kisah-3-titik-header

Lola Amaria sepertinya memiliki rasa ketertarikan yang sangat mendalam untuk mengangkat karakter-karakter yang seringkali terasa terpinggirkan dalam kehidupan keseharian masyarakat. Setelah sebelumnya mengangkat seluk-beluk kehidupan para buruh migran Indonesia di Hong Kong lewat Minggu Pagi di Victoria Park (2010) dan berbagai sisi penceritaan kaum homoseksual lewat omnibus Sanubari Jakarta (2012), film terbaru yang ia produseri, Kisah 3 Titik, berusaha untuk memberikan gambaran mengenai kehidupan para kaum pekerja dan buruh di Indonesia. Sebuah tema penceritaan yang jelas cukup rumit sekaligus sulit untuk dijabarkan secara menyeluruh hanya dalam 104 menit durasi penceritaan, namun Kisah 3 Titik setidaknya mampu menghadirkan sisi nyata kehidupan para buruh yang tidak dapat dipungkiri akan memberikan rasa miris di hati banyak penontonnya.

Dengan menggunakan metode penceritaan yang bernada interwoven, Kisah 3 Titik mencoba mengupas berbagai permasalahan tenaga kerja di Indonesia lewat perwakilan tiga karakter perempuan bernama Titik di dalam jalan ceritanya. Karakter Titik pertama, Titik Sulastri (Ririn Ekawati), adalah seorang wanita yang baru saja ditinggal wafat oleh sang suami dalam keadaan hamil. Berasal dari kampung dan tidak memiliki seorang kenalanpun di Jakarta, Titik kini harus berjuang sendiri untuk menghidupi puteri tunggal sekaligus mempersiapkan kelahiran anak yang sedang berada di kandungannya. Lewat bantuan mantan rekan kerja suaminya, Joko (Rangga Djoned), Titik kemudian dipekerjakan di sebuah pabrik manufaktur meskipun ia terpaksa harus menyembunyikan kehamilannya akibat berbagai peraturan yang berlaku di perusahaan tersebut.

Karakter Titik kedua sebenarnya bernama asli Kartika (Maryam Supraba). Terlahir dari latar belakang keluarga yang tangguh dan lingkungan yang keras, Titik merupakan sosok karakter wanita yang tomboy, tidak mengenal rasa takut dan telah terbiasa untuk melawan berbagai hal yang dianggap tidak sesuai dengan asas keadilan yang dianutnya. Karena itulah ketika industri rumahan tempat ia bekerja mulai mempekerjakan anak-anak dengan upah yang sangat minim, Titik mulai melawan dan berusaha memperjuangkan hak-hak pekerja anak-anak tersebut. Secara kontras, karakter Titik ketiga, Titik Dewanti (Lola Amaria), adalah sosok pekerja kantoran yang baru saja mendapatkan promosi jabatan sebagai manajer sumber daya manusia di kantornya. Lewat jabatan barunya tersebut, Titik berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup para buruh pabrik yang bekerja di perusahaan tersebut. Sayangnya, berbagai resolusi yang coba ia tawarkan kemudian terbentur dengan prinsip perusahaan yang sepertinya hanya ingin mengambil untung sebesar-besarnya tanpa mau mempedulikan nasib para pekerjanya. Tidak mau menyerah begitu saja, Titik lalu berusaha mencari jalan lain agar keinginannya untuk memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi para pekerja pabrik dapat terwujud.

Diarahkan oleh Bobby Prabowo berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Charmantha Adjie, Kisah 3 Titik memang menggambarkan kesulitan hidup para tenaga buruh di Indonesia hanya berdasarkan satu sudut pandang saja, yakni dari sudut pandang para pekerja itu sendiri – dan tidak pernah sama sekali berusaha mencari opini kedua dengan penceritaan dari sudut pandang para pemilik perusahaan. Bukanlah sebuah masalah besar sebenarnya karena bahkan hanya dengan sudut pandang tunggal yang ditawarkan, Kisah 3 Titik mampu memberikan wawasan yang cukup luas (dan nyata) mengenai berbagai polemik yang dihadapi kaum pekerja di negeri ini, mulai dari permasalahan upah, jam kerja, persaingan tidak sehat antar para pekerja hingga aturan-aturan yang berhubungan dengan kesejahteraan para pekerja. Kisah 3 Titik juga tidak pernah terasa berusaha mendramatisir keadaan. Semua konflik yang disajikan dihadirkan dalam porsi yang tidak berlebihan sehingga benar-benar mampu menghasilkan kesan nyata yang mendalam kepada para penontonnya.

