jokowi-header

Selain film-film yang naskah ceritanya mengadaptasi sebuah novel, penonton Indonesia sepertinya saat ini sedang benar-benar menggemari film-film biopik yang jalan ceritanya menghadirkan kisah hidup para tokoh masyarakat populer. Tercatat, film-film seperti Sang Pencerah (2010), Soegija (2012), Habibie & Ainun (2012) hingga Sang Kiai (2013) mampu membujuk penonton Indonesia – yang dikenal sulit untuk datang ke bioskop dan menyaksikan film produksi negara mereka sendiri – untuk kemudian datang secara beramai-ramai dan menikmati kembali perjalanan hidup tokoh idola mereka. Tidak mengherankan bila kemudian KK Dheeraj – yang namanya akan selamanya terpaut pada film-film seperti Genderuwo (2007), Anda Puas Saya Loyo (2008) atau Mr. Bean Kesurupan Depe (2012) yang diproduksi oleh rumah produksi yang ia miliki, K2K Production – secara jeli mencoba untuk memanfaatkan peluang pasar tersebut. Tokoh yang coba ia angkat? Tidak lain adalah sosok Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang sedang menjabat, Joko Widodo atau yang lebih akrab dengan sebutan Jokowi, yang kepopuleran figurnya memang begitu menanjak di kalangan masyarakat Indonesia saat ini.

Jokowi sendiri sama sekali tidak mencoba menceritakan mengenai bagaimana kisah perjuangan Jokowi untuk mencapai posisinya saat ini di pemerintahan. Jokowi bahkan terlihat sama sekali berusaha menjauh dari berbagai sisi kehidupan Jokowi yang bersinggungan dengan dunia politik. Naskah cerita yang ditulis oleh Joko Nugroho bersama sutradara Azhar Kinoi Lubis justru lebih memilih untuk menggambarkan bagaimana kehidupan seorang Jokowi di masa lampau, bagaimana kedua orangtuanya berusaha untuk membesarkannya hingga bagaimana perjalanan hidupnya tersebut mampu membentuk karakter seorang Jokowi hingga seperti saat ini. Dengan tambahan dramatisasi di beberapa sudut cerita, Jokowi mampu tampil cukup lancar untuk bercerita meskipun usaha pengagungan karakter Jokowi yang terasa sedikit berlebihan membuat jalan cerita film ini lebih terasa sebagai sebuah sajian drama daripada sebuah biopik yang dapat membentuk hubungan emosional kepada penontonnya.

Jalan cerita Jokowi sendiri dimulai ketika Joko Widodo (Ilham Rohman Wijaya/Ilham Ridho Ilahi/Vincentius Aldy Pyo/Teuku Rifnu Wikana) terlahir dari pasangan Notomiharjo (Susilo Badar) dan Sujiatmi (Ayu Dyah Pasha). Berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang dapat disebut pas-pasan, Joko seringkali harus melalui kesehariannya dengan serba kekurangan. Walaupun begitu, baik ayah dan ibunya selalu memastikan agar Joko dapat tetap terus mengenyam pendidikan yang layak sekaligus mengajarinya menjadi sosok yang jujur serta berani dalam dalam menghadapi kehidupan. Usaha tersebut tidak sia-sia. Selain menjadi sosok yang cerdas dalam melalui setiap jenjang pendidikannya, Joko juga tumbuh menjadi sosok yang tidak takut dalam menghadapi berbagai tantangan hidupnya serta selalu mengedepankan kesederhanaan serta kejujuran dalam setiap perbuatannya.

Harus diakui, sebagai sebuah biopik, Jokowi memiliki terlalu sedikit sudut penceritaan yang menarik untuk dapat dijabarkan kepada penontonnya. Hal inilah yang mungkin menyebabkan Joko Nugroho dan Azhar Kinoi Lubis memilih untuk lebih berkonsentrasi pada penceritaan kisah hidup karakter Joko Widodo semasa kecil – masa-masa dimana ia melalui gemuruh pemberontakan PKI, berbagai tantangan hidup yang harus dilalui orangtuanya serta kerikil-kerikil kecil yang terhampar pada jalanan hubungan antara dirinya dan sang ayah. Begitu kuatnya peran masa kecil karakter Joko Widodo mengambil tempat di naskah cerita film ini, lebih dari separuh durasi Jokowi yang sepanjang 117 menit tersebut dihabiskan untuk memaparkan bagian penceritaan tersebut.

