Apa yang membuat sebuah film patut digelari sebagai sebuah film berkualitas buruk? Well… jelas ada banyak barometer yang dapat digunakan. Namun sepertinya banyak orang akan setuju bahwa film-film berkualitas buruk adalah film-film yang diproduksi dengan tata produksi yang menyedihkan yang membuat setiap penontonnya merasa bahwa mereka telah dicurangi setelah menyaksikan film tersebut, dan mungkin, bersumpah untuk tidak lagi menyaksikan film-film tersebut di masa yang akan datang. Dan 2011 menyimpan cukup banyak film-film berkualitas yang sangat jauh dari kata menyenangkan tersebut.

Berikut dua daftar yang berisi sepuluh film yang paling buruk kualitasnya sepanjang tahun 2011. Daftar pertama berisi film-film asing berkualitas buruk, sementara daftar kedua berisi film-film Indonesia dengan kualitas yang tidak jauh berbeda.

Enjoyat your own risks!

WORST FOREIGN MOVIES OF 2011

01. Love, Wedding, Marriage (Director: Dermot Mulroney, Chydzik Media Group/First Wedding Productions/Voodoo Production Services, 2011)

Tidak banyak yang dapat dikatakan dari sebuah film yang mampu membuat daya tarik seorang Mandy Moore menjadi terlihat begitu menyebalkan dalam sebuah jalan cerita. Love, Wedding, Marriage adalah sebuah film drama komedi romantis yang bahkan memiliki kualitas sangat jauh lebih buruk daripada film-film bergenre sama yang banyak dihasilkan Hollywood. Penyutradaraan yang sama sekali tidak efektif, jalan cerita yang sangat tidak menarik, deretan karakter yang dangkal dan gagal untuk dihidupkan oleh para pemerannya serta Kellan Lutz yang tampil datar namun memiliki begitu banyak adegan, Love, Wedding, Marriage adalah sebuah penghinaan tersendiri bagi film-film drama komedi romantis. Tidak romantis. Tidak menghibur. Tidak menarik. Salah satu film terburuk untuk tahun ini.

02. Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked (Director: Mike Mitchell, Bagdasarian Productions/Fox 2000 Pictures/Regency Enterprises/TCF Vancouver Productions, 2011)

Selain untuk menemani para penonton muda yang ingin sedikit merasa terhibur menyimak kehadiran enam tupai yang pandai bernyanyi di seri ini, rasanya tidak ada alasan yang benar-benar tepat untuk menyaksikan Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked. Sebuah seri dengan deretan guyonan yang semakin hambar jika dibandingkan dengan dua seri sebelumnya dan bahkan telah kehilangan daya tariknya dalam me-remake deretan lagu-lagu populer yang banyak diputar di radio – mungkin karena tugas tersebut telah diambil alih oleh Glee?. Datar, dengan guyonan yang gagal, dan kemampuan akting para pemerannya yang mengecewakan, sekali lagi, Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked hanyalah sebuah alasan lain bagi para produser film untuk menghasilkan uang dengan mudah dari para penonton muda dengan tanpa mempedulikan kualitas produk yang mereka berikan sama sekali.

03. Spy Kids: All the Time in the World (Director: Robert Rodriguez, Dimension Films/Troublemaker Studios/Spy Kids 4 SPV, 2011)

Adalah sangat mudah untuk mengatakan bahwa Spy Kids: All the Time in the World dibuat hanya sebagai sebuah alat untuk menghasilkan aliran dana dengan mudah untuk Robert Rodriguez dan para pemerannya. Mulai dari sisi naskah cerita, penampilan para pengisi departemen akting hingga tampilan tata produksi film ini begitu terkesan murahan dan tidak meyakinkan. Yang paling menyakitkan tentu saja adala naskah cerita yang disusun oleh Roriguez untuk film ini. Lewat filmnya, Rodriguez mungkin ingin berpesan kepada penontonnya bahwa jangan sampai mereka melewatkan setiap waktu berharga bersama keluarga atau orang-orang yang mereka sayangi. Dan cara yang paling berharga untuk melewati waktu bersama keluarga dan orang-orang yang Anda sayangi adalah, sangat mudah, untuk tidak menghabiskannya dengan menyaksikan film buruk ini.

