Nama sutradara film Mama Cake, Anggy Umbara, mungkin masih cukup asing ditelinga para penikmat film Indonesia. Di industri hiburan tanah air, nama Anggy memang lebih dikenal sebagai seorang sutradara puluhan video musik sekaligus sebagai salah satu personel kelompok musik Purgatory – kelompok musik beraliran death metal asal Jakarta yang lirik lagunya seringkali membawakan pesan-pesan relijius. Tidak mengherankan jika kemudian Mama Cake – film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Anggy bersama Hilman Mutasi dan Sofyan Jambul – juga memiliki nafas relijius yang kuat di berbagai sudut penceritaannya. Namun untungnya, dengan pengemasan cerita dan visual yang lebih atraktif, Anggy cukup berhasil menghantarkan sebuah film drama komedi bernuansa relijius yang mungkin seharusnya dipelajari Chaerul Umam agar film-filmnya mampu lebih banyak menarik perhatian penonton yang berusia lebih muda.

Pun begitu, Mama Cake bukannya hadir tanpa masalah. Sebagai seorang sutradara debutan, Anggy Umbara memiliki masalah yang sangat pelik atas kemampuannya untuk menghantarkan sebuah jalan cerita secara singkat, padat namun tetap berisi. Maksudnya… come on, apakah sebuah film yang menceritakan perjalanan tiga orang sahabat dari Jakarta menuju Bandung untuk membeli sebuah brownies kukus harus dieksplorasi hingga mencapai durasi 143 menit? Bisa saja, jika Anggy memang memiliki naskah yang memiliki sisi penceritaan yang lebih kuat. Mama Cake, sayangnya, tidak memiliki hal tersebut. Akibatnya, seringkali dalam 143 menit perjalanan durasi Mama Cake, Anggy hanya terkesan mengulang-ulang permasalahan dan mengulur waktu untuk memberikan solusi atas konflik cerita yang telah ia hadirkan.

Jalan cerita Mama Cake berfokus pada persahabatan tiga orang pemuda, Raka (Ananda Omesh), Willy (Boy William) dan Rio (Ari Dagienkz). Atas permintaan ayah Raka (Rudy Salam) – yang meminta agar Raka membeli brownies kukus buatan Mama Cake langsung dari toko pembuatnya di Bandung untuk memenuhi keinginan neneknya (Nani Wijaya) yang sedang dalam keadaan sekarat – ketiga sahabat tersebut akhirnya melakukan sebuah perjalanan bersama ke Bandung. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar kemudian berubah menjadi aneh ketika mobil yang dinaiki ketiganya secara tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki (Fajar Umbara).

Ketiganya kemudian terlibat dalam sebuah pertengkaran yang hebat – sebuah pertengkaran yang membuat ketiga orang pemuda tersebut akhirnya memutuskan untuk memilih jalannya masing-masing. Willy memilih untuk tetap tinggal di Bandung dan mendekati seorang gadis cantik yang ia kenal di kota tersebut. Rio, yang semenjak lama terobsesi untuk hidup dengan cara alami, menemukan panggilan jiwanya ketika ia melihat banyaki hewan ternak hidup bebas di alam terbuka. Rio memilih untuk bergabung dengan mereka. Sementara itu, Raka menghadapi permasalahannya sendiri. Brownies Mama Cake yang telah ia beli hilang dan membuatnya harus kembali ke toko kue tersebut lagi.

Simpel? Yahhh… tunggu sampai saat Anda melihat bagaimana Anggy Umbara mengeksekusi deretan kisah tersebut. Setiap karakter kemudian diceritakan memiliki permasalahannya masing-masing yang kemudian menuntun mereka pada deretan konflik minor lainnya yang kemudian, secara perlahan, membuat mereka menyadari mengenai kesalahan-kesalahan yang selama ini telah mereka buat – in a spiritual way. Banyak bagian penceritaan yang sebenarnya dapat saja disederhanakan (baca: dibuang) dari dalam jalan cerita Mama Cake. Namun Anggy sepertinya memilih untuk menghadirkan filmnya dengan tempo penceritaan yang begitu lamban untuk kemudian menyajikan lapisan-lapisan kisahnya satu persatu kepada para penontonnya.

