Jika Anda sampai detik ini masih mempertanyakan film Indonesia apa yang dapat dianggap sebagai film terbaik di sepanjang tahun 2011 lalu, kemungkinan besar itu terjadi karena Anda sama sekali tidak memperhatikan penuh dengan rilisan-rilisan film Indonesia di sepanjang tahun 2011. Untuk pertama kalinya, dalam waktu yang sekian lama, semua orang sepertinya menempatkan pilihan film Indonesia terbaik mereka pada sebuah film, Sang Penari. Wajar memang, Sang Penari tidak hanya pantas untuk digelari sebagai film terbaik yang dirilis di sepanjang tahun 2011 namun juga film Indonesia terbaik yang dirilis di Indonesia selama dalam jangka waktu beberapa tahun terakhir. Mari berharap Sang Penari akan mampu berbicara lebih banyak ketika film itu nantinya akan dibawa ke berbagai festival film tingkat internasional. Kalaupun tidak, Sang Penari jelas telah ditakdirkan untuk menjadi sebuah film klasik di catatan sejarah panjang perfilman Indonesia.

Cukup tentang Sang Penari, berikut sepuluh film Indonesia yang menurut At the Movies berhasil memberikan momen-momen paling menyenangkan dan berkualitas bagi para penontonnya di sepanjang tahun 2011. At the Movies memberikan penghormatan penuh kepada para pembuat film yang masih percaya bahwa menghasilkan sebuah film bercita rasa tinggi merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan ketika mereka sedang menggarap sebuah film –termasuk kepada para pembuat film yang film-filmnya tidak tercantum di daftar berikut.

01. Sang Penari (Director: Isfa Isfansyah, KG Productions/Salto Films, 2011)

Sang Penari bukannya hadir tanpa cela — beberapa bagian cerita kurang mampu tergali lebih dalam dan beberapa karakter pendukung juga kurang mampu untuk ditampilkan secara lebih luas. Walaupun begitu, apa yang dicapai Ifa Isfansyah lewat Sang Penari adalah sebuah pencapaian yang sangat fenomenal. Naskah yang diadaptasi Ifa bersama Salman Aristo dan Shanty Harmayn mampu menangkap seluruh esensi emosional yang terkandung dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ifa juga kemudian didukung oleh tim produksi yang solid. Gambar-gambar yang indah karya Yadi Sugandi menyatu dengan sempurna dengan tata musik arahan Aksan Sjuman dan Titi Sjuman serta diperkuat lagi oleh editing yang dilakukan oleh Cesa David Luckmansyah. Di bagian depan kamera, Prisia Nasution dan Oka Antara berhasil memberikan penampilan terbaik yang dapat penonton peroleh dari aktor dan aktris Indonesia sepanjang tahun ini. Untuk mengatakan Sang Penari adalah sebuah karya terbaik tahun ini akan terdengar seperti sebuah perendahan kualitas yang dicapai film ini. Sang Penari adalah salah satu film terbaik yang pernah muncul dalam sejarah panjang industri film Indonesia dan hanya datang sekali dalam beberapa tahun. Sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan!

02. Tendangan Dari Langit (Director: Hanung Bramantyo, SinemArt Pictures, 2011)

Jika ada yang dapat dibuktikan dari kehadiran Tendangan Dari Langit maka hal itu adalah film ini akan semakin membuktikan posisi Hanung Bramantyo sebagai sutradara terbaik di generasinya. Lewat jalan cerita yang ditulis oleh Fajar Nugros, Hanung sekali lagi menampilkan kepiawaiannya yang sangat memikat dalam bercerita. Tidak ada satu bagianpun dalam Tendangan Dari Langit yang akan mampu membuat penontonnya merasa jemu. Penonton justru akan menemukan diri mereka terpikat akan jalinan kisah yang berjalan sederhana dan telah familiar, namun kembali ditampilkan dengan presentasi filmis yang begitu mengesankan. Dengan perpaduan cerita yang apik, akting para jajaran pemeran film yang meyakinkan serta kumpulan gambar indah yang mengesankan, adalah sangat mudah untuk menjadikan Tendangan Dari Langit menjadi film Indonesia terbaik untuk tahun ini.

