Lola Amaria sepertinya memiliki rasa ketertarikan yang sangat mendalam untuk mengangkat karakter-karakter yang seringkali terasa terpinggirkan dalam kehidupan keseharian masyarakat. Setelah sebelumnya mengangkat seluk-beluk kehidupan para buruh migran Indonesia di Hong Kong lewat Minggu Pagi di Victoria Park (2010) dan berbagai sisi penceritaan kaum homoseksual lewat omnibus Sanubari Jakarta (2012), film terbaru yang ia produseri, Kisah 3 Titik, berusaha untuk memberikan gambaran mengenai kehidupan para kaum pekerja dan buruh di Indonesia. Sebuah tema penceritaan yang jelas cukup rumit sekaligus sulit untuk dijabarkan secara menyeluruh hanya dalam 104 menit durasi penceritaan, namun Kisah 3 Titik setidaknya mampu menghadirkan sisi nyata kehidupan para buruh yang tidak dapat dipungkiri akan memberikan rasa miris di hati banyak penontonnya.
Posts Tagged ‘Donny Alamsyah’
Review: Kisah 3 Titik (2013)
Posted: May 8, 2013 in Movies, ReviewTags: Arswendi Nasution, Asian Cinema, Bobby Prabowo, Dimas Hary, Donny Alamsyah, Ence Bagus, Gary Iskak, Gessata, Indonesian Cinema, Ingrid Widjanarko, Kisah 3 Titik, Lola Amaria, Lukman Sardi, Maryam Supraba, Miea Kusuma, Movies, Rangga Djoned, Review, Ririn Ekawati
Review: Cita-Citaku Setinggi Tanah (2012)
Posted: October 15, 2012 in MoviesTags: Agus Kuncoro, Asian Cinema, Cita-Citaku Setinggi Tanah, Dewi Wulandari Cahyaningrum, Donny Alamsyah, Eugene Panji, Indonesian Cinema, Iqbal Zuhda Irsyad, Iwuk Tamam, Luh Monika Sokananta, M. Syihab Imam Muttaqin, Movies, Nina Tamam, Review, Rizqullah Maulana Dafa
Masih ingat dengan cita-cita Anda ketika hendak beranjak dewasa dahulu? Berbeda dengan Anda – atau kebanyakan anak-anak lainnya, Agus (M. Syihab Imam Muttaqin), karakter utama dalam film Cita-Citaku Setinggi Tanah yang merupakan seorang pelajar sekolah dasar dari daerah Muntilan, Jawa Tengah, memiliki sebuah cita-cita yang sangat sederhana. Ketika tiga sahabatnya, Jono (Rizqullah Maulana Dafa), Puji (Iqbal Zuhda Irsyad) dan Sri (Dewi Wulandari Cahyaningrum) ingin menjadi seorang tentara, berharap ingin menjadi seseorang yang dapat membahagiakan orang lain dan bermimpi menjadi seorang bintang sinetron, Agus justru bercita-cita ingin makan di restoran Padang – sebuah cita-cita yang jelas kemudian dianggap remeh oleh teman-temannya.
Review: Cinta di Saku Celana (2012)
Posted: June 30, 2012 in Movies, ReviewTags: Agus Kuncoro, Asian Cinema, Baim, Cinta di Saku Celana, Dion Wiyoko, Donny Alamsyah, Eko Kristianto, Endhita, Fajar Nugros, Gading Marten, Imey Liem, Indonesian Cinema, Joanna Alexandra, Kayla Kristianto, Lolita Putri, Lukman Sardi, Luna Maya, Masayu Anastasia, Movies, Pricillia Tanamal, Ramon Y Tungka, Review, Vita Ramona, Yanti Kristianto, Yati Surachman
Berawal dari cerita pendek Cinta di Saku Belakang Celana karya Fajar Nugros yang terdapat dalam buku kumpulan cerita pendeknya yang berjudul I Didn’t Lose My Heart, I Sold it On eBay! (2010), Cinta di Saku Celana kemudian menjadi film kedua Fajar Nugros sebagai seorang sutradara setelah sebelumnya mengarahkan Queen Bee di tahun 2009. Berkisah mengenai perjuangan dan tantangan yang dihadapi oleh seorang pemuda untuk menyampaikan rasa sukanya kepada seorang gadis, cerita pendek karya Fajar Nugros tadi kemudian dikembangkan menjadi sebuah naskah cerita film layar lebar oleh Ben Sihombing (Pengejar Angin, 2011). Sayangnya, ekstensi ide yang dilakukan Ben Sihombing untuk cerita pendek Fajar Nugros tampil begitu lemah sehingga membuat Cinta di Saku Celana berjalan cenderung datar.
