Posts Tagged ‘Cody Horn’

violet-daisy-header

Usai kesuksesannya dalam menuliskan naskah cerita untuk film Precious: Based on the Novel “Push” by Sapphire (2009) – yang berhasil memberikannya berbagai penghargaan, termasuk sebuah Academy Awards untuk kategori Best Adapted Screenplay – Geoffrey Fletcher melanjutkan karirnya di dunia film dengan Violet & Daisy, sebuah film yang tidak hanya ia tuliskan naskah ceritanya namun juga menandai debut Fletcher sebagai seorang sutradara. Berbeda dari nada penceritaan Precious: Based on the Novel “Push” by Sapphire yang cenderung depresif, Fletcher merancang Violet & Daisy sebagai sebuah drama aksi komedi dengan balutan adegan aksi berdarah yang kemungkinan besar akan mengingatkan banyak orang akan film-film karya Quentin Tarantino. Dan meskipun harus diakui bahwa naskah cerita film ini terasa lemah di beberapa bagiannya, namun Fletcher berhasil menggarap Violet & Daisy menjadi sebuah sajian yang cukup menghibur, khususnya berkat dukungan penampilan solid dari Saoirse Ronan, Alexis Bledel dan James Gandolfini.

(more…)

Magic-Mike-header

Magic Mike, yang merupakan film terbaru karya sutradara pemenang Academy Awards, Steven Soderbergh (Erin Brockovich, 2000), merupakan sebuah film drama yang berkisah mengenai kehidupan para penari telanjang… pria. Terkejut? Tidak perlu. Dalam beberapa tahun terakhir – terlepas dari pernyataannya bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari profesinya sebagai seorang sutradara, Soderbergh terus menerus mengeksplorasi berbagai tema cerita yang harus diakui cukup menantang (baca: aneh). Dan lewat Magic Mike, Soderbergh sekali lagi membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pencerita handal yang mampu menangani berbagai topik penceritaan yang mungkin telah sangat familiar menjadi sebuah presentasi yang sangat berkelas.

(more…)

Film terbaru arahan sutradara David Ayer (Street Kings, 2008), End of Watch, sebenarnya memiliki premis cerita yang sangat sederhana: film ini berkisah mengenai kehidupan dua orang polisi Los Angeles Police Department dalam aktivitas harian maupun kehidupan pribadi mereka. Yang membuat End of Watch tampil berbeda adalah keputusan Ayer untuk menampilkan premis cerita tersebut dengan teknik penceritaan found footage dimana seluruh cerita yang dihadirkan dirangkai dari rentetan gambar yang terekam dalam kamera yang dipegang oleh karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita End of Watch. Keputusan tersebut jelas diambil oleh Ayer untuk menghantarkan sebuah jalan cerita yang dapat terasa lebih nyata. Namun… apakah Ayer benar-benar mampu melakukannya?

(more…)