Posts Tagged ‘Arie Dagienkz’

Beberapa saat setelah perilisan Mama Cake, penonton film Indonesia kembali “dianugerahi” dengan dirilisnya sebuah road movie – film yang menitikberatkan kisahnya pada perjalanan yang dilakukan oleh para karakter ceritanya dari satu lokasi ke lokasi lainnya – lain yang berjudul Rayya, Cahaya di Atas Cahaya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Viva Westi, bersama dengan Emha Ainun Najib, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya disusun dengan deretan dialog benuansa puitis yang mungkin akan membuat sebagian penontonnya merasa jenuh. Pun begitu, karakter-karakter kuat yang mengisi jalan cerita film ini berhasil membuat Rayya, Cahaya di Atas Cahaya menjadi sebuah film yang begitu kuat dalam menyampaikan jalan ceritanya.

(more…)

Nama sutradara film Mama Cake, Anggy Umbara, mungkin masih cukup asing ditelinga para penikmat film Indonesia. Di industri hiburan tanah air, nama Anggy memang lebih dikenal sebagai seorang sutradara puluhan video musik sekaligus sebagai salah satu personel kelompok musik Purgatory – kelompok musik beraliran death metal asal Jakarta yang lirik lagunya seringkali membawakan pesan-pesan relijius. Tidak mengherankan jika kemudian Mama Cake – film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Anggy bersama Hilman Mutasi dan Sofyan Jambul – juga memiliki nafas relijius yang kuat di berbagai sudut penceritaannya. Namun untungnya, dengan pengemasan cerita dan visual yang lebih atraktif, Anggy cukup berhasil menghantarkan sebuah film drama komedi bernuansa relijius yang mungkin seharusnya dipelajari Chaerul Umam agar film-filmnya mampu lebih banyak menarik perhatian penonton yang berusia lebih muda.

(more…)

Dengan film-film semacam Otomatis Romantis (2008), Pintu Terlarang (2008) dan Khalifah (2011) berada di dalam daftar filmografinya, tentu banyak yang akan bertanya mengapa Marsha Timothy mau menerima tawaran untuk bermain dalam film yang kualitasnya mungkin telah tercermin dengan jelas dari buruknya pemilihan judul film itu sendiri, Oh Tidak..!. Marsha sendiri tidak bermain buruk. Ia dan aktor yang menjadi lawan mainnya di film ini, Fathir Muchtar, tampil dalam kapasitas yang tidak mengecewakan. Namun, naskah cerita yang benar-benar tidak dapat diandalkan – yang hanya mengusung deretan adegan drama klise, karakterisasi yang dangkal serta guyonan-guyonan yang cenderung telah kadaluarsa – membuat Oh Tidak…! hadir lebih dari sekedar mengecewakan.

(more…)