In case you’ve been living under the rock lately, Hanung Bramantyo telah menguasai layar bioskop Indonesia semenjak bulan Agustus 2012 lalu. Dimulai dengan merilis Perahu Kertas – dan sekuelnya pada bulan Oktober, memproduseri Habibie & Ainun yang dirilis pada awal Desember dan menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang tahun lalu serta bersama Hestu Saputra menyutradarai Cinta Tapi Beda yang dirilis pada akhir Desember dan menjadi perbincangan masyarakat luas akibat tema ceritanya yang dinilai kontroversial hingga saat ini. Tahun 2012 jelas adalah salah satu tahun keemasan Hanung. Di awal tahun 2013 ini, Hanung kembali merilis sebuah film baru, Gending Sriwijaya, yang kali ini berusaha untuk menampilkan kemampuannya dalam menggarap sebuah film kolosal. Akankah film ini mampu mencapai kesuksesan layaknya film-film drama yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo sebelumnya?
Posts Tagged ‘Agus Kuncoro’
Review: Gending Sriwijaya (2013)
Posted: January 12, 2013 in Movies, ReviewTags: Agus Kuncoro, Anwar Fuady, Asian Cinema, Early Ashy, Gending Sriwijaya, Goeteng, Hafsary Thanial Dinoto, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Julia Perez, Mathias Muchus, Movies, Oim Ibrahim, Qausar Harta Yudana, Review, Sahrul Gunawan, Slamet Rahardjo, Teuku Rifnu Wikana, Yati Surachman
Review: Cinta Tapi Beda (2012)
Posted: December 29, 2012 in Movies, ReviewTags: Agni Pratistha, Agus Kuncoro, Aris Gepeng, Asian Cinema, August Melasz, Ayu Dyah Pasha, Choky Sitohang, Cinta Tapi Beda, Hanung Bramantyo, Hestu Saputra, Hudson Prananjaya, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Leroy Osmani, Movies, Nungky Kusumastuti, Rara Nawangsih, Ratu Felisha, Review, Reza Nangin, Sitoresmi Prabuningrat, Suharyoso
Cinta Tapi Beda mengisahkan hubungan percintaan berliku antara dua karakter yang berasal dari latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda, Cahyo (Reza Nangin) dan Diana (Agni Pratistha). Cahyo, yang berasal dari keluarga Muslim yang taat di Yogjakarta, adalah seorang juru masak berbakat yang bekerja di salah satu restoran paling populer di Jakarta. Sementara itu, Diana, yang berasal dari keluarga dengan latar belakang kepercayaan Katolik di Padang, merupakan seorang mahasiswi jurusan tari yang saat ini sedang akan menghadapi ujian akhirnya. Keduanya secara tidak sengaja bertemu di sanggar tari yang dikelola oleh bibi Cahyo, Dyah Murtiwi (Nungky Kusumastuti). Pertemuan tersebut kemudian secara perlahan berlanjut menjadi hubungan percintaan yang akhirnya tidak dapat memisahkan keduanya.
Review: Jakarta Hati (2012)
Posted: November 11, 2012 in Movies, ReviewTags: Agni Pratistha, Agus Kuncoro, Andhika Pratama, Asian Cinema, Asmirandah, Bastian Bintang Simbolon, Cowboy Junior, Didi Petet, Dion Wiyoko, Dwi Sasono, Framly Nainggolan, Herdin Hidayat, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Jakarta Hati, Movies, Rendy Ahmad, Review, Roy Marten, Salman Aristo, Shahnaz Haque, Slamet Rahardjo, Surya Saputra, Yayu AW Unru
Seperti halnya Jakarta Maghrib (2010) – film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Salman Aristo, Jakarta Hati juga merupakan sebuah film yang terdiri dari beberapa potong kisah dengan menjadikan Jakarta sebagai latar belakang lokasi ceritanya. Terdiri dari enam kisah yang tidak saling berkaitan satu sama lain, Jakarta Hati dibuka dengan kisah berjudul Orang Lain yang menceritakan mengenai kisah pertemuan seorang lelaki yang berusia di pertengahan 30-an (Surya Saputra) dengan seorang gadis muda (Asmirandah) di sebuah pub malam. Keduanya telah menjadi korban pengkhianatan cinta dari pasangannya masing-masing. Bersama, keduanya kemudian menyusuri kelamnya malam di kota Jakarta sambil berusaha menjawab pertanyaan mengapa mereka bisa menjadi korban atas rasa cinta mereka terhadap pasangan masing-masing.
