Hollywood sepertinya belum akan berhenti untuk mengeksplorasi mengenai asal usul mengenai darimana kehidupan manusia berasal. Setelah Terrence Malick tahun lalu menyajikan The Tree of Life yang syahdu, kini giliran Ridley Scott yang melakukannya lewat Prometheus. Prometheus merupakan film pertama yang diarahkan oleh Scott setelah merilis Robin Hood pada tahun 2010 lalu sekaligus menandai kembalinya Scott ke genre science fiction setelah dalam dua dekade terakhir terus menerus mengarahkan film-film drama – yang kemudian berhasil memberikannya tiga nominasi Best Director di ajang Academy Awards untuk Thelma and Louise (1991), Gladiator (2000) dan Black Hawk Down (2001).

Prometheus sendiri pada awalnya akan dijadikan Scott sebagai bagian kelima dalam franchise Alien (1979 – 1997) dengan menjadikan film ini sebagai prekuel langsung bagi seri pertama Alien (1979). Namun, seiring dengan perkembangan penulisan naskah, dan bersamaan dengan masuknya Damon Lindelof untuk merevisi naskah Prometheus karya Jon Spaihts, Scott lalu membangun naskah cerita film yang telah dirancang semenjak awal tahun 2000 ini untuk menjadi sebuah kesatuan cerita yang berdiri sendiri, walaupun nantinya penonton akan dapat menemukan dan merasakan diri mereka berada di atmosfer yang sama dengan jalan cerita franchise Alien.

Berlatar belakang waktu di tahun 2093, pasangan arkeolog, Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green), yang berhasil menemukan berbagai bukti bahwa manusia di zaman prasejarah telah menjadi saksi datangnya para makhluk dari angkasa luar di Bumi, turut serta dalam perjalanan menuju sebuah lokasi di angkasa luar yang diduga akan dapat menjawab asal usul kehidupan manusia yang diinisiasikan oleh pemilik Weyland Corporation, Peter Weyland (Guy Pearce). Turut serta dalam perjalanan tersebut adalah seorang pegawai Weyland Corporation, Meredith Vicker (Charlize Theron), beberapa orang ahli keilmuan yang dipimpin oleh kapten kapal Prometheus, Janek (Idris Elba), serta seorang robot android yang fisik dan pemikirannya menyerupai seorang manusia, David (Michael Fassbender).

Setibanya mereka di planet tujuan mereka, yang diberi nama LV-233, seluruh anggota tim Prometheus mulai menjalani tugas mereka: untuk mencari sesuatu (atau sebuah) yang diduga merupakan pencipta kehidupan manusia di Bumi. Elizabeth bersama dengan Charlie dan para ilmuwan lainnya mulai menemukan bukti-bukti keberadaan makhluk hidup di planet tersebut dan mengumpulkannya. Namun, tidak satupun dari pengisi kapal Prometheus yang dapat mendeteksi adanya sebuah ancaman yang mengawasi kehidupan mereka – dan seluruh kehidupan manusia yang ada di muka Bumi. Dan seiring dengan semakin dekatnya para pengisi kapal Prometheus untuk memecahkan misteri siapa yang menciptakan kehidupan manusia di muka Bumi, maka semakin dekat pula ancaman tersebut akan berubah menjadi kenyataan.

Prometheus – sebuah nama yang terinspirasi dari kisah raksasa mitologi Yunani yang berusaha untuk memperkecil ruang perbedaan antara manusia dengan para dewa penciptanya – jelas bukanlah sebuah film science fiction biasa. Lewat naskah yang ditulis oleh Jon Spaihts dan Damon Lindelof, Ridley Scott mencoba untuk menghantarkan sebuah ide besar mengenai asal-usul kehidupan manusia diatas permukaan Bumi dengan berbagai teorinya – yang secara tidak langsung kemudian berhubungan dengan tema kehidupan makhluk asing luar angkasa. Berbicara mengenai asal-usul kehidupan manusia jelas bukanlah sebuah paparan yang dapat dihantarkan secara ringkas. Disinilah letak kelemahan Prometheus berasal.

Sebagai sebuah cerita yang berisi ide-ide besar, Prometheus berhasil menyandingkan dua sudut pandang mengenai proses penciptaan manusia – dari sisi reliji dan sisi ilmu pengetahuan – dengan cukup baik. Sayangnya, narasi cerita yang terus menerus menghujani penonton dengan berbagai pertanyaan namun gagal untuk dikembangkan dan diberikan pendalaman yang berarti – yang mungkin dihadirkan dengan maksud untuk memberikan kesempatan bagi para penonton untuk menghasilkan sebuah kesimpulan sendiri – justru kemudian membuat jalan cerita Prometheus terasa lemah dan menggantung. Secara sederhana, Prometheus terlihat gagah dalam menghasilkan sebuah ide yang brilian namun kemudian meninggalkan pertanyaan besar mengapa ide tersebut pantas untuk diperbincangkan.