03. Catatan Harian Si Boy (Director: Putrama Tuta, Tuta Media Production/Masimma Contents+Channels/700 Pictures, 2011)

Berangkat dari sebuah kisah yang legendaris, untuk kemudian diterapkan dan diadaptasi dalam sebuah naskah cerita baru yang walaupun memiliki tema dan jalan cerita yang sederhana namun mampu disusun secara dinamis dan modern, Catatan Harian Si Boy berhasil dieksekusi dengan baik oleh Putrama Tuta menjadi sebuah kesatuan cerita baru dan menarik. Tidak hanya unggul dari naskah dan pengarahannya, tampilan Catatan Harian Si Boy juga semakin diperkuat dengan jajaran departemen akting yang berhasil memberikan penampilan terbaik mereka serta tata produksi yang sangat unggul (tata musik arahan Aghi Narottama benar-benar juara!). Catatan Harian Si Boy adalah sebuah presentasi yang sangat, sangat menyegarkan dalam dunia sinema nasional!

04. Batas (Director: Rudi Soedjarwo, Keana Productions & Communication, 2011)

Batas sama sekali tidak sempurna. Hasrat film ini yang ingin bercerita dengan begitu banyak dengan durasi film yang hanya mencapai 115 menit terkadang harus menerima konsekuensi bahwa beberapa bagian cerita menjadi kurang dapat tampil maksimal yang kemudian menciptakan beberapa lubang pada plot ceritanya. Walau begitu, ketika penonton tahu harus menempatkan dirinya di bagian mana pada jalan cerita film ini, berbagai aliran kisah yang disiapkan film ini akan mampu mengalir dengan begitu lancarnya. Tata produksi film ini juga sangat dinamis. Rudi mampu menghadirkan suasana Entikong yang sangat nyata bagi para penontonnya. Dukungan akting para pemerannya, tata sinematografi dan tata musik juga semakin membuat Batas tampil maksimal. Sebuah film  dengan jalan cerita yang berjalan personal, dan terlepas dari beberapa cacat yang hadir di beberapa bagian, tetap merupakan karya yang sangat memuaskan.

05. Rindu Purnama (Director: Mathias Muchus, Mizan Productions, 2011)

Hampir tidak ada yang dapat diberikan penilaian negatif dalam Rindu Purnama, kecuali pada karakterisasi beberapa peran serta pendalaman beberapa plot cerita yang ada di sepanjang film ini. Rindu Purnama seperti begitu terfokus dalam menghadirkan kisah utama cerita dan berbagai kejadian yang terjadi di keseharian setiap karakternya sehingga sedikit melupakan pengenalan dan pendalaman setiap karakter yang dapat memberikan jembatan emosi antara penonton dengan jalan cerita film ini. Penonton dapat dengan mudah terhubung dan merasakan intensitas alur cerita yang dihadirkan, namun seringkali akan mendapati diri mereka sulit untuk merasa simpati dengan setiap karakter yang ada dalam cerita tersebut. Jalan cerita yang sederhana tak membuat Rindu Purnama tampil dengan kualitas yang biasa saja. Didukung dengan jajaran pemeran yang mampu dengan baik menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan serta tata teknis yang sangat profesional, Rindu Purnama menjelma menjadi sebuah karya yang cukup jarang dapat dicapai oleh banyak film-film Indonesia lainnya. Kurangnya pendalaman karakter dan beberapa plot cerita memang menjadi titik lemah film ini, namun tetap tidak akan mampu menghindarkan Rindu Purnama menjadi salah satu film terbaik di sepanjang tahun ini.

06. Garuda di Dadaku 2 (Director: Rudi Soedjarwo, SBO Films/KG Productions, 2011)

Dari sisi teknikal, Garuda Di Dadaku 2 tampil tanpa kelemahan yang berarti. Pemilihan sinematografi hingga tata musik yang menemani di setiap adegan berhasil membuat film ini tampil berkelas. Adalah jalan cerita yang terlalu biasa yang membuat Garuda Di Dadaku 2 akan terasa cukup sulit untuk mampu tampil semenarik film pertamanya. Konflik-konflik yang lebih dewasa yang coba dihadirkan memang mampu dikelola Rudi Soedjarwo dengan baik. Namun menumpuknya konflik-konflik tersebut akhirnya justru membuat jalan penceritaan menjadi kurang begitu terfokus. Pun begitu, secara keseluruhan, Garuda Di Dadaku 2 adalah sebuah film yang masih cukup mampu untuk tampil apik dan menghibur. Tidak mengecewakan.

