Man-of-Steel-header

Pertanyaan terbesar bagi kehadiran Man of Steel adalah jelas: Apakah keberadaan Christopher Nolan di belakang karakter pahlawan milik DC Comics ini mampu memanusiawikan karakter Superman seperti halnya yang pernah ia lakukan pada Batman melalui trilogi The Dark Knight (2005 – 2012)? Wellit worksat times. Bersama dengan penulis naskah David S. Goyer – yang juga merupakan penulis naskah dari trilogi The Dark Knight, Nolan mampu menyajikan sosok Kal-El/Clark Kent/Superman sebagai sosok yang membumi – meskipun Man of Steel dengan jelas menonjolkan sang pahlawan sebagai seorang yang asing di muka Bumi. Arahan sutradara Zack Snyder juga cukup berhasil membuat Man of Steel hadir sebagai sebuah presentasi film aksi yang mumpuni. Namun, dalam perjalanan untuk mengisahkan kembali masa lalu serta berbagai problema kepribadian yang dimiliki oleh Kal-El/Clark Kent/Superman tersebut, Man of Steel sayangnya hadir dengan karakter-karakter yang kurang tergali dengan baik, alur penceritaan yang terburu-buru serta – seperti kebanyakan film arahan Snyder lainnya, berusaha berbicara terlalu banyak namun gagal tereksekusi dengan baik.

Man of Steel is the Batman Begins of this newly rejuvenated franchise. So it’s basically Superman Begins. A new beginning. A reboot. Dikisahkan, Superman, yang oleh orangtua kandungnya, Jor-El (Russell Crowe) dan Lara Lor-Van (Ayelet Zurer), diberi nama Kal-El, terlahir di sebuah planet bernama Krypton di masa-masa planet tersebut sedang menghadapi dua masalah besar: Krypton berada di ambang kehancuran dan pimpinan militer planet tersebut, General Zod (Michael Shannon), sedang melakukan kudeta terhadap para pemimpin planet – yang kemudian berusaha digagalkan Jor-El. Jor-El dan Lara Lor-Van sendiri kemudian mengirimkan Kal-El ke Bumi demi keselamatan sang anak. General Zod yang mengetahui rencana tersebut kemudian bersumpah untuk mencari Kal-El dan membalaskan dendamnya.

Sesampainya di Bumi, Kal-El kemudian diadopsi oleh pasangan petani, Jonathan (Kevin Costner) dan Martha Kent (Diane Lane), dan memberinya nama Clark Kent (Cooper Timberline/Dylan Sprayberry/Henry Cavill). Meskipun Pa Kent berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan identitas Clark Kent yang sesungguhnya, namun secara perlahan, Clark Kent mulai menyadari bahwa dirinya memiliki sebuah kekuatan berbeda dari manusia biasa yang sekaligus membuatnya terasing dari pergaulan luas. Dari titik tersebut, Clark Kent memulai perjalanan untuk mulai mencari siapa jati dirinya yang sesungguhnya. Di saat yang bersamaan, General Zod akhirnya bisa mengendus lokasi keberadaan sosok yang paling dicarinya selama ini dan mulai mengerahkan pasukannya untuk menangkap Kal-El/Clark Kent.

Momen-momen keemasan Man of Steel jelas berada di bagian awal dan akhir film – plot yang bercerita mengenai kondisi planet Krypton serta momen ketika Superman akhirnya berhadapan dengan General Zod. Sementara itu, bagian pertengahan film, yang seharusnya menjadi elemen krusial bagi pembangunan ikatan emosional jalan cerita film ini kepada para penontonnya, hadir dengan penceritaan yang kurang mampu tertata dengan baik. Bagian tersebut memang dihadirkan sebagai alat untuk penyampaian kisah mengenai bagaimana karakter Clark Kent menjalani masa pertumbuhannya sebagai warga Bumi serta perkembangan psikologis sang pahlawan dalam menemukan kekuatannya. Sayangnya, Man of Steel seperti berusaha untuk merangkum banyak kisah kehidupan sang karakter namun gagal untuk dipresentasikan dengan memuaskan – lebih sering terasa sebagai kilasan kehidupan karakter Clark Kent daripada sebagai sebagai sebuah narasi lengkap. Sebuah keterburu-buruan yang menghilangkan kesempatan penonton untuk mengenal karakter Superman secara lebih mendalam sekaligus meminimalisir keterlibatan Kevin Costner dan Diane Lane yang sebenarnya tampil cukup emosional di dalam jalan cerita.

Jalan cerita Man of Steel mulai terasa kembali terorganisir dengan cukup baik ketika film ini beralih pada paruh ketiga penceritaan dimana karakter Superman dan General Zod akhirnya saling berhadapan. Meskipun terdapat beberapa inkonsistensi – karakter Superman menyarankan seorang penduduk untuk masuk ke rumahnya agar lebih aman namun di saat yang sama kemudian dengan leluasa menghancurkan berbagai gedung yang pastinya berisi banyak umat manusia saat ia sedang bertarung dengan General Zod, namun Snyder mampu menggambarkan berbagai kekacauan yang hadir di sepanjang adegan pertarungan tersebut dengan baik sekaligus meningkatkan intensitas jalan cerita yang terlanjur melempem di paruh kedua. Dukungan tata sinematografi arahan Amir Mokri dan tata musik Hans Zimmer – yang terdengar begitu familiar – juga semakin mendukung kepadatan intensitas film ini.

Berbicara mengenai pengarahan Snyder… well… rasanya sangat jelas bahwa Snyder dalam Man of Steel terkesan hanyalah sebagai boneka bagi Christopher Nolan: ia cukup bertugas sebagai pengeksekusi dari berbagai langkah penceritaan yang telah disediakan Nolan dan David S. Goyer untuknya – yang sebenarnya juga mengikuti deretan pola penceritaan mereka pada trilogi The Dark Knight terdahulu. Mereka yang mengikuti karir Snyder pasti dapat merasakan bahwa Snyder meninggalkan seluruh gaya khas pengarahan filmnya. Di sisi lain, melihat kehadiran Snyder tanpa berbagai ciri khas visual pengarahannya, bukankah adalah sangat miris untuk menyadari bahwa Snyder adalah seorang sutradara dengan visi serta kemampuan pengarahan cerita yang… dangkal?

Henry Cavill sendiri memberikan penampilan yang sangat memuaskan sebagai Clark Kent/Superman. Tidak hanya memiliki penampilan fisik yang tampan sekaligus gagah, Cavill juga mampu menghadirkan kharisma seorang good old fashioned boy next door yang memang telah menjadi karakteristik seorang Clark Kent/Superman secara alami. Kemampuan akting Cavill juga jelas tidak mengecewakan – ia mampu menghidupkan karakter yang ia perankan dengan baik tanpa pernah terasa berlebihan dalam menginterpretasikan sosok pahlawan super yang ia bawakan. Kombinasi kualitas tersebut secara mudah menjadikan Cavill sebagai pemeran Clark Kent/Superman yang paling berkharisma setelah Christopher Reeve.

Penampilan Cavill di departemen akting juga didukung dengan nama-nama yang jelas tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Sebagai karakter antagonis utama, Michael Shannon berhasil hadir dengan penampilan watak yang memikat. Terkesan seperti penampilan kelas dua dari karakter John Givings yang ia perankan di Revolutionary Road (2008) but stillit works. Meskipun hadir dalam porsi penceritaan yang terbatas, Kevin Costner dan Diane Lane mampu memberikan penampilan yang cukup emosional. Sama halnya dengan Amy Adams, yang seperti biasa, dengan mudah menyerap masuk ke dalam setiap karakter yang ia perankan – meskipun harus diakui chemistry yang ia jalin bersama Cavill masih terasa goyah di beberapa bagian. Russell Crowe juga tidak mengecewakan dalam perannya sebagai Jor-El walaupun harus diakui masih sering terlihat datar sementara Lauren Fishburne sayangnya tampil begitu sia-sia dengan perannya sebagai Perry White yang begitu terbatas ruang gerak dan perannya.

Mungkin jika Christopher Nolan dan David S. Goyer tidak terlalu bergantung dengan formula penceritaan yang telah pernah diaplikasikan sebelumnya oleh trilogi The Dark Knight dan memberikan ruang gerak yang lebih luas pada Zack Snyder, Man of Steel akan mampu tampil lebih mengesankan. Kecuali pada pendekatan yang lebih mengarah sebagai sebuah petualangan fiksi ilmiah, Man of Steel nyaris sama sekali tidak memberikan sesuatu yang baru pada presentasi ceritanya. Pemilihan Henry Cavill sebagai pemeran Clark Kent/Superman jelas layak untuk mendapatkan kredit lebih – hal yang sama juga berlaku dengan pemilihan deretan pengisi jajaran pemeran lainnya. Namun pengelolaan drama tentang pergulatan masa lalu sang pahlawan super yang berjalan terlalu datar dengan karakter-karakter pendukung yang kurang mampu tergali dengan baik yang akhirnya membuat Man of Steel terasa begitu dingin layaknya… well… potongan logam besi. Sebuah usaha yang kuat… tetapi masih belum mampu untuk tampil istimewa.

popcornpopcornpopcornpopcorn3popcorn2

Man of Steel (Warner Bros./Legendary Pictures/A Syncopy Production/DC Entertainment/Third Act Productions, 2013)

Man of Steel (Warner Bros./Legendary Pictures/A Syncopy Production/DC Entertainment/Third Act Productions, 2013)

Man of Steel (2013)

Directed by Zack Snyder Produced by Christopher Nolan, Charles Roven, Deborah Snyder, Emma Thomas Written by David S. Goyer (screenplay), David S. Goyer, Christopher Nolan (story), Jerry Siegel, Joe Shuster (comics, SupermanStarring Henry Cavill, Amy Adams, Michael Shannon, Kevin Costner, Diane Lane, Laurence Fishburne, Russell Crowe, Antje Traue, Ayelet Zurer, Connie Nielsen, Harry Lennix, Christopher Meloni, Richard Schiff, Dylan Sprayberry, Cooper Timberline, Rebecca Buller Music by Hans Zimmer Cinematography Amir Mokri Editing by David Brenner Studio Warner Bros./Legendary Pictures/A Syncopy Production/DC Entertainment/Third Act Productions Running time 143 minutes Country United States Language English

 

 

 

About these ads
Comments
  1. keziarhh says:

    Setuju banget. Mungkin jika skripnya diolah lebih bagus, Henry Cavill bisa lebih mengembangkan aktingnya. Bukan hanya skrip yang kekurangan emosi, tapi dialog datar yang beda banget dari Dark Knight Trilogy. Setidaknya di Batman Begins masih ada dialog filosofis antara Bruce dan Ra’s al Ghul, tapi di film ini pandangan hidup, moral, dan kebimbangan Clark antara bangsanya atau manusia kurang dibahas dan diolah.

  2. Tika We says:

    Sejak James Bond sangat manusiawi di Skyfall, Superman ini penceritaannya jadi kacau. Kelihatan banget sih berusaha “memanusiakan” Kal-El tapi sering terpatahkan dengan cerita yg lain. Inkonsistensi jadi isu utama yg gw sayangkan dari film ini sih. Presentasi ceritanya juga nanggung. Drama nggak kena, komedi (spt yang digembar-gemborkan) juga nggak banyak, action juga enggak. Serba nanggung. Ini film kendang, bagus di awal dan akhir aja.
    Plusnya..Karakternya lebih manusia, jadi logika bahwa bumi punya karakter yang mirip dengan Krypton masih bisa masuk lah. Dan.. Kenapa ya gw merasa Zod mirip Tiffatul Sembiring? Hahaha…

  3. Gunawan Triantoro says:

    Love to see Diane Lane here….
    Miss her much ;)

  4. arfebrina says:

    Ada beberapa plot hole yang saya rasa janggal sebenarnya. Contoh, jika memang tidak ingin terlihat sebagai manusia super, kenapa juga harus jalan2 di bawah suhu -40 drajat pake baju selapis? Okey, baiklah, lupakan itu…
    Lalu, saya kurang bisa merasakan koneksi dengan para tokohnya, mungkin karena memang kurangnya penggalian karakter.
    In the other hand, saya suka bagaimana diperlihatkan manusia bumi akhirnya menerima Superman sebagai seorang pahlawan, bukan seorang freak sebagaimana diperlihatkan di masa lalunya.
    Actionnya jelas mumpuni! Penghancuran kota besar-besaran… EPIC! Meskipun terkadang terasa annoying…
    But, I just feel that, Superman, this time, is a total bad-ass!! Woot! Woot!

  5. terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada diatas, yang saya akui memang benar adanya. saya tetap harus mengatakan bahwa ini adalah film superman terbaik yang pernah dibuat. dan saya kurang setuju dengan ratting 7 yang diberikan bang amir. apakah memang bnar cinta dalam kardus dalam tanggapan anda adalah film yang lebih baik daripada film ini? mengingat saya belum menonton cinta dalam kardus, karena kekecewaan saya pada film-film raditya dikha sebelumnya.

    • Hmmm… ada banyak poin sih yang dapat dilalui untuk menilai penampilan sebuah film. Namun sebagai reviewer, saya tidak bisa membandingkan dua film dari genre dan pendekatan cerita yang berbeda. Rating yang hadir untuk sebuah film, murni hadir sebagai penilaian tunggal untuk film itu sendiri. Bukan karena hasil perbandingan dengan film lain.

  6. abcdefuck says:

    saya suka film ini, titik.

  7. aldo says:

    saya tdk suka dgn film ini, film yg membosankan krn alur n plot cerita maju mundur yg berantakan ditambah durasi yg terlalu panjang, karakterisasi lemah plus action supes yg berlebihan, intinya epic failed. Intinya kolaborasi Snyder+Nolan+Goyer adlh kryptonite bagi Superman sendiri. Titik.

  8. Jovi says:

    Well.. Akhrnya ..stlah sering jadi silent reader,kali ini saya mau koment (horeee).

    Kenapa ya,smalem pas saya nnton,malah ktduran trus. Entah krn cpek ato krn film nya yg boringfull,fyuh! .malah pas si clark surender dan di jemput oleh wakil kmandan harus saya puter lagi puter lgi,krn dr situ lah mulai ktdurannya :D.
    Anyway,salam knal buat bang amir n smua :)

  9. Jovi says:

    Urw bang :)

  10. hehhe.. asli puas banget… tapi itu kalo cowok,
    tapi kalo nanya ama cewek, mereka rata2 kecewa berat, karena dibilangnya superman yang ini nggak keren,karena: kurang ganteng, cemen, cengeng..terlalu banyak berantemnya ,terus musuhnya dibunuh.. hahaha
    http://klikharry.com/2014/01/05/review-film-man-of-steel/

  11. bams says:

    puass banget nonton ni film, drama y menyentuh, apalagi actionnya, keren n dahsyat abis, trus lagi kisahX jadi lbh logis dan masuk akal, ni pasti karna ada Nolan sbg penulis cerita y dulu ngarahN Batman, g rugi nunggu skn lama, beda bgt m Superman Return, bnr2 film mBosanKn, he…. Man Of Steel, keren deh pokokX :-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s