Review: The Raid (2012)
Posted: March 26, 2012 in Movies, ReviewTags: Ananda George, Asian Cinema, Donny Alamsyah, Eka Rahmadia, Gareth Huw Evans, Iko Uwais, Indonesian Cinema, Joe Taslim, Movies, Pierre Gruno, R Iman Aji, Ray Sahetapy, Review, Serbuan Maut, Tegar Satria, The Raid, The Raid: Redemption, Verdi Solaiman, Yayan Ruhian
Sutradara asal Wales, Gareth Huw Evans, berhasil menghadirkan sebuah terobosan tersendiri bagi industri film Indonesia ketika ia merilis Merantau di tahun 2009. Tidak hanya berhasil membuktikan bahwa film action – sebuah genre yang sering dianaktirikan dalam industri film Indonesia modern – masih memiliki tempat tersendiri di hati para penonton film Indonesia, Evans juga secara berani mengajukan seni bela diri khas Indonesia, pencak silat, sebagai bagian utama dari penceritaan Merantau. Suatu hal yang bahkan belum berani dieksplorasi secara penuh oleh para pembuat film negeri ini. Hasilnya, meskipun Merantau dipenuhi dengan deretan kekakuan yang muncul di dialog-dialognya serta jalinan kisah yang cenderung klise, film tersebut mampu meraih perhatian yang maksimal di sepanjang masa perilisannya.
Review: Negeri 5 Menara (2012)
Posted: March 9, 2012 in Movies, ReviewTags: Affandi Abdul Rachman, Ahmad Dhahnial, Andhika Pratama, Arifal Faozi, Aris Putra, Ariyo Wahab, Asian Cinema, Billy Sandy, D Syamrizal Ardiwinata, David Chalik, Donny Alamsyah, Ence Bagus, Eriska Rein, Ernest Samudera, Faizal, Gazza Zubizareta, Ghecca Tavvara, Hardy Hartono, Ikang Fawzi, Indonesian Cinema, Inez Tagor, Jiofani Lubis, Khiva Iskak, Lulu Tobing, Mario Irwinsyah, Martesa Sumendra, Meirayni Fauziah, Movies, Negeri 5 Menara, Nur Nevi Awanggi, Nur Salis Alamin, Qhivva Tawwata, Rangga Djoned, Review, Rizki Ramdani, Sakurta Ginting, Tegar Satrya, Udjo Permato
Tidak salah jika Negeri 5 Menara kemudian mendapatkan perbandingan dalam skala berat terhadap film Laskar Pelangi (2008) yang legendaris itu. Sama-sama merupakan film dengan naskah cerita yang mengadaptasi sebuah novel popular, sama-sama mengisahkan mengenai perjuangan beberapa anak dari keluarga dari strata sosial menengah ke bawah yang mencoba untuk mencapai mimpi besar mereka serta, tentunya, sama-sama mengisahkan mengenai persahabatan erat yang kemudian terjalin antara mereka terlepas dari berbagai perbedaan yang terdapat dalam diri masing-masing, Negeri 5 Menara, sayangnya tidak memiliki kedalaman cerita seperti yang dimiliki Laskar Pelangi. Affandi Abdul Rachman (The Perfect House, 2011) kembali membuktikan kehandalannya dalam mengarahkan cerita dan para pengisi departemen akting filmnya. Namun jalan cerita yang minim konflik yang berarti membuat Negeri 5 Menara terasa tidak memiliki esensi cerita yang kuat untuk disampaikan.