Sisi negatif? Jelas penonton akhirnya akan merasa lelah ketika ditawarkan konflik cerita yang sama berulang kali. Ketika deretan konflik dihadirkan pertama kali, penonton mungkin akan menganggapnya sebagai sebuah kesialan yang tidak disengaja. Namun ketika konflik yang sama diulang lagi, jelas penonton akan merasa seperti ditipu dan film ini tidak mampu menghadirkan sebuah sajian baru untuk melanjutkan kisahnya. Di sisi lain, yang dapat disebut sebagai sisi positif, bertele-telenya penceritaan Mama Cake setidaknya mampu memberikan kesempatan kepada para penonton untuk mengenal setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita film ini dengan lebih baik – termasuk perubahan sikap yang mereka alami. Eksekusi cerita yang diwarnai bumbu komedi dan drama romansa setidaknya juga cukup membantu penonton untuk tetap bertahan ditengah lambannya penceritaan yang disodorkan oleh Anggy.

Berbicara mengenai karakter, sayangnya, karakter-karakter yang dihadirkan dalam Mama Cake tidak pernah benar-benar mampu ditampilkan dengan pendalaman yang kuat – Mengapa karakter Willy selalu berbicara dalam Bahasa Inggris? Apa yang menyebabkan karakter Rio begitu terobsesi dengan alam? Kenapa karakter Raka begitu tolol dalam menangani sebuah tugas yang sederhana? (Bagian terakhir adalah sebuah guyonan. Sedikit.) Mama Cake sepertinya terlalu berfokus untuk menghadirkan kisah dan petualangan yang dialami karakternya daripada berusaha untuk mengenalkan karakter-karakter tersebut. Hasilnya, pada kebanyakan bagian, penonton akan merasa kehilangan hubungan emosioal atas apa yang dialami dan sedang terjadi pada para karakter yang hadir di dalam jalan cerita film ini. Untuk departemen akting sendiri… yah… ketiga pemeran utama mampu membawakan karakter mereka dengan baik. Tidak istimewa, namun jelas tidak mengecewakan – termasuk Boy William yang seperti memerankan dirinya sendiri di sepanjang film.

Bagian yang paling unik serta sangat menarik dari cara penceritaan Anggy jelas terletak dari bagaimana ia menampilkan jalan cerita Mama Cake secara visual. Anggy memilih untuk menampilkan jalan cerita filmnya dengan tampilan visual layaknya seperti perpaduan antara komik dan video games – yang mungkin akan banyak diserukan sebagai adaptasi dari tampilan visual Scott Pilgrim vs. The World (2010). Walaupun terlihat mengganggu di beberapa bagian, keunikan visual ini ternyata mampu membuat jalan cerita Mama Cake menjadi lebih menyenangkan untuk dilihat sekaligus menjauhi pakem penceritaan drama reliji seperti yang biasanya hadir di banyak film Indonesia lainnya.

Bersembunyi di balik tatanan visual yang memang masih sangat jarang dieksplorasi oleh banyak pembuat film Indonesia lainnya, Mama Cake jelas adalah sebuah drama bernuansa reliji yang cukup segar untuk dihadirkan. Sayangnya, Anggy Umbara terlihat terlalu ambisius dalam menghadirkan film pertamanya. Jalan cerita film ini terlalu banyak mengembara tanpa arah ke berbagai bagian yang sebenarnya dapat dihilangkan guna mendapatkan sebuah penceritaan yang lebih singkat, padat dan berisi. Menyaksikan Mama Cake terasa seperti mendengarkan ceramah panjang kali lebar dari orangtua mengenai kehidupan… namun mungkin kali ini disajikan dengan menggunakan cara penyampaian yang lebih muda. Tapi tetap saja… disajikan dalam 143 menit? Bagaimanapun, Mama Cake adalah sebuah debut penyutradaraan layar lebar  yang cukup menjanjikan dari Anggy Umbara.

Mama Cake (Falcon Pictures, 2012)

Mama Cake (2012)

Directed by Anggy Umbara Produced by Frederica Written by Anggy Umbara, Hilman Mutasi, Sofyan Jambul Starring Ananda Omesh, Boy William, Dinda Kanyadewi, Arie Dagienkz, Renata Kusmanto, Fajar Umbara, Herichan, Kinaryosih, Candil, Didi Petet, Rudy Salam, Bagus Netral, Nani Wijaya, Piet Pagau, Erwin Moron, Andhara Early, Ferry Maryadi, Tyas Mirasih, Henidar Amroe, Joehana Sutisna Music by Indra Q Cinematography Dicky R Maland Editing by Anggy Umbara Studio Falcon Pictures Running time 143 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s