04. The Resident (Director: Antti Jokinen, Hammer Film Productions, 2011)

The Resident adalah salah satu film thriller yang memiliki jalan cerita standar khas Hollywood namun gagal dibangun untuk memberikan tujuan utama dari sebuah film thriller kepada para penontonnya: ketegangan. Hilary Swank dan Jeffrey Dean Morgan masih akan dapat mengatakan bahwa mereka telah memberikan kemampuan penuh mereka untuk menghidupkan karakter yang mereka perankan, namun dengan jalan cerita yang terlalu klise, sebuah misteri yang diungkap terlalu cepat dan deretan adegan-adegan yang begitu terkesan sangat datar, The Resident tidak hanya tampil tanpa memberikan sebuah kesan, namun hadir sebagai sebuah film yang gagal secara keseluruhan.

05. Shark Night (Director: David R. Ellis, Incentive Filmed Entertainment/Next Films/Sierra Pictures/Silverwood Films, 2011)

Mudah ditebak. Itulah kata kunci utama yang akan Anda dapatkan selepas menyaksikan Shark Night. Dengan jalan cerita standar – mengenai sekelompok pemuda yang awalnya berniat liburan namun akhirnya menemui diri mereka dalam ancaman bahaya – dua penulis naskah Will Hayes dan Jesse Studenberg berusah menyelipkan beberapa kejutan di dalam jalan cerita… yang sayangnya kurang begitu berhasil akibat intensitas cerita yang cenderung datar, pengarahan David R. Ellis yang tidak istimewa dan kemampuan akting para jajaran pemerannya yang standar. Shark Night akan memenuhi ekspektasi setiap orang ketika mendengar judul dan premis film ini. Tidak lebih. Dan sejujurnya, seharusnya mampu ditampilkan lebih menyenangkan lagi.

06. The Roommate (Director: Christian E. Christiansen, Screen Gems, 2011)

Lagi-lagi sebuah horor remaja yang mencoba untuk menakuti para penontonnya namun terbukti sangat gagal dalam melakukannya. Tidak hanya The Roommate memiliki naskah cerita yang demikian buruk, sutradara, Christian E. Christiansen gagal mengarahkan para jajaran pemerannya untuk memberikan permainan akting terbaik mereka. Hasilnya, di sepanjang film, penonton akan menikmati jalan cerita yang sama datarnya dengan ekspresi wajah yang ditampilkan Minka Kelly dan Cam Gigandet. Akting Leighton Meester, dan sejumlah pemeran pendukung lainnya, masih dapat dinikmati, namun hal tersebut tidak lantas membuat The Roommate dapat dikategorikan sebagai sebuah film yang cukup layak untuk dinikmati.

07. The Smurfs (Director: Raja Gosnell, Columbia Pictures/Sony Pictures Animation/Kerner Entertainment Company, 2011)

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang salah dari sebuah film yang dibuat khusus untuk para penonton muda. Namun, mudahnya untuk memberikan sebuah ‘hiburan’ pada kelompok penonton tersebut justru sering dimanfaatkan oleh para produser film untuk menghadirkan sebuah jalan cerita yang kacangan dan sama sekali jauh dari mengesankan. The Smurfs juga memanfaatkan pakem yang sama. Plot cerita yang memadukan berbagai formula film hiburan dengan guyonan-guyonan kekanak-kanakan, karakterisasi yang hampir tidak pernah mampu dikembangkan dengan baik hingga usaha untuk memberikan sedikit pesan moral dari keseluruhan jalan cerita. The Smurfs sepertinya memang murni ditujukan bagi para penonton (yang benar-benar) muda. Karena selain kelompok tersebut, sepertinya akan sulit untuk menemukan diri mereka bersenang-senang lewat film yang terlalu datar, klise dan cenderung bodoh untuk diikuti.

08. Abduction (Director: John Singleton, Lionsgate/Gotham Group/Vertigo Entertainment/Quick Six Entertainment/Mango Farms/Tailor Made, 2011)

Abduction terlihat seperti sebuah film yang jelas-jelas ingin menggunakan kehadiran Taylor Lautner secara maksimal dalam jalan cerita. Hanya saja, John Singleton sepertinya lebih tertarik untuk memanfaatkan kehadiran fisik Lautner daripada talentanya: beberapa kali tampil tanpa mengenakan pakaiannya dan dihadirkan secara close-up hampir di setiap adegan akan membuat setiap penggemar Lautner menemukan kebahagiaan sejatinya. Lautner sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menghidupkan seorang karakter yang memiliki jangkauan emosi yang luas dan cenderung berubah-ubah. Bukannya tidak berusaha – terlihat dari Lautner yang seringkali terlihat kesulitan dalam menghadirkan ekspresi wajahnya – namun mungkin Lautner memang… well… bukan aktor paling berbakat yang dapat diberikan Hollywood. Lautner dan naskah cerita yang begitu klise, dialog terbatas nan cheesy serta karakterisasi yang dangkal adalah masalah utama dari Abduction. Sejumlah permasalahan yang cukup untuk menjadikan film ini sebagai salah satu pengalaman terburuk yang dapat setiap penonton rasakan ketika mereka memilih untuk menyaksikannya.

