2012-A-Year-In-ReviewSo here we go again… Saatnya untuk memasuki tahun yang baru, berarti saat yang tepat juga untuk sekilas kembali melihat ke belakang beberapa momen paling mengesankan di dunia film. Tentu saja, beberapa momen akan memberikan kesan yang sangat baik dan beberapa momen lainnya… well… justru memberikan mimpi buruk dan membuat beberapa orang tidak ingin mengingat momen-momen buruk tersebut lagi.

Dua daftar film terburuk berikut – daftar pertama berisi film-film asing terburuk yang kemudian diikuti dengan daftar rilisan lokal terburuk – merangkum deretan film terburuk yang dirilis di sepanjang tahun 2012 lalu.

WORST FOREIGN MOVIES OF 2012

the-man-with-the-iron-fists-poster01. The Man with the Iron Fists (Director: RZA, Arcade Pictures/Iron Fists, 2012)

Dengan jalan penceritaan yang dangkal, karakter-karakter yang terlalu banyak dan gagal untuk dihadirkan secara proporsional serta ritme penceritaan yang tersaji dengan begitu berantakan, The Man with the Iron Fists sepertinya hadir untuk membuktikan bahwa, terlepas dari seluruh uang dan koneksi yang ia miliki, RZA bukanlah seorang sutradara, penulis naskah maupun aktor yang menarik. Mungkin akan lebih baik kalau ia hanya menerima peran-peran minor seperti yang selalu dilakukannya dahulu.

Alex-Cross-poster02. Alex Cross (Director: Rob Cohen, QED International/Block / Hanson/Emmett/Furla Films/Envision Entertainment Corporation/IAC Productions/James Patterson Entertainment, 2012)

Alex Cross jelas adalah salah satu film yang paling membosankan yang pernah dirilis oleh Hollywood di sepanjang tahun ini. Dengan plot cerita klise yang terkesan mencoba mengadaptasi berbagai plot cerita crime thriller khas Hollywood lainnya, Alex Cross sayangnya kekurangan begitu banyak energi yang mampu membuat jalan ceritanya tampak menarik dan layak untuk diikuti. Begitu pula dengan penulisan dialog dan karakter film ini yang jelas telah membuat banyak jajaran pengisi departemen akting film ini – yang sejujurnya harus diakui memiliki bakat akting cukup mumpuni – menjadi sia-sia kehadirannya.

Dark_Tide-poster-0203. Dark Tide(Director: John Stockwell, Film Afrika Worldwide/Lipsync Productions/Social Capital/Magnet Media Group/Mirabelle Pictures/Magnet Media Productions, 2012)

Dark Tide adalah sebuah bagian lain dalam perjalanan panjang filmografi Halle Berry yang sama sekali tidak mengesankan. Walau telah menyutradarai banyak film, John Stockwell jelas terasa tidak memiliki sensibilitas yang tinggi untuk merangkai filmnya dengan deretan jalan penceritaan yang efektif. Dark Tide dapat saja tampil lebih elegan dengan membuang banyak konflik yang sebenarnya tidak begitu berarti untuk dihadirkan dan hanya berfokus pada kehidupan dan serangan yang dilakukan para ikan hiu putih – yang sejujurnya merupakan karakter terbaik yang dapat dihadirkan Stockwell di dalam film ini. Sebuah action thriller yang hadir tanpa adanya ketegangan yang berarti… yang bahkan tidak dapat diselamatkan dengan penampilan Halle Berry dalam sebuah bikini.

New_Years_Eve_Poster04. New Year’s Eve (Director: Garry Marshall, New Line Cinema/Wayne Rice/Karz Entertainment/New York Streets Film Projects, 2011)

Yeahwell… memang tidak ada alasan lain untuk menyaksikan New Year’s Eve selain untuk menyaksikan puluhan nama-nama besar Hollywood bersenang-senang di sebuah film yang sama. Namun tetap saja, bahkan dengan standar selemah itu, New Year’s Eve tetap gagal untuk memberikan esensi hiburan yang kuat bagi penontonnya. Diisi dengan deretan karakter yang gagal untuk tergali dengan baik dan juga rangkaian kisah yang tersaji begitu hambar dengan jalinan emosi yang terasa begitu palsu dan dibuat-buat, New Year’s Eve jelas adalah sebuah kesalahan berulang yang pernah dilakukan Garry Marshall pada Valentine’s Day. Bahkan terasa lebih buruk mengingat New Year’s Eve sama sekali tidak mampu menawarkan sebuah formula yang berbeda.

