belenggu-header

Menilai sekilas berdasarkan presentasi cerita dan penampilan visualnya, adalah sangat mudah untuk menduga bahwa Belenggu adalah hasil sebuah petualangan lain dari seorang Joko Anwar dalam melanjutkan kisah-kisah berdarahnya yang sebelumnya disajikan lewat film-film seperti Kala (2007) maupun Pintu Terlarang (2009). Salah! Terlepas dari gaya presentasi yang demikian serupa, Belenggu sendiri merupakan karya perdana Upi (Oh Tidak…!, 2011) dalam menyutradarai sebuah film thriller. Dan harus diakui, Upi memiliki kemampuan yang cukup dalam menghadirkan deretan misteri yang akan terus mampu menarik perhatian setiap penggemar film-film sejenis. Sayangnya, secara perlahan, deretan misteri tersebut menjadi terlalu rumit dan kemudian menyebabkan Upi terlihat terjebak sehingga akhirnya kebingungan untuk memberikan jalan penyelesaiannya.

Belenggu akan memperkenalkan penontonnya pada sesosok karakter pria penyendiri bernama Elang (Abimana Arya) yang selama beberapa malam terakhir telah dihantui mimpi mengenai sosok pria dalam kostum kelinci, seorang wanita misterius serta kumpulan mayat yang berada bersama mereka di dalam sebuah mobil. Dalam kehidupan nyata, Elang juga merasa terganggu dengan kabar yang ia dapat dari temannya, Ningsih (Davina Veronica), dan tetangganya, Djenar (Laudya Chynthia Bella), bahwa kota yang ia tinggali saat ini sedang dihantui rasa ketakutan mengenai sesosok pembunuh berantai yang dikabarkan mengincar nyawa para wanitaa di kota tersebut.

Suatu malam, Elang menyelamatkan seorang wanita, Jingga (Imelda Therinne), dari seorang pria yang hendak berbuat kasar kepadanya. Tidak lama, Elang dan Jingga kemudian membentuk sebuah rasa kepercayaan yang mendalam antara satu dengan yang lain. Jingga bahkan meminta agar dirinya dapat tinggal bersama Elang – yang kemudian disetujui oleh pria tersebut. Sialnya, segera setelah Jingga tinggal bersamanya, mimpi-mimpi buruk yang selama ini telah dialami oleh Elang sepertinya terus menghantui dirinya, bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi. Merasa tertekan, Elang kemudian mulai melakukan berbagai hal yang secara perlahan menguak masa lalunya yang kelam.

Pertama-tama, mari memberikan pujian yang lebih bagi penataan departemen teknis film ini. Sinematografer, Ical Tanjung, berhasil menangkap gambar-gambar indah namun tetap dapat menghantarkan atmosfer mencekam yang memang ingin disajikan Upi dalam jalan cerita Belenggu. Begitu pula dengan penata artistik, Iqbal Rayya Rante, yang berhasil mendukung visualisasi cerita yang memang ingin disajikan dalam tampilan noir. Sayangnya… kualitas tata produksi yang meyakinkan tersebut gagal mendapatkan dukungan yang kuat dari kualitas penceritaan film ini. Bukannya buruk, namun Upi sama sekali tidak memberikan sesuatu yang baru dalam jalan cerita yang ia sampaikan.

Deretan misteri yang disajikan Upi dalam Belenggu terasa bagaikan kompilasi berbagai kisah misteri yang pernah disajikan lewat film-film beritme sama. Dan ketika Upi menyajikan kisah tersebut dalam ritme penceritaan yang terlalu lamban, Belenggu akhirnya berjalan datar, tanpa adanya kehadiran ketegangan dan ikatan emosional yang kuat untuk dapat membuat para penontonnya merasa tertarik dalam mengikuti perkembangan setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini. Upi sendiri kemudian terkesan terjebak dengan deretan yang telah ia bangun semenjak awal cerita. Akhirnya, daripada memberikan sebuah konklusi yang memuaskan untuk jalan ceritanya, Upi justru merasa perlu untuk memaparkan semua misteri dalam kisahnya yang sekaligus membuat elemen thriller dalam Belenggu menjadi semakin kurang mumpuni.

