Posts Tagged ‘Ajun Perwira’

slank-gak-ada-matinya-header

Jika Generasi Biru (2009) yang disutradarai oleh Garin Nugroho, John De Rantau dan Dosy Omar adalah sebuah film musikal eksperimental yang dibuat untuk memperingati 25 tahun perjalanan karir bermusik Slank, maka Slank Nggak Ada Matinya mungkin akan lebih tepat dilihat sebagai retrospektif terhadap 30 tahun keberadaan Slank di industri musik Indonesia dengan jalan penceritaan yang lebih berfokus pada setiap pribadi yang mengisi kelompok musik tersebut. Berbeda dengan Generasi Biru dimana masing-masing personel Slank turut berlaku sebagai pemeran utama dalam film tersebut, Slank Nggak Ada Matinya menempatkan Adipati Dolken, Ricky Harun, Aaron Shahab, Ajun Perwira dan Deva Mahendra yang masing-masing berperan sebagai para personel Slank. Lalu, apakah kelima aktor muda Indonesia tersebut mampu memerankan serta menghidupkan karakter para personel Slank yang semenjak lama dikenal sebagai sosok yang cukup eksentrik tersebut?

(more…)

get-m4rried-header

Meski tak satupun diantara seri lanjutan Get Married (2007) yang mampu menghadirkan kualitas presentasi cerita maupun guyonan sekuat seri pemulanya, namun harus diakui bahwa seri film tersebut telah mendapatkan sejumlah penggemar loyal dari kalangan penonton film Indonesia. Seri terakhirnya, Get Married 3 (2011) – yang hadir dengan kualitas paling buruk jika dibandingkan dengan dua seri Get Married sebelumnya, bahkan masih mampu meraih kesuksesan dengan perolehan jumlah penonton berada di atas angka 500 ribu. Karenanya, tidak mengherankan jika kemudian Starvision Plus kembali mengumpulkan para jajaran pemeran serta kru produksi seri film ini untuk membuat seri keempat yang diberi judul Get M4rried dan berusaha untuk mengulang kesuksesan tersebut.

(more…)

Kesuksesan besar Poconggg Juga Pocong (2011) ternyata cukup membuka cara pandang Chiska Doppert bahwa ia memiliki ‘kemampuan’ lain di luar ‘kemampuan’ untuk menyutradarai film-film yang bernuansa supranatural maupun… well… film-film yang bernuansa supranatural namun berjalan sembari menawarkan komedi di dalam jalan ceritanya. Setelah merilis drama romansa remaja Bila pada bulan Februari lalu, Chiska kembali bereuni dengan bintang utama Poconggg Juga Pocong, Ajun Perwira, untuk sebuah film komedi remaja berjudul Love is Brondong. Ya… sebagian kualitas penceritaan film ini dapat dinilai dari judulnya. Sebagian penilaian lainnya dapat diambil dari penampilan jajaran pemerannya. Dan sebagian lainnya dari analisa Anda terhadap kualitas penyutradaraan Chiska di film-film sebelumnya. Sebuah susunan kalimat yang terlalu kompleks untuk menyebut Love is Brondong adalah sebuah bencana.

(more…)

Poconggg adalah salah satu fenomena dunia maya yang kemudian berhasil mengembangkan sayap popularitasnya ke dunia nyata. Berawal sebagai sebuah akun Twitter yang memparodikan kehidupan sesosok pocong – sejenis makhluk mistis yang begitu populer untuk dijadikan subjek penceritaan dalam film-film horor Indonesia, kepopuleran sosok Poconggg kemudian membuat sang penciptanya, Arief Muhammad, mendapatkan kesempatan untuk menuangkan segala kisah-kisah komikal sang karakter Poconggg dalam bentuk sebuah buku yang berjudul Poconggg Juga Pocong (2011). Penulisan jalan cerita yang penuh dengan nuansa komedi yang segar, serta penggemar setia yang semenjak lama telah mengikuti akun Twitter Poconggg, berhasil membuat buku Poconggg Juga Pocong menjadi salah satu buku dengan penjualan terlaris dan tercepat di Indonesia. Tidak mengherankan jika beberapa produser film secara sigap kemudian mencoba untuk menterjemahkan kepopuleran karakter Poconggg tersebut ke dalam bentuk sebuah film.

(more…)

MD Pictures, rumah produksi yang sempat meraih sukses besar ketika merilis Ayat-Ayat Cinta (2008), yang kemudian memulai tren perilisan film-film drama bernuansa reliji di industri film Indonesia, sepertinya sangat berhasrat untuk mengadaptasi novel karya Buya Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah, menjadi sebuah tayangan film layar lebar. Mereka bahkan rela menghabiskan waktu selama dua tahun untuk menyelesaikan proses produksi dan dana sebesar Rp25 miliar untuk menampilkan tata produksi terbaik untuk mendukung pembuatan versi film dari salah satu karya paling populer di dunia sastra Indonesia tersebut. Hasilnya, Di Bawah Lindungan Ka’bah menjadi sebuah film bertemakan kasih tak sampai dengan tampilan komersial yang sangat akut… seperti yang telah diduga banyak orang ketika nama Hanny R Saputra dilibatkan sebagai sutradara bagi film ini.

(more…)