07. The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) (Director: Kamila Andini, Pemda kabupaten Wakatobi, WWF Indonesia, SET Film, 2011)

The Mirror Never Lies adalah sebuah usaha yang sangat patut untuk diberikan pujian setinggi-tingginya. Tidak hanya karena usaha para pembuat film ini untuk mengangkat keindahan alam Indonesia  dan kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya dalam usaha mereka untuk menghadirkan sebuah sudut pandang penceritaan yang baru, namun juga karena mereka memang benar-benar berhasil menyajikannya dalam sebuah tayangan yang menghibur. Memang, The Mirror Never Lies tidaklah sempurna. Jalan cerita yang berputar di seputar premis yang sama terlalu lama serta gagalnya pengembangan beberapa karakter di dalam jalan cerita membuat kekuatan emosi film ini perlahan memudar sehingga The Mirror Never Lies terkadang terkesan melelahkan. Namun, terlepas dari itu, adalah sangat menyenangkan untuk mendapatkan sebuah sajian baru dan tidak monoton ketika Anda menyaksikan sebuah film di layar lebar. Untuk keberanian menghadirkan inovasi tersebut, The Mirror Never Lies rasanya patut diacungi jempol.

08. ? (Tanda Tanya) (Director: Hanung Bramantyo, Mahaka Pictures/Dapur Film, 2011)

Setelah apa yang dihasilkan oleh Hanung Bramantyo lewat Ayat-Ayat Cinta (2008), Doa Yang Mengancam (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009) dan khususnya Sang Pencerah (2010), rasanya sangat wajar jika banyak pihak yang begitu menunggu bagaimana Hanung akan menangani naskah yang cukup kompleks seperti yang dibawakan ?. Hasilnya, harus diakui, berada sedikit di bawah ekspektasi. Jalan cerita ?, walaupun sama sekali tidak buruk, gagal menampilkan sesuatu yang baru dan dapat membuat film ini tampil istimewa. Pemilihan ending yang terkesan dipaksakan untuk hadir juga menjadi titik lemah tersendiri untuk ?. Walau begitu, dengan seluruh kekuatan penceritaan, tata produksi dan departemen akting yang dihasilkan Hanung, rasanya akan tetap berhasil membuat ? tampil sebagai sebuah film dengan kualitas yang sangat tidak mengecewakan.

09. Kentut (Director: Aria Kusumadewa , Citra Sinema, 2011)

Menyaksikan Kentut, sebagian orang mungkin akan bertanya-tanya pada dirinya: Apakah kemampuan bangsa Indonesia untuk menertawakan diri mereka sendiri telah sebegitu meningkatnya? Atau hal tersebut hanya terjadi dalam sebuah film layar lebar belaka? Aria Kusumadewa melakukan pekerjaan yang sangat cerdas dalam menyusun rangkaian cerita dan dialog satir yang tidak hanya tajam dan mengena namun tetap tidak melupakan untuk menghibur penontonnya. Walau pada paruh kedua film Aria terlihat terlalu ambisius dalam menyampaikan segala ide-idenya, dan dengan sebuah akhir kisah yang kurang memuaskan, namun Aria tetap berhasil memberikan penampilan yang baik pada Kentut lewat arahan yang ia berikan pada jajaran pemerannya maupun tata produksi yang mampu terjaga dengan baik. Seandainya ada lebih banyak film Indonesia yang secerdas ini.

10. Khalifah (Director: Nurman Hakim, Triximages/Frame Ritz Pictures, 2011)

Dengan jalan cerita yang bergerak secara perlahan dan kehadiran emosi yang cenderung monoton, Khalifah sayangnya akan menemui nasib yang sama seperti 3 Do’a 3 Cinta: dengan mudah akan memberikan rasa jemu pada penontonnya yang akhirnya akan membuat film karya Nurman Hakim ini menemui kebuntuan dalam hal kesuksesan komersial. Namun Khalifah sebenarnya memiliki banyak kualitas yang jarang dimiliki oleh banyak film Indonesia lainnya. Lewat berbagai dialog dan karakternya yang sederhana, serta ditambah dengan kemampuan akting dari jajaran pemerannya yang cukup mumpuni, Khalifah adalah sebuah drama yang cukup berhasil untuk berbicara banyak kepada setiap penontonnya.

Comments
  1. Abdul Qadir says:

    Terima kasih mas Amir utk list film nya ^_^!

    Kapan ke Indonesia lagi akan aku beli collection dvd film Indonesia based on list di sini.

  2. Cineleone says:

    Trims juga dari gua, akhirnya ada referensi daftar film-film yang pantas ditonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s