Adalah sangat mudah untuk membayangkan Haywire jatuh ke tangan seorang sutradara yang ahli dalam menangani film-film aksi untuk kemudian dieksekusi sebagai sebuah film yang menempatkan sang karakter wanita utama berjuang menuntut keadilan dan mencari kebenaran mengenai sebuah masalah dengan melalui berbagai perjuangan yang mengharuskannya untuk menghadapi sekelompok pria bersenjata dan pertarungan yang diwarnai dengan pertumpahan darah. Namun, Anda tentu tidak akan mengharapkan hal yang sama akan terjadi bila plot cerita tersebut jatuh ke tangan seorang sutradara yang sebelumnya pernah mengeksekusi jalan cerita mengenai pembasmian sebuah virus mematikan menjadi semacam sebuah video essay saintifik yang mungkin hanya dapat dicerna dengan mudah oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia kesehatan bukan?

Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Lem Dobbs, yang sebelumnya pernah menuliskan naskah cerita Kafka (1991) dan The Limey (1999), Steven Soderbergh menghadirkan Haywire sebagai sebuah film action thriller yang mungkin memiliki jalan cerita yang familiar namun dengan eksekusi cerita yang sedikit berbeda. Secara sederhana, Haywire dapat digambarkan sebagai sebuah film dengan premis cerita yang akan mampu menarik perhatian mereka yang memang menggemari film-film aksi dengan rentetan adegan laga yang intens namun, jika tanpa persiapan dan kesadaran diri bahwa mereka sedang berada dalam sajian eksperimental a la Soderbergh, kemudian akan menemukan diri mereka secara perlahan tenggelam dalam ritme penceritaan Soderbergh yang cukup lamban dengan beberapa plot cerita yang membingungkan.

Mereka yang menggemari kejutan dan misteri mungkin akan dengan mudah menyukai bagaimana Soderbergh menjaga rapi setiap kejutan yang tersimpan dalam jalan cerita Haywire – dan karenanya, semakin minimalis pengetahuan yang Anda ketahui tentang jalan cerita Haywire maka semakin baik persiapan Anda dalam menyaksikan film ini. Haywire dibuka dengan adegan dimana Mallory Kane (Gina Carano) memasuki sebuah tempat makan dan menunggu seseorang. Setelah beberapa saat, orang yang ditunggu, Aaron (Channing Tatum), akhirnya datang. Sedikit pembicaraan, Aaron kemudian memaksa Mallory untuk masuk ke dalam mobilnya. Mallory menolak yang kemudian memicu pertikaian antara keduanya. Pertikaian tersebut kemudian ditengahi oleh Scott (Michael Angarano), seorang pemuda yang kebetulan sedang berada di tempat makan tersebut. Menggunakan mobil milik Scott, Mallory kemudian melarikan diri dari Aaron bersama Scott dan memulai kisahnya mengapa ia diburu oleh Aaron.

Dari segi cerita, Haywire mungkin dapat diterjemahkan sebagai versi Steven Soderbergh dari film-film semacam trilogi Bourne (2002 – 2007), yang berkisah mengenai pengkhianatan yang terjadi dalam sebuah organisasi serta bagaimana usaha sang karakter utama untuk menemukan siapa orang yang telah menjebak dirinya. Namun, berbeda dengan trilogi Bourne atau film-film sejenis, Soderbergh menghadirkan Haywire dengan ritme yang cukup lamban untuk memberikan ruang yang lebih luas pada pengembangan setiap detil cerita yang ingin ia tampilkan. Soderbergh juga sepertinya tidak tertarik untuk mengeksploitasi tata efek suara dari ledakan atau pertarungan fisik yang sedang dijalani karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini. Soderbergh justru menghadirkan Haywire dengan kesan yang sunyi dan malah mengedepankan susunan tata musik yang digarap oleh komposer David Holmes pada banyak adegan yang mungkin oleh sutradara-sutradara film aksi lainnya telah diisi dengan banyak tata efek suara yang meledak-ledak.

