Tak ingin banyak penonton film Indonesia melupakan begitu saja atas kesan pahit yang ia berikan di awal tahun lewat Xia Aimei, sutradara Alyandra merilis sebuah film baru berjudul Potong Bebek Angsa tepat menjelang penutupan tahun 2012. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Hilman Mutasi (5 cm, 2012) dan Away Martianto (Mudik Lebaran, 2011), Potong Bebek Angsa sendiri adalah sebuah film yang berusaha menggabungkan sisi aksi dan komedi dalam presentasi ceritanya… meskipun, dalam kenyataannya, film ini sangat minim dalam menawarkan deretan adegan yang dapat dikategorikan sebagai adegan aksi… dan sangat, sangat, sangat tidak lucu untuk dikategorikan sebagai sebuah komedi. Bersiaplah untuk sebuah mimpi buruk yang akan mewarnai akhir tahun Anda!
Posts Tagged ‘Boy William’
Review: Potong Bebek Angsa (2012)
Posted: December 28, 2012 in Movies, ReviewTags: Alyandra, Asian Cinema, Boy William, Dewi Rezer, Ferry Salim, George Rudy, Indonesian Cinema, Max Don, Movies, Oka Sugawa, Olivia Jensen, Olivia Jensen Lubis, Potong Bebek Angsa, Review, Ricky Harun
Review: Fallin’ in Love (2012)
Posted: September 21, 2012 in Movies, ReviewTags: Adly Fairuz, Agesh Palmer, Asian Cinema, Boy William, Fallin' in Love, Findo Purnomo HW, Indonesian Cinema, Jerry Likumahuwa, Mikha Tambayong, Movies, Review, Yati Surachman
Jelas akan ada beberapa kekhawatiran bagi sebagian orang sebelum mereka menyaksikan Fallin’ in Love: film drama romansa ini diarahkan oleh Findo Purnomo HW – yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti Love in Perth (2010), Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010) dan Ayah, Mengapa Aku Berbeda (2011), naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio – yang bertanggungjawab atas keberadaan jalan cerita film Air Terjun Pengantin (2009), Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010) dan Pupus (2011), serta diproduseri oleh Firman Bintang – yang, sejujurnya, sama sekali belum pernah menjadi seorang produser bagi film yang dapat disebut berkualitas. Tiga kombinasi yang berbahaya dan… Anda dapat menebak bagaimana kualitas akhir Fallin’ in Love bahkan semenjak sepuluh menit pertama film ini dimulai.
Review: Radio Galau FM (2012)
Posted: September 17, 2012 in Movies, ReviewTags: Alisia Rininta, Asian Cinema, Boy William, Delly Malik Muharyoso, Dimas Anggara, Franda, Indonesian Cinema, Indri Giana, Iqbal Rais, Joehana Sutisna, Jordi Onsu, Movies, Natasha Rizki, Radio Galau FM, Ramon Y Tungka, Review, Tiara Sumiarto
Karena satu dan lain hal, sebuah film yang berjudul Radio Galau FM sama sekali tidak berkisah maupun menyinggung mengenai kehidupan di dunia radio. Satu-satunya hal yang berkaitan dengan radio di film ini adalah ketika karakter utamanya mendengarkan sebuah program radio yang penyiarnya berusaha untuk mengumpulkan para pendengarnya yang sedang mengalami kegalauan hati. Radio Galau FM justru merupakan sebuah drama komedi romantis yang berorientasi pada kehidupan percintaan di usia remaja yang dialami para karakternya. Menjadi remaja – suatu periode ketika manusia sedang berusaha mencari jati dirinya – memang bukanlah sebuah proses yang mudah untuk dijalani. But seriously… apakah romansa di kalangan remaja modern memang semengerikan apa yang digambarkan di dalam film ini?