09. Conan the Barbarian (Director: Marcus Nispel, NuImage Films/Millennium Films/Paradox Entertainment, 2011)

Kesalahan yang paling dapat dirasakan dari Conan the Barbarian arahan Marcus Nispel adalah ketika film yang seharusnya mengisahkan mengenai usaha sang karakter utamanya untuk menuntut balas atas kematian sang ayah beralih fokus menjadi usah sang karakter antagonis dalam mencapai tujuannya yang ditampilkan lebih menarik perhatian. Kesalahan tersebut, selain mencuri perhatian utama dari sang karakter utama, juga membuat jalan cerita secara keseluruhan terasa begitu hampa dan datar. Conan the Barbarian tidak hadir tanpa beberapa momen aksi yang cukup memukau. Namun momen-momen tersebut hadir terlalu minim sehingga tidak akan mampu mencegah para penonton Conan the Barbarian untuk tidak merasakan rasa kantuk dan kebosanan luar biasa ketika menyaksikan film ini.

10. Sucker Punch (Director: Zack Snyder, Legendary Pictures/Cruel and Unusual Films, 2011)

Ketika Anda sedang duduk sendirian di sebuah bar, seorang gadis dengan paras yang sangat cantik datang dan duduk di sebelah Anda. Sebagai seorang pria yang ingin memberikan sebuah kesan pertama yang hebat, Anda mulai memutar otak untuk mencari topik perbincangan ringan yang tepat. Dan dalam sekitar 30 menit perbincangan tersebut, Anda kemudian menyadari bahwa sang gadis berparas cantik tersebut bukanlah salah satu wanita tercerdas di dunia. Ia sama sekali tidak sadar kalau Colin Firth telah memenangkan Oscar pertamanya. Ia mengira A Rush of Blood to the Head adalah album terakhir yang dirilis Coldplay. Dan ia sangat membenci film drama romantis favorit Anda, The Notebook, karena merasa Channing Tatum lebih pas untuk berdampingan dengan Rachel McAdams. Tentu, wanita tersebut begitu cantik sehingga Anda kemungkinan besar tidak akan menolak tawaran untuk menghabiskan semalam bersamanya. Tapi untuk menjalin hubungan lebih jauh dengannya? Jawaban Anda akan menentukan bagaimana Anda akan dapat menikmati Sucker Punch.

WORST INDONESIAN MOVIES OF 2011

01. The Mentalist (Director: Walmer Sitohang, Bintang Kawakibi Pictures, 2011)

Buruk adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan The Mentalist. Disusun berdasarkan naskah cerita yang buruk, pengarahan yang buruk, akting yang (sangat) buruk, serta kualitas penataan produksi yang buruk, The Mentalist tampil dengan tanpa satu kualitaspun yang menonjol yang dapat membuat seseorang merekomendasikan film ini ditonton oleh penonton film lainnya. Sangat disayangkan, sebenarnya, mengingat premis film ini  dapat saja diolah secara profesional menjadi sebuah film yang memiliki kualitas prima. Tapi… yah… begitulah… The Mentalist dengan mudah mendapatkan gelar sebagai film Indonesia terburuk untuk tahun ini.

02. X – The Last Moment (Director: Bambi Martantio, Prima Media Sinema, 2011)

WellX – The Last Moment jelas bukanlah salah satu momen paling membahagiakan yang dapat penonton dapatkan dari industri film Indonesia. Bahkan, adalah cukup aman untuk mengungkapkan bahwa film ini adalah salah satu bukti bahwa industri film Indonesia masih belum lepas dari orang-orang yang beranggapan bahwa dengan merilis sebuah film yang keluar dari zona film komedi/horor/seks maka mereka telah menghasilkan sebuah film dengan kualitas yang cukup berarti. Salah besar! X – The Last Moment diisi dengan naskah cerita yang berkualitas medioker – dimana penulisnya cukup bekerja dengan memasukkan semua hal klise yang dapat ditemui dalam banyak film Indonesia yang bersinggungan dengan narkotika dan obat-obatan terlarang, dialog-dialog yang begitu menggelikan, pengarahan dari sutradara yang sama sekali tidak mengerti bagaimana merangkai sebuah kisah yang padu, tim produksi yang bekerja dengan kualitas seadanya dan jajaran pengisi departemen akting yang sama sekali gagal untuk dikatakan telah memberikan kemampuan berakting.