House-at-the-end-of-the-Street-poster05. House at the End of the Street (Director: Mark Tonderai, Relativity Media/FilmNation Entertainment/A Bigger Boat/Zed Filmworks, 2012)

House at the End of the Street sepertinya akan memenuhi setiap ekspektasi penonton akan sebuah film thriller sederhana yang masih menggunakan berbagai formula standar film-film thriller Hollywood. Sayangnya, sutradara film ini, Mark Tonderai, sepertinya tidak berkeinginan untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi berbagai sudut dari jalan penceritaan yang ingin ia sampaikan. Akhirnya, terlepas dari penampilan yang layak dari para jajaran pengisi departemen akting film ini, House at the End of the Street tampil sebagai sebuah film thriller yang hadir benar-benar tanpa rasa ketegangan sama sekali. Datar dan jauh dari kesan menarik.

one-for-the-money-poster06. One for the Money (Director: Julie Ann Robinson, Lakeshore Entertainment/Sidney Kimmel Entertainment, 2012)

Datar, tanpa kehadiran komedi yang tepat untuk mampu menghibur para penontonnya serta tanpa kehadiran chemistry yang kuat antara para pemerannya untuk mampu menciptakan sebuah suasana romansa, One for the Money jelas berdiri tegak diantara film-film berkualitas buruk yang telah dibintangi oleh Heighl selama ini. Kalau mau jujur, bahkan dengan materi selemah One for the Money, Heighl masih mampu muncul dengan penampilan yang tidak mengecewakan. Penampilan Heighl adalah satu-satunya alasan kenapa One for the Money masih dapat dinikmati – walau sama sekali bukanlah sebuah penampilan yang istimewa. Selebihnya, One for the Money sepertinya akan terlupakan dengan begitu mudahnya.

LOL-poster07. LOL (Director: Lisa Azuelos, Double Feature Films/LOL Productions/Mandate Pictures/PIC Agency, 2012)

Dengan naskah cerita yang berisi drama hubungan ibu dan anak yang begitu mudah ditebak, yang kemudian diselipi dengan plot cerita mengenai romansa, persahabatan hingga berbagai intrik yang terjadi antara karakter-karakter yang ada di sekitar mereka, LOL gagal untuk tampil sebagai sebuah drama yang menarik. Lisa Azuelos, yang kembali mengarahkan versi Hollywood dari film Perancis yang dulu pernah ia produksi, sepertinya kehilangan arah dalam bagaimana menterjemahkan berbagai hal menarik yang dahulu ada di versi asli LOL (Laughing Out Loud) ke dalam bentuk budaya baru dari LOL untuk Hollywood. Sebuah drama yang dangkal dan jauh dari kesan menarik.

stolen-poster08. Stolen (Director: Simon West, Millennium Films/Nu Image Films/Saturn Films/Nu Boyana Film Studios/Simon West Productions/Wonderland Sound and Vision, 2012)

Mungkin Anda telah lelah mendengarkan hal ini… tapi… benar… Stolen adalah sebuah film berkualitas buruk lainnya yang dibintangi oleh Nicolas Cage. Tidak hanya film ini gagal untuk tampil sebombastis Taken dalam mengeksplorasi berbagai sisi aksi kisahnya, Stolen juga hadir sebagai sebuah presentasi kisah yang datar, jauh dari kesan menarik dengan karakter-karakter yang tidak akan membuat siapapun peduli dengan apa yang mereka lakukan di sepanjang penceritaan film ini. Sebuah film yang begitu buruk sehingga kemampuan akting Cage — dan beberapa jajaran pemerannya yang biasanya mampu tampil dalam kapasitas akting memadai — bahkan sama sekali tidak terlihat di film ini.

wrath_of_the_titans_poster0209. Wrath of the Titans (Director: Jonathan Liebesman, Legendary Pictures/Thunder Road Pictures/Warner Bros. Pictures, 2012)

Wrath of the Titans jelas adalah sebuah produk yang murni hadir karena film pendahulunya berhasil meraih kesuksesan komersial yang cukup besar. Sayangnya, Wrath of the Titans tidaklah mampu memperbaiki segala kekurangan dari sisi penceritaan yang pernah membuat Clash of the Titans tampil begitu menjemukan tersebut. Wrath of the Titans masih tampil dengan jalan cerita yang jauh dari kata memuaskan, cenderung datar, dengan dialog-dialog yang  masih tampil dengan jalan cerita yang jauh dari kata memuaskan, konflik cenderung datar, dengan dialog-dialog yang cheesy serta karakterisasi yang dangkal. Entah bagaimana nasib film ini jika Jonathan Liebesman juga gagal dalam memberikan perbaikan dari sisi penampilan visualnya. Wrath of the Titans masih mampu tampil cukup menghibur. Namun jelas tidak akan menghentikan banyak orang untuk berpendapat bahwa franchise ini seharusnya tidak pernah diteruskan.

