bangun-lagi-dong-lupus-header

Dengan kisah yang diperkenalkan pertama kali sebagai cerpen sisipan di majalah Hai pada pertengahan tahun 1980an sebelum akhirnya dirilis sebagai sebuah novel dengan judul Tangkaplah Daku Kau Kujitak karangan Hilman Hariwijaya pada tahun 1986, karakter Lupus kemudian tumbuh menjadi salah satu karakter ikonik di kebudayaan pop remaja Indonesia, bersanding dengan karakter-karakter lain seperti Boy dan Olga. Dalam perjalanannya, kisah petualangan Lupus – yang digambarkan sebagai sosok pemuda dengan berbagai tingkah laku yang konyol, tengil, gemar mengkonsumsi permen karet namun tetap merupakan sosok yang taat beragama dan patuh terhadap berbagai aturan sosial – kemudian dilanjutkan dalam deretan seri novel yang masih berlangsung hingga saat ini, lima seri film serta beberapa serial televisi yang tetap mempertahankan popularitas karakter Lupus meskipun telah melampaui beberapa generasi.

Lebih dari dua dekade semenjak perilisan film terakhirnya, Lupus V: Iih… Syereem! (1991), Hilman kembali membawa karakter Lupus ke layar lebar dengan bantuan sutradara sekaligus penulis naskah, Benni Setiawan (Madre, 2013), lewat sebuah film yang berjudul Bangun Lagi Dong Lupus. Seri terbaru ini masih menghadirkan karakter Lupus dengan karakter-karakter pendukung yang telah familiar lainnya seperti Lulu, Gusur, Boim dan Poppy. Namun sayangnya… tidak ada satupun sisi yang menarik dari pengisahan terbaru dari karakter legendaris ini. Hilman – yang bekerjasama dengan Benni dalam penulisan naskah cerita Bangun Lagi Dong Lupus – gagal menghadirkan sebuah penceritaan yang menarik untuk film ini, dengan kehadiran konflik-konflik yang tidak pernah terasa mampu tergali dengan baik dan, yang paling parah, membuang setiap sisi menarik dari karakter Lupus itu sendiri.

Bangun Lagi Dong Lupus mengisahkan mengenai Lupus (Miqdad Auddausy) yang baru saja pindah ke sekolah barunya, SMU Merah Putih. Disana, Lupus dengan cepat menemukan teman-teman baru yang akan mengisi kesehariannya, Boim (Alfie Alfandy), Gusur (Jeremiah Christian) dan Anto (Fabila Mahadira). Tidak hanya menemukan sahabat baru, Lupus juga menemukan sosok gadis yang secara perlahan mulai mencuri perhatiannya, Poppy (Acha Septriasa). Sayangnya, hati Poppy sendiri saat ini masih terbagi pada Daniel (Kevin Julio), pemuda yang telah dikenalnya semenjak kecil dan kini telah menjadi kekasihnya. Kisah cinta segitiga antara Lupus, Poppy dan Daniel kemudian mewarnai jalan cerita Bangun Lagi Dong Lupus beserta dengan deretan konflik lainnya.

Mereka yang menyaksikan Bangun Lagi Dong Lupus untuk memenangkan kembali kenangan-kenangan lama mereka tentang kejahilan karakter Lupus dan teman-temannya, dialog berisi guyonan yang begitu mampu tampil menggelitik serta drama percintaan yang terasa berjalan alami sepertinya akan merasa sangat dikecewakan oleh versi layar lebar terbaru ini. Karakter Lupus yang ditampilkan dalam film ini adalah sesosok karakter yang benar-benar baru: sosok yang pintar, cinta damai, berfokus pada masa depannya, menangis ketika meminta maaf kala ia pulang terlambat dari sekolahnya, bijaksana dan sama sekali tidak pernah terlibat dalam berbagai kekacauan yang biasa melibatkan anak-anak remaja seusianya – meskipun penampilannya tidak se-kutu buku karakter Anto. Dasarnya, karakter Lupus dalam film ini lebih terlihat sebagai karakter Boy di masa remajanya. And it’s not in a good way though.

Karakterisasi Lupus dalam Bangun Lagi Dong Lupus terasa begitu datar. Bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa karakter pemuda dengan kehidupan yang berjalan lurus terasa membosankan tapi… memang kesan begitulah yang akhirnya terbentuk dalam film ini. Karakter Lupus menjadi semacam karakter remaja yang sulit untuk disamakan dengan remaja kebanyakan dan kehilangan sense of humor yang biasa menjadi andalan serial Lupus untuk tetap terasa segar. Mungkin jika karakter Lupus dalam film ini tidak digambarkan gemar mengkonsumsi permen karet, hubungan natara karakter Lupus yang terdahulu dengan apa yang digambarkan dalam film ini telah benar-benar hilang sama sekali.

Tidak hanya dari segi karakter, jalan cerita Bangun Lagi Dong Lupus juga gagal untuk menyajikan sesuatu yang menarik bagi penontonnya. Hilman Hariwijaya dan Benni Setiawan yang bertanggung jawab atas penulisan naskah film ini menghadirkan terlalu banyak konflik untuk disajikan dalam durasi film yang hanya mencapai 106 menit. Akibatnya, banyak diantara konflik tersebut yang hadir dan gagal untuk mendapatkan eksplorasi secara mendalam. Dangkal. Diiringi dengan banyaknya pesan-pesan bernuansa moralitas, sosial serta nasionalisme, jalan cerita Bangun Lagi Dong Lupus lebih layak untuk digolongkan sebagai sebuah pesan layanan masyarakat daripada sebagai sebuah sajian drama komedi yang menyentuh mengenai kehidupan remaja modern.

Juga sesuai dengan kualitas penceritannya adalah kualitas berbagai sisi produksi yang disajikan dalam film ini. Dengan karakter-karakter yang dangkal, sepertinya tidak heran jika hampir seluruh jajaran pengisi departemen akting film ini tampil dalam kualitas penampilan yang seadanya. Para jajaran aktor muda yang berada sebagai pemeran utama film ini seperti Miqdad Addausy, Acha Septriasa, Jeremy Christian dan Alfie Alfandy sesungguhnya tidak memberikan penampilan yang buruk. Namun dengan kedangkalan karakter mereka, chemistry yang hadir diantara karakter yang mereka perankan benar-benar tampil minimalis. Untung saja film ini masih memiliki Didi Petet dan Deddy Mizwar yang meskipun hadir dalam kapasitas yang benar-benar terbatas, namun mampu memanfaatkan setiap kehadiran karakter mereka untuk memberikan momen-momen komedi yang paling dapat dinikmati dalam film ini.

Adalah sangat mengherankan untuk menyaksikan Hilman Hariwijaya kembali membangkitkan karakter Lupus dalam Bangun Lagi Dong Lupus namun gagal untuk menyajikannya sebagai karakter Lupus yang telah mencuri hati banyak orang selama lebih dari tiga dekade terakhir. Karakter Lupus dan karakter-karakter pendukung lain yang berada di sekitarnya gagal dihadirkan secara kuat dan menarik. Hilangnya daya tarik setiap karakter kemudian diperparah dengan alur cerita yang dipenuhi dengan terlalu banyaknya konflik dangkal yang dihadirkan namun kemudian gagal untuk mendapatkan penggalian cerita secara lebih baik dan mendalam. Mereka yang menyaksikan Bangun Lagi Dong Lupus untuk bereuni kembali dengan karakter-karakter yang terasa sebagai sahabat lama mereka jelas akan sangat kecewa dengan kehadiran karakter-karakter baru dengan nama familiar di film ini. Sementara generasi baru yang menyaksikan film ini kemungkinan besar akan terheran-heran mengapa banyak kalangan dewasa pernah begitu mengidolakan karakter Lupus yang dalam film ini tampil begitu datar dan terlalu dibebani dengan berbagai pesan-pesan moral yang tersaji dengan begitu membosankan.

popcornpopcorn popcorn2popcorn2popcorn2

Bangun Lagi Dong Lupus (Komando Pictures/RCTI, 2013)

Bangun Lagi Dong Lupus (Komando Pictures/RCTI, 2013)

Bangun Lagi Dong Lupus (2013)

Directed by Benni Setiawan Produced by Eko Patrio Written by Hilman Hariwijaya, Benni Setiawan (screenplay), Hilman Hariwijaya (characters) Starring Miqdad Addausy, Acha Septriasa, Kevin Julio, Jeremy Christian, Alfie Alfandy, Fabila Mahadira, Mella Austen, Deddy Mizwar, Ira Maya Sopha, Eko Patrio, Firdha Kussler, Ira Wibowo, Debby Sahertian, Epy Kusnandar, Didi Petet, Cici Tegal, Agung Hercules, Tina Talisa Music by Thoersi Argeswara Cinematography Gunung Nusa Pelita Editing by Endja N. Prabowo Studio Komando Pictures/RCTI Running time 106 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. Rizki says:

    Untung ada acha

  2. Opand says:

    Film propaganda pemerintah nih. Launching film nya pake ada menteri dan pejabat segala. My warning: Save your money for good movie not fake movie.

    • Aydi says:

      pdhl jmn2 praproduksinya Eko sampe berstatement ini film bebas politik…pdhl maasbg politikus, ya baik klo dia selipin pendidikan politik tp MURNI bkn ‘pesan sponsor’ pihak2/pejabat tertentu…

      ~sambil celingak celinguk cari review Finding Srimulat~
      Bang Amir blm nonton neee, terlalaluuu xixixiii bcanda!cpt nonton Bang, penting! wkwkwkwkwkkkk

  3. samawabalong says:

    Lupus kehilangan jatidiri…

  4. rere says:

    Kritikan Чαnб sangat pedaaaaass… Ckckckckc

  5. reglest says:

    ‘Pesan Layanan Masyarakat’, hahahaha, pas banget sama apa yang saya pikirkan pas nonton ini. Kecewa? Jelas. Lupus justru iconic dengan ‘ketengilannya’ yang tetap berada di jalan lurus. Sayang karya hilman ini malah membuat Lupus seperti seorang white knight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s