Setelah Lima Elang, petualangan Rudi Soedjarwo dalam mengeksplorasi kemampuannya dalam mengarahkan film-film yang temanya sebagian besar ditujukan bagi para penonton muda dan mereka yang menggemari film-film keluarga berlanjut dalam Garuda Di Dadaku 2. Namun, kali ini Rudi harus mengemban beban yang cukup berat dalam mengarahkan sebuah sekuel dari film yang berhasil menjadi salah satu film dengan raihan jumlah penonton terbesar ketika dirilis pada tahun 2009 lalu. Bukan, beban utama Rudi bukan terletak pada cara dirinya untuk mengajak kembali sejumlah besar penonton tersebut untuk kembali menyaksikan sekuel dari Garuda di Dadaku. Rudi kini harus mengambil tampuk kepemimpinan produksi dari tangan seorang Ifa Isfansyah yang telah berhasil meramu naskah karya Salman Aristo yang sebenarnya terasa begitu familiar namun tetap berhasil tampil dengan daya pikat yang penuh. Dan hal itu jelas bukanlah sebuah tugas yang mudah.
Posts Tagged ‘Aldo Tansani’
Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)
Posted: December 17, 2011 in Movies, ReviewTags: Aldo Tansani, Asian Cinema, Dorman Borisman, Emir Mahira, Garuda Di Dadaku 2, Indonesian Cinema, Joshua Pandelaki, Maudy Koesnaedi, Mayo Ramzi Fuhaira, Monica Sayangbati, Movies, Muhammad Ali, Ramzi, Rendi Krisna, Review, Rio Dewanto, Rudi Soedjarwo
Review: Jakarta Maghrib (2010)
Posted: September 6, 2011 in Movies, ReviewTags: Adinia Wirasti, Aldo Tansani, Asian Cinema, Asrul Dahlan, Deddy Mahendra Desta, Ence Bagus, Fanny Fabriana, Indonesian Cinema, Indra Birowo, Jakarta Maghrib, Ki Daus, Lilis, Lukman Sardi, Movies, Review, Reza Rahadian, Ringgo Agus Rahman, Salman Aristo, Sjafrial Arifin, Widi Mulia, Yurike Prastica
Salman Aristo – salah satu nama yang bertanggungjawab atas kehadiran beberapa judul terpopuler di industri perfilman Indonesia, seperti Laskar Pelangi (2008), Ayat-Ayat Cinta (2008) dan Hari Untuk Amanda (2010) – melakukan debut penyutradaraannya lewat sebuah film omnibus bertajuk Jakarta Maghrib. Dalam film yang juga ia tulis naskahnya ini, Salman berusaha untuk menghadirkan arti dari sebuah waktu maghrib bagi sekelompok kalangan – dalam hal ini, kalangan masyarakat di berbagai sudut kota Jakarta. Lewat lima cerita pendek yang ia hadirkan, Salman dapat dengan bebas menggambarkan maghrib sebagai sebuah waktu transisi dari siang ke malam lewat berbagai genre penceritaan. Usaha yang cukup meyakinkan walau masih belum dapat dikatakan memuaskan secara menyeluruh.