03. Perempuan-Perempuan Liar (Director: Rako Prijanto, MVP Pictures, 2011)

Kualitas mungkin adalah sesuatu yang diharamkan untuk dapat hadir dalam Perempuan-Perempuan Liar. Dipenuhi dengan deretan adegan yang menjiplak banyak film asing, plot cerita yang sangat dangkal dan tidak masuk akal, tata produksi yang tampil mengecewakan serta penampilan para jajaran pemerannya yang sama sekali tidak memenuhi kualifikasi untuk disebut akting, Perempuan-Perempuan Liar dengan jelas merupakan salah satu film terburuk yang pernah dirilis di sepanjang tahun ini. Setidaknya film ini akan menjadi sebuah bukti kuat jika lain kali Rako Prijanto merilis film dengan menyertakan nama Tora Sudiro di dalamnya, tidak seharusnya seorangpun manusia yang mengaku memiliki kecerdasan tinggi mau dengan sukarela menyaksikannya.

04. Akibat Pergaulan Bebas 2 (Director: Findo Purnomo HW, Mitra Pictures & Bic Production, 2011)

Tidak ada alasan lain dari kehadiran Akibat Pergaulan Bebas 2: Skandal Video Porno selain sebagai alat bagi para produser film ini untuk meraih sejumlah keuntungan komersial. Hal tersebut sangat jelas terlihat dari tata produksi yang sangat terkesan buru-buru serta tanpa mau sekalipun memperhatikan berbagai detil yang sangat dibutuhkan dalam sebuah film. Namun, hal tersebut masih sebagian kecil dari berbagai sisi negatif yang dapat Anda temui di film ini, mulai dari pengarahan yang sangat lemah, naskah cerita yang begitu tidak konsisten hingga kemampuan akting para pemerannya – khususnya Keith Foo yang begitu mengganggu – yang tampil dengan kapasitas sangat menyedihkan.

05. Mudik Lebaran (Director: Muchyar Syamas, MVP Pictures, 2011)

Sama sekali tidak ada kesan yang didapat dari Mudik Lebaran selain kesan bahwa film ini tampil dengan sangat, sangat mengecewakan. Entah apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini. Gagal melucu, tidak mampu tampil dengan pendramaan yang kuat dan hadir dengan jalan cerita yang sangat membosankan. Away Martiono sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menggambarkan sebuah cerita dengan cara yang efektif, sementara Muchyar Syamas tidak mampu mengarahkan para jajaran pemeran filmnya untuk dapat tampil dengan baik sekaligus menjaga aliran ritme cerita yang mampu membuat Mudik Lebaran tampil menarik. Perpaduan dua hal yang membuat Mudik Lebaran memiliki kualitas yang sangat menyedihkan.

06. True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W (Director: Dedi Setiadi, Moestions/Yayasan Universitas Prof. Dr. Moestopo, 2011)

Dosa apa yang dimiliki penonton film Indonesia sehingga mereka harus menghabiskan dua jam dari hidup mereka untuk sebuah film sedatar, seberantakan dan setidak menarik True Love: Based on the Novel Cinta Sepanjang Amazon by Mira W? Jika masih ada satu sisi yang dapat dianggap keunggulan dari film ini adalah kemampuan para jajaran pemerannya – kecuali Mario Lawalata – untuk masih memerankan karakter mereka dengan cukup baik. Walaupun, harus diakui, permainan terbaik seorang aktor sekalipun tidak akan mampu membuat penonton akan merasa tertarik dengan karakter-karakter dangkal yang dihadirkan di film ini. Fanny Fabriana, Anda harus memecat siapapun yang menyarankan Anda untuk mengambil peran di Lost in Papua atau film ini. Mario Lawalata… harap kembali ke dunia sinema elektronik saja.