Sayangnya, untuk sebuah presentasi cerita yang dihadirkan sepanjang 104 menit, Kisah 3 Titik hampir tidak pernah terasa mengalami pengembangan cerita yang berarti. Semenjak awal kehadirannya, jalan cerita film ini hanya berfokus pada ketiga karakter utama dan pergumulan nasib mereka di dunia kerja. Pemaparan mengenai perjuangan mereka di dunia kerja inilah yang terasa berjalan dengan terlalu datar dan minus pendalaman kisah yang mumpuni sehingga hanya terasa sebagai kilasan informasi yang dihadirkan tanpa adanya usaha untuk membuat penonton mau merasa terkoneksi secara emosional dengan jalan cerita tersebut. Konflik yang terasa benar-benar memuncak baru dihadirkan di paruh akhir film – itupun hadir dengan eksekusi yang terlalu singkat dan penyelesaian yang terkesan menggantung. Karakter-karakter pendukung yang berada di sekitar tiga karakter utama juga gagal untuk memperkaya jalinan cerita. Karakter-karakter pendukung tersebut kehadirannya lebih sering terasa sebagai plot device daripada benar-benar berfungsi untuk menggerakkan cerita.

Terlepas dari beberapa kelemahan di sisi eksplorasi penceritaan dan karakter, Bobby Prabowo berhasil mendapatkan kualitas akting terbaik dari seluruh jajaran pengisi departemen aktingnya, khususnya dari tiga aktris yang memerankan tiga karakter Titik. Lola Amaria seperti biasa terlihat begitu mampu menghidupkan karakternya yang penuh dengan intrik dan hasrat untuk mewujudkan harapannya. Begitu juga dengan Maryam Supraba dengan penampilannya yang sangat meyakinkan. Namun adalah Ririn Ekawati yang tampil paling prima di antara jajaran pemeran lainnya. Selain karena karakter yang ia perankan merupakan karakter dengan pengembangan emosional paling dalam, Ririn juga berhasil memberikan kemampuan akting yang mampu tampil kuat sekaligus tampak berjalan secara alami. Penuh dengan rasa kesakitan yang begitu menyita perhatian.

Sebagai sebuah film yang ingin memaparkan mengenai getirnya kehidupan kebanyakan kaum pekerja atau buruh di berbagai penjuru wilayah dunia (bahkan dunia), Kisah 3 Titik mampu hadir dengan presentasi cerita yang begitu jujur, tidak pernah terasa terlalu didramatisir sekaligus berhasil tampil menyentuh pada banyak bagian penceritaannya. Jika saja film ini  mampu lebih banyak mengeksplorasi konflik-konflik yang ada di dalam jalan ceritanya serta memberikan ruang yang lebih luas pada setiap karakter utama untuk berkembang, mungkin Kisah 3 Titik akan berhasil tampil dengan efek cerita yang lebih berpengaruh lagi. Pun begitu, dengan penggarapan yang cukup apik, Kisah 3 Titik berhasil untuk tampil lugas sekaligus berani dalam menyampaikan setiap detil pesannya.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

Kisah 3 Titik (Lola Amaria Production, 2013)

Kisah 3 Titik (Lola Amaria Production, 2013)

Kisah 3 Titik (2013)

Directed by Bobby Prabowo Produced by Lola Amaria Written by Charmantha Adjie Starring Lola Amaria, Ririn Ekawati, Maryam Supraba, Donny Alamsyah, Rangga Djoned, Dimas Hary, Gary Iskak, Lukman Sardi, Ingrid Widjanarko, Arswendi Nasution, Ence Bagus, Gessata, Miea Kusuma Music by Thoersi Argeswara Cinematography Nur Hidayat Editing by Wawan I Wibowo Studio Lola Amaria Production Running time 104 minutes Country Indonesia Language Indonesian

 

 

About these ads
Comments
  1. Kezia says:

    wah, kirain udah ada review when they don’t talk about love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s