Posts Tagged ‘Amanda Seyfried’

the-big-wedding-header

Apa yang akan terjadi jika Anda menempatkan nama-nama bintang besar Hollywood seperti Robert De Niro, Diane Keaton, Susan Sarandon, Topher Grace, Ben Barnes, Katherine Heighl dan Amanda Seyfried bersama untuk membintangi sebuah film drama komedi romantis? Well… dengan materi dan pengarahan sutradara yang kuat, jajaran pengisi departemen akting tersebut jelas akan mampu memberikan penampilan yang sangat memuaskan. Sayangnya, The Big Wedding, sama sekali tidak memiliki dua keunggulan tersebut. Naskah cerita arahan sutradara Justin Zackham (Going Greek, 2001) tampil begitu datar dalam bercerita dan sama sekali gagal dalam menonjolkan sisi komedi maupun romansa dari film ini. Bukan sebuah presentasi yang cukup mampu untuk memberikan hiburan pada penontonnya. (more…)

epic-header

Unfortunately, there’s actually nothing epic abouterrrEpic. Jangan salah. Chris Wedge (Robots, 2005) mampu menghadirkan presentasi visual film ini dengan kualitas yang cukup mengesankan. Sangat indah, meskipun bukanlah presentasi terbaik yang dapat diberikan oleh sebuah film yang memanfaatkan teknologi 3D dalam tampilan visualnya. Wedge juga mampu menata intensitas cerita yang kuat pada beberapa bagian cerita sehingga membuat Epic terlihat begitu menarik untuk diikuti oleh para penonton muda. Namun, terlepas dari segala keunggulan tersebut, secara keseluruhan, Epic terasa jauh dari kesan spektakuler. Pada kebanyakan bagian kisahnya, Epic lebih terkesan sebagai sebuah film yang menghadirkan pola penceritaan dan karakter yang (terlalu) tradisional. Tidak salah. Namun… yah… jelas tidak istimewa.

(more…)

les-miserables-header

Walau ketika mendengar judul Les Misérables Anda kemungkinan besar akan langsung dapat membayangkan puluhan film adaptasi novel legendaris berjudul sama karya Victor Hugo yang telah dirilis sebelumnya – termasuk Les Misérables arahan Richard Boleslawski yang dirilis pada tahun 1935 dan berhasil mendapatkan nominasi di kategori Best Picture pada ajang Academy Awards, namun Les Misérables arahan Tom Hooper (The King’s Speech, 2010) adalah film layar lebar pertama yang merupakan adaptasi dari drama panggung musikal karya Alain Boublil dan Claude-Michel Schönberg yang telah begitu popular semenjak dipentaskan pada tahun 1985. Berbeda dengan film musikal kebanyakan, Hooper memperlakukan Les Misérables layaknya sebuah pertunjukan drama panggung: setiap dialog dan interaksi antar karakter disajikan dalam bentuk nyanyian serta setiap pemeran diharuskan untuk menyanyikan langsung dialog tersebut selama proses produksi Les Misérables berlangsung. Sebuah tantangan yang jelas memiliki resiko tinggi. Namun apakah Hooper mampu menghantarkan drama panggungnya sendiri dengan baik?

(more…)

Amanda Seyfried sepertinya sedang membutuhkan seseorang yang tepat untuk mendampinginya dalam memilih berbagai proyek film yang akan ia bintangi. Setelah membintangi Mamma Mia! (2008) bersama Meryl Streep yang kemudian berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa sekaligus menempatkan nama Seyfried ke jajaran aktris papan atas Hollywood, secara perlahan Seyfried sepertinya seringkali terjebak dalam banyak proyek-proyek film medioker yang untungnya masih mampu menghasilkan keuntungan komersial, seperti Dear John (2010), Red Riding Hood (2011) dan In Time (2011). Mengawali tahun 2012, Seyfried membintangi Gone, sebuah film psychological thriller yang menjadi debut penyutradaraan film berbahasa Inggris bagi sutradara asal Brazil, Heitor Dhalia, yang sayangnya, kemungkinan besar hanya akan menambah panjang daftar film berkelas medioker yang dibintangi Seyfried.