07. Sajadah Ka’bah (Director: Rhoma Irama, Falcon Pictures/Rumah Kreatif 23, 2011)

Mungkin terdengar sinis untuk menggambarkan Sajadah Ka’bah sebagai sebuah film yang dibuat untuk memenuhi ego seorang Rhoma Irama. Namun, hal tersebutlah yang sebenarnya akan dapat dirasakan setiap orang ketika sedang menyaksikan film ini. Sayangnya, pemenuhan ego tersebut tidak diiringi dengan kualitas keluaran akhir yang sesuai. Jalan cerita Sajadah Ka’bah tampil begitu membosankan dengan deretan karakter yang digambarkan secara dangkal. Yang juga sama sekali tidak membantu adalah kualitas penampilan akting yang disajikan para pemeran film ini dan juga kualitas tata produksi film yang sama sekali jauh dari kesan istimewa. Membosankan dan jelas merupakan sebuah film dengan kualitas yang sangat mengecewakan.

08. Lost in Papua (Director: Irham Acho Bahtiar, Nayacom Mediatama/Merauke Enterprice Production, 2011)

Entah apa yang sebenarnya ingin dikisahkan oleh Lost in Papua. Apakah film ini ingin memberikan gambaran mengenai indahnya alam Papua? Lalu kenapa tata sinematografi film ini sama sekali tidak memikat? Apakah film ini ingin mengenalkan budaya masyarakat Papua? Dengan tampilan yang singkat dan sama sekali tak mampu terintegrasi dengan jalan cerita utama membuat berbagai kesenian yang ditampilkan menjadi sekedar tempelan belaka. Sebuah film drama? Sama sekali tidak menyentuh dan mengikat penontonnya. Action? Adegan berlari-lari di hutan dan gambaran perseteruan beberapa karakter dapat disebut action? Horor? Jika Anda mengkategorikan diculik oleh sebuah kelompok suku wanita kanibal untuk dijadikan “pejantan” maka Lost in Papua adalah sebuah film horor. Secara sekilas, seluruh unsur tersebut terdapat di film ini. Secara keseluruhan, unsur-unsur tersebut hadir tanpa mampu dieksplorasi dengan baik dan membuat Lost in Papua menjadi sebuah ruang hampa sepanjang 90 menit yang tanpa emosi, datar, dan berbagai variasi kata lain untuk menggambarkan sebuah film yang membosankan. Poin untuk film ini sepenuhnya diberikan pada keberanian pemilihan Papua sebagai latar belakang film dan Fanny Fabriana yang tetap tampil memikat di film buruk ini.

09. Kehormatan di Balik Kerudung (Director: Tya Subiakto Satrio, Starvision , 2011)

Kehormatan di Balik Kerudung adalah sebuah film kecut yang berlindung di balik imej sebagai film relijius untuk kemudian menghadirkan berbagai usaha keras agar membuat penontonnya mampu merasakan haru dan menangis… Berhasil, beberapa penonton kemungkinan besar menangis karena begitu mengesalkannya karakter dan jalan cerita film ini. Tya Subiakto Satrio… bidang penataan musik adalah bakat sejati Anda. Jauhi kursi penyutradaraan atau apapun niat hati Anda yang menyatakan bahwa Anda dapat mencoba untuk mengarahkan sebuah film.

10. Oh Tidak..! (Director: Ardy Octaviand, Starvision/Indie Picture, 2011)

Tidak mengherankan untuk melihat fakta bahwa Oh Tidak..! dirilis dalam lokasi dan waktu yang sangat terbatas ketika masa rilisnya di layar lebar beberapa waktu yang lalu. Dengan jalan cerita yang lebih dangkal dari tampilan naskah cerita sebuah film televisi, Oh Tidak..! memang lebih layak untuk sama sekali tidak dipedulikan kehadirannya. Beruntung, walaupun dengan naskah cerita yang demikian dangkal, marsha Timothy dan Fathir Muchtar masih mampu memberikan penampilan apik mereka. Selain dari dua penampilan tersebut, rasanya tidak cukup alasan dalam membenarkan lebih banyak orang untuk menyaksikan drama komedi gagal yang satu ini.

Comments
  1. andryfaw21 says:

    Wowww.. Klo film2 ini aja udh masuk kategori terburuk, apalagi film pocong2an dkk.. Hehehe..
    Sukses selalu Bang Amir…

  2. arfebrina says:

    Dari film-film yang disebutkan di atas, saya cuma nonton The Roommate and SuckerPunch, yang menurut saya tidak terlalu buruk kalau kalau dilihat dari sisi hiburan karena saya tertawa atas ke-cheesy-annya. Hehehe…

  3. Revan says:

    sucker punch, menonton di awal menjanjikan, 15 menit setelahnya penuh dengan kebingungan, setengah jam setelahnya penuh dengan kejenuhan dan kekesalan. film yang tidak bagus dalam bermain psikologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s