tak-sempurna-header

Dengan konsep penceritaan yang berjalan hanya selama satu hari, Tak Sempurna memulai kisahnya dengan mengenalkan tiga karakter utama film ini, yang juga saling bersahabat, Dey (Derry Neo) yang sama sekali tidak memiliki rasa takut, Ba’on (G-voiz) yang tidak dapat berbicara karena lidahnya yang telah terpotong serta Sabun (Dallas Pratama) yang merupakan sosok pemuda taat beragama. Ketiganya tinggal di sebuah daerah pinggiran kota yang jelas jauh dari kesan mewah. Dalam kesehariannya, Dey dan Ba’on menjual ganja hasil olahan Prof (Norman Akyuwen) sementara Sabun menjual DVD bajakan – walaupun ia sepertinya sama sekali tidak menyadari kalau pekerjaannya adalah sebuah tindakan yang ilegal.

Konflik mulai hadir ketika secara tidak sengaja, Ba’on berhasil menyelamatkan seorang gadis cantik, Mel (Tya Arifin), dari sebuah usaha perampokan. Pertemuannya secara langsung dengan Mel ternyata mampu membuat Ba’on jatuh hati terhadap sosok gadis tersebut. Di saat yang bersamaan, tindakan Ba’on dalam menghentikan perampokan yang akan menimpa Mel justru berbuntut panjang. Perampokan tersebut ternyata telah direncanakan oleh seorang wanita bernama Bu Yamin (Sania) yang merasa curiga kalau suaminya, Iwa (Iwa K), telah berselingkuh dengan Mel. Tak rela kalau rencananya digagalkan, Bu Yamin mulai mengirimkan orang kepercayaannya untuk menangkap sekaligus menghabisi Ba’on.

Funnily enough… tak sempurna mungkin adalah dua kata yang secara sempurna dapat menggambarkan bagaimana kualitas presentasi Tak Sempurna secara keseluruhan. Film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Herman Kumala Panca – yang juga menulis naskah cerita film bersama dengan Baskoro Adi (Hi5teria, 2012) – ini sebenarnya memiliki potensi yang cukup kuat untuk memberikan warna penceritaan baru dalam industri film Indonesia. Bagaimana tidak? Daripada menghadirkan kisahnya dengan perantaraan penampilan para aktor maupun aktris Indonesia yang telah biasa berakting, Tak Sempurna justru hadir dengan menggunakan talenta akting para anggota komunitas musik hip-hop Indonesia – yang secara mengejutkan mampu tampil dengan cukup meyakinkan. Sayangnya, fondasi cerita yang menopang Tak Sempurna justru tampil begitu lemah yang membuat 86 menit durasi penceritaan film ini terasa begitu berantakan.

Dengan menghadirkan cerita yang hanya berlatar belakang waktu pada masa satu hari penceritaan, jelas adalah sebuah pilihan yang tidak efektif untuk kemudian menghadirkan deretan karakter yang terlalu banyak di dalam jalan cerita. Seperti dapat ditebak, karakter-karakter yang dihadirkan dalam Tak Sempurna kemudian berlalu lalang begitu saja, tanpa pernah mendapatkan penggalian karakter dan plot penceritaan yang mampu menarik perhatian penonton. Ini masih ditambah lagi dengan deretan konflik yang terus menerus bertambah dengan seiring berjalannya durasi film. Mulai dari persaingan cinta karakter Ba’on dan Sabun dalam merebut perhatian Mel, kisah kehidupan pribadi karakter Dey, kisah hubungan gelap antara karakter Iwa dan Mel, usaha karakter Bu Yamin untuk membalas dendam terhadap suaminya yang berselingkuh serta beberapa konflik minor lainnya. Hasilnya, konflik-konflik tersebut terasa hadir, mendapatkan penggalian yang dangkal dan untuk kemudian menghilang begitu saja.

Pengarahan Herman Kumala Panca juga terasa kurang berpengaruh di kebanyakan bagian. Alur penceritaan Tak Sempurna sama sekali tidak pernah terasa mengalir dengan baik. Penggunaan banyak lagu-lagu bernuansa hip-hop di berbagai adegan film juga lebih sering terasa sebagai gimmick belaka daripada sebagai elemen penting yang mampu meningkatkan dan mendukung kualitas penceritaan film. Kekuatan utama film ini jelas datang dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Dengan nama-nama bintang musik hip-hop Indonesia yang sama sekali belum pernah menampilkan penampilan akting mereka, Tak Sempurna justru sedikit mampu menyembunyikan kelemahan sisi penceritaannya melalui penampilan para pemerannya yang terasa hidup. Chemistry yang terjalin antar pemeran juga muncul meyakinkan yang membuat departemen akting Tak Sempurna menjadi terasa cukup solid.

Jika saja naskah cerita Tak Sempurna mau memangkas kehadiran beberapa karakter serta konflik yang dibawakan oleh karakter-karakter tersebut, mungkin latar belakang cerita film yang hanya berjalan selama satu hari saja dapat tersaji dengan lebih fokus dan efektif. Tak Sempurna jelas bukanlah sebuah presentasi yang buruk, setidaknya usaha untuk menghadirkan sebuah penceritaan drama dengan pengaruh hip-hop culture yang kental mampu menjadikan Tak Sempurna terasa unik dibandingkan kebanyakan film-film drama Indonesia lainnya. Sayangnya, unik saja jelas tidak akan cukup untuk mampu menarik perhatian penonton jika gagal tergarap dengan baik. Naskah cerita yang terlalu bertele-tele dengan deretan karakter yang terlalu dangkal menjadikan Tak Sempurna terasa begitu datar dan jauh dari kesan menarik selama penceritaannya.

popcornpopcorn popcorn2popcorn2popcorn2

Tak Sempurna (Putaar Production/Cineprime Pictures, 2013)

Tak Sempurna (Putaar Production/Cineprime Pictures, 2013)

Tak Sempurna also known as King of Rock City (2013)

Directed by Herman Kumala Panca Produced by Ferri Yuniardo, Herman Kumala Panca Written by Baskoro Adi, Herman Kumala Panca Starring Derry Neo, G-voiz, Dallas Pratama, Mathias Muchus, Tya Arifin, Norman Akyuwen, Iwa K, Saykoji, Sania, John Parapat, Udjo Project Pop, Yosi Project Pop, Jaydee Soul ID, Sammy @Notaslimboy, Ras Muhamad Cinematography Gandang Warah Editing by Herman Kumala Panca Studio Putaar Production/Cineprime Pictures Running time 86 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s