(more…)

Setelah kesuksesannya dalam memerankan karakter Sean Parker dalam The Social Network (2010), Justin Timberlake muncul sebagai salah satu aktor yang paling banyak dibicarakan di Hollywood. The Social Network memang bukanlah film pertama dari aktor yang juga seorang penyanyi ini. Namun, baru lewat The Social Network kemampuan akting Timberlake mampu dilirik dan dianggap serius oleh banyak kritikus film dunia. Pertanyaan berikutnya jelas, apakah kemampuan akting Timberlake dalam The Social Network adalah murni merupakan bakat akting Timberlake yang semakin terasah atau hanya karena Timberlake sedang beruntung berada di bawah arahan seorang sutradara bertangan dingin seperti David Fincher. Dua film komedi, Bad Teacher dan Friends with Benefits, yang dirilis lebih awal jelas tidak akan mampu dijadikan tolak ukur mendalam dari kemampuan akting Timberlake. Pembuktian tersebut datang dari In Time, film science fiction yang dibintangi Timberlake bersama Amanda Seyfried dengan arahan sutradara Andrew Niccol (Lord of War, 2005).

(more…)

Sekeras apapun usaha untuk menyembunyikannya, namun adalah sangat sulit untuk membantah bahwa Red Riding Hood adalah sebuah film yang diproduksi untuk mendompleng ketenaran dari franchise The Twilight Saga yang banyak digilai kaum remaja tersebut. Lihat saja dari susunan jalan ceritanya. Terlepas dari fakta bahwa David Johnson (Orphan, 2009) mendasarkan jalan cerita Red Riding Hood berdasarkan kisah legendaris Little Red Riding Hood, film ini masih menceritakan mengenai kisah cinta segitiga antara seorang wanita dengan dua pria yang sama-sama berniat untuk memilikinya. Satu diantara pria tersebut bahkan dicurigai sebagai jelmaan seekor serigala. Kebetulan? Tambahkan dengan fakta lain bahwa film ini diarahkan oleh Catherine Hardwicke, sutradara wanita yang mengarahkan seri pertama The Twilight Saga, Twilight (2008), maka Anda akan mendapatkan sebuah film dengan cita rasa The Twilight Saga yang kental namun dengan perlakuan produksi seperti sebuah film-film period. Kualitasnya sendiri?

(more…)

Sutradara asal Kanada, Atom Egoyan, memang lebih banyak dikenal sebagai seorang sutradara yang lebih banyak memberikan film-film bertema art-house daripada film-film komersial yang seringkali dirilis murni untuk mencari keuntungan belaka. Walau begitu, bukan berarti Egoyan tidak berani untuk mencoba sesuatu yang bersifat komersial. Chloe adalah sebuah usaha Egoyan untuk mencampurkan teknik penyutradaraan art-house yang sering ia terapkan, dengan sisi komersialisme untuk dapat dinikmati oleh publik umum.

(more…)

Dear John adalah sebuah film drama romantis yang diadaptasi dari sebuah novel yang berjudul sama karya novelis asal Amerika Serikat, Nicholas Sparks. Disutradarai oleh Lasse Hallström, film ini menjadi film kelima Hollywood yang mengadaptasi karya Sparks setelah Message in a Bottle (1999), A Walk to Remember (2002), The Notebook (2004) dan Nights in Rodanthe (2008).

(more…)

Film thriller yang dibumbui kisah seks dan perselingkuhan sepertinya belum akan segera sirna dari layar Hollywood. Setidaknya, tema tersebut akan terwakili pada tahun ini oleh Chloe, sebuah film drama thriller erotis arahan sutradara Atom Egoyan. (more…)