pintu-harmonika-header

Layaknya 3Sum yang dirilis pada beberapa bulan lalu, Pintu Harmonika juga merupakan sebuah film omnibus yang menghadirkan tiga film pendek yang diarahkan oleh tiga sutradara berbeda dengan tiga genre penceritaan yang bervariasi. Namun, berbeda dengan 3Sum, meskipun tiga film pendek dalam Pintu Harmonika – sebuah istilah yang diberikan bagi jenis pintu yang terdapat pada sebuah rumah toko yang menjadi tempat kediaman seluruh karakter di film ini – hadir dengan jalan penceritaan yang berbeda satu sama lain, ketiga film pendek dalam Pintu Harmonika memiliki benang merah persamaan tema cerita yang sama-sama bertutur mengenai cinta dan kehidupan yang terbungkus rapi dalam jalinan kisah keluarga yang terjadi pada setiap karakter di film ini.

Pintu Harmonika dibuka dengan film pendek berjudul Otot yang diarahkan oleh Ilya Sigma berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Piu Syarif. Film yang bernada drama komedi romantis ini berkisah mengenai kehidupan seorang remaja bernama Rizal (Fauzan Nasrul) yang jelas tampak sempurna di mata rekan-rekan sebayanya: memiliki wajah yang tampan, tubuh yang atletis serta hubungan dengan sang ayah, Firdaus (Donny Damara) yang terjalin begitu kuat sehingga mereka seringkali melakukan road trip bersama. Berbagai catatan mengenai perjalanan yang ia lakukan bersama sang ayah kemudian dituangkan Rizal dalam bentuk tulisan di blog-nya – yang kemudian juga membuat Rizal menjadi sosok yang begitu popular di dunia maya. Namun, dibalik seluruh keunggulannya tersebut, Rizal ternyata menyimpan rapat tentang satu sisi kehidupan pribadinya. Sebuah rahasia yang kemudian menghantui dirinya, khususnya setelah Rizal berkenalan dengan seorang gadis cantik bernama Cynthia (Karina Salim) di sekolahnya.

As a romantic comedy, Otot is definitely hitting all the right notes. Ilya mampu menghadirkan Otot dengan mood penceritaan yang segar sekaligus berhasil menyeimbangkan kehadiran kisah romansa yang terjalin antara karakter Rizal dan Cynthia tanpa pernah terlihat menyingkirkan jalinan kisah ayah dan anak yang terbentuk antara karakter Rizal dan Firdaus. Pun begitu, dari sisi penceritaan, Otot sayangnya kurang mampu menampilkan sebuah tampilan cerita yang lebih mendalam. Tidak buruk. Namun begitu Otot berakhir, penonton seperti ditinggalkan dengan sajian kisah yang kurang mampu tampil kuat dalam penyajiannya. Fauzan Nasrul, Karina Salim dan Donny Damara berhasil menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan dengan baik – walaupun chemistry yang terjalin antara ketiga pemeran masih kurang mampu tersaji dengan mapan.

Beralih ke film pendek kedua, Pintu Harmonika kemudian menghadirkan sebuah presentasi drama keluarga lewat Skors yang diarahkan Luna Maya berdasarkan naskah cerita yang ditulis M. Rini Sarjono. Dikisahkan, seorang remaja puteri, Juni (Nasya Abigail), terpaksa harus mendapatkan masa skorsing dari sekolahnya setelah ia melakukan tindakan bullying pada adik kelasnya. Yang lebih fatal, korban tindakan bullying Juni sendiri merupakan anak dari calon pelanggan toko sablon sang ayah, Niko (Barry Prima). Tidak terhindarkan, Niko akhirnya kehilangan calon pelanggan potensialnya. Sebagai hukuman atas segala tindakannya, Niko mewajibkan Juni untuk bekerja di toko sablon miliknya. Hal ini jelas membuat Juni kesal sekaligus semakin memperburuk hubungan antara Juni dan Niko yang selama ini memang tidak terlalu dekat.

Harus diakui, masa-masa awal durasi penceritaannya, Skors sempat terlihat goyah dalam bercerita. Namun, secara perlahan, Luna Maya mampu menyatukan seluruh kepingan cerita dengan begitu erat sehingga akhirnya mampu menghadirkan sebuah jalinan kisah drama tentang hubungan ayah dan anak yang begitu menyentuh – tanpa pernah sekalipun berusaha untuk terlihat berusaha untuk melakukannya. Jika ada sedikit keluhan, hal tersebut mungkin datang dari elemen bullying yang coba dihadirkan film ini. Dalam tempo penceritaan yang cukup singkat, elemen cerita yang memang cukup serius tersebut terkesan hadir hanya sekedar tempelan belaka dan tidak pernah benar-benar tergali dengan baik. Dari jajaran departemen akting, Luna beruntung memiliki nama-nama seperti Nasya Abigail, Barry Prima, Inong Nidya Ayu sampai Verdi Solaiman yang berhasil tampil meyakinkan dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan.

