Dirilis dengan publikasi dan promosi yang minimalis, film terbaru karya sutradara Garin Nugroho, Mata Tertutup, ternyata mampu memiliki sudut pandang cerita tentang kondisi struktur sosial dan relijius masyarakat Indonesia lebih maksimal daripada kebanyakan film bertema sama yang beberapa kali dirilis oleh industri film Indonesia akhir-akhir ini. Dengan penyampaian cerita yang lebih dinamis daripada kebanyakan film-film karya Garin Nugroho sebelumnya – walau hal tersebut tidak murni berarti bahwa film ini akan dengan mudah dapat dinikmati oleh penonton dalam skala yang lebih luas – Mata Tertutup berjalan secara perlahan dalam membangun struktur ceritanya. Pun begitu, dengan dukungan tata teknis dan kemampuan akting jajaran pemerannya yang begitu solid, Mata Tertutup akan mampu menarik hati, jiwa dan pemikiran setiap penontonnya secara mendalam kepada tiga alur cerita yang dihadirkan Garin di dalam film ini.
Posts Tagged ‘Dyah Arum’
Review: Mata Tertutup (2012)
Posted: March 18, 2012 in Movies, ReviewTags: Andryani Isna, Asian Cinema, Dyah Arum, Eka Nusa Pertiwi, Ign Wahono, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Kedung Darma R, Kukuh Riyadi, M Dinu Imansyah, Mata Tertutup, Movies, Nanang Rakhmat Hidayat, Review, Rijal Maj, Taslim Idrus, Tri Sasongko, Yesi Yoane, Yoga Bagus Satatagama
Review: Cewek Saweran (2011)
Posted: March 8, 2011 in Movies, ReviewTags: Asian Cinema, Cewek Saweran, Djaduk Ferianto, Dyah Arum, Eddie Cahyono, Harry Izwan, Indonesian Cinema, Juwita Bahar, Krisshatta Luis, Landung Simatupang, Marwoto, Movies, Review
Apakah menjual sebuah film dengan jalan cerita yang tidak mengandung konotasi horror dan seks begitu sulit untuk dilakukan di ranah Indonesia? Beberapa fakta dan data mungkin menunjukkan hal tersebut, walaupun masih diperlukan beberapa penelitian lanjutan untuk mendapatkan keabsahan jawaban. Namun, apa yang dilakukan oleh produser film Cewek Saweran kemungkinan besar adalah salah satu jawaban dari pertanyaan tersebut. Film yang berkisah mengenai perjuangan seorang gadis remaja untuk mencapai kesuksesan sebagai seorang penyanyi dangdut – perjuangan yang tanpa mengharuskannya berpakaian minim atau melakukan adegan ranjang – dijual dengan judul Cewek Saweran – yang jelas merupakan sebuah konotasi seks bagi banyak orang – dan sebuah poster yang memperlihatkan seorang wanita dengan pakaian sangat minim. Sebegitu beratnyakah menjual sebuah film ‘normal’ kepada para penonton film Indonesia?













