Wajar jika begitu banyak orang memiliki ekspektasi yang tinggi bagi Perahu Kertas. Selain diarahkan oleh Hanung Bramantyo – salah seorang sutradara film Indonesia yang dikenal seringkali mampu memadukan unsur kualitas dengan nilai jual komersial pada setiap karyanya, naskah cerita Perahu Kertas sendiri diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Dewi Lestari yang memiliki tingkat penjualan serta jumlah penggemar yang cukup tinggi. Layaknya setiap film yang naskah ceritanya mengadaptasi sebuah novel, jelas merupakan sebuah tantangan besar bagi Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari untuk menghasilkan sebuah karya adaptasi yang benar-benar mampu menangkap esensi dari isi novel yang telah membuat banyak orang jatuh cinta tersebut. Lalu… apakah mereka dapat melakukannya?

Merupakan bagian pertama dari dua seri film yang telah direncanakan, Perahu Kertas berkisah mengenai perjalanan cinta dari Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Dolken). Kugy sendiri diperkenalkan kepada Keenan oleh dua sahabatnya, Noni (Sylvia Fully R) dan Eko (Fauzan Smith), ketika mereka menjemput Keenan sepulangnya pemuda tersebut dari masa belajarnya di negara Belanda. Kisah cinta Kugy dan Keenan tidak lantas berjalan dengan mulus. Ketika pertama kali bertemu, Kugy sedang menjalin kasih dengan Ojos (Dion Wiyoko), pria tampan yang telah ia pacari semenjak masa sekolah menengah atas.  Keenan sendiri juga sempat dekat dengan seorang gadis cantik bernama Wanda (Kimberly Ryder). Kugy dan Keenan sama-sama saling menyukai. Keduanya (mungkin sama-sama) menyadari hal itu. Namun keduanya tidak pernah benar-benar saling menyatakan perasaannya.

Arus perjalanan kehidupan akhirnya memisahkan Kugy dari Noni dan Eko. Hal yang sama juga terjadi pada hubungannya dengan Keenan yang perlahan mulai membeku ketika Keenan mulai berkonsentrasi untuk membangun karirnya sebagai seorang pelukis dengan pindah ke Pulau Bali. Kugy sendiri, seusai menyelesaikan masa kuliahnya, mulai magang di sebuah perusahaan periklanan atas bantuan kakaknya, Karel (Ben Kasyafani). Jalan pemikiran Kugy yang unik akhirnya justru memikat pimpinan perusahaan tersebut, Remi (Reza Rahadian), yang kemudian mengangkat Kugy sebagai seorang karyawan. Secara perlahan, hubungan profesional antara Kugy dan Remi mulai mencair menjadi sebuah hubungan personal. Keenan sendiri juga sedang memulai sebuah hubungan kasih baru dengan seorang gadis asal Bali bernama Luhde (Elyzia Mulachela). Namun, keduanya akan segera menemukan diri mereka kembali bertemu di sebuah persimpangan kehidupan yang baru.

Jika dibandingkan dengan deretan karya Dewi ‘Dee’ Lestari lainnya, Perahu Kertas jelas merupakan karya Dee yang paling mudah dicerna – sekaligus difilmkan. Layaknya film-film drama romansa kebanyakan, Perahu Kertas juga memuat formula kisah percintaan yang tidak asing lagi: jatuh bangunnya hubungan cinta antara dua orang manusia yang diwarnai dengan kisah pembuktikan kemampuan dan eksistensi pribadi diri mereka. Yang membedakan Perahu Kertas jelas adalah kemampuan Dee untuk menggarap karakter-karakter kisahnya menjadi lebih berwarna dan menarik serta jalinan dialog puitis indah yang hadir di setiap bagian penceritaan. Dan harus diakui, Dee cukup berhasil dalam menghadirkan poin-poin penting dari novelnya ke dalam naskah cerita Perahu Kertas.

Tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar sebenarnya. Perahu Kertas terasa sekali berusaha memperkenalkan karakter-karakternya dalam waktu yang singkat. Untungnya, setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita mampu digambarkan dengan cukup baik – dan sangat terbantu dengan kemampuan para pengisi departemen akting film ini. Bagian introduksi karakter berjalan cukup mulus dengan hadirnya karakter-karakter serta dialog-dialog segar yang menghibur. Namun, ketika konflik demi konflik mulai dihadirkan, Perahu Kertas perlahan-lahan mulai kehilangan arahnya. Konflik yang muncul dari sisi kehidupan pribadi masing-masing karakter mulai mengambil tempat yang akhirnya justru memecah perhatian dan membuat satu bagian terkesan menarik sementara bagian lainnya terasa datar. Hal ini berjalan dalam durasi yang cukup lama sampai sebuah fase baru dalam kehidupan karakternya mulai hadir yang akhirnya kemudian membangkitkan kembali ritme dan energi penceritaan Perahu Kertas.

Tidak hanya dari sisi penulisan cerita, warna penceritaan Perahu Kertas juga sangat dipengaruhi oleh penampilan akting para jajaran pemerannya. Dalam kapasitas tersebut, Maudy Ayunda, yang memerankan karakter Kugy, merupakan sarana enerji utama dari Perahu Kertas. Maudy secara berhasil menterjemahkan bagaimana sesosok karakter Kugy yang memiliki kepribadian yang berwarna, tidak takut mengekspresikan perasaannya – kecuali perasaan cintanya, mungkin –  dan jalan pemikiran yang unik. Penonton yang telah mengikuti perjalanan akting Maudy jelas akan merasa kagum dengan transformasi gadis cantik tersebut menjadi sesosok karakter yang lebih luwes daripada karakter-karakter yang biasa ia perankan. Dan penampilan Maudy jelas merupakan nyawa utama bagi Perahu Kertas.

Sayangnya, hal yang sama tidak berlaku bagi lawan main Maudy Ayunda, Adipati Dolken. Penampilan Adipati lebih sering terlihat terlibas keberadaan penampilan bersinar Maudy Ayunda – atau pasangan karakter Eko dan Noni yang diperankan oleh Fauzan Smith dan Sylvia Fully R yang seringkali mencuri perhatian. Akibatnya, ketika Perahu Kertas sedang mengeksplorasi kisah pribadi karakter Keenan yang diperankan oleh Adipati – tanpa kehadiran karakter lainnya – Perahu Kertas menjadi terlihat berjalan semu. Tidak sepenuhnya kesalahan Adipati Dolken, sebenarnya. Karakter Keenan harus diakui merupakan karakter yang membutuhkan sesosok pemeran yang memiliki daya tarik dan kharisma yang sangat kuat. Adipati, terlepas dari penampilannya yang cukup baik, tidak memiliki kharisma tersebut.

Berbeda dengan Adipati, kehadiran Reza Rahadian merupakan contoh tersendiri bagaimana satu sosok aktor dapat menjadikan sebuah peran yang kecil menjadi begitu bermakna ketika dirinya mampu memiliki kharisma yang kuat. Penampilan Reza sebagai Remi memang baru dihadirkan di paruh kedua film. Pun begitu, rasanya akan ada cukup banyak penonton yang kemudian segera meminggirkan (baca: melupakan) karakter Keenan yang diperankan oleh Adipati Dolken dan menjadikan karakter Remi yang dipresentasikan oleh Reza sebagai pendamping yang tepat bagi karakter Kugy yang diperankan Maudy Ayunda. Terlepas dari penampilan personal dari masing-masing jajaran pemeran, seluruh pengisi departemen akting film ini mampu memberikan penampilan yang lugas serta chemistry yang kuat satu sama lain untuk menjadikan Perahu Kertas begitu mudah untuk dinikmati.