ghost-rider-2-poster10. Ghost Rider: Spirit of Vengeance (Director: Mark Neveldine, Brian Taylor, Columbia Pictures/Hyde Park Entertainment/Imagenation Abu Dhabi FZ/Marvel Knights, 2012)

Mungkin jika Anda tidak menghadirkan ekspektasi apapun sebelum menyaksikan Ghost Rider: Spirit of Vengeance, Anda masih akan dapat menikmati beberapa bagian film ini, khususnya bagian-bagian dimana duo sutradara Mark Neveldine dan Brian Taylor menghadirkan deretan tampilan visual effects yang cukup memukau. Namun, hal tersebut tentu saja tidak akan mampu menutupi lemahnya film ini secara keseluruhan. Dengan jalan cerita yang hampir sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang menarik, dengan penampilan para jajaran pemeran yang berakting seadanya, Ghost Rider: Spirit of Vengeance menandai, sekali lagi, titik rendah dalam karir Nicolas Cage sebagai seorang aktor.

WORST INDONESIAN MOVIES OF 2012

misteri-pasar-kaget-poster01. Misteri Pasar Kaget (Director: Kiki Nurisman, Wimbadi JP, Cakrawala Fastindo Film, 2012)

Kesalahan utama film ini sepenuhnya berada di tangan penulis naskah film ini. Maaf, Tuan Wimbadi JP. Siapapun Anda… mungkin ada baiknya untuk tidak pernah menyentuh kembali segala hal yang berkaitan dengan penulisan naskah cerita film. Selamanya. Wimbadi JP jelas sama sekali tidak mengerti mengenai apa yang sebenarnya ingin ia ceritakan, bagaimana cara ia menyampaikannya atau bagaimana mengembangkan deretan karakter serta cerita yang ingin ia sampaikan. Misteri Pasar Kaget adalah sebuah kegagalan luar biasa. Film ini akan menjadi salah satu film yang akan diingat oleh penduduk Indonesia sepanjang masa… sebagai salah satu film paling bodoh yang pernah dirilis oleh industri film Indonesia.

Udin-cari-alamat-palsu-poster02. Udin Cari Alamat Palsu (Director: Chiska Doppert, D’Color Films, 2012)

Udin Cari Alamat Palsu adalah sebuah mimpi buruk lain yang coba direalisasikan oleh seorang Chiska Doppert. Premis untuk menggabungkan para nama-nama penghibur yang memulai karirnya lewat media YouTube sejujurnya bukanlah sebuah ide yang buruk. Namun ketika tidak satupun dari para penghibur tersebut memiliki bakat akting yang mumpuni – dan tentu saja kemudian dipadukan dengan kemampuan pengarahan Chiska Doppert yang lemah atas sebuah penulisan naskah yang buruk – Udin Cari Alamat Palsu dengan mudah teridentifikasi sebagai sebuah film yang dapat digambarkan dengan seluruh kata yang bersinonim dengan kata buruk. 82 menit siksaan mental yang tidak akan dapat Anda lupakan begitu saja.

xia-aimei-poster03. Xia Aimei (Director: Alyandra, Falcon Pictures, 2012)

Sama seperti X – The Last Moment (2011) yang berniat untuk memberikan semacam penyuluhan bagi penontonnya lewat jalan cerita yang dihadirkan, Xia Aimei juga berusaha memberikan penontonnya (sangat) sedikit pengetahuan mengenai human trafficking. Sayangnya, sama seperti X – The Last Moment, Xia Aimei juga terjebak dalam berbagai tata produksi yang gagal untuk dapat diperhatikan secara detil. Begitu banyak kejanggalan-kejanggalan yang dapat dirasakan di dalam jalan cerita, karakter-karakter yang dihadirkan, tata teknis yang tidak terjalin dengan rapi hingga kemampuan para pengisi departemen aktingnya yang cukup mengganggu. Dihadirkan dengan jalan cerita yang begitu klise, datar dan jauh dari kesan menarik, Xia Aimei berada di jalur yang tepat untuk mengisi daftar film Indonesia terburuk banyak orang di akhir tahun 2012 nanti.

