So here we go again… Saatnya untuk memasuki tahun yang baru, berarti saat yang tepat juga untuk sekilas kembali melihat ke belakang beberapa momen paling mengesankan di dunia film. Tentu saja, beberapa momen akan memberikan kesan yang sangat baik dan beberapa momen lainnya… well… justru memberikan mimpi buruk dan membuat beberapa orang tidak ingin mengingat momen-momen buruk tersebut lagi.
Posts Tagged ‘Bidadari-Bidadari Surga’
A Year in Review: Worst Movies of 2012
Posted: January 6, 2013 in Movies, Personal, Review, Top 10Tags: Alex Cross, Asian Cinema, Bidadari-Bidadari Surga, Cinta Suci Zahrana, Dark Tide, Enak Sama Enak, Fallin' in Love, Ghost Rider: Spirit of Vengeance, House at the End of the Street, Indonesian Cinema, LOL, Love is Brondong, Love is U, Misteri Pasar Kaget, Movies, New Year’s Eve, One for the Money, Personal, Potong Bebek Angsa, Review, Stolen, The Man with the Iron Fists, Top 10, Udin Cari Alamat Palsu, Wrath of the Titans, Xia Aimei
Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)
Posted: December 7, 2012 in Movies, ReviewTags: Adam Zidni, Asian Cinema, Astri Nurdin, Bidadari-Bidadari Surga, Billy Boedjanger, Chantiq Schagerl, Eriska Raenisa, Frans Nicholas, Gary Iskak, Henidar Amroe, Indonesian Cinema, Joehana Sutisna, Michael Adam, Mike Lewis, Movies, Nadine Chandrawinata, Nino Fernandez, Nirina Zubir, Piet Pagau, Review, Rizky Hanggono, Rizky Julio, Saddam Basamalah, Sony Gaokasak
Well… seperti yang dikatakan oleh banyak orang: You don’t mess with a winning formula! Karenanya, ketika Hafalan Shalat Delisa yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Tere Liye berhasil menjadi salah satu film Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbesar di sepanjang masa rilisnya pada tahun 2011, tidak mengherankan jika kemudian produser film tersebut mencoba kembali mengulang sukses tersebut dalam rilisan mereka berikutnya. Hasilnya… sebuah film lain yang diadaptasi dari novel Tere Liye – yang kali ini berjudul Bidadari-Bidadari Surga, masih dengan kisah bernuansa reliji, masih dengan kisah yang akan berusaha (baca: memaksa) penontonnya untuk tersentuh dan meneteskan air mata, masih disutradarai oleh Sony Gaokasak, masih menempatkan Nirina Zubir di barisan terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya dan… Mike Lewis yang nanti hadir di pertengahan cerita. Hasilnya? Masih sama seperti Hafalan Shalat Delisa. Namun kali ini hadir dengan perjalanan yang terasa lebih menyakitkan.












