Di tahun 2003, Nia Dinata berhasil memberikan sebuah asupan tontonan yang sama sekali belum pernah dirasakan para pecinta film Indonesia sebelumnya. Lewat Arisan!, Nia, yang menulis naskah film tersebut bersama Joko Anwar, memberikan sebuah satir jujur mengenai kehidupan kaum kosmopolitan di Indonesia (baca: Jakarta), tentang bagaimana pergaulan mereka, orang-orang di sekitar mereka hingga hitam putih kehidupan yang menyeruak dalam keseharian mereka. Arisan! juga menjadi film pertama yang mendapatkan rekognisi nasional dalam mengangkat kehidupan kaum homoseksual – yang di kala itu jelas merupakan sebuah terobosan yang sangat berani. Hasilnya, Arisan! sukses menjadi sebuah kultur pop dalam dunia hiburan Indonesia, meroketkan nama Tora Sudiro dan berhasil memenangkan kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2004.
Posts Tagged ‘Adinia Wirasti’
Review: Arisan! 2 (2011)
Posted: December 2, 2011 in Movies, ReviewTags: Adinia Wirasti, Aida Nurmala, Amink, Asian Cinema, Atiqah Hasiholan, Cut Mini, Cynthia Lamusu, Edwan Handoko, Edward Gunawan, Indonesian Cinema, Isabelle Patrice, Iwet Ramadhan, Jajang C Noer, Keiko Marwan, Lily Harahap, Melissa Karim, Movies, Nia Dinata, Pong Hardjatmo, Rachel Maryam, Renny Sutiyoso, Review, Ria Irawan, Rinaldy A. Yunardi, Rio Dewanto, Salmaa, Salwaa, Sapto Soetarjo, Sarah Sechan, Shanty, Shelomita, Stephanie, Surya Saputra, Titi DJ, Tora Sudiro, Wilza Lubis
Review: Jakarta Maghrib (2010)
Posted: September 6, 2011 in Movies, ReviewTags: Adinia Wirasti, Aldo Tansani, Asian Cinema, Asrul Dahlan, Deddy Mahendra Desta, Ence Bagus, Fanny Fabriana, Indonesian Cinema, Indra Birowo, Jakarta Maghrib, Ki Daus, Lilis, Lukman Sardi, Movies, Review, Reza Rahadian, Ringgo Agus Rahman, Salman Aristo, Sjafrial Arifin, Widi Mulia, Yurike Prastica
Salman Aristo – salah satu nama yang bertanggungjawab atas kehadiran beberapa judul terpopuler di industri perfilman Indonesia, seperti Laskar Pelangi (2008), Ayat-Ayat Cinta (2008) dan Hari Untuk Amanda (2010) – melakukan debut penyutradaraannya lewat sebuah film omnibus bertajuk Jakarta Maghrib. Dalam film yang juga ia tulis naskahnya ini, Salman berusaha untuk menghadirkan arti dari sebuah waktu maghrib bagi sekelompok kalangan – dalam hal ini, kalangan masyarakat di berbagai sudut kota Jakarta. Lewat lima cerita pendek yang ia hadirkan, Salman dapat dengan bebas menggambarkan maghrib sebagai sebuah waktu transisi dari siang ke malam lewat berbagai genre penceritaan. Usaha yang cukup meyakinkan walau masih belum dapat dikatakan memuaskan secara menyeluruh.













