Kita Versus Korupsi adalah sebuah film omnibus, yang berdasarkan judul yang digunakan oleh film ini, menceritakan mengenai berbagai hal yang menyinggung mengenai tindak kasus korupsi – sebuah penyakit sosial dan hukum yang saat ini sedang mewabah dengan begitu hebatnya di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, mungkin akan jauh dari bayangan banyak orang, Kita Versus Korupsi tidaklah berniat untuk bercerita secara investigatif mengenai proses perlawanan terhadap kasus-kasus besar korupsi di negeri ini. Empat film pendek yang ada dalam satuan Kita Versus Korupsi lebih ingin menunjukkan bagaimana sebenarnya sebuah tindakan korupsi sebenarnya dapat berada di berbagai sudut kehidupan keseharian penontonnya.
Posts Tagged ‘Aji Santosa’
Review: Kita Versus Korupsi (2012)
Posted: June 24, 2012 in Movies, ReviewTags: Aji Santosa, Alaxandra Natasha, Amanina Datau, Anto G, Asian Cinema, Chairun Nissa, Dominique Diyose, Emil Heradi, Icang S. Tisnamiharja, Indonesian Cinema, Ine Febriyanti, Kita Versus Korupsi, Lasja F. Susatyo, Medina Kamil, Movies, Nasha Abigail, Nicholas Saputra, Norman Akyuwen, Ranggani Puspandya, Revalina S Temat, Review, Ringgo Agus Rahman, Siska Selvi Dawsen, Teuku Rifnu Wikana, Tieneke Purnamasari, Tizza Radia, Tora Sudiro, Verdi Solaiman
Review: Sang Penari (2011)
Posted: December 8, 2011 in Movies, ReviewTags: Aji Santosa, Arswendi Nasution, Asian Cinema, Dewi Irawan, Happy Salma, Hendro Djarot, Ifa Isfansyah, Indonesian Cinema, Landung Simatupang, Lukman Sardi, Movies, Ni Made Aurel, Oka Antara, Prisia Nasution, Review, Sang Penari, Slamet Rahardjo, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusadewo, Yayu Unru, Zainal Abidin Domba
Dirangkum dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk – Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986) – karya Ahmad Tohari, Sang Penari memfokuskan kisahnya pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk di tahun 1960-an, di masa ketika setiap masyarakat masih memegang teguh aturan dan adat istiadat leluhurnya serta jauh dari modernisasi – termasuk pemahaman agama – kehidupan yang secara perlahan mulai menyentuh wilayah di luar desa tersebut. Salah satu prinsip adat yang masih kokoh dipegang oleh masyarakat Dukuh Paruk adalah budaya ronggeng, sebuah tarian adat yang ditarikan oleh seorang gadis perawan yang terpilih oleh sang leluhur. Layaknya budaya geisha di Jepang, gadis perawan yang terpilih untuk menjadi seorang ronggeng nantinya akan menjual keperawanan mereka pada pria yang mampu memberikan harga yang tinggi. Bukan. Keperawanan tersebut bukan dijual hanya untuk urusan kepuasan seksual belaka. Bercinta dengan gadis yang terpilih sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah bagi masyarakat Dukuh Paruk yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat memberikan sebuah kesejahteraan bagi mereka.
Review: Serdadu Kumbang (2011)
Posted: June 17, 2011 in Movies, ReviewTags: Adinda Fudia, Aji Santosa, Ari Sihasale, Asian Cinema, Asrul Dahlan, Dorman Borisman, Fachri Azhari, Fanny Fadillah, Gerry Puraatmadja, Indonesian Cinema, Leroy Osmani, Lukman Sardi, Melly Zamri, Monica Sayangbati, Movies, Nia Zulkarnaen, Putu Wijaya, Review, Ririn Ekawati, Serdadu Kumbang, Surya Saputra, Titi Sjuman, Yudi Miftahudin
Sebuah film Indonesia. Dengan latar belakang cerita di sebuah daerah yang mungkin belum banyak dieksplorasi oleh para sineas perfilman negara ini. Menggunakan anak-anak setempat sebagai pemerannya. Mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari dari anak-anak tersebut. Memberi fokus lebih pada satu karakter anak dimana ia sedang memiliki permasalahan dalam menghadapi kehidupan atau keluarganya. Dan jika beruntung, sebuah kisah mengenai pendidikan yang didapatkan oleh anak-anak tersebut. Laskar Pelangi (2008)? Bukan. Denias, Senandung di Atas Awan (2006) ? Bukan. The Mirror Never Lies? Bukan. Batas? Juga bukan.














