Posts Tagged ‘Abigail Breslin’

Haunter (Wild Bunch/Copperheart Entertainment/The Government of Ontario - The Ontario Film and Television Tax Credit/The Canadian Audio Visual Certification Office/The Canadian Film and Television Tax Credit/Haunter [Copperheart] Productions Inc., 2013)

Haunter (Wild Bunch/Copperheart Entertainment/The Government of Ontario – The Ontario Film and Television Tax Credit/The Canadian Audio Visual Certification Office/The Canadian Film and Television Tax Credit/Haunter [Copperheart] Productions Inc., 2013)

Menyimak tiga film bernuansa thriller yang pernah diarahkannya, Cube (1998), Cypher (2002) dan Splice (2010), penonton pasti dapat merasakan bahwa Vincenzo Natali adalah seorang sosok sutradara yang gemar untuk mengekplorasi ide-ide baru, segar sekaligus provokatif dalam setiap filmnya. Sayangnya, juga berdasarkan kualitas dari tiga film yang diarahkannya tersebut, Natali terkesan selalu terjebak atas ide besar yang dimiliki oleh jalan cerita film yang ia arahkan untuk kemudian gagal memberikan pengembangan lebih luas dari ide cerita brilian tersebut. Film terbaru Natali sendiri, Haunter, mungkin tidak menawarkan sebuah premis cerita yang akan dianggap banyak orang sebagai sesuatu yang orisinil – para penikmat film pasti akan segera menggambarkan Haunter sebagai sebuah kompilasi ide dari Groundhog Day (1993), The Sixth Sense (1999) sekaligus The Others (2001). Berbagai lapisan tersebut jelas membuat Haunter menjadi sebuah film dengan struktur cerita yang kaya. Namun, apakah Natali mampu mengolah lapisan-lapisan tersebut sehingga Haunter dapat tampil sebagai sebuah presentasi cerita yang solid?

(more…)

enders-game-header

The book is better than this movie. Dan pernyataan tersebut berlaku bahkan untuk Anda yang sama sekali tidak menyadari bahwa Ender’s Game diadaptasi dari sebuah novel. Ditulis oleh novelis Amerika Serikat, Orson Scott Card, Ender’s Game adalah sebuah novel fiksi ilmiah yang menyimpan begitu banyak metafora mengenai kehidupan sosial serta politik manusia meskipun deretan karakter dan konflik yang terjadi di dalamnya membuat novel ini sekilas hanya terlihat sebagai sebuah kisah yang diorientasikan bagi kalangan young adult. Kandungan satir sosial politik yang berbalut kisah fiksi ilmiah inilah yang mampu membuat naskah cerita arahan sutradara Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine, 2009) terasa begitu kuat dalam menantang kemampuan intelektual para penontonnya. Sayangnya, pada kebanyakan bagian, Hood justru seperti terlalu berusaha untuk menjadikan Ender’s Game sebagai sebuah presentasi dengan daya tarik a la film-film blockbuster Hollywood yang (terlalu) luas sehingga membuat film ini justru seperti kehilangan arah sekaligus banyak bagian esensial dalam penceritaannya.

(more…)

the-call-header

The Call sebenarnya adalah sebuah film dengan presentasi cerita yang begitu sederhana – jika Anda memilih untuk tidak menggambarkannya sebagai sebuah film yang dipenuhi dengan berbagai adegan-adegan klise yang sering dijumpai dalam film-film sejenis. Bahkan, dengan keberadaan nama Richard D’Ovidio – yang sebelumnya pernah menuliskan naskah cerita film-film seperti Thir13en Ghosts (2001) dan Exit Wounds (2001) – serta diproduksi oleh WWE Studios – rumah produksi yang juga menghasilkan film-film sekelas The Marine (2006) dan 12 Rounds (2009), The Call jelas memiliki potensi untuk menjadi sebuah thriller berkelas kacangan yang (kebetulan) dibintangi oleh dua aktris kaliber Academy Awards, Halle Berry dan Abigail Breslin. Tidak seorangpun seharusnya dapat mengharapkan sesuatu yang lebih dari film ini.

(more…)

Jadi… darimana kita akan mulai membicarakan mengenai New Year’s Eve? Garry Marshall sebenarnya pernah dikenal sebagai seorang sutradara yang selalu berhasil menghantarkan film-film hiburan yang cukup memorable. Film-filmnya memang tidak pernah dilabeli sebagai sebuah karya yang mampu bersaing di ajang penghargaan film dunia, namun siapapun tentu tidak akan dapat menyangkal kualitas hiburan yang dapat dihantarkan film-film semacam Beaches (1988), Pretty Woman (1990) atau The Princess Diaries (2001). Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kreativitas Marshall sepertinya gagal untuk turut berkembang. Akhirnya, seperti imej yang ia peroleh sekarang, Marshall lebih sering menghadirkan film-film drama romansa dengan deretan bintang besar Hollywood namun dengan kualitas penceritaan yang cenderung mengecewakan.

(more…)