Tidak salah jika Negeri 5 Menara kemudian mendapatkan perbandingan dalam skala berat terhadap film Laskar Pelangi (2008) yang legendaris itu. Sama-sama merupakan film dengan naskah cerita yang mengadaptasi sebuah novel popular, sama-sama mengisahkan mengenai perjuangan beberapa anak dari keluarga dari strata sosial menengah ke bawah yang mencoba untuk mencapai mimpi besar mereka serta, tentunya, sama-sama mengisahkan mengenai persahabatan erat yang kemudian terjalin antara mereka terlepas dari berbagai perbedaan yang terdapat dalam diri masing-masing, Negeri 5 Menara, sayangnya tidak memiliki kedalaman cerita seperti yang dimiliki Laskar Pelangi. Affandi Abdul Rachman (The Perfect House, 2011) kembali membuktikan kehandalannya dalam mengarahkan cerita dan para pengisi departemen akting filmnya. Namun jalan cerita yang minim konflik yang berarti membuat Negeri 5 Menara terasa tidak memiliki esensi cerita yang kuat untuk disampaikan.
Posts Tagged ‘David Chalik’
Review: Negeri 5 Menara (2012)
Posted: March 9, 2012 in Movies, ReviewTags: Affandi Abdul Rachman, Ahmad Dhahnial, Andhika Pratama, Arifal Faozi, Aris Putra, Ariyo Wahab, Asian Cinema, Billy Sandy, D Syamrizal Ardiwinata, David Chalik, Donny Alamsyah, Ence Bagus, Eriska Rein, Ernest Samudera, Faizal, Gazza Zubizareta, Ghecca Tavvara, Hardy Hartono, Ikang Fawzi, Indonesian Cinema, Inez Tagor, Jiofani Lubis, Khiva Iskak, Lulu Tobing, Mario Irwinsyah, Martesa Sumendra, Meirayni Fauziah, Movies, Negeri 5 Menara, Nur Nevi Awanggi, Nur Salis Alamin, Qhivva Tawwata, Rangga Djoned, Review, Rizki Ramdani, Sakurta Ginting, Tegar Satrya, Udjo Permato
Review: Lima Elang (2011)
Posted: August 26, 2011 in Movies, ReviewTags: Asian Cinema, Bastian Bintang Simbolon, Christoffer Nelwan, David Chalik, Indonesian Cinema, Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, Junior Liem, Lima Elang, Monica Sayangbati, Movies, Review, Rudi Soedjarwo, Teuku Rizky Muhammad
Mengarahkan sebuah film keluarga bukanlah sebuah hal yang mudah. Secara universal, film-film dari genre ini kebanyakan akan dimanfaatkan sebagai sebuah media untuk menghibur para penonton muda. Ini yang kemudian menyebabkan banyak pembuat film secara mudah menghadirkan jalan cerita dengan tingkat intelejensia yang sepertinya sengaja untuk ‘direndahkan’ ketika mereka memproduksi sebuah film keluarga. Film keluarga yang cerdas jelas merupakan film yang tetap mampu menghibur para penonton muda namun tidak lantas membuat para penonton yang lebih dewasa merasa diasingkan dan seperti terjebak dalam jalan cerita yang kekanak-kanakan (baca: tidak masuk akal). Lalu, bagaimana Rudi Soedjarwo – yang selama ini lebih sering mengarahkan jalan cerita berorientasi remaja dan dewasa – dapat mengarahkan sebuah film keluarga?
Review: ? (Tanda Tanya) (2011)
Posted: April 7, 2011 in Movies, ReviewTags: ?, Agus Kuncoro, Asian Cinema, Baim, David Chalik, Dedi Soetomo, Edmay, Endhita, Glenn Fredly, Hanung Bramantyo, Hengky Solaiman, Indonesian Cinema, Movies, Revalina S Temat, Review, Reza Rahadian, Rio Dewanto, Tanda Tanya
Kemampuan Hanung Bramantyo untuk menyelami masalah spiritual (jika tidak mau disebut agama) dalam setiap filmnya harus diakui telah menempatkan sutradara pemenang Festival Film Indonesia untuk Sutradara Terbaik itu berada di kelasnya sendiri diantara sutradara-sutradara lainnya di kancah perfilman Indonesia. Tidak seperti beberapa sutradara lainnya yang telah mencoba mengolah tema yang sama, dan kebanyakan berakhir dengan sebuah sajian yang begitu terkesan preachy, film-film Hanung menawarkan kedalaman tersendiri mengenai permasalahan spiritual tersebut namun tetap disajikan sebagai sebuah film kontemporer yang ringan dan dramatis yang secara perlahan akan meninggalkan kesan tersendiri mengenai makna spiritualisme kepada para penontonnya tanpa mereka menyadari bahwa mereka telah mendapatkan sebuah cara pandang baru mengenai topik tersebut.