Review: Cita-Citaku Setinggi Tanah (2012)
Posted: October 15, 2012 in MoviesTags: Agus Kuncoro, Asian Cinema, Cita-Citaku Setinggi Tanah, Dewi Wulandari Cahyaningrum, Donny Alamsyah, Eugene Panji, Indonesian Cinema, Iqbal Zuhda Irsyad, Iwuk Tamam, Luh Monika Sokananta, M. Syihab Imam Muttaqin, Movies, Nina Tamam, Review, Rizqullah Maulana Dafa
Masih ingat dengan cita-cita Anda ketika hendak beranjak dewasa dahulu? Berbeda dengan Anda – atau kebanyakan anak-anak lainnya, Agus (M. Syihab Imam Muttaqin), karakter utama dalam film Cita-Citaku Setinggi Tanah yang merupakan seorang pelajar sekolah dasar dari daerah Muntilan, Jawa Tengah, memiliki sebuah cita-cita yang sangat sederhana. Ketika tiga sahabatnya, Jono (Rizqullah Maulana Dafa), Puji (Iqbal Zuhda Irsyad) dan Sri (Dewi Wulandari Cahyaningrum) ingin menjadi seorang tentara, berharap ingin menjadi seseorang yang dapat membahagiakan orang lain dan bermimpi menjadi seorang bintang sinetron, Agus justru bercita-cita ingin makan di restoran Padang – sebuah cita-cita yang jelas kemudian dianggap remeh oleh teman-temannya.
Review: Ambilkan Bulan (2012)
Posted: July 1, 2012 in Movies, ReviewTags: Adrian Simon, Agus Kuncoro, Ambilkan Bulan, Arthur Boyer, Asian Cinema, Astri Nurdin, Berlianda Adelianan Naafi, Bramantyo Suryo Kusumo, Dedek Witranto, Djarot Budi Darsono, Harbani Setyowati Wibowo, Harsh Bhardhan, Hemas Nata Negari, Ifa Isfansyah, Indonesian Cinema, Jhosua Ivan Kurniawan, Laetitia Boyer, Lana Nitibaskara, Landung Simatupang, Manu, Marwoto, Movies, Mudiono, Phoebe Venetia Saputra, Review, Rima Kusuma, Sheila On 7, Sinta Novasari, Stephani Wiharto Boyer, Suharno, Supana, Tenten Tanaka, Titi Dibyo, Topik Tardjo, Wahyu Widayati, Wyan Sonata, Yuristian Adi, Yuya Mulyasih
Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto – yang juga bertanggungjawab atas penulisan naskah cerita film komedi Sule, Ay Need You yang dirilis beberapa waktu yang lalu – Ambilkan Bulan berkisah mengenai seorang gadis cilik berusia 10 tahun, Amelia (Lana Nitibaskara), yang merasa hidupnya selalu dirundung rasa kesepian semenjak wafatnya sang ayah (Agus Kuncoro). Rasa kesepian tersebut semakin diperparah dengan kesibukan sang ibu, Ratna (Astri Nurdin), yang sepertinya selalu memberikan jarak diantara hubungan keduanya. Tidak heran, ketika mendengar bahwa paman dan bibinya (Manu dan Harbani Setyowati Wibowo) yang berasal dari sebuah desa di Solo akan berkunjung ke Jakarta, Amelia merasa senang yang begitu luar biasa.
Review: Cinta di Saku Celana (2012)
Posted: June 30, 2012 in Movies, ReviewTags: Agus Kuncoro, Asian Cinema, Baim, Cinta di Saku Celana, Dion Wiyoko, Donny Alamsyah, Eko Kristianto, Endhita, Fajar Nugros, Gading Marten, Imey Liem, Indonesian Cinema, Joanna Alexandra, Kayla Kristianto, Lolita Putri, Lukman Sardi, Luna Maya, Masayu Anastasia, Movies, Pricillia Tanamal, Ramon Y Tungka, Review, Vita Ramona, Yanti Kristianto, Yati Surachman
Berawal dari cerita pendek Cinta di Saku Belakang Celana karya Fajar Nugros yang terdapat dalam buku kumpulan cerita pendeknya yang berjudul I Didn’t Lose My Heart, I Sold it On eBay! (2010), Cinta di Saku Celana kemudian menjadi film kedua Fajar Nugros sebagai seorang sutradara setelah sebelumnya mengarahkan Queen Bee di tahun 2009. Berkisah mengenai perjuangan dan tantangan yang dihadapi oleh seorang pemuda untuk menyampaikan rasa sukanya kepada seorang gadis, cerita pendek karya Fajar Nugros tadi kemudian dikembangkan menjadi sebuah naskah cerita film layar lebar oleh Ben Sihombing (Pengejar Angin, 2011). Sayangnya, ekstensi ide yang dilakukan Ben Sihombing untuk cerita pendek Fajar Nugros tampil begitu lemah sehingga membuat Cinta di Saku Celana berjalan cenderung datar.