Satu hal lain yang cukup tampil standout dari presentasi Perahu Kertas adalah pilihan-pilihan lagu yang mengisi deretan adegan film ini. Selain iringan musik arahan Andhika Triyadi yang mampu menghasilkan tambahan emosi pada setiap adegan, lagu-lagu pilihan yang mengisi deretan adegan Perahu Kertas begitu mampu untuk hadir dan menjadi presentasi kisah sendiri bagi setiap adegan yang diisi oleh lagu tersebut. Sangat mudah untuk menempatkan jajaran soundtrack film Perahu Kertas pada jajaran soundtrack terbaik yang pernah berada pada sebuah film Indonesia. Selain kualitas tata musik, Perahu Kertas juga didukung kualitas produksi yang kuat, baik dari segi audio maupun visualnya. Sederhananya, Perahu Kertas adalah sebuah tampilan yang memuaskan dari sisi produksinya.

Perjalanan pengisahan Perahu Kertas tidak murni berjalan mulus. Setelah bagian pembukaannya yang cenderung meledak-ledak dengan deretan karakter dan dialog yang begitu berwarna, film ini mengalami penurunan ritme cerita ketika berusaha memperdalam penggambaran konflik pribadi yang dialami oleh karakter Keenan. Cukup mengganggu mengingat hal tersebut membuat Perahu Kertas terlihat menjadi datar dan cenderung menjemukan. Untungnya, Perahu Kertas kemudian mampu bangkit lagi dengan sebuah fase penceritaan yang baru dan akhirnya berhasil untuk membawa film ini menjadi sebuah jalan cerita yang cukup menghibur sekaligus menyentuh. Maudy Ayunda memberikan penampilan terbaik di sepanjang karirnya – yang masih sangat panjang, tentu saja –  yang dengan dibantu dengan penampilan dari jajaran pemeran lainnya membuat Perahu Kertas mampu tampil dinamis dalam bercerita. Sebuah drama romansa yang jelas berada di atas kelas kebanyakan drama romansa yang banyak dihasilkan oleh industri film Indonesia.

Perahu Kertas (Starvision Plus/Bentang Pictures/Dapur Film Production, 2012)

Perahu Kertas (2012)

Directed by Hanung Bramantyo Produced by Chand Parwez Servia, Putut Widjanarko  Written by Dewi Lestari (screenplay), Dewi Lestari (novel, Perahu Kertas) Starring Maudy Ayunda, Adipati Dolken, Reza Rahadian, Elyzia Mulachela, Fauzan Smith, Sylvia Fully R, Sharena, Rizky Julio, Hayria Faturrahman, Ben Kasyafani, Pierre Gruno, Dewi Lestari, Avesina Soebli, Titi DJ, Tio Pakusadewo, August Melasz, Ira Wibowo, Dion Wiyoko, Kimberly Ryder, Qausar Harta Yudana Music by Andhika Triyadi Cinematography Faozan Rizal Editing by Cesa David Luckmansyah, Ryan Purwoko Studio Starvision Plus/Bentang Pictures/Dapur Film Production Running time 111 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. Ojos says:

    Ga setuju dgn review dan rating nya mas amir..buat saya akting maudy flat abis. Another acha septriasa. Yg antara nangis, nyengir dan gembira…ekspresinya sama. PK the movie is a total damage

  2. ariohendra says:

    Secara keseluruhan setuju dgn reviewnya mas, maudy ayunda is so adorable, soundtrack bgs, sinematografiny keren, humornya dapet, nice review btw

  3. Keenan says:

    Gak setuju dgn komentar tntang akting adipati, mnurut saya aktingnya bagus dan hidup, Overall menurut saya film ini termasuk film yang sangat bagus.. bravo

  4. virgierainy says:

    Dari pertama saya tahu novelnya akan difilmkan, saya sudah menduga pasti adipati yang akan meranin, mungkin karena cuma dia saat ini aktor remaja yang rambutnya gondrong dan actingnya juga not bad. Tapi saya setuju sama Mas Amir, kekurangan dari Adipati cuma aura keenannya yang ga dapet.

    Oiya, ga cuma menurut Mas Amir loh peran Remi yang akan menyita perhatian, semua wanita yang udah baca bukunya pun, pasti mikir tokoh Remi itu “he’s perfect guy”!. Apalagi ternyata yang meranin Reza, sempurna lah Remi di khayalan saya!