Review: Merah Putih III: Hati Merdeka (2011)
Posted: June 11, 2011 in Movies, ReviewTags: Agung Udijana, Arifin Putra, Asian Cinema, Astri Nurdin, Connor Allyn, Darius Sinathrya, Donny Alamsyah, Hati Merdeka, Henky Solaiman, Indonesian Cinema, Lukman Sardi, Merah Putih III: Hati Merdeka, Mike Bell, Movies, Nugie, Rahayu Saraswati, Ranggani Puspandya, Review, T. Rifnu Wikana, Trilogi Merdeka, Yadi Sugandi
Bukan bermaksud untuk merendahkan niat dan hasil yang dicapai oleh para produser Trilogi Merdeka, namun semenjak kisah pertama dari seri tersebut dirilis pada tahun 2009, Merah Putih, dan kemudian dilanjutkan setahun kemudian dengan Darah Garuda, Trilogi Merdeka tidak pernah benar-benar mampu menghantarkan janji-janji para produsernya untuk menyajikan sebuah film epik a la film action Hollywood mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan para penjajahnya. Setelah Merah Putih mendapat begitu banyak kritikan karena kurang menghadirkan unsur aksi di dalam jalan ceritanya, Darah Garuda kemudian menunjukkan beberapa perbaikan. Walau masih diliputi dengan kisah drama yang panjang, Darah Garuda mampu menghadirkan sekelumit adegan aksi dan ledakan yang cukup mumpuni dan telah lama dinanti penonton untuk dihadirkan di trilogi ini.
Review: Merah Putih II: Darah Garuda (2010)
Posted: September 13, 2010 in Movies, ReviewTags: Agastya Kandou, Aldy Zulfikar, Alex Komang, Ario Bayu, Asian Cinema, Astri Nurdin, Atiqah Hasiholan, Conor Allyn, Darius Sinathrya, Donny Alamsyah, Indonesian Cinema, Lukman Sardi, Merah Putih II: Darah Garuda, Movies, Rahayu Saraswati, Review, Rudy Wowor, T. Rifnu Wikana, Yadi Sugandi
Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2009, Merah Putih, yang merupakan bagian pertama dari Trilogi Merdeka, trilogi fiksi kisah perjuangan rakyat Indonesia dalam usahanya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, mendapatkan sambutan yang beragam dari para penonton Indonesia. Namun, secara keseluruhan, banyak penonton yang merasa bahwa Merah Putih terlalu banyak memfokuskan diri pada drama dengan dialog yang terdengar sedikit ‘terlalu resmi’ serta terlalu sedikit memberikan sajian action seperti yang sering dijanjikan para produser film ini ketika masa promosinya.
Review: Minggu Pagi di Victoria Park (2010)
Posted: June 11, 2010 in Movies, ReviewTags: Asian Cinema, Donny Alamsyah, Donny Damara, Imelda Soraya, Indonesian Cinema, Lola Amaria, Minggu Pagi di Victoria Park, Movies, Permata Sari Harahap, Review, Titi Sjuman
Setelah memulai debut penyutradaraannya pada film Betina (2006), butuh waktu dua tahun bagi aktris Lola Amaria untuk menyelesaikan film keduanya. Waktu yang relatif lama tersebut terjadi karena alasan klise, masalah dana. Seperti yang diungkapkan Lola dalam sebuah wawancara, tim produksi Minggu Pagi di Victoria Park sepenuhnya mengandalkan kucuran dana dari pihak independen, dan tanpa adanya sponsor. Walau begitu, jika melihat apa yang ia hasilkan di film ini, rasanya tidak akan ada yang keberatan untuk menunggu dua tahun lagi asalkan Lola mampu menghasilkan karya yang lebih baik atau mampu menyamai apa yang diraihnya disini.



















