How far would you go to save your son/daughter/wife/loved ones? Akrab dengan tagline maupun premis cerita tersebut? Well… Film drama aksi berjudul Snitch yang menjadi debut penyutradaraan bagi Ric Roman Waugh – yang sebelumnya berprofesi sebagai seorang pemeran pengganti untuk film-film seperti Total Recall (1990), The Crow (1994) hingga Gone in Sixty Seconds (2000) – ini juga menawarkan sebuah alur cerita yang hampir serupa. Namun, naskah cerita Snitch – yang juga ditulis oleh Waugh bersama Justin Haythe (Revolutionary Road, 2008) – tidak hanya sekedar menghadirkan kisah petualangan sesosok karakter dalam menghadapi berbagai rintangan fisik yang harus ditempuhnya sebelum berhasil menyelamatkan karakter yang mereka sayangi. Dalam banyak bagiannya, Snitch mampu menghadirkan penggalian yang lebih mendalam kepada setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita dan sekaligus membuat film ini dapat hadir dalam kapasitas drama yang lebih kuat.
Archive for the ‘Review’ Category
Review: Hummingbird (2013)
Posted: May 17, 2013 in Movies, ReviewTags: Agata Buzek, Benedict Wong, Crazy Joe, David Bradley, Hummingbird, Ian Pirie, Jason Statham, Movies, Redemption, Review, Siobhan Hewlett, Steven Knight, Vicky McClure
Hummingbird adalah sebuah pembuktian bahwa Jason Statham sebenarnya memiliki kemampuan akting yang memadai jika berada di bawah pengarahan yang tepat. Well… jangan dahulu berharap bahwa Statham akan segera mengubah preferensi jenis film yang akan ia perankan atau namanya akan segera banyak terdengar di berbagai ajang penghargaan film dunia. Statham masih tampil dalam lingkup sebagai seorang aktor laga seperti yang selama ini dikenal dunia. Namun dalam film yang juga menjadi debut penyutradaraan bagi penulis naskah asal Inggris, Steven Knight (Eastern Promises, 2007), ini, Statham berhasil hadir lebih dari sekedar seorang aktor yang hanya mampu tampil menarik ketika dilibatkan dalam plot penceritaan yang bernuansa kekerasan, diwarnai banyak ledakan, adegan balap jalanan yang spektakuler atau ketika didampingi gadis-gadis cantik dengan pakaian yang minim.
Review: Cinta Brontosaurus (2013)
Posted: May 15, 2013 in Movies, ReviewTags: Aelke Mariska, Ario Prabowo, Asian Cinema, Bucek Depp, Cinta Brontosaurus, Dewi Irawan, Dimas Gabra, Dwi Putrantiwi, Ence Bagus, Eriska Rein, Fajar Nugros, Fikri Ramdhan, Indonesian Cinema, Joehana Sutisna, Lana Girlly, Lani Girlly, M Griff, Meriam Bellina, Moammar Emka, Movies, Pamela Bowie, Rachel Patricia, Raditya Dika, Review, Richa Iskak, Rizka Wulandari, Ronny P Tjandra, Soleh Solihun, Tyas Mirasih, Yadi Sugandi
Diangkat dari buku berjudul sama karya Raditya Dika, Cinta Brontosaurus berkisah mengenai deretan ketidakberuntungan yang dialami oleh seorang pemuda bernama Dika (Raditya Dika) ketika ia harus berhadapan dengan masalah cinta. Ketika hubungan romansanya dengan Nina (Pamela Bowie) berakhir kandas seperti deretan kisah percintaannya yang telah lalu, Dika akhirnya mendeklarasikan bahwa ia tidak akan lagi mau merasakan yang namanya jatuh cinta. Dika bahkan menyamakan perasaan cinta tersebut layaknya seekor brontosaurus yang suatu saat akan menemukan masa kadaluarsanya… dan kemudian menghilang begitu saja. Pernyataan tersebut jelas ditolak oleh sahabat sekaligus agen penerbitan Dika, Kosasih (Soleh Solihun), yang disaat bersamaan sedang menjalin hubungan romansa dengan Wanda (Tyas Mirasih). Kosasih lantas berinisiatif untuk memperkenalkan Dika dengan beberapa gadis yang dinilainya sesuai dengan kriteria pemuda tersebut.
Review: Evil Dead (2013)
Posted: May 14, 2013 in Movies, ReviewTags: Bob Dorian, Bruce Campbell, Elizabeth Blackmore, Ellen Sandweiss, Evil Dead, Fede Alvarez, Jane Levy, Jessica Lucas, Jim McLarty, Karl Willetts, Lou Taylor Pucci, Movies, Phoenix Connolly, Randal Wilson, Review, Rupert Degas, Shiloh Fernandez, Sian Davis, Stephen Butterworth
The Most Terrifying Film You Will Ever Experience? Hardly. Dan merilis versi terbaru dari The Evil Dead (1981) setelah kecerdasan The Cabin in the Woods (2011) bahkan semakin membuat tagline tersebut terkesan terlalu berlebihan. Sejujurnya, The Evil Dead yang berhasil memperkenalkan nama Sam Raimi ke kalangan penikmat film – khususnya para penggemar film-film horor – di berbagai penjuru dunia tersebut bukanlah sebuah film horor yang begitu menakutkan. Raimi mampu menggarap The Evil Dead dengan baik, memadukan unsur horor dengan komedi yang kental sekaligus mendefinisikan kembali arti kehadiran tumpahan darah pada sebuah film horor mainstream Hollywood di kala itu. Namun mengerikan? Not really. Lalu apa yang ingin dicapai Raimi dengan memberikan kesempatan pada sutradara asal Uruguay, Fede Alvarez, untuk me-remake salah satu filmnya yang paling fenomenal tersebut?