enak-sama-enak-poster04. Enak Sama Enak (Director: Chiska Doppert, Mitra Pictures/BIC Productions, 2012)

Mungkin dengan menyebutkan bahwa kualitas Enak Sama Enak berada pada posisi yang seimbang dengan kebanyakan film-film yang diproduseri Firman Bintang atau yang disutradarai oleh Chiska Doppert adalah deskripsi yang cukup tepat untuk menggambarkan bagaimana penonton akan menghabiskan masa 80 menit dalam hidup mereka ketika memilih untuk menyaksikan film ini. Diisi dengan rangkaian komedi cheesy, dengan plot cerita yang sama sekali tidak mempedulikan hadirnya kedalaman karakterisasi pada tokoh-tokoh yang dihadirkan maupun kesinambungan dalam plot ceritanya, Enak Sama Enak setidaknya masih mampu memberikan beberapa momen humor kepada penontonnya lewat penampilan para anggota kelompok Teamlo. Mehbut it’s still a hell of a mess, though.

Fallin-in-Love-poster05. Fallin’ in Love (Director: Findo Purnomo HW, Mitra Pictures/BIC Productions, 2012)

Kecuali beberapa aktor senior yang tampil dalam film ini, seperti Yati Surachman yang selalu tampil meyakinkan, Fallin’ in Love sama sekali tidak memiliki kelebihan yang berarti dalam kualitas departemen aktingnya. Jika pemerannya tidak berlebihan dalam menampilkan perannya, maka pemerannya terlihat sama sekali tidak mampu berakting. Jangan ditanyakan soal kualitas penulisan cerita. Alim Sudio sepertinya menuliskan naskah film ini dalam waktu 30 menit dengan berbagai referensi segala cerita film yang akan mampu membuat penontonnya merasa muak dengan segala hal yang berbau percintaan remaja. Fallin’ in Love adalah sebuah film yang memberikan nama buruk bagi film-film drama romansa remaja. Salah satu film Indonesia terburuk untuk tahun ini.

love-is-u-poster06. Love is U (Director: Hanny R Saputra, Day Dreams Entertainment/Radikal Films, 2012)

Love is U adalah sebuah proyek yang begitu lemah, bahkan jika dibandingkan dengan film-film drama popcorn yang selama ini banyak digarap oleh seorang Hanny R Saputra. Yang lebih mengherankan adalah Hanny sepertinya tidak memberikan perhatian penuh kepada film ini. Pengarahan Hanny terhadap kemampuan akting masing-masing personel Cherrybelle terasa begitu lemah. Begitu juga dengan usahanya dalam menggarap naskah cerita film ini – yang sayangnya memang tertulis dengan begitu lemah oleh penulis naskah Jamil Aurora. Mungkin Love is U adalah sebuah film yang hanya diperuntukkan untuk para penggemar sejati kelompok vokal Cherrybelle. Namun, apakah sebuah persembahan untuk para penggemar layak dihadirkan selemah penampilan dan penceritaan Love is U?

love-is-brondong-poster07. Love is Brondong (Director: Chiska Doppert, BIC Productions/Mitra Pictures, 2012)

Well… dengan judul sekelas Love is Brondong, sepertinya semua orang telah dapat mengharapkan kualitas seperti apa yang akan mereka dapatkan ketika menyaksikan film ini. Kualitas penceritaan kelas bawah yang dengan usaha keras berupaya untuk melucu namun gagal karena lemahnya materi cerita, penampilan keempat aktor utamanya yang sepertinya hanya muncul untuk bersenang-senang dan menunjukkan sisi kebodohan mereka hingga tata produksi yang sangat tidak memuaskan – baik secara visual maupun audio. Chiska Doppert sepertinya berusaha keras untuk mengejar reputasi sang mentor, Nayato Fio Nuala. Menghasilkan film sebanyak mungkin, dalam waktu sesingkat mungkin dan kualitas serendah mungkin. Boo!

cinta_suci_zahrana_poster08. Cinta Suci Zahrana (Director: Chaerul Umam, SinemArt Pictures, 2012)

