Posts Tagged ‘Chiska Doppert’

3-cewek-petualang-header

Setelah sebelumnya hadir lewat Kerasukan, sutradara Chiska Doppert kembali bekerjasama dengan produser Firman Bintang dan penulis naskah Ratih Kumala untuk film 3 Cewek Petualang yang sekaligus menandai film keempat yang diarahkan oleh Chiska di sepanjang tahun ini. Hasilnya? Well… tentu saja siapapun harusnya tidak berharap banyak untuk mendapatkan kualitas presentasi yang kuat ketika memilih untuk menyaksikan film yang menempatkan nama Chiska Doppert sebagai seorang sutradara maupun Firman Bintang sebagai produsernya. Dan sayangnya, meskipun dengan standar ekspektasi kualitas yang cukup rendah, 3 Cewek Petualang tetap gagal untuk dapat memuaskan penontonnya ketika film ini terlihat kebingungan dalam menetapkan ritme penceritaannya sekaligus hadir dengan kualitas akting yang begitu buruk dari para pengisi departemen aktingnya.

(more…)

kerasukan-header

Meskipun namanya akan selalu dikaitkan dengan film-film yang jalan ceritanya mengandung unsur mistis, Kerasukan sendiri menjadi film horor pertama arahan Chiska Doppert setelah sebelumnya mengarahkan Poconggg Juga Pocong (2011), Bila (2012), Love is Brondong (2012), Enak Sama Enak dan Udin Cari Alamat Palsu (2012). Yep. Chiska Doppert sepertinya telah kembali lagi ke genre film yang telah membesarkan namanya. Tidak berpengaruh banyak sebenarnya. Film-film arahan Chiska, baik yang berasal dari genre drama maupun horor, harus diakui masih belum pernah hadir dalam kualitas presentasi yang benar-benar memuaskan. Dan Kerasukan, sayangnya, juga sama sekali tidak akan mengubah pendapat banyak orang terhadap persepsi yang kurang baik tersebut.

(more…)

Mendengarkan pernyataan “Chiska Doppert merilis sebuah film baru” akhir-akhir ini sepertinya telah menjadi mimpi buruk bagi banyak orang – khususnya kepada mereka yang setia untuk menyaksikan setiap film Indonesia yang dirilis di layar lebar. Bagaimana tidak… selain Poconggg Juga Pocong yang dirilis pada akhir tahun lalu – yang beruntung karena mendapatkan sumber ceritanya dari sebuah novel komedi berjudul sama yang populer dan kemudian mendapatkan penerjemahan naskah cerita yang berimbang – hampir tak satupun film karya Chiska selanjutnya yang dapat dikategorikan sebagai layak tonton. Chiska sepertinya telah bergerak dengan cepat di jalur bebas hambatan untuk mengejar reputasi buruk sang maestro film-film berkualitas dangkal Indonesia modern, Nayato Fio Nuala.

(more…)

Setelah Bukan Pocong Biasa (2011) dan Love is Brondong (2012), produser Firman Bintang kembali bekerjasama dengan sutradara Chiska Doppert dalam Enak Sama Enak, sebuah film komedi dengan kualitas yang hampir dapat diprediksi hanya dengan menilai penampilan poster, jajaran pengisi departemen aktingnya dan… well… nama produser dan sutradara yang bertanggungjawab dalam memproduksi film ini. Dengan mengusung kelompok musik komedi Teamlo sebagai bintang utamanya, Enak Sama Enak sepertinya berusaha untuk membawa kembali penontonnya ke era kejayaan film-film komedi yang dibintangi Warkop DKI. Sayangnya, penggunaan formula komedi Warkop DKI yang tanpa diiringi dengan pengarahan yang tepat dan sentuhan penceritaan yang kuat membuat Enak Sama Enak sama sekali gagal untuk hadir menghibur penontonnya.

(more…)

Kesuksesan besar Poconggg Juga Pocong (2011) ternyata cukup membuka cara pandang Chiska Doppert bahwa ia memiliki ‘kemampuan’ lain di luar ‘kemampuan’ untuk menyutradarai film-film yang bernuansa supranatural maupun… well… film-film yang bernuansa supranatural namun berjalan sembari menawarkan komedi di dalam jalan ceritanya. Setelah merilis drama romansa remaja Bila pada bulan Februari lalu, Chiska kembali bereuni dengan bintang utama Poconggg Juga Pocong, Ajun Perwira, untuk sebuah film komedi remaja berjudul Love is Brondong. Ya… sebagian kualitas penceritaan film ini dapat dinilai dari judulnya. Sebagian penilaian lainnya dapat diambil dari penampilan jajaran pemerannya. Dan sebagian lainnya dari analisa Anda terhadap kualitas penyutradaraan Chiska di film-film sebelumnya. Sebuah susunan kalimat yang terlalu kompleks untuk menyebut Love is Brondong adalah sebuah bencana.

(more…)

Terlepas dari poster filmnya yang harus diakui benar-benar mampu menghantarkan kesan romantisme yang kuat kepada para penonton film ini, jalan cerita yang ditawarkan oleh Bila sama sekali tidak mampu untuk memperkuat kesan tersebut. Bercerita tentang kisah cinta segitiga antara tiga karakter utamanya, dengan memanfaatkan momen tren kisah romansa di balik sebuah kematian yang saat ini sedang begitu dieksploitasi banyak pembuat film Indonesia, Bila adalah rangkaian kisah percintaan remaja yang cheesy, yang mengharapkan para penontonnya untuk dapat merasa tersentuh dengan deretan dialog-dialog yang berkeinginan untuk menjadi romantis – sayangnya gagal – serta karakter-karakter yang sepertinya lebih mudah untuk dibenci daripada disukai akibat dangkalnya karakterisasi yang diberikan pada mereka.

(more…)

Poconggg adalah salah satu fenomena dunia maya yang kemudian berhasil mengembangkan sayap popularitasnya ke dunia nyata. Berawal sebagai sebuah akun Twitter yang memparodikan kehidupan sesosok pocong – sejenis makhluk mistis yang begitu populer untuk dijadikan subjek penceritaan dalam film-film horor Indonesia, kepopuleran sosok Poconggg kemudian membuat sang penciptanya, Arief Muhammad, mendapatkan kesempatan untuk menuangkan segala kisah-kisah komikal sang karakter Poconggg dalam bentuk sebuah buku yang berjudul Poconggg Juga Pocong (2011). Penulisan jalan cerita yang penuh dengan nuansa komedi yang segar, serta penggemar setia yang semenjak lama telah mengikuti akun Twitter Poconggg, berhasil membuat buku Poconggg Juga Pocong menjadi salah satu buku dengan penjualan terlaris dan tercepat di Indonesia. Tidak mengherankan jika beberapa produser film secara sigap kemudian mencoba untuk menterjemahkan kepopuleran karakter Poconggg tersebut ke dalam bentuk sebuah film.

(more…)