FISFiC merupakan sebuah akronim bagi Fantastic Indonesian Short Film Competition, sebuah kompetisi film pendek dalam genre horor, thriller, science-fiction maupun fantasy yang digelar oleh beberapa praktisi film Indonesia seperti Sheila Timothy, Joko Anwar, Gareth Evans, The Mo Brothers, Ekky Imanjaya dan Rusly Eddy untuk membuka jalan dan kesempatan bagi para pembuat film muda berbakat dari seluruh Indonesia untuk bersama-sama memajukan perfilman Indonesia, khususnya film-film yang memiliki genre yang seperti telah disebutkan sebelumnya. Setelah melalui proses seleksi dan penjurian, enam naskah cerita berhasil terpilih untuk kemudian direalisasikan dalam bentuk enam film pendek yang akhirnya mengisi DVD antologi film horor yang berjudul FISFiC Vol. 1 ini.

Sama seperti antologi film horor asal Indonesia, Takut: The Faces of Fear, yang sebelumnya pernah dirilis pada tahun 2009, FISFiC Vol. 1 juga menawarkan enam kisah bernuansa horor dan thriller yang mencoba untuk menakuti para penontonnya dengan enam tema penceritaan yang berbeda. FISFiC Vol. 1 dibuka dengan Meal Time, sebuah film yang ditulis dan disutradarai oleh Ian Salim. Meal Time berkisah mengenai seorang sipir penjara, Sutisna (Abimana Arya) yang di satu malam harus menghadapi satu teror yang datang dari sebuah kekuatan yang sama sekali belum pernah ia hadapi sebelumnya. Sebagai sebuah kisah pembuka, Meal Time mampu menghadirkan intensitas cerita yang begitu kuat dan menegangkan yang didukung oleh tata produksi yang sangat meyakinkan. Sayang, pendeknya durasi cerita yang dihadirkan membuat naskah cerita Meal Time tidak memberikan kesempatan besar bagi para karakter yang dihadirkan di jalan cerita film ini untuk berkembang. Padahal, karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita Meal Time yang sebenarnya menjadi fokus utama penceritaan yang akan membuat penonton menebak-nebak apa (dan siapa) yang sebenarnya menjadi akar permasalahan di dalam jalan cerita Meal Time.

Meal Time memang mampu meningkatkan intensitas ketegangan yang dirasakan penonton dalam menyaksikan FISFiC Vol. 1. Sayangnya, film tersebut harus diikuti dengan Rengasdengklok, sebuah film arahan Dion Widhi Putra yang sama sekali gagal untuk memberikan kualitas intensitas dan kengerian yang setimbang dengan apa yang dihasilkan oleh Meal Time. Sebenarnya, Rengasdengklok memiliki sebuah premis yang sangat, sangat menarik di atas kertas. Naskah cerita film pendek yang ditulis oleh Yonathan Lim ini mencoba untuk sedikit memberikan twist pada catatan sejarah Indonesia di masa-masa menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dideklarasikan… yakni dengan menghadirkan sebuah serangan zombie pada pasukan pembela negara Indonesia. Sangat menarik… namun dieksekusi dengan begitu lemah. Jika dibandingkan dengan tata produksi film-film lain yang ada di FISFiC Vol. 1, Rengasdengklok memiliki kualitas tata produksi paling lemah – dan hal itu dapat dengan mudah didapati di berbagai adegan dalam film pendek ini. Kelemahan tersebut masih ditambah dengan lemahnya kemampuan akting para pengisi departemen akting film ini. Kaku, canggung dan gagal untuk memberikan arti pada karakter yang mereka perankan. Rengasdengklok merupakan film pendek terlemah dalam kompilasi FISFiC Vol. 1.

Film ketiga dalam kompilasi FISFiC Vol. 1 adalah Reckoning yang naskahnya ditulis oleh sang sutradara, Zavero G. Idris, bersama dengan Katharina Vassar yang juga menjadi salah satu pengisi jajaran pemeran serta produser film pendek ini. Reckoning berkisah mengenai satu pasangan yang di suatu malam menemukan bahwa rumah mereka telah dimasuki oleh sekelompok orang yang berniat untuk mengganggu kehidupan mereka. Diantara rangkaian teror yang terjadi, sedikit demi sedikit, berbagai rahasia yang tersimpan antara pasangan tersebut terkuak dan menjadi kunci jawaban mengapa mereka mengalami kejadian sadis yang sedang mereka hadapi tersebut. Seperti banyak film-film bertema home invasion lainnya, Reckoning membutuhkan banyak adegan pemompa adrenalin yang dapat tetap menjaga rasa kepenasaran penonton untuk dapat terus menyimak nasib para karakter utama yang ada di film ini. Sayangnya, hal tersebut justru minim terjadi dalam Reckoning dan hanya disimpan di beberapa bagian saja. Reckoning justru menghadirkan deretan dialog yang terlalu panjang – termasuk dengan dialog berbahasa Inggris yang sebenarnya sangat tidak esensial untuk digunakan dalam jalan cerita karena kurang jelasnya karakterisasi setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita. Pun begitu, Reckoning berhasil memberikan penampilan akting yang mapan dari Emil Kusumo dan Nicole Jiawen Lee yang cukup standout jika dibandingkan dengan departemen akting film-film pendek lain pengisi FISFiC Vol. 1.

Firasat bahwa kualitas Rengasdengklok dan Reckoning yang melempem mungkin akan sedikit mencuat di adegan awal Rumah Babi. Namun, seiring dengan perjalanan durasinya, Rumah Babi mampu menampilkan deretan misteri yang mampu membangun intensitas ketegangan cerita yang secara perlahan meningkat dan dieksekusi dengan baik. Diarahkan oleh Alim Sudio yang pernah terlibat sebagai penulis naskah beberapa proyek film layar lebar Indonesia termasuk Air Terjun Pengantin (2009) dan The Perfect House (2011), Rumah Babi berkisah mengenai perjalanan Darto (Anwari Natari) dalam mengumpulkan sisa-