finding-srimulat-header

Didirikan pada tahun 1950 oleh pasangan suami istri Slamet Teguh Rahardjo dan Raden Ajeng Srimulat di kota Solo, Jawa Tengah, kelompok komedi Srimulat memulai karirnya sebagai kelompok seni keliling yang melakukan pementasan musik dan komedi dari satu kota ke kota lainnya. Seiring dengan perkembangan zaman, kelompok Srimulat turut melakukan adaptasi terhadap cara pementasan karya seni mereka: mulai dari tampil secara menetap, konten pementasan yang sarat dengan pesan dan kritik sosial, melakukan bongkar pasang personel untuk memberikan penyegaran pada penampilan mereka hingga akhirnya merambah dunia televisi sehingga mampu menjangkau pasar penggemar yang lebih luas lagi. Berbagai perubahan itulah yang secara perlahan membesarkan nama mereka serta menjadikan Srimulat sebagai salah satu kelompok komedi terbesar dan paling ditunggu kehadirannya di Indonesia sebelum akhirnya kelompok tersebut vakum dari berbagai kegiatannya pada tahun 2006.

Finding Srimulat sendiri adalah sebuah drama komedi arahan Charles Gozali (Demi Dewi, 2010) dengan dasar penceritaan yang dibangun atas rasa kerinduan dan nostalgia para penggemar Srimulat untuk melihat kelompok komedi tersebut berkumpul sekaligus melakukan pementasan kembali. Sebuah ide cerita yang jelas terdengar cukup brilian. Sayangnya, ide tersebut kemudian mendapatkan pengembangan yang cukup dangkal dalam naskah cerita Finding Srimulat yang juga ditulis oleh Charles Gozali. Charles sepertinya kebingungan untuk mencari cara yang tepat dalam menyeimbangkan elemen nostalgia pemunculan kembali para personel Srimulat dengan narasi yang ingin ia hadirkan untuk filmnya. Hasilnya, meskipun masih mampu menyajikan beberapa momen komedi di beberapa sudut penceritaannya, namun Finding Srimulat berakhir sebagai sebuah presentasi yang canggung dan gagal untuk membangkitkan kembali sisi sentimental dari elemen nostalgia yang sebenarnya menjadi menu utama dari film ini.

Jalan cerita Finding Srimulat dimulai dengan pengenalan karakter utama filmnya, Adika (Reza Rahadian), seorang pemuda yang bersama dengan istrinya, Astrid (Rianti Cartwright), berusaha untuk membangun sebuah rumah tangga yang mandiri. Mimpi tersebut, sayangnya, hampir hancur ketika Adika dikhianati oleh rekan sekerjanya, Jolim (Fauzi Baadilla), yang sekaligus membuat perusahaan yang bergerak di bidang event organizer tempat Adika bekerja berada di ambang kebangkrutan. Tidak mau membuat Astrid khawatir, Adika kemudian berusaha untuk mencari jalan keluar bagi permasalahannya sendiri. Dan jalan keluar tersebut muncul ketika Adika secara tidak sengaja bertemu dengan Kadir (Kadir Mubarak), salah seorang personel kelompok komedi Srimulat yang telah begitu diidolakan Adika semenjak kecil.

Adika lalu memiliki ide untuk menemukan kembali seluruh personel Srimulat yang tersisa, mengumpulkan mereka dan lalu merancang sebuah pementasan yang menandai kembali hadirnya Srimulat di dunia hiburan Indonesia setelah sekian lama vakum. Walaupun sulit, Adika lalu berhasil menjumpai Tessy (Kabul Basuki), Mamiek (Mamiek Prakosa), Gogon (Gogon Margono) dan Djudjuk (Djudjuk Djuwariah) yang kemudian menyambut baik rencana Adika untuk merancang sebuah pementasan kembali untuk mereka. Perlahan tapi pasti, usaha Adika dalam mengumpulkan dan memperkenalkan kembali Srimulat pada masyarakat mulai mendapatkan hasil. Seorang pengusaha bahkan siap menjadi investor untuk acara pementasan Srimulat. Namun, di saat yang sama, sebuah hambatan besar kembali datang dan berpotensi untuk menggagalkan seluruh rencana yang telah disusun Adika dengan matang.

Harus diakui, walau sama sekali bukanlah sebuah sentuhan yang orisinal, ide untuk mengangkat kembali mengenai keberadaan kelompok komedi Srimulat yang legendaris itu adalah sebuah gagasan yang cukup brilian. Sebagai seorang penggemar, Charles Gozali benar-benar tahu bagaimana cara untuk mengeksplorasi kembali berbagai keunikan serta keunggulan formula komedi yang dimiliki oleh Srimulat dan mungkin sudah sangat jarang dapat dirasakan dari kebanyakan kelompok komedi modern yang mengisi industri hiburan Indonesia saat ini – dan penonton dapat merasakan hal tersebut dari keberhasilan Charles untuk menyajikan deretan guyonan khas Srimulat yang masih mampu mengundang tawa meskipun merupakan deretan guyonan klasik yang telah sering mereka tampilkan sebelumnya. Dari sisi eksplorasi komedi inilah Finding Srimulat mampu menghadirkan momen-momen terbaiknya, termasuk adegan pementasan Srimulat di bagian akhir film yang benar-benar menjadi klimaks bagi nada penceritaan komedi film ini.

Sayangnya, hal yang sama tidak dapat diketemukan dari sisi penulisan kisah drama film ini. Di sepanjang presentasi filmnya, naskah cerita Finding Srimulat terlihat berjuang untuk menyatukan dua garis penceritaan yang terletak pada dua titik yang berbeda: berusaha untuk memperkenalkan kembali sejarah dan personel Srimulat pada sebuah titik serta kisah mengenai perjuangan karakter Adika untuk mewujudkan mimpinya pada titik lainnya. Sayangnya, Charles tidak pernah benar-benar mampu untuk memaparkan dua elemen penceritaan tersebut secara lugas. Banyak bagian cerita dari kisah perjalanan untuk membawa dan mengumpulkan kembali para anggota Srimulat kurang mampu dikembangkan dengan baik. Sementara itu, terlalu banyak sejarah mengenai kelompok Srimulat yang ingin dihadirkan Charles dan akhirnya membuat Charles terkesan menggampangkan dengan memilih jalur naratif yang kurang terlalu efektif.

Charles juga seringkali terlihat terlalu menyederhanakan berbagai konflik yang ingin ia hadirkan di dalam film ini. Lihat saja bagaimana cara ia menghadirkan karakter Jolim yang antagonis secara tiba-tiba di paruh akhir cerita setelah sebelumnya sama sekali tidak pernah terlihat di sepanjang presentasi film. Atau bagaimana kisah kematian sang calon investor yang dieksekusi terburu-buru dan sekedar hadir untuk menambah rumit persoalan yang dihadapi oleh karakter Adika. Atau mengenai kehidupan pernikahan karakter Adika dan Astrid yang timbul tenggelam tanpa pernah benar-benar tampil mengikat keberadaannya. Masalah-masalah kecil sebenarnya. Namun ketika deretan masalah kecil tersebut terus hadir di dalam jalan penceritaan, Finding Srimulat juga secara perlahan kehilangan kesempatan untuk menggali potensi drama dan ikatan emosionalnya secara lebih mendalam kepada penonton.

Finding Srimulat juga tidak menawarkan kualitas yang istimewa dari sisi departemen akting maupun produksinya. Reza Rahadian yang biasanya tampil brilian di setiap penampilannya justru tampil canggung di kebanyakan bagian penceritaan film ini. Sebagai pemeran dari karakter yang dikisahkan sebagai penggemar berat kelompok Srimulat, Reza justru gagal menghadirkan chemistry yang benar-benar meyakinkan antara dirinya dengan para anggota Srimulat. Chemistry Reza baru benar-benar terasa menguat pada sebuah adegan singkat yang melibatkan penampilan dirinya dengan Djudjuk Djuwariah.  Tidak buruk. Namun Reza seharusnya mampu tampil lebih lepas lagi ketika dirinya sedang bersanding dengan para anggota Srimulat.

Di sisi lain, para anggota kelompok Srimulat juga seringkali terlihat kaku ketika harus menghidupkan bagian kisah peran mereka. Mungkin pengaruh absen yang  telah terlalu lama dari hadapan kamera atau persiapan yang kurang matang, banyak adegan yang hanya melibatkan para anggota Srimulat tampil datar – kecuali, tentu saja, ketika mereka digambarkan sedang menampilkan guyonan mereka dimana masing-masing anggota Srimulat mampu hadir menjadi diri mereka sendiri. Para pengisi departemen akting lainnya seperti Rianti Cartwright, Nadila Ernesta dan Fauzi Baadilla tampil tidak mengecewakan meskipun dalam porsi penceritaan yang kadang terasa terlalu minim arti kehadirannya. Dari sisi teknis, Finding Srimulat tidak tampil mengecewakan. Pun begitu, tata penataan gambar film ini sempat beberapa terasa kasar dan cukup mengganggu aliran penceritaan yang sedang berjalan.

Terlepas dari berbagai kekurangannya, Finding Srimulat harus diakui akan menjadi obat yang sangat manjur bagi mereka yang semenjak lama merindukan kembali kahadiran Srimulat. Lebih dari itu, sutradara Charles Gozali juga memastikan bahwa sisi komedi dari penampilan Srimulat benar-benar tereksplorasi dengan sempurna dalam film ini sehingga akan mampu menghibur setiap penonton, bahkan mereka yang belum pernah mengenal Srimulat sebelumnya. Seandainya saja Charles lebih mampu lagi mengontrol nada penceritaan drama film ini, mungkin Finding Srimulat akan menjadi sebuah presentasi yang lebih kuat dalam berbagai sisi emosional penceritaannya. Pun begitu, Charles Gozali telah cukup berhasil mengemas Finding Srimulat menjadi sebuah tribute yang manis bagi salah satu kelompok komedi yang paling dicintai oleh masyarakat Indonesia sepanjang masa ini.

popcornpopcornpopcorn popcorn2popcorn2

Finding Srimulat (Magma Entertainment, 2013)

Finding Srimulat (Magma Entertainment, 2013)

Finding Srimulat (2013)

Directed by Charles Gozali Produced by Hendrick Gozali Written by Charles Gozali Starring Reza Rahadian, Rianti Cartwright, Nadila Ernesta, Gogon Margono, Djudjuk Djuwariah, Kadir Mubarak, Mamiek Prakoso, Nunung, Adi Kurdi, Kabul Basuki, Nungki Kusumastuti, Ray Sahetapy, Akbar, Mongol, Fauzi Baadilla Music by Pongky Prasetyo Cinematography Rollie Markiano Editing by Ilham Adinatha Studio Magma Entertainment Running time 104 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s