Langkah yang dipilih dalam penceritaan Jokowi tersebut sebenarnya tidak salah. Namun, karakterisasi yang diberikan pada Jokowi membuatnya lebih terlihat sebagai sosok yang suci daripada sosok manusia yang mampu menyerap dan belajar dari pengalaman hidupnya untuk menjadi sosok yang lebih arif ketika dewasa. Jauh dari kesan humanis. Terlebih lagi, ketika linimasa penceritaan berpindah ke masa dewasa karakter Jokowi, film ini terlihat bergerak dengan begitu cepat dalam memasukkan berbagai unsur ceritanya, mulai dari masa pendidikan sekolah serta kuliahnya, hubungan romansanya hingga usahanya untuk mampu menjadi sosok pria yang mandiri. Terasa begitu timpang antara pengisahan masa kecil karakter Joko Widodo yang tersaji dengan fokus yang kuat dengan masa dewasanya yang terkesan hanya dihadirkan bagai kilasan-kilasan kejadian belaka.

Terlepas dari kelemahan dari sisi penulisan naskahnya, Jokowi harus diakui mampu dihadirkan dengan dukungan penampilan akting serta kualitas produksi yang cukup memuaskan. Dua pemeran Jokowi, Vincentius Aldy Pyo yang memerankan Jokowi di masa kecil serta Teuku Rifnu Wikana yang memerankan karakter tersebut di masa dewasa, mampu memberikan kehidupan pada karakter yang mereka mainkan, mulai dari gestur tubuh hingga tata bicara karakter tersebut – meskipun rambut palsu yang digunakan oleh Teuku Rifnu Wikana dalam memerankan karakter Joko Widodo harus diakui benar-benar terlihat menggelikan dan cukup mengganggu. Penampilan Prisia Nasution yang berperan sebagai love interest bagi karakter Joko Widodo juga berjalan begitu alami walaupun dengan porsi romansa yang begitu terbatas dan kurang tergali dengan baik.

Tiga pemeran pendukung film ini, Susilo Badar, Ayu Dyah Pasha serta Sulung Landung, yang masing-masing berperan sebagai ayah, ibu dan kakek dari karakter Joko Widodo juga harus diakui mampu memberikan penampilan yang begitu kuat dan emosional. Peran ketiganya juga yang sering memberikan nilai tambah pada jalan penceritaan Jokowi yang kadang terkesan terlalu mendramatisasi keadaan secara berlebihan. Kualitas tata produksi Jokowi juga mampu tampil mengesankan dengan desain produksi yang mampu membawa penontonnya ke atmosfer cerita yang berlatarbelakangkan masa lalu dengan baik hingga tata sinematografi arahan Muhammad Firdaus yang mampu menghasilkan gambar-gambar bernuansa keras namun tetap indah untuk disaksikan.

Meskipun kualitas penceritaan Jokowi – tidak buruk namun minim dalam menghadirkan rangkaian kisah yang menarik sebagai sebuah biopik – sama sekali tidak menjawab pertanyaan mengapa biopik ini terasa esensial untuk diproduksi selain untuk urusan komersial, namun Jokowi masih beruntung didukung dengan talenta-talenta kuat yang mengisi departemen akting serta tata produksinya. Berkat bantuan mereka, Jokowi masih mampu berjalan cukup lancar dalam mengalirkan kisahnya meskipun seringkali gagal untuk membuat penonton benar-benar peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam jalan penceritaan film ini. Lebih dari itu, Jokowi mungkin hanya dapat dipandang sebagai sebuah usaha yang cukup baik namun masih kekurangan amunisi yang tepat untuk dapat mengeksekusinya sehingga mampu menjadi sebuah presentasi yang mengesankan secara keseluruhan.

popcornpopcornpopcorn popcorn2popcorn2

Jokowi (K2K Production, 2013)

Jokowi (K2K Production, 2013)

Jokowi (2013)

Directed by Azhar Kinoi Lubis Produced by KK Dheeraj Written by Joko Nugroho, Azhar Kinoi Lubis Starring Teuku Rifnu Wikana, Prisia Nasution, Ayu Dyah Pasha, Susilo Badar, Landung Simatupang, Ratna Riantiarno, Dani Dwi Kris, Ahmad Nur Rohman, Ilham Ridho Ilahi, Vincentius Aldy Pyo, Ilham Rohman Wijaya, Rukman Rosadi, Annisa Hertami, Nurul Hidayati, Farisah, Pritt Timothy Music by Yovial Tri Purnomo Virgi Cinematography Muhammad Firdaus Editing by Wawan I Wibowo Studio K2K Production Running time 117 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. Wedge says:

    Posternya mirip sekali dengan Habibie-Ainun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s