petualangan-lollypop-header

Petualangan Lollypop adalah sebuah film drama keluarga yang diarahkan oleh Dede Ferdinand – nama yang mungkin akan Anda temukan dengan kredit sebagai sutradara atau penulis naskah pada film-film seperti Anda Puas Saya Loyo (2008), Skandal Cinta Babi Ngepet (2008), 3 Playboy Galau (2013) dan Misteri Cipularang (2013). Sebuah rekam jejak yang cukup mampu membuat banyak orang merasa was-was sebelum mereka memutuskan untuk menyaksikan film ini. Well… mungkin sedikit pujian layak disematkan pada Dede Ferdinand atas pilihannya untuk menjauh dari material-material dangkal yang jelas hanya menjual daya tarik seksual para pemerannya guna menarik perhatian penonton. Namun, di sisi lain, tidaklah sulit untuk menyadari bahwa Dede Ferdinand yang mengarahkan Petualangan Lollypop masih merupakan Dede Ferdinand dengan kualitas pengarahan yang pernah ia tunjukkan pada film-film yang mengisi daftar filmografinya di masa lampau tersebut. Secara singkat, Petualangan Lollypop adalah sebuah karya yang benar-benar berantakan.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Nikotopia dan Andhika Rahmadian, Petualangan Lollypop berkisah mengenai perjalanan liburan yang dilakukan oleh sekelompok anak sekolah dasar asal Jakarta. Sial, perjalanan mereka kemudian terhambat oleh bocornya salah satu ban dari bus yang mereka tumpangi. Ketika masa menunggu perbaikan bocornya ban bus itulah, lima anak yang dipimpin oleh Lolly (Diego Robbana) kemudian meninggalkan bus untuk mengejar sosok seorang kakek, Ujang (Rony Dozer), yang menawarkan mereka permen lollipop. Bukannya berhasil mengejar sang kakek, Lolly dan keempat temannya justru kehilangan arah dan akhirnya terjebak di tengah hutan.

Setelah sekian lama mengelilingi hutan untuk mencoba kembali menemukan arah menuju bus mereka, kelima anak tersebut kemudian bertemu dengan seorang pria bernama Lik Gono (Fendi Pradana) yang menawarkan mereka tempat menginap dan menjanjikan untuk mengantarkan mereka ke bus keesokan paginya. Walau sempat merasa senang dengan tawaran serta perlakuan baik dari Lik Gono, namun Lolly mulai curiga dengan tingkah laku pria tersebut setelah Lik Gono terus menunda janjinya untuk membawa ia dan teman-temannya menuju bus. Pertemuan Lolly kembali secara tidak sengaja dengan Ujang kemudian mengkonfirmasi bahwa Lik Gono memang bukanlah orang yang baik. Maka dimulailah usaha Lolly dan teman-temannya untuk melarikan diri dari jebakan yang telah disiapkan Lik Gono.

Sulit untuk menemukan sisi yang benar-benar menarik maupun berkualitas dari presentasi keseluruhan Petualangan Lollypop. Seperti halnya 3 Playboy Galau, yang juga merupakan hasil kerjasama sutradara Dede Ferdinand dengan duo penulis naskah Nikotopia dan Andhika Rahmadian, Petualangan Lollypop benar-benar terasa berantakan dalam menyampaikan jalan penceritaannya, mulai dari penulisan plot cerita yang mengandung begitu banyak kelemahan di berbagai bagiannya, konflik yang tidak pernah benar-benar meyakinkan untuk dihadirkan hingga deretan karakter yang tersaji dengan terlalu datar untuk dapat tampil menarik perhatian penonton.

Pengarahan Dede Ferdinand juga masih terasa begitu lemah, khususnya ketika ia harus mengarahkan deretan pemeran muda yang sama sekali belum pernah memiliki pengalaman akting sebelumnya. Tidak mengherankan jika di sepanjang 81 menit presentasi Petualangan Lollypop, Diego Robbana dan para pemeran lainnya terlihat canggung dan terbata-bata dalam mengucapkan setiap dialognya – walau mereka masih mampu terlihat tampil bersenang-senang di sepanjang penampilannya. Tidak hanya para pemeran muda, para pemeran dewasa juga masih sering terlihat tampil dalam kapasitas akting yang jauh dari mengesankan. Benar-benar hadir dengan kualitas yang menyedihkan.

Well… tidak banyak hal yang dapat diungkapkan dari Petualangan Lollypop selain bahwa film ini hadir dengan kualitas yang benar-benar kacau. Sebagai sebuah film yang ditujukan untuk dinikmati para penonton muda, Petualangan Lollypop mungkin masih mampu memberikan beberapa momen menyenangkan bagi penonton yang memang menjadi target utama film ini. Namun, diluar dari kelompok itu, Petualangan Lollypop benar-benar merupakan salah satu pengalaman menonton film paling tidak menyenangkan yang akan dialami oleh setiap orang. Dengan naskah yang benar-benar buruk, pengarahan cerita dan akting yang lemah sekaligus penampilan para pemeran yang kaku, Petualangan Lollypop menyusul 3 Playboy Galau menjadi salah satu kontender film Indonesia terburuk yang dirilis pada tahun ini.

popcornpopcorn3popcorn2popcorn2popcorn2

Petualangan Lollypop (Tobali Putra Production, 2013)

Petualangan Lollypop (Tobali Putra Production, 2013)

Petualangan Lollypop (2013)

Directed by Dede Ferdinand Produced by Dede Ferdinand Written by Nikotopia, Andhika Rahmadian Starring Diego Robbana, Fendi Pradana, Rony Dozer, Violeta Burhan, Zahra Khansa, M. Syahfikar, Idrus Yahya, Steve Lorente Music by Artmosphere Cinematography Ducko Chan Editing by Idrus J. Eko, Rony Dharmaputra Studio Tobali Putra Production Running time 81 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. billy says:

    Bung Amir, ditunggu review-nya Pacific Rim yaa…
    Eh ngomong2 soal film 3 Playboy Galau… jadi inget sama yang komen yang namanya Wong Ndeso, yg membela habis2-an film tsb. jadi curiga jangan2 dia salah satu kru film tsb, atau sutradara-nya, atau penulis naskahnya yg ndak terima film-nya direview jelek sama Bung Amir…hahaa

  2. santi says:

    Tolong review film La tahzan dong. Please……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s