Kesan sunyi juga didapatkan dari sedikitnya dialog yang terjadi dalam film ini, khususnya dari karakter utama Haywire, Mallory Kane, yang diperankan oleh Gina Carano. Entah karena masih meragukan kemampuan akting Carano yang aslinya merupakan seorang petarung di ajang mixed martial arts, karakter Mallory Kane diberikan deretan dialog yang minimalis di sepanjang penceritaan Haywire. Carano baru terlihat aktif ketika karakternya dituntut untuk melakukan berbagai adegan laga. Dari segi akting, Carano memang harus diakui masih belum mampu menghadirkan penampilan akting yang mendalam. Pun begitu, berkat pengarahan Soderbergh, yang lebih memfokuskan karakter yang diperankan Carano pada berbagai adegan aksi, kehadiran Carano akhirnya menjadi begitu terlihat pas dalam setiap adegannya.

Kemampuan akting Carano yang masih cukup dangkal kemudian diberikan Soderberh dukungan pondasi akting yang kuat oleh jajaran pemeran pendukung Haywire yang diisi oleh nama-nama aktor kelas atas Hollywood. Mulai dari nama-nama seperti Ewan McGregor, Michael Fassbender, Antonio Banderas, Michael Douglas, Bill Paxton, Channing Tatum hingga Michael Angarano mampu memberikan tambahan kesan yang positif terhadap departemen akting film ini. Dilihat dari porsi cerita yang mereka miliki, para aktor pendukung tersebut memang tidak memiliki porsi peran yang besar. Pun begitu, peran yang dijalani oleh para aktor pendukung dalam Haywire merupakan deretan peran yang esensial kehadirannya dalam jalan cerita sehingga, ditambah dengan penampilan akting yang memuaskan, menjadi sebuah kehadiran yang efektif bagi Haywire.

Harus diakui, tidaklah mudah untuk menikmati Haywire. Seperti halnya yang ia tunjukkan lewat Contagion (2011), Steven Soderbergh menghadirkan detil dari setiap sisi plot cerita dari filmnya dengan begitu ekstensif sehingga terkadang mempengaruhi ritme penceritaan menjadi terkesan berjalan lamban dan membosankan. Pun begitu, Soderbergh berhasil mengemas penceritaan Haywire dengan intensitas cerita yang terjaga dengan baik sehingga walau tidak mengeksploitasi berbagai adegan keras, Haywire masih mampu tampil sebagai sebuah film aksi yang efektif. Didukung dengan jajaran aktor papan atas Hollywood yang mampu menampilkan kemampuan akting terbaik mereka, serta Gina Carano yang tampil luar biasa dalam setiap adegan aksinya, Haywire adalah sebuah sajian yang mungkin akan menguji kesabaran setiap penontonnya namun mampu membalasnya dengan jalan penceritaan yang begitu memikat.

Haywire (Irish Film Board/Relativity Media, 2012)

Haywire (2012)

Directed by Steven Soderbergh Produced by Gregory Jacobs Written by Lem Dobbs Starring Gina Carano, Michael Fassbender, Ewan McGregor, Bill Paxton, Channing Tatum, Antonio Banderas, Michael Douglas, Michael Angarano, Mathieu Kassovitz, Eddie J. Fernandez, Anthony Brandon Wong, Tim Connolly, Maximino Arciniega, Aaron Cohen, Natascha Berg, Fergal O’Halloran Music by David Holmes Cinematography Peter Andrews Editing by Mary Ann Bernard Studio Irish Film Board/Relativity Media Running time 93 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. Hmmm, pingin nonton ini sich tapi besok udah Ghost Rider: Spirit of Vengeance… :(

  2. al says:

    harus diakui saya sebagai penggemar film kecewa dengan film besutan sutradara terkenal ini. karena kesiapan film ini yang benar benar sembrono, dari mulai proses editing dan pengambilan gambar film ini terasa sangat kurang mendukung plot cerita, dan juga di bagian musik yang terasa membosankan, tidak dinamis dan tidak seirama dengan scene pada film ini. bahkan saya merasa tidak mendapat kesan apapun ketika keluar dari bioskop. sangat disayangkan ketika, sutradara terkenal dengan aktor pendukung terkenal di dalamnya tidak memberikan kesan apapun terhadap suatu film. bahkan saya berkesan film ini seakan akan hanya sebuah uji coba atau sarana “main-main” dan tidak siap untuk dipublikasikan.

  3. dika says:

    Menurutku film ini bagus. Kesunyian dalam film justru memberi kesan “mistis”. Ceritanya jg lumayan cakep. Kuberi 3 utk skala 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s