Hal yang paling membuat Cinta Suci Zahrana terasa mengganggu jelas adalah bagaimana pesan yang seharusnya bernada positif disampaikan dengan jalan yang salah dan akhirnya justru menimbulkan imej yang negatif. Daripada berhasil menyampaikan pesan-pesan yang bernuansa relijius, Cinta Suci Zahrana justru memberikan kesan bahwa sosok wanita – tidak peduli bagaimanapun cantiknya, bagaimana tingkat keimanannya, pencapaian akademis dan prestasinya – adalah tetap dipandang rendah ketika mereka gagal untuk menemukan pendamping hidup di usia yang telah begitu matang. Selain itu, Cinta Suci Zahrana, secara filmis, juga tidak mampu memberikan kualitas yang memuaskan. Jalan ceritanya yang begitu mudah tertebak karena mengikuti pola penceritaan film-film hasil adaptasi novel Habiburrahman El Shirazy lainnya, deretan dialog yang seringkali terdengar konyol serta karakter yang gagal tergali dengan baik membuat Cinta Suci Zahrana terasa gagal untuk bercerita secara tepat.

bidadari-bidadari-surga-poster09. Bidadari-Bidadari Surga (Director: Sony Gaokasak, Starvision, 2012)

Walau tetap mampu menghadirkan penampilan para jajaran pemeran yang cukup kuat, khususnya penampilan mengesankan dari Nirina Zubir dan Rizky Hanggono, Bidadari-Bidadari Surga jelas terlihat sebagai sebuah presentasi yang lemah. Mulai dari bagaimana peletakan tata rias dan rambut palsu pada Nirina Zubir, naskah arahan Sony Gaokasak dan Dewa Raka (serta materi asli novel karya Tere Liye) yang tidak mampu menghadirkan dan membangun konflik maupun karakter dengan baik, tata produksi yang begitu terkesan terburu-buru hingga dengan arahan Sony Gaokasak yang tidak mampu mengatur alur ritme penceritaan dengan baik. Bidadari-Bidadari Surga terlalu berusaha untuk menghasilkan jalan cerita yang emosional lewat penderitaan karakter utamanya. Sayang, usaha tersebut justru membuat alur kisah film ini terasa palsu, bertele-tele dan lebih pantas untuk dijadikan bahan sindiran daripada sebagai penghasil inspirasi bagi penontonnya. Salah satu presentasi film Indonesia terburuk di sepanjang tahun ini.

Potong-Bebek-Angsa-poster10. Potong Bebek Angsa (Director: Alyandra, Falcon Pictures, 2012)

Satu-satunya hal yang mungkin dapat diberikan kesan positif dalam film ini mungkin adalah usaha Alyandra untuk menghadirkan kemasan yang cukup atraktif di sepanjang penceritaan Potong Bebek Angsa dengan menampilkan efek visual yang menarik. Selain itu, film ini jelas tampil begitu lemah. Kehadiran kelompok komedi Super Senior yang beranggotakan Andre Taulani, Sule, Nunung, Azis Gagap, Parto, Adul dan Opie Kumis juga terlalu dipaksakan dan hanya berkesan sebagai gimmick belaka. Dengan jalan cerita yang tidak atraktif, karakter-karakter yang begitu dangkal serta pengarahan cerita yang begitu berantakan, Potong Bebek Angsa dipastikan akan menjadi sebuah film buruk lain dalam catatan filmografi Alyandra.

Comments
  1. Messi says:

    Mr. Bean kesurupan depe better than that 10 movies? Are you kidding me???

  2. BanyuAgungS says:

    Bang amir mahh ga nge review film horor sampah macam mr.bean kesurupan depe gitu. Kecuali horor kaya “rumah kentang”? (yg kayanya dpt review buruk jg deh waktu itu…)

  3. twitter.com/gunawantrian says:

    New Year’s Eve adalah arisan kumpul2 bintang Hollywood kelas A…what do you expect? Hahaha.. Anehnya aku kok suka ya…. It’s ok Mir……selebihnya saya setuju…

    • Amir Syarif Siregar says:

      A more proper storyline, maybe? Senang sih untuk ngeliat para aktor dan aktris papan atas Hollywood berkumpul… but quality-wise… gak bisa ngelak juga kalau segitu doang hasilnya.

  4. dearmarintan says:

    untunglah aku ga nonton satu pun dari deretan film jelek di review ini, hehehe~ keep on writing! :D

  5. h23 says:

    cuma ghost rider sama wrath of the titan yang baru ku tonton dan emang bener that movie was really bad bahkan ghost rider jauh lebih jelek dari yang pertama padahal yang pertama aja udah amat jelek

  6. ladyruru says:

    nicholas cage bener2 bikin stress. padahal dulu film yg dia mainin bagys baguuuuss banget, aku paling suka National treasure 1 dan 2.

    lalu aktingnya merendah pas main ghost rider, di susul film lainnya yang ga sampe setengah jam langsung ku matiin dvd ku.

    please cage, carilah film yg skriptnya bagus…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s