Review: What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013)
Posted: May 12, 2013 in Movies, ReviewTags: Adella Fauzi, Alya Syahrani, Anggun Priambodo, Angkasa Ramadhan, Anindya Krisna, Asian Cinema, Ayushita Nugraha, Debbie Rivinandya, Don't Talk Love, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Karina Salim, Khiva Iskak, Lupita Jennifer, Mouly Surya, Movies, Nicholas Saputra, Review, Tidak Bicara Cinta, Tutie Kirana, What They Don’t Talk About When They Talk About Love, Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta
Bagaimana sesungguhnya rasa cinta itu bermula? Dari ketertarikan pandangan terhadap rupa seseorang? Deretan dialog puitis yang terdengar begitu romantis di telinga? Atau dari kemampuan mulut untuk mengolah dan memadukan kata yang ingin didengarkan oleh seseorang? Bagaimana jika mata, mulut atau telinga tidak lagi dapat berfungsi dengan sempurna untuk menghantarkan berbagai sensasi perasaan tersebut? Apakah manusia tetap mampu merasakan indahnya jatuh cinta? Problematika inilah yang ingin dijabarkan oleh Mouly Surya dalam film terbarunya, What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Di tangan kebanyakan sutradara, premis tersebut mungkin akan berakhir sebagai sebuah kisah romansa yang manis atau menyentuh atau justru melelahkan – seperti kebanyakan kisah romansa yang hadir di industri film Indonesia belakangan ini. Namun Mouly Surya jelas bukanlah “kebanyakan sutradara”. Dengan pendekatan yang berani dan jauh dari kesan biasa – serta akan memberikan banyak ruang kepada setiap penonton untuk menginterpretasikan jalan cerita film ini, Mouly berhasil menyajikan sebuah presentasi yang tidak hanya sekedar manis atau menyentuh, namun juga kembali membuktikan bahwa dirinya adalah seorang sutradara dengan visi dan kemampuan bercerita yang begitu brilian.
Review: Kisah 3 Titik (2013)
Posted: May 8, 2013 in Movies, ReviewTags: Arswendi Nasution, Asian Cinema, Bobby Prabowo, Dimas Hary, Donny Alamsyah, Ence Bagus, Gary Iskak, Gessata, Indonesian Cinema, Ingrid Widjanarko, Kisah 3 Titik, Lola Amaria, Lukman Sardi, Maryam Supraba, Miea Kusuma, Movies, Rangga Djoned, Review, Ririn Ekawati
Lola Amaria sepertinya memiliki rasa ketertarikan yang sangat mendalam untuk mengangkat karakter-karakter yang seringkali terasa terpinggirkan dalam kehidupan keseharian masyarakat. Setelah sebelumnya mengangkat seluk-beluk kehidupan para buruh migran Indonesia di Hong Kong lewat Minggu Pagi di Victoria Park (2010) dan berbagai sisi penceritaan kaum homoseksual lewat omnibus Sanubari Jakarta (2012), film terbaru yang ia produseri, Kisah 3 Titik, berusaha untuk memberikan gambaran mengenai kehidupan para kaum pekerja dan buruh di Indonesia. Sebuah tema penceritaan yang jelas cukup rumit sekaligus sulit untuk dijabarkan secara menyeluruh hanya dalam 104 menit durasi penceritaan, namun Kisah 3 Titik setidaknya mampu menghadirkan sisi nyata kehidupan para buruh yang tidak dapat dipungkiri akan memberikan rasa miris di hati banyak penontonnya.
Review: The Legend of Trio Macan (2013)
Posted: May 7, 2013 in Movies, ReviewTags: Andry Bokcoy, Asian Cinema, Billy Christian, Indonesian Cinema, Iva Novanda, Lia Amelia, Movies, Neni Anggraeni, Review, Rully Fiss, Sam Brodie, Sherly Chacha, The Legend of Trio Macan, Trio Macan, Udin Penyok
Dengan naskah yang ditulis oleh Toha Essa (Sumpah, (Ini) Pocong!, 2009), The Legend of Trio Macan memiliki latar belakang lokasi cerita di sebuah kampung China Peranakan pada masa seratus tahun silam. Dikisahkan, Bu Beng Chot alias A Chot memiliki segala hal untuk dapat menjadi seorang ketua perguruan silat yang disegani khalayak luas… kecuali tinggi tubuhnya. Akibat sebuah kutukan yang dijatuhkan pada dirinya, A Chot memiliki tinggi tubuh yang jauh lebih pendek dari ukuran pria dewasa dan seringkali membuatnya menjadi bahan tertawaan banyak orang. Untuk dapat menghilangkan kutukan tersebut, A Chot kemudian diharuskan untuk menikahi seorang gadis perawan yang terlahir dengan sebuah tanda lahir khusus berbentuk macan di tubuhnya sebelum berlangsungnya malam Imlek di tahun tersebut. Pencarian A Chot yang dibantu dengan dua asistennya kemudian berakhir setelah mereka menemukan seorang gadis cantik bernama Iva.