  5. Kevin says:

    Kurang lebih saja sama review mas amir. Maudy Ayunda emang sukses meranin Kugy dan berbeda dengan Adipti yang gagal meranin Keenan di film ini. Selain itu, Eko perfect meranin aktingnya. Remi juga lumayan.

  6. sangat setuju dengan review nya om! Perahu Kertas is another good movie from Hanung. Might be the sweetest and cutest movie he ever made.

  7. Tata says:

    untuk ukuran film adaptasi novel, bisa dibilang PK nggak menghancurkan imajinasi pembaca setia PK. good movie :)

  8. nina says:

    akhirnya saya menemukan apa yang kurang dari adipati, kharisma.
    kalo baca di novel, meneurutku keenan cukup berkharisma, adipati kurang cocok memerankan keenan.
    Maudy, she’s a real Kugy. Pas banget!
    kalo Reza Rahadian, oke lah, kharisma nya dapet, Remi memang banyak dipuja wakita, begitu juga Reza.
    but overall, meskipun sedikit beda dengan novel, Perahu Kertas The Movie is a good one. :)

  9. Agen Neptunus says:

    Setuju sama review nya mas Amir…
    Maudy pas bgt jadi Kugy, Adipati juga cukup cool cm belum dapet energinya Keenan..
    Reza as Remi, perfect… Ceritanya emang agak cepat di awal, dan sedikit flat ditengah, sampai menjelang ending baru hidup lagi… Tapi overall, Perahu Kertas sudah jadi film adaptasi novel Dee yang bagus, jug abuat soundtracknya…
    Ngga sabar nunggu bagian Finale….

  10. siska says:

    bener bgt, mas ojos! Flat, tp gaya bicaranya kyk org mabok. Bosenin ntnnya. Film baru mulai enakan pas Remi muncul.
    Soundtracks sm sinematografi memang bagus, walau jujur aja lensflare-nya lebay. Saya dan teman” saya ngomel hampir sepanjang film

  11. Giio says:

    ketika saya membaca novel perahu kertas, kesan tepat yg rasakan itu “luar biasa mengagumkan”
    semua peran terasa hidup, punya arti. dan jujur saya gag bosen2 untuk berulang2 membacanya.thanks Dee

    ketika nonton film nya, kesan tepat yg rasakan “Banyak Manyunnya”
    kenapa ya, banyak cerita yg tak sama, nggag base on novel. emang sengaja ?.knp gtu ?.
    kayak si eko sama noni itu harusnya mereka enggaged bukan married.
    banyak moment penting juga yg gag dtampilkan, “Bulan, perjalanan, kita” itu ketika saya baca di novel soulnya dpt bgt, imajinasinya ngena, tp di film blas nggag ada.

    Peran Adipati Dolken dan Maudy ayunda :
    chemistry nya gag ada. flat !.
    Satu2nya yg sukses berperan cuma Eko aja.

    harusnya film bisa lebih bagus karna dukungan audio visual, cinematografi, dll biar part 2 nya penonton bisa lebih antusias lg.

  12. belum nonton sih. pas mau nonton yang beli tiket cuma saya sendiri, batal deh. pas mau nonton lagi, eh sudah drop filmnya.

  13. eryn says:

    Sangat sukaaaa ma acting Reza Rahardian..
    Pas banget dia bawain karaktetnya. Ga lebih ga kurang. GA LEBAY de…Ibarat makanan..maknyuss gitu.. ^^
    Intiny… He is Cool…Pling tidak dia membuat saya ga nyesal nonton film romansa Indonesia^^

  14. naninuneneu says:

    saya tertarik untuk membaca novelnya setelah melihat film-nya. setelah melihat novelnya, menurut saya novelnya jauh lebih baik daripada filmnya. entah dari segi casting atau setting yang menurut saya berbeda dari novelnya, membuat film ini terkesan terburu-buru dengan alur yang tidak sesantai novelnya. tapi saya belum membaca habis novelnya. mudah-mudahan, PK part two akan memperbaiki PK part one. favorit saya adalah Keenan dan Eko. menurut saya penggambaran mereka pas banget di film nya :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s