Keberadaan premis yang begitu mengguncang juga menenggelamkan karakterisasi banyak peran dalam film ini. Seluruh karakter, seperti halnya para penonton, terlalu dibebani tugas untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh film ini sehingga gagal untuk dapat tampil sebagai sosok-sosok karakter yang mampu menghantarkan emosi maupun daya tarik mereka, terkecuali karakter Elizabeth Shaw. Karakter Elizabeth Shaw memang adalah satu-satunya karakter yang diberikan ruang yang cukup luas untuk menghantarkan segala emosi dan daya pemikirannya kepada penonton melalui jalan cerita Prometheus. Sementara itu, karakter-karakter seperti Charlie Holloway, Meredith Vicker, Janek maupun Peter Weyland serasa bagaikan deretan karakter kosong yang hanya dihadirkan sebagai katalis bagi karakter Elizabeth Shaw untuk berpetualang menjawab seluruh pertanyaan yang ada di benaknya.

Selain karakter manusia, Prometheus juga menghadirkan karakter robot android yang tubuh dan jalan pemikirannya (hampir) menyerupai manusia, David yang diperankan dengan brilian oleh Michael Fassbender. Percampuran antara robot yang cerdas dan menakutkan, David justru adalah sosok karakter yang paling banyak menghadirkan pergulatan emosi di dalam penampilannya. Melalui karakter David, penonton dapat melihat berbagai esensi dasar dari ‘menjadi seorang manusia’ dan hubungannya dengan mencari jawaban dari pertanyaan siapakah pencipta manusia itu sendiri. Michael Fassbender sendiri memberikan penampilan akting yang begitu apik dalam ‘menghidupkan’ karakter David.

Kegagalan Prometheus untuk mengeksplorasi berbagai potensi luar biasa besar yang terpendam dari ide besar ceritanya, harus diakui, bukanlah sebuah masalah besar jika dilihat dari bagaimana cara Scott merangkum film ini. Dari sisi teknis, Prometheus hampir dapat dikatakan hadir tanpa sebuah kecacatan. Pun begitu dengan penampilan para pengisi departemen akting filmnya. Walau dengan karakter-karakter yang kebanyakan kurang berkembang, namun nama-nama seperti Noomi Rapace, Michael Fassbender, Logan Marshall-Green, Charlize Theron, Idris Elba dan Guy Pearce (yang mungkin tidak akan dapat Anda kenali) berhasil memberikan penampilan yang sangat meyakinkan.

Hadir dengan tata visual yang begitu mengagumkan, penampilan akting para pengisi departemen akting yang begitu kuat serta ide cerita yang luar biasa berani, Prometheus harus tampil dengan sedikit cela akibat eksplorasi cerita yang terlalu minimalis. Pemberian berbagai adegan yang memberikan sebuah kesempatan bagi penonton untuk menghasilkan sebuah kesimpulan sendiri ternyata berputar arah dan mencegah penonton untuk merasakan koneksi yang lebih mendalam pada jalan cerita Prometheus serta karakter-karakter yang hadir. Pun begitu, Prometheus jelas adalah sebuah karya yang kuat dan tidak akan mengejutkan jika memberikan kesan yang mendalam bagi para penontonnya lama setelah mereka selesai menyaksikannya.

Prometheus (Brandywine Productions/Dune Entertainment/Scott Free Productions, 2012)

Prometheus (2012)

Directed by Ridley Scott Produced by David Giler, Walter Hill, Ridley Scott, Tony Scott Written by Jon Spaihts, Damon Lindelof Starring Noomi Rapace, Michael Fassbender, Guy Pearce, Idris Elba, Logan Marshall-Green, Charlize Theron, Rafe Spall, Sean Harris, Kate Dickie, Emun Elliott, Benedict Wong, Patrick Wilson Music by Marc Streitenfeld Cinematography Dariusz Wolski Editing by Pietro Scalia Studio Brandywine Productions/Dune Entertainment/Scott Free Productions Running time 124 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. Agung Priantoro says:

    Saya setuju dengan review Anda, sebagai penggemar seri Alien film Prometheus menimbulkan banyak pertanyaan, namun dengan ‘ide besar’ Scott saya yakin semuanya akan terjawab di film sequelnya (klo ni film balik modal)..

  2. Cobalah nonton seri dokumenter Ancient Aliens di History channel, Anda akan sedikit mengerti. Ini ide lama, sudah sejak dari tahun 1970an dengan terbitnya buku : Chariot of the Gods oleh Erich Von Daniken

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s