Review: Sule, Ay Need You (2012)
Posted: June 5, 2012 in Movies, ReviewTags: Agus Kuncoro, Andre Taulany, Asian Cinema, Bio One, Cici Tegal, Cuk FK, Dicky Chandra, Divya Qamilla, Ery Makmur, Indonesian Cinema, Indro Warkop, Irene Justine, Kharira Mamo, Maya Wulan, Movies, Nunung, Parto, Review, Risma Nilawati, Rocky Jeff, Shita Destya, Sule, Sule Ay Need You, Titi Kamal, Tya Restiyana, Uli Auliani
Dalam Sule, Ay Need You, seorang pemuda desa bernama Sule (Sule), terpaksa harus berangkat ke Jakarta untuk mencari pekerjaan guna menghidupi keluarganya semenjak ayahnya kini telah menderita gangguan kejiwaan akibat kalah dalam ajang pemilihan lurah di daerah tempat tinggalnya. Oleh sang ibu, Sule ditugaskan untuk mencari rumah pamannya – yang menurut ibunya merupakan seorang pria yang kini telah mengecap kesuksesan – dan meminta pertolongan kepadanya. Sial, sesampai di Jakarta, Sule justru dikejar-kejar dan ditangkap polisi karena dicurigai sebagai kaki tangan preman yang saat itu memang menjadi buronan polisi.
Review: Malaikat Tanpa Sayap (2012)
Posted: February 12, 2012 in Movies, ReviewTags: Adipati Dolken, Agus Kuncoro, Asian Cinema, Fauzan Ja'far, Geccha Qheagaveta, Ikang Fawzi, Indonesian Cinema, Kinaryosih, Malaikat Tanpa Sayap, Maudy Ayunda, Movies, Rako Prijanto, Review, Reza Pahlevi, Surya Saputra
Sejujurnya, dengan deretan film seperti Perempuan-Perempuan Liar (2011), Penganten Sunat (2010) serta Preman In Love (2009) mengisi daftar filmografinya dalam tiga tahun terakhir, adalah sangat mudah untuk melupakan fakta bahwa Rako Prijanto adalah orang yang sama yang bertanggungjawab untuk keberadaan naskah cerita film drama romansa remaja Indonesia legendaris, Ada Apa Dengan Cinta? (2001) dan juga seorang sutradara yang pernah menghantarkan Ungu Violet (2005) dan Merah Itu Cinta (2007) yang walaupun mengandung banyak kelemahan, namun tetap berhasil tampil membuai dengan deretan dialog-dialog karakternya yang begitu puitis dan romantis. Malaikat Tanpa Sayap, untungnya, merupakan film yang lebih mendekati Ungu Violet dan Merah Itu Cinta daripada Perempuan-Perempuan Liar maupun Preman In Love. Sebuah sajian yang sekali lagi membuktikan kemampuan lebih Rako dalam menggarap sebuah film drama romansa yang mampu menyentuh.
Review: Pengejar Angin (2011)
Posted: November 4, 2011 in Movies, ReviewTags: Agus Kuncoro, Asian Cinema, Dapunta, Giorgino Abraham, Hanung Bramantyo, Helmy Yahya, Hestu Saputra, Indonesian Cinema, Leroy Osmani, Lukman Sardi, Mathias Muchus, Movies, Pengejar Angin, Qausar Harta Yudana, Review, Siti Helda Meilita, Wanda Hamidah
Well… sepertinya tidak ada yang dapat menghentikan langkah Hanung Bramantyo untuk terus merilis film-filmnya. Setelah merilis dua film yang lumayan berhasil merebut kesuksesan komersial, Tanda Tanya dan Tendangan Dari Langit, kini sutradara pemenang Piala Citra ini kembali lagi dengan film ketiganya untuk tahun ini, Pengejar Angin. Berbeda dengan dua film sebelumnya, Hanung kali ini berbagi kredit penyutradaraan bersama Hestu Saputra, sutradara berusia 26 tahun yang dahulu pernah menjadi asisten Hanung ketika mengarahkan Get Married 2 (2009). Sayangnya, meskipun telah melibatkan dua nama dalam pengarahan filmnya, naskah cerita Pengejar Angin yang ditulis oleh Ben Sihombing (Senggol Bacok, 2010) harus diakui terlalu lemah dengan banyaknya lubang-lubang penceritaan yang dapat ditemukan di sepanjang penceritaan film.





















