Posts Tagged ‘Christine Hakim’

Retak Gading (Kakilangit Pictures, 2014)

Retak Gading (Kakilangit Pictures, 2014)

Retak Gading berkisah mengenai perjuangan seorang gadis bernama Gading (Chelsy Liven) dalam menghadapi berbagai permasalahan asmara yang menghampiri kehidupannya. Awalnya, Gading telah menemukan sosok pendamping yang begitu sempurna dalam diri seorang pria tampan dengan kepribadian baik yang bernama Bintang (Detri Warmanto). Sayang, beberapa bulan setelah menjalin hubungan asmara, Bintang secara tiba-tiba memutuskan jalinan kasih mereka tanpa alasan yang jelas. Parahnya, Bintang kemudian menghilang begitu saja dari kehidupan Gading. Jelas saja Gading menderita patah hati yang begitu mendalam. Hanya ibunya (Christine Hakim) seorang yang mampu mendamaikan jiwa Gading di tengah rundungan rasa sakit yang dirasakannya.

(more…)

sang-kiai-header

Rako Prijanto makes a really bold move with Sang Kiai. Sutradara yang sebelumnya lebih banyak mengarahkan film-film drama romansa serta komedi seperti Ungu Violet (2005), Merah Itu Cinta (2007) hingga Perempuan-Perempuan Liar (2011) ini mencoba untuk keluar dari zona nyamannya dengan mengarahkan sebuah film biopik mengenai Hasyim Asy’ari yang merupakan salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan sekaligus pendiri organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Again, it’s a really bold move… dan Rako jelas terlihat memiliki visi yang kuat mengenai jalan cerita yang ingin ia hantarkan. Namun sayangnya, naskah arahan Anggoro Saronto (Malaikat Tanpa Sayap, 2012) justru kurang berhasil untuk tampil kuat dalam bercerita, kehilangan fokus di banyak bagian dan, yang terlebih mengecewakan, menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat mengenalkan dengan lugas sosok besar Hasyim Asy’ari kepada penonton modern.

(more…)

So… here we go again. Setelah beberapa waktu yang lalu mengumumkan 15 film yang berhasil lolos dari seleksi awal, Senin (26/11), Festival Film Indonesia 2012 resmi mengumumkan daftar film yang berhasil meraih nominasi di ajang penghargaan film tertinggi bagi kalangan industri film Indonesia tersebut. Dan secara mengejutkan… sebuah film kecil berjudul Demi Ucok mampu mencuri perhatian dan menguasai perolehan nominasi, termasuk meraih nominasi di kategori Film Bioskop Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik serta Penulis Skenario Terbaik. Walau telah dirilis secara terbatas melalui berbagai ajang festival di beberapa daerah di Indonesia selama kurun waktu satu tahun terakhir, Demi Ucok baru akan dirilis secara luas pada bulan Januari 2013 mendatang.

(more…)

Beberapa saat setelah perilisan Mama Cake, penonton film Indonesia kembali “dianugerahi” dengan dirilisnya sebuah road movie – film yang menitikberatkan kisahnya pada perjalanan yang dilakukan oleh para karakter ceritanya dari satu lokasi ke lokasi lainnya – lain yang berjudul Rayya, Cahaya di Atas Cahaya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Viva Westi, bersama dengan Emha Ainun Najib, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya disusun dengan deretan dialog benuansa puitis yang mungkin akan membuat sebagian penontonnya merasa jenuh. Pun begitu, karakter-karakter kuat yang mengisi jalan cerita film ini berhasil membuat Rayya, Cahaya di Atas Cahaya menjadi sebuah film yang begitu kuat dalam menyampaikan jalan ceritanya.

(more…)

Eat Pray Love dibuka dengan adegan dimana Elizabeth Gilbert (Julia Roberts) yang dalam perjalanan tugasnya ke Bali, berjumpa dengan seorang pria tua, Ketut Liyer (Hadi Subiyanto), yang kemudian memberikannya sedikit ramalan mengenai kehidupannya di masa yang akan datang: ia akan memiliki dua pernikahan, kehilangan seluruh uangnya dan untuk kemudian akan kembali ke Bali untuk bertemu kembali dengan pria tua tersebut. Adegan sepanjang 10 menit ini menggambarkan seluruh kejadian yang dialami Elizabeth di sepanjang film Eat Pray Love. Namun, seperti halnya buku memoir yang menjadi asal naskah cerita film ini, Eat Pray Love bukanlah sebuah film yang hanya disaksikan untuk menyimak kisah perjalanan Elizabeth. Eat Pray Love dibuat agar penonton dapat merasakan pengalaman perjalanan yang sama seperti yang dialami Elizabeth.

(more…)

Jamila dan Sang Presiden adalah sebuah film layar perdana karya sutradara Ratna Sarumpaet, yang mungkin lebih dikenal sebagai seorang sutradara teater serta aktivis perempuan. Naskah cerita film ini sendiri diadaptasi Ratna dari karya teaternya yang berjudul Pelacur dan Sang Presiden, yang sempat meraih banyak pujian sekaligus kritikan dari beberapa pihak di Indonesia selama masa pementasannya.

(more…)