Posts Tagged ‘Erly Ashy’

la-tahzan-header

Mungkin dalam rangka menarik minat serta perhatian penonton Indonesia untuk menyaksikan filmnya, produser film Orenji kemudian memutuskan untuk mengganti judul film ini menjadi La Tahzan (Jangan Bersedih), memberikannya poster yang bernuansa Islami sekaligus merilisnya di masa menjelang libur Lebaran – sebuah jangka waktu yang dianggap paling menguntungkan untuk merilis sebuah film bagi industri film Indonesia. Sayangnya, nuansa relijius yang dihadirkan dalam jalan penceritaan La Tahzan (Jangan Bersedih) yang justru kemudian membuat kualitas film ini tersungkur. Jalan cerita yang awalnya bergerak di seputar romansa cinta segitiga antara ketiga karakter utamanya secara menggelikan kemudian berubah arah menjadi konflik kebatinan dan kepercayaan yang dihadirkan dengan begitu dangkal. Hasilnya, La Tahzan (Jangan Bersedih) terlihat hadir sebagai sebuah drama romansa dengan balutan kisah agama yang begitu dipaksakan kehadirannya.

(more…)

cinta-dalam-kardus-header

Setelah Rudi Soedjarwo (Kambing Jantan, 2009) dan Fajar Nugros (Cinta Brontosaurus, 2013), kini giliran Salman Aristo yang mencoba untuk mengeksekusi tatanan kisah komedi yang ditulis oleh Raditya Dika. Berbeda dengan kedua film sebelumnya, Cinta dalam Kardus bukanlah sebuah film yang diadaptasi dari buku karya Raditya Dika – meskipun masih tetap memperbincangkan deretan problematika cinta yang dihadapi oleh sang karakter utamanya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Raditya Dika bersama dengan Salman Aristo – yang sebelumnya juga pernah bekerjasama dalam menuliskan naskah cerita Kambing Jantan, Cinta dalam Kardus berusaha menghadirkan sebuah sajian komedi eksperimental dimana sang karakter utamanya secara konstan berbicara kepada penonton melalui kamera sembari terus menggulirkan kisah-kisahnya. Jelas bukan sebuah penuturan komedi yang biasa untuk penonton Indonesia, namun harus diakui, mampu tergarap baik di tangan Salman Aristo dan Raditya Dika.

(more…)

cinta-dari-wamena-header

Diarahkan oleh Lasja F. Susatyo (Mika, 2013) dengan naskah cerita yang ditulis oleh Sinar Ayu Massie (3 Hari Untuk Selamanya, 2006), Cinta dari Wamena berkisah mengenai persahabatan antara tiga orang remaja, Litius (Maximus Itlay), Tembi (Benyamin Lagowan) dan Martha (Madona Marrey), yang telah terjalin semenjak mereka kecil. Berasal dari sebuah kota kecil di Papua dimana tingkat pendidikan yang dapat dicapai seorang anak hanya terbatas sampai jenjang sekolah menengah pertama, ketiganya memiliki harapan untuk dapat meneruskan pendidikan mereka demi meraih segala mimpi yang telah diidamkan semenjak kecil. Harapan tersebut kemudian membawa mereka ke Wamena, dimana ketiga remaja tersebut dapat mengikuti jenjang pendidikan tingkat sekolah menengah atas secara gratis.

(more…)

Sutradara Rudi Soedjarwo kembali ke ranah drama romansa lewat film terbarunya, Langit ke 7. Film yang naskah ceritanya ditulis oleh Virra Dewi ini mengisahkan mengenai kehidupan seorang model dan bintang iklan terkenal, Dania (Taskya Giantri Namya), yang saat ini sedang berada di atas puncak karirnya – sebuah situasi yang mengharuskannya untuk terbiasa dikejar-kejar oleh para wartawan berita infotainment. Dikejar-kejar oleh awak media sebenarnya bukanlah masalah besar bagi Dania. Namun, ketika ayahnya (Pong Hardjatmo) yang mulai beranjak tua dan sakit-sakitan meminta dirinya untuk berkenalan dengan seorang pria yang akan dijodohkan untuknya, Dania mulai merasa uring-uringan karena jatuh cinta dan menikah jelas bukanlah sesuatu hal yang amat dinantikannya di usianya yang masih muda tersebut.

(more…)

Pasti pernah mendengar ungkapan ‘Jangan pernah menilai satu hal berdasarkan penampilan luarnya’ bukan? Well… seandainya ungkapan yang sama dapat diterapkan pada Misteri Pasar Kaget yang merupakan salah satu film yang memiliki desain poster terburuk yang pernah ada di industri film Indonesia modern. Poster buruk film ini sepertinya mencerminkan apa yang hendak disampaikan oleh para pembuat film ini bahwa… yah… Anda akan menyaksikan sebuah film dengan sebuah cerita yang berisi deretan karakter yang banyak serta saling tumpang tindih namun sama sekali tidak pernah diberi kejelasan mengenai apa sebenarnya kegunaan mereka hadir dalam cerita tersebut. Bersiaplah untuk menyaksikan salah satu film terburuk yang pernah dibuat oleh para pembuat film Indonesia. Sepanjang masa.

(more…)

Istilah film horor mungkin merupakan sebuah istilah yang menakutkan dalam industri film Indonesia. Bukan karena konten atau isi cerita dari banyak film horor asal Indonesia yang begitu mampu untuk menakuti semua penontonnya, namun lebih pada penggambaran mengenai betapa telah menurunnya derajat film-film horor Indonesia akibat serbuan film-film horor kelas murahan yang lebih banyak mengumbar adegan erotis, deretan komedi yang sama sekali tidak bekerja dan tampilan grafis yang menyakitkan mata daripada berusaha untuk menghadirkan sebuah tayangan horor murni yang mampu meningkatkan adrenalin para penontonnya dengan jalan cerita dan tampilan visual yang memang benar-benar mampu memenuhi definisi sebuah film horor berkualitas.

(more…)