Review: Lawless (2012)
Posted: May 5, 2013 in Movies, ReviewTags: Alex Van, Bill Camp, Chris McGarry, Dane DeHaan, Gary Oldman, Guy Pearce, Jason Clarke, Jessica Chastain, John Hillcoat, Lawless, Lew Temple, Marcus Hester, Mia Wasikowska, Movies, Noah Taylor, Review, Shia LaBeouf, Tim Tolin, Tom Hardy
Mempertemukan kembali sutradara asal Australia, John Hillcoat (The Road, 2009), dengan penulis naskah Nick Cave (The Proposition, 2005) serta aktor langganannya, Guy Pearce, Lawless merupakan kisah yang diadaptasi dari novel berjudul The Wettest County in the World yang ditulis oleh Matt Bondurant dan berkisah mengenai kehidupan kakeknya, Jack Bondurant, serta dua kakaknya, Forrest dan Howard Bondurant, yang sempat menjadi pembuat dan penyelundup minuman keras secara ilegal di Amerika Serikat ketika negara tersebut melarang adanya segala bentuk produksi, penjualan serta distribusi minuman beralkohol pada tahun 1920 hingga tahun 1933. Sayangnya, meskipun menawarkan premis cerita dengan kapasitas dunia kejahatan serta kekerasan yang begitu kental, Lawless justru terasa… lifeless akibat pengembangan narasi yang terlalu datar serta penggalian karakter yang begitu dangkal.
Review: 9 Summers 10 Autumns (2013)
Posted: May 3, 2013 in Movies, ReviewTags: 9 Summers 10 Autumns, Ade Irawan, Agni Pratistha, Alex Komang, Asian Cinema, Dewi Irawan, Dira Sugandi, Ence Bagus, Epy Kusnandar, Hayria Faturrahman, Ida Ayu Wadanthi Purnama Dewi, Ifa Isfansyah, Ihsan Tarore, Indonesian Cinema, Movies, Review, Ria Irawan, Shafil Hamdi Nawara, Swasti Nuswantari
Menghadirkan sebuah film dengan jalan penceritaan yang memaparkan tentang kisah perjalanan seseorang dalam mencapai kesuksesan hidupnya jelas adalah suatu hal yang cukup rumit. Di satu sisi, film-film dengan tema tersebut adalah sajian yang biasanya dapat dengan mudah menarik minat penonton film Indonesia – khususnya jika kisah tersebut merupakan sebuah hasil adaptasi dari kisah nyata dan disajikan dengan balutan emosional yang kuat. Namun, di sisi lain, dengan penggarapan yang kurang berhati-hati, banyak diantara film-film sejenis yang akhirnya hadir dengan sajian drama yang terasa terlalu dipaksakan untuk menginspirasi maupun menyentuh penontonnya. Lalu, sebagai sebuah film yang juga menghadirkan tema penceritaan yang sama, apa yang dapat ditawarkan oleh 9 Summers 10 Autumns kepada para penontonnya?
Review: Iron Man 3 (2013)
Posted: May 1, 2013 in Movies, ReviewTags: Ashley Hamilton, Ben Kingsley, Don Cheadle, Guy Pearce, Gwyneth Paltrow, Iron Man 3, James Badge Dale, Jon Favreau, Mark Ruffalo, Miguel Ferrer, Movies, Paul Bettany, Rebecca Hall, Review, Robert Downey Jr, Shane Black, Shaun Toub, Stan Lee, Stephanie Szostak, Ty Simpkins, Wang Xueqi, William Sadler
So… what’s next for Marvel Studios after the huge success of that little movie called The Avengers (2012)? It’s the return of the Iron Man, apparently. Dan di bagian ketiga penceritaannya – yang masih dibintangi oleh Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow dan Don Cheadle namun kini disutradarai oleh Shane Black (Kiss Kiss Bang Bang, 2005) yang menggantikan posisi Jon Favreau, Iron Man terkesan menyerap secara seksama pola penceritaan yang diterapkan Joss Whedon dalam The Avengers yakni dengan memasukkan lebih banyak unsur komedi ke dalam jalan penceritaannya. Hasilnya mungkin akan menghasilkan pendapat yang beragam dari banyak penggemar franchise ini. But then again… jelas sama sekali tidak ada salahnya untuk mengambil rute penceritaan yang berbeda ketika Anda sedang menangani sebuah tema yang telah begitu familiar. Khususnya ketika Anda mampu menanganinya dengan baik dan berhasil muncul dengan sebuah presentasi cerita yang benar-benar cerdas dan menghibur.





















