilman Mutasi (5 cm, 2012) dan Away Martianto (Mudik Lebaran, 2011), Potong Bebek Angsa sendiri adalah sebuah film yang berusaha menggabungkan sisi aksi dan komedi dalam presentasi ceritanya… meskipun, dalam kenyataannya, film ini sangat minim dalam menawarkan deretan adegan yang dapat dikategorikan sebagai adegan aksi… dan sangat, sangat, sangat tidak lucu untuk dikategorikan sebagai sebuah komedi. Bersiaplah untuk sebuah mimpi buruk yang akan mewarnai akhir tahun Anda!

(more…)

Tahun 2012 baru memasuki minggu keduanya namun para penggemar sinema Indonesia sepertinya tidak akan begitu kesusahan untuk menemukan salah satu kandidat film terkuat untuk memenuhi daftar film Indonesia terburuk mereka di akhir tahun nanti. Film tersebut berjudul Xia Aimei, sebuah film yang menjadi debut penyutradaraan bagi seorang sutradara yang bernama Alyandra serta menampilkan penampilan akting perdana dari Franda dan Norman Kamaru – yes, that Norman guy! – serta didukung oleh penampilan akting dari nama-nama seperti Ferry Salim, Olga Lydia, Samuel Rizal dan Shareefa Daanish. Lalu apa yang salah? Hampir semuanya. Pengarahan yang begitu lemah, naskah cerita yang memiliki kecerdasan yang begitu terbatas hingga penampilan akting yang… well… ssangat sukar untuk dikategorikan sebagai akting dari sleuruh jajaran pemerannya.

(more…)

Semesta Mendukung akan memperkenalkan penontonnya pada Arief (Sayev Muhammad Billah), seorang anak cerdas dan berbakat asal Sumenep, Madura yang datang dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Walau memiliki kecerdasan yang berada di atas standar teman-teman sekelasnya, kehidupan Arief jauh dari kesan yang bahagia. Ayahnya, Muslat (Lukman Sardi), bekerja serabutan setelah ladang garam yang ia miliki tidak lagi mampu menghidupi keluarganya. Sementara itu, ibunya, Salmah (Helmalia Putri), telah menghabiskan masa tujuh tahun terakhir bekerja di Singapura. Arief sangat merindukan ibunya… dan ia akan melakukan apa saja untuk dapat mendengar kabar dari sang ibu yang semenjak lama telah tidak pernah lagi mengirimkan kabar kepada dirinya dan sang ayah.

(more…)