Berseberangan dengan dua film pendek sebelumnya, Piano yang diarahkan oleh Sigi Wimala berdasarkan naskah cerita arahan Bagus Bramanti hadir dalam nada penceritaan thriller yang begitu kelam. Film pendek ketiga dalam Pintu Harmonika ini sendiri mengisahkan mengenai hubungan ibu dan anak antara seorang single mother, Imelda (Jenny Zhang), yang bekerja sebagai seorang pengusaha kue, dengan putera tunggalnya, David (Adam Putra Pertama). Hubungan keduanya berjalan dengan sangat baik… hingga akhirnya sebuah gangguan supranatural mulai hadir dalam rumah toko yang mereka tempati dan kemudian membuat Imelda dan David selalu merasa gelisah disepanjang keberadaan mereka di lokasi tersebut.

Save the best for last! Piano jelas merupakan segmen terbaik dari Pintu Harmonika. Sigi Wimala mampu meracik kisah hubungan ibu dan anak antara karakter Imelda dan David dengan begitu kuat. Keberhasilan Sigi dalam merasuki kisahnya dengan bumbu-bumbu thriller supranatural yang cukup menghipnotis juga semakin membuat Piano mampu tampil begitu dinamis. Dan tak lupa, Sigi didukung oleh penampilan yang begitu kuat dari Jenny Zhang – dengan penampilan di adegan final yang begitu menyayat hati – serta Adam Putra Pertama yang jelas meyakinkan. Jelas sulit untuk mampu menghadirkan sebuah kisah drama dengan unsur thriller yang sama-sama saling mendukung satu sama lain. Namun Sigi Wimala mampu melakukannya dengan baik dalam film pendek ini.

Selain keberhasilan yang mampu diraih setiap sutradara dalam menghasilkan presentasi yang kuat untuk film pendeknya masing-masing, Pintu Harmonika juga didukung dengan tata teknis yang kuat. Tata editing arahan Cesa David Luckmansyah tampil begitu lugas dalam memperkuat nada penceritaan. Gaya penceritaan interwoven yang membuat satu karakter dalam sebuah film pendek dapat berinteraksi dengan karakter dari film pendek lainnya juga berhasil ditampilkan secara meyakinkan. Tak lupa, tata sinematoghrafi arahan Roy Lolang serta tata musik arahan Aghi Narottama dan Bemby Gusti semakin membuat setiap perjalanan film pendek dalam Pintu Harmonika terasa begitu nyaman untuk terus diikuti.

So… yah… terlepas dari fakta bahwa Pintu Harmonika merupakan film layar lebar perdana bagi masing-masing sutradara – walaupun Luna Maya dan Sigi Wimala telah pernah mengarahkan film pendek sebelumnya, masing-masing film pendek dalam lingkupan Pintu Harmonika mampu tampil begitu dinamis dalam bercerita. Tema tentang kisah keluarga yang kental mengalir dengan nyaman lewat nada penceritaan komedi romantis, drama bahkan thriller yang cukup kelam. Meskipun sama sekali masih jauh dari kesan sempurna, namun Pintu Harmonika jelas telah mampu membuktikan bahwa ketiga sutradara wanita film ini memiliki potensi karir penyutradaraan yang cukup menjanjikan. Sebuah film yang sederhana namun berhasil tampil kuat dalam menyampaikan setiap sisi emosional penceritaannya.

popcornpopcornpopcorn  popcorn3popcorn2

Pintu Harmonika (700 Pictures/Malka Pictures, 2013)

Pintu Harmonika (700 Pictures/Malka Pictures, 2013)

Pintu Harmonika (2013)

Directed by Ilya Sigma, Luna Maya, Sigi Wimala Produced by Ilya Sigma, Luna Maya Written by Piu Syarif, M. Rino Sarjono, Bagus Bramanti (screenplay), Ginatri S. Noer, Clara Ng (story) Starring Fauzan Nasrul, Karina Salim, Donny Damara, Nasya Abigail, Barry Prima, Inong Nidya Ayu, Jenny Zhang, Adam Putra Pertama, Verdi Solaiman, Shelomita Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti Cinematography Roy Lolang Editing by Cesa David Luckmansyah Studio 700 Pictures/Malka Pictures Running time 89 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. rouju says:

    Jago bro. Gw jadi pengen nonton ha ha.

  2. arfebrina says:

    Haduuu… kenapa film ini menghilang dengan begitu cepat dari peredaran…

  3. phora says:

    belum sempet nonton :(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s