Menghadirkan sebuah film dengan jalan penceritaan yang memaparkan tentang kisah perjalanan seseorang dalam mencapai kesuksesan hidupnya jelas adalah suatu hal yang cukup rumit. Di satu sisi, film-film dengan tema tersebut adalah sajian yang biasanya dapat dengan mudah menarik minat penonton film Indonesia – khususnya jika kisah tersebut merupakan sebuah hasil adaptasi dari kisah nyata dan disajikan dengan balutan emosional yang kuat. Namun, di sisi lain, dengan penggarapan yang kurang berhati-hati, banyak diantara film-film sejenis yang akhirnya hadir dengan sajian drama yang terasa terlalu dipaksakan untuk menginspirasi maupun menyentuh penontonnya. Lalu, sebagai sebuah film yang juga menghadirkan tema penceritaan yang sama, apa yang dapat ditawarkan oleh 9 Summers 10 Autumns kepada para penontonnya?
Posts Tagged ‘Alex Komang’
Review: 9 Summers 10 Autumns (2013)
Posted: May 3, 2013 in Movies, ReviewTags: 9 Summers 10 Autumns, Ade Irawan, Agni Pratistha, Alex Komang, Asian Cinema, Dewi Irawan, Dira Sugandi, Ence Bagus, Epy Kusnandar, Hayria Faturrahman, Ida Ayu Wadanthi Purnama Dewi, Ifa Isfansyah, Ihsan Tarore, Indonesian Cinema, Movies, Review, Ria Irawan, Shafil Hamdi Nawara, Swasti Nuswantari
Review: Surat Kecil Untuk Tuhan (2011)
Posted: July 7, 2011 in Movies, ReviewTags: Alex Komang, Asian Cinema, Ayunda Gayatri Maheswari, Cut Nadya, Dinda Hauw, Dwi Andika, Egi John Foreisythe, Esa Sigit, Harris Nizam, Heri Savalas, Indonesian Cinema, Indri Giana, Maulidha Tiara Ningsih, Movies, Ranty Purnamasari, Review, Sasa Nabila, Surat Kecil Untuk Tuhan, Vinesa Ines
Jika pada beberapa film nasional yang beredar di awal tahun kisah mengenai seorang karakter yang menderita sebuah penyakit mematikan ditempatkan sebagai plot pendukung dari kisah utama film-film tersebut, maka pada Surat Kecil Untuk Tuhan kisah tersebut justru menjadi jalan cerita utama. Diinspirasi dari sebuah kisah nyata, Surat Kecil Untuk Tuhan jelas dibuat untuk menjadi sebuah melodrama tearjerker yang sekaligus berusaha untuk memberikan beberapa inspirasi moral kepada para penontonnya. Niat yang mulia, namun Surat Kecil Untuk Tuhan kekurangan cukup banyak elemen pendukung yang akan mampu membuat film ini tidak hanya sekedar menjadi film yang menyentuh maupun menginspirasi, namun juga menghindarkan penontonnya dari rasa kebosanan yang luar biasa ketika menyaksikannya.
Review: True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (2011)
Posted: July 2, 2011 in Movies, ReviewTags: Alex Komang, Asian Cinema, Cinta Sepanjang Amazon, Dedi Setiadi, Edo Borne, Fanny Fabriana, Fikri Ramadhan, Happy Salma, Indonesian Cinema, Mario Lawalata, Movies, Panca Prakoso, Pierre Gruno, Review, True Love, True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W
Well… sinema Indonesia meraih sebuah titik terendahnya kembali dalam sebuah film yang berjudul True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (Precious: Based on the Novel Push by Sapphire (2009), anyone?). Seseorang yang belum pernah membaca novel yang mendasari naskah cerita film ini dipastikan akan merasa penasaran mengapa sebuah novel yang memiliki jalan cerita berputar-putar dengan deretan karakter yang sangat tidak simpatik mampu meraih gelar sebagai best-selling novel – atau apapun yang dituliskan sang produser True Love pada kredit film ini. Dengan durasi yang mencapai dua jam penuh (!), True Love adalah sebuah film yang dipastikan akan mampu membuat siapapun merasa menyesal telah menghabiskan uang dan waktu mereka untuk sebuah karya yang tidak hanya dapat dikatakan sebagai sebuah karya yang tidak tergarap baik, namun juga karya yang seharusnya belum siap atau tidak pernah dirilis ke publik umum.
Review: Merah Putih II: Darah Garuda (2010)
Posted: September 13, 2010 in Movies, ReviewTags: Agastya Kandou, Aldy Zulfikar, Alex Komang, Ario Bayu, Asian Cinema, Astri Nurdin, Atiqah Hasiholan, Conor Allyn, Darius Sinathrya, Donny Alamsyah, Indonesian Cinema, Lukman Sardi, Merah Putih II: Darah Garuda, Movies, Rahayu Saraswati, Review, Rudy Wowor, T. Rifnu Wikana, Yadi Sugandi
Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2009, Merah Putih, yang merupakan bagian pertama dari Trilogi Merdeka, trilogi fiksi kisah perjuangan rakyat Indonesia dalam usahanya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, mendapatkan sambutan yang beragam dari para penonton Indonesia. Namun, secara keseluruhan, banyak penonton yang merasa bahwa Merah Putih terlalu banyak memfokuskan diri pada drama dengan dialog yang terdengar sedikit ‘terlalu resmi’ serta terlalu sedikit memberikan sajian action seperti yang sering dijanjikan para produser film ini ketika masa promosinya.
Review: Sang Pencerah (2010)
Posted: September 12, 2010 in Movies, ReviewTags: Abdurrahman Arif, Agus Kuncoro, Alex Komang, Asian Cinema, Dennis Adhiswara, Giring Ganesha, Hanung Bramantyo, Ihsan Tarore, Ikranegara, Indonesian Cinema, Joshua Suherman, Lukman Sardi, Mario Irwinsyah, Movies, Review, Ricky Perdana, Sang Pencerah, Sitok Srengenge, Slamet Rahardjo, Sudjiwo Tedjo, Yati Surachman, Zaskia Adya Mecca
Berbeda dengan banyak rumah produksi di Hollywood, yang sepertinya selalu dapat mengandalkan karya yang berisi kisah biopik untuk dapat meraup banyak penghargaan dari berbagai ajang festival, sineas Indonesia sepertinya masih merasa bahwa biopik adalah sebuah genre film yang selain susah untuk direalisasikan, juga salah satu genre yang sulit untuk dipasarkan. Tercatat semenjak era kebangkitan kembali film Indonesia di awal tahun 2000, hanya ada dua film yang berasal dari genre ini, Marsinah (Cry Justice) (2001) karya aktor sekaligus sutradara Slamet Rahardjo serta Gie (2005) yang disutradarai oleh Riri Riza.

