Penampilan para pengisi departemen akting film ini jelas tidak dapat dikatakan mengecewakan – meskipun, tentu saja, jauh dari kesan yang memuaskan pula. Abimana Arya, seperti biasa, tampil dalam ekspresi emosional senada yang telah diterapkan semenjak penceritaan Belenggu dimulai. Dengan deretan karakter yang dapat dikatakan tergali secara terbatas, Jajang C. Noer, Teuku Rifnu Wikana dan Arswendi Nasution masih mampu memberikan penampilan yang cukup hidup bagi peran mereka. Dan Bella Esperance… well… sepertinya telah menjadikan karakter wanita berpenampilan eksentrik dengan kewarasan yang patut dipertanyakan menjadi peran yang tipikal baginya. Imelda Therinne mungkin adalah satu-satunya penampilan yang mampu hadir mencuat mengingat perannya memiliki warna karakter yang lebih kuat daripada karakter-karakter lainnya – meski akan banyak mengingatkan banyak orang pada perannya pada Rumah Dara (2010). Nama-nama pemeran lain seperti Laudya Chynthia Bella, Verdi Solaiman dan Davina Veronica hadir dalam kapasitas peran yang terbatas dengan penampilan akting yang terbatas pula.

Sama sekali tidak ada yang istimewa dalam jalan penceritaan Belenggu. Bagi para penggemar film-film sejenis, naskah cerita karya Upi ini mungkin akan banyak dilihat sebagai perpaduan dari berbagai kisah bernada sama yang pernah mereka saksikan sebelumnya. Perpaduan tersebut sebenarnya dapat saja menjadi sebuah sajian yang menarik jika Upi mampu memberikan sebuah bumbu tambahan yang mampu lebih meningkatkan rasa ketegangan di sepanjang penceritaan film ini. Sayangnya, Upi justru seperti terjebak dengan paduan berbagai formula misteri yang ia sajikan dan akhirnya memilih untuk menyerah dan menyajikan penceritaan yang cenderung konvensional dan menghilangkan kesan misterius yang telah dibangunnya semenjak awal. Puncaknya, Belenggu seringkali terlihat sebagai sebuah visi yang begitu ambisius namun gagal dikembangkan akibat kemampuan eksekusi yang masih terlalu dangkal.

popcornpopcorn  popcorn3popcorn2popcorn2

Belenggu (Falcon Pictures, 2013)

Belenggu (Falcon Pictures, 2013)

Belenggu (2013)

Directed by Upi Produced by Frederica Written by Upi Starring Abimana Arya, Laudya Cynthia Bella, Imelda Therinne, Bella Esperance, Teuku Rifnu Wikana, Jajang C Noer, Verdi Solaiman, Arswendi Nasution, Avrilla, Davina Veronica, Masayu Anastasia Music by Aksan Sjuman Cinematography Ical Tanjung Editing by Wawan I Wibowo Studio Falcon Pictures Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. AL says:

    Jiah, saya pikir Belenggu adaptasi dari karya sastra karyanya Armijn Pane. Gak taunya film horor :(

  2. arfebrina says:

    Halo, Mas Amir… saya numpang komen seperti biasa, ya… Hehehe…
    Saya merasa di menit-menit awal, Upi berhasil membuat saya bingung dengan segala ilusi yang dialami Elang. Meskipun sebagai penggemar film-film sejenis, Upi memberikan cukup banyak clue yang membuat saya dengan mudahnya menebak apa yang sebenarnya terjadi.
    Sayangnya, saya sungguh sangat terganggu dengan pengucapan dialog oleh Bella dan narasi Abimana yang terlalu kaku dan penggalan pengucapan yang tidak tepat. Bahkan ada saat ketika salah satu pemeran lupa menahan nafas ketika ia seharusnya sudah ****.
    Overall, film yang patut diapresiasi karena sudah memberikan atmosphere kelam yang mengagumkan.

  3. twitter.com/gunawantrian says:

    Mixed reviews ya….
    Di beberapa artikel lain memuji2 film ini setinggi langit.
    Aku percaya blog ini aja deh,hehee…

  4. abi luqman says:

    pria dalam kostum kelinci ?
    hhmmmm, ,mengingatkan saya pada donie darko ,ya donie darko
    terinspirasi ato?

  5. rizkicssi says:

    ini mirip film jepang, judulnya Rabbit Horror, ceritanya sih ga tau, tapi tokoh kostum kelincinya :D

  6. Arik says:

    ini terinspirasi dari Donnie Darko , Kostum Kelincinya dari Film Tormented (2011) produksi jepang .

    kalo bang amir ngasih 2,5 popcorn . saya bakal ngasih 4 popcorn :D

    Jarang jarang ada yang bisa ngehadirin Atmosfir Segelap Ini ( Buat level nya indonesia , apalagi di antara horror ceke ceke / ecek ecek bin mesum yang sering banget muncul sekarang yang bagus di dekade ini juga paling , Keramat , Jelangkung , Kuntilanak 1&2 . yang ke 3 gak suka .)
    Upi Udah jago kok ngehadirin atmosfir Gelap Bin Kelam.

    Long Life Horror Indonesia !

    maaf bang amir beda pemikiran . kan setiap orang berbeda pendapat :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s