cinta-dari-wamena-header

Diarahkan oleh Lasja F. Susatyo (Mika, 2013) dengan naskah cerita yang ditulis oleh Sinar Ayu Massie (3 Hari Untuk Selamanya, 2006), Cinta dari Wamena berkisah mengenai persahabatan antara tiga orang remaja, Litius (Maximus Itlay), Tembi (Benyamin Lagowan) dan Martha (Madona Marrey), yang telah terjalin semenjak mereka kecil. Berasal dari sebuah kota kecil di Papua dimana tingkat pendidikan yang dapat dicapai seorang anak hanya terbatas sampai jenjang sekolah menengah pertama, ketiganya memiliki harapan untuk dapat meneruskan pendidikan mereka demi meraih segala mimpi yang telah diidamkan semenjak kecil. Harapan tersebut kemudian membawa mereka ke Wamena, dimana ketiga remaja tersebut dapat mengikuti jenjang pendidikan tingkat sekolah menengah atas secara gratis.

Litius, Tembi dan Martha kemudian dikenalkan pada gaya pergaulan yang jelas jauh berbeda dengan kehidupan yang selama ini mereka jalani di kota kecil mereka. Janji bersama untuk belajar serta bekerja keras dalam usaha mencapai segala mimpi di masa kecil mulai pudar: Litius disibukkan dengan kisah cinta pertamanya dengan seorang gadis cantik bernama Endah (Amyra Jessica), Tembi semakin larut dengan kehidupan bebas yang ia temui di Wamena sementara Martha, yang merasa bahwa Litius dan Tembi telah begitu jauh dari jangkauan persahabatannya, memilih untuk melanjutkan kehidupannya seorang diri. Tidak hanya itu, persahabatan ketiganya kemudian diuji dengan kehadiran wabah AIDS yang memang menjadi momok besar di kalangan pemuda Papua. Secara perlahan, perjalanan hidup kemudian membawa ketiganya ke arah dan tempat yang berbeda.

Berbeda dengan dua presentasi Lasja F. Susatyo sebelumnya yang juga menghadirkan tema penceritaan mengenai HIV/AIDS, segmen Cerita Jakarta pada Perempuan Punya Cerita (2007) serta Mika (2013), Cerita dari Wamena sama sekali tidak meletakkan kisah tentang epidemi penyakit mematikan tersebut sebagai perhatian utama dalam jalan penceritaan film ini. Film ini justru lebih menitikberatkan pada perjalanan persahabatan serta perjuangan ketiga karakter utama dalam mewujudkan impian mereka dengan beberapa poin pengetahuan mengenai HIV/AIDS dihadirkan sebagai salah satu bagian konflik dari kisah perjalanan tersebut. Di satu sisi, hal tersebut mampu menghindarkan Cinta dari Wamena dari presentasi drama yang seringkali terasa memaksakan diri untuk menjadi sebuah tearjerker – seperti yang terjadi pada Mika dan kebanyakan drama Indonesia yang melibatkan kehadiran sebuah penyakit sebagai bagian ceritanya. Namun di sisi lain, ketika Cinta dari Wamena justru dikampanyekan sebagai sebuah film yang sarat akan informasi mengenai HIV/AIDS, film ini tampil terlalu ringan dan hampir sama sekali tidak memberikan sesuatu yang baru sehubungan dengan berbagai informasi medis yang berkaitan dengan HIV/AIDS.

Naskah cerita arahan Sinar Ayu Massie harus diakui masih memiliki beberapa kekurangan di banyak bagian ceritanya, khususnya dari sisi banyaknya penggunaan faktor kebetulan untuk menjalankan roda penceritaan serta penggalian karakter-karakter yang hadir di sepanjang film. Garis hubungan yang terbentuk antara kisah karakter yang berada di Wamena dengan kisah yang terpapar di Jakarta juga terasa kurang begitu mampu dihadirkan secara kuat – bahkan kisah Jakarta yang melibatkan Nicholas Saputra dan Susan Bachtiar itu sendiri dapat saja dengan mudah dieliminasi dari linimasa penceritaan Cinta dari Wamena akibat terasa kurang esensial hubungannya dengan cerita utama film.

Pun begitu, segala kekurangan tersebut mampu disembunyikan dengan baik oleh tata pengarahan yang begitu lugas dari Lasja. Oleh sang sutradara, Cinta dari Wamena mampu dihadirkan menjadi sebuah drama persahabatan yang mengalir dengan begitu mudah untuk dinikmati serta penuh dengan deretan dialog dan guyonan hangat yang terbentuk antar karakternya. Lasja mampu mengarahkan tiga pemeran utamanya, Maximus Itlay, Benyamin Lagowan dan Madonna Marrey, yang masih minim memiliki kemampuan akting untuk dapat menghadirkan penampilan akting yang apik – meskipun masih jelas terasa kaku pada beberapa bagian. Amyra Jessica juga mampu tampil mencuri perhatian dengan penampilannya sebagai Endah. Dan meskipun peran mereka tidak krusial, seperti biasa, Nicholas Saputra dan Susan Bachtiar selalu mampu untuk menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Poin khusus untuk Nicholas Saputra yang ternyata mampu untuk tampil tidak mengecewakan dalam menyanyikan sebuah lagu di akhir film ini.

Seperti layaknya film-film yang berusaha untuk mengeksplorasi keindahan alam wilayah yang menjadi latar belakang lokasi ceritanya, Cinta dari Wamena juga mampu menghadirkan deretan gambar yang indah sekaligus melenakan akan alam sekitar Wamena, Papua berkat dukungan tata sinematografi yang dihasilkan oleh Agni Ariatama. Kualitas prima tata teknis film ini juga semakin diperkuat dengan tata musik arahan Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang berhasil memadukan unsur kebudayaan Papua dalam deretan musik yang mereka hasilkan untuk mengisi setiap adegan di film ini. Polesan tata produksi yang kuat menjadi salah satu elemen yang membuat Cinta dari Wamena menjadi semakin nyaman untuk disaksikan.

Meskipun menggunakan plot penceritaan yang berkaitan dengan HIV/AIDS, Lasja F. Susatyo mampu menghindarkan Cinta dari Wamena menjadi sebuah presentasi drama tearjerker yang dangkal seperti kebanyakan film-film drama Indonesia sejenis. Memang, Cinta dari Wamena tidak terlepas dari beberapa kekurangan seperti naskah cerita yang beberapa bagiannya gagal tergali dengan baik, karakter-karakter yang mendapatkan pendalaman yang kurang kuat hingga penampilan medis yang terkesan terlalu sederhana untuk sebuah masalah yang cukup pelik. Pun begitu, pengarahan Lasja yang lugas berhasil memunculkan kualitas akting serta tampilan produksi yang meyakinkan sehingga Cinta dari Wamena dapat hadir menjadi sebuah drama yang ringan namun begitu kuat bercerita.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

Cinta dari Wamena (Corsores Indonesia/AusAid/Ford Foundation/Kabupaten Jayawijaya/Tanakhir Films, 2013)

Cinta dari Wamena (Corsores Indonesia/AusAid/Ford Foundation/Kabupaten Jayawijaya/Tanakhir Films, 2013)

Cinta dari Wamena (2013)

Directed by Lasja F. Susatyo Produced by Mandy Marahimin, Ronald Gunawan Written by Sinar Ayu Massie Starring Maximus Itlay, Madona Marrey, Benyamin Lagowan, Amyra Jessica, Nicholas Saputra, Susan Bachtiar, Doddy Katamsi, Sylvia Saartje, Bento Madubun, Erly Ashy Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti Cinematography Agni Ariatama Editing by Ahsan Andrian Studio Corsores Indonesia/AusAid/Ford Foundation/Kabupaten Jayawijaya/Tanakhir Films Running time 90 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s