the-host-header

Stephenie Meyer memulai masa kejayaannya ketika seri novel The Twilight Saga (2005 – 2008) yang ia tulis diadaptasi ke layar lebar oleh Hollywood. Meskipun kebanyakan bagian film seri tersebut mendapatkan kritikan tajam dari kritikus film Hollywood – khususnya akibat dialog maupun deretan adegan romansa cheesy yang terus mewarnai film seri tersebut, lima seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa dengan total pendapatan sebesar lebih dari US$3 milyar serta menjadi sebuah pop culture phenomenon bagi banyak kalangan muda. Tentu saja… ketika Meyer kemudian merilis The Host (2008)  – yang pada dasarnya masih merupakan sebuah novel bertema kisah cinta segitiga namun hadir dengan balutan penceritaan bernuansa science fiction yang lebih dewasa, Hollywood jelas tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengulang kembali kesuksesan luar biasa tersebut begitu saja. Namun… can the lightning really strikes the same place twice?

Disutradarai oleh Andrew Niccol (In Time, 2011) yang juga bertanggung jawab untuk penulisan naskah film ini, The Host berlatar belakang lokasi di planet Bumi pada masa yang akan datang. Dikisahkan, Bumi telah diambil alih oleh para makhluk asing dari luar angkasa yang dikenal dengan sebutan “Souls” dengan cara memasuki setiap tubuh manusia yang mereka temui. Salah satu manusia yang menjadi korban mereka adalah seorang gadis yang bernama Melanie Stryder (Saoirse Ronan), yang berhasil ditangkap oleh seorang makhluk asing luar angkasa yang dikenal dengan sebutan Seeker (Diane Kruger) dan kemudian menginfiltrasi tubuh gadis tersebut dengan sesosok makhluk asing luar angkasa berusia lebih dari seribu tahun yang disebut dengan Wanderer guna mencari tahu dimana lokasi kumpulan manusia lain yang masih belum berhasil mereka kuasai tubuhnya.

Wanderer memang kemudian menjalankan tugasnya – dengan mengakses jalan pemikiran Melanie, ia mengetahui bahwa Melanie masih memiliki seorang adik, Jamie (Chandler Canterbury), kekasih, Jared Howe (Max Irons), serta paman, Jeb Stryder (William Hurt), yang kesemuanya masih berwujud manusia. Namun, berkat perlawanan jiwa Melanie yang tetap terperangkap di tubuh tersebut, Wanderer mulai merasakan berbagai hal yang selama ini  belum pernah ia rasakan: sisi emosional manusia. Penasaran dengan seluruh gejolak perasaan yang ia rasakan, Wanderer kemudian setuju untuk mengeluarkan Melanie dari tahanan Seeker dan membawanya ke orang-orang yang ia kenali. Namun, Seeker ternyata mengetahui rencana Wanderer dan Melanie. Bersama dengan seluruh pasukan makhluk asing luar angkasa lainnya, Seeker mulai mencari keberadaan Wanderer dan Melanie dan berniat untuk menyingkirkan mereka.

Dengan film-film seperti Gattaca (1997) S1m0ne (2002) serta In Time berada di dalam daftar filmografinya, rasanya tidak mengherankan untuk melihat ketertarikan Andrew Niccol pada jalan cerita science fiction bernuansa romansa yang ditawarkan oleh Stephenie Meyer lewat The Host. Dan harus diakui, terlepas dari obsesi Meyer untuk tetap terus menghadirkan kisah cinta segitiga dalam jalan ceritanya, The Host memiliki substansi cerita yang lebih padat dan berisi jika dibandingkan dengan seri manapun dari The Twilight Saga. The Host mampu menjadi cermin sosial bagi kehidupan manusia di masa modern: bagaimana manusia mampu berbuat jahat terhadap sesamanya demi keuntungan pribadi atau justru terlalu terobsesi untuk melakukan sebuah tujuan (yang dianggap) mulia namun ternyata justru menyakiti orang lain. Sounds too philosophical? The Host memang tidak secara gamblang menyajikan hal tersebut namun Niccol mampu menghadirkannya lewat subteks yang tersebar melalui deretan dialog maupun adegan di film ini.

Terlepas dari berbagai filosofi maupun tampilan desain cerita science fiction yang disajikan oleh film ini, The Host tetap adalah sebuah kisah cinta segitiga: dua orang gadis yang terperangkap pada tubuh yang sama namun jatuh cinta pada dua sosok pria yang berbeda. Dan sayangnya, justru di bagian inilah The Host terasa sangat bertele-tele dalam bercerita. Pada kebanyakan bagian, konsep kisah cinta segitiga tersebut tidak pernah benar-benar mampu tergali dengan adu argumen antara karakter Melanie dan Wanderer tentang sosok pria yang mereka sukai dihadirkan dalam porsi penceritaan yang terlalu besar serta dialog-dialog konyol yang justru akan membuat banyak penonton menjadi tersenyum daripada merasakan sisi romantis kisah cinta tersebut.

Di sisi lain, Niccol juga gagal untuk menggali lebih dalam karakter-karakter maupun jalan cerita yang ingin ia hadirkan. The Host sama sekali tidak pernah memberikan ruang yang cukup bagi pengenalan latar belakang siapa para makhluk asing luar angkasa yang menyerbu Bumi tersebut: mengapa mereka membenci kekerasan dan di saat yang sama justru merebut sesuatu yang bukan merupakan milik mereka. Niccol juga terasa begitu tergesa-gesa dalam mengeksekusi jalan cerita film ini. Perubahan sikap beberapa karakter dihadirkan dalam alur yang terlalu cepat sehingga gagal untuk menghadirkan kisah yang logis kepada penonton. Memang, film memberikan batasan yang lebih sempit jika dibandingkan dengan novel untuk menghadirkan ruang penjelasan yang lebih mendalam. Namun, tentu saja, Niccol seharusnya tahu lebih banyak cara untuk menyederhanakan kisah yang telah dituliskan oleh Meyer dan menyesuaikannya untuk jalan penceritaan sebuah film.

Keunggulan utama film ini jelas terletak pada jajaran pengisi departemen aktingnya. Nama-nama seperti William Hurt, Frances Fisher, Diane Kruger, Max Irons dan Jake Abel mampu menghadirkan penampilan akting yang jelas tidak mengecewakan dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Namun, penampilan paling prima dalam film ini jelas hadir melalui penampilan pemeran utama film ini, Saoirse Ronan. Ronan mampu dengan baik memerankan dua karakter dengan kepribadian yang bertolak belakang melalui penggunaan aksen bahasa yang berbeda. Interaksi antara dua karakter yang ia perankan benar-benar terasa kuat bahkan emosional di beberapa bagian. Chemistry yang ia jalin dengan para pemeran lainnya juga mampu hadir meyakinkan dan semakin memperkuat kualitas departemen akting film ini.

Pada kebanyakan bagian presentasinya, The Host seringkali akan mengingatkan penontonnya pada kualitas film arahan Andrew Niccol sebelumnya, In Time: sama-sama memiliki konsep science fiction futuristik dengan sentuhan sosial yang sangat menarik namun kemudian gagal mendapatkan penggalian yang lebih mendalam dari sisi cerita maupun karakterisasinya. Kegagalan tersebut kemungkinan besar terjadi karena fokus yang terlalu besar pada kisah romansa segitiga yang terjadi kepada para karakter utama film ini sehingga seringkali terasa menyingkirkan plot cerita lain – yang sebenarnya lebih menarik – untuk dapat berkembang dalam jalan penceritaan The Host. Meskipun begitu, lewat kualitas tata produksi yang apik serta bantuan penampilan jajaran pengisi departemen akting yang kuat, Niccol setidaknya masih mampu menggarap The Host menjadi sebuah drama romansa bernuansakan science fiction yang menarik untuk diikuti.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

The Host (Chockstone Pictures/Nick Wechsler Productions/Silver Reel, 2013)

The Host (Chockstone Pictures/Nick Wechsler Productions/Silver Reel, 2013)

The Host (2013)

Directed by Andrew Niccol Produced by Stephenie Meyer, Paula Mae Schwartz, Steve Schwartz, Nick Wechsler Written by Andrew Niccol (screenplay), Stephenie Meyer (novel, The HostStarring Saoirse Ronan, Jake Abel, Max Irons, Chandler Canterbury, Frances Fisher, Diane Kruger, William Hurt, Boyd Holbrook, Scott Lawrence, Lee Hardee, Phil Austin, Raeden Greer, Alexandria Morrow, Emily Browning, Alex Russell Music by Antonio Pinto Cinematography Roberto Schaefer Editing by Thomas J. Nordberg Studio Chockstone Pictures/Nick Wechsler Productions/Silver Reel Running time 125 minutes Country United States Language English

 

 

 

About these ads
Comments
  1. Opand says:

    I watched this yesterday. Still, better love story than Twilight..
    Worth to watch.. =)

  2. Niken says:

    Barusan nonton. Iya, gak dijelasin siapa sebenernya makhluk asingnya. Harus baca bukunya sepertinya. Worth it banget buat ditonton. Btw, tadi waktu beli tiket ternyata free pembatas buku The Host. ^^

  3. zizadesita says:

    Better than vampire thing lah..
    Lebih hidup gt deh

  4. mega says:

    ceritanya bagus banget ,,
    sedihhhh,, :'(
    i like it ,, (y)

  5. arik says:

    one of the ,most severlly underrated :v

    nih film bagus banget kata aku .

    Better than TWILIGHT 10000000000000000000000000000000%

    9,5/10

    aku sih udah baca bukunya . dapet bonus pembatas buku nya juga ><

    masih inget aku

  6. Rastine says:

    Aku baca novelnya udah lama banget. Waktu filmnya rilis, excited buat nonton. Bagus kok, tapi tetep novelnya lebih keren, hehehehh. Menurutku yang kurang pas itu, pemeran Ian. Kenapa harus Jake Abel?? Ohh please, dia lebih cocok sbg antagonis, seperti di Percy Jackson sbg Luke. Ian itu tokoh favoritku, jadi agak kecewa. Jake Abel bagus, tapi kurang cocok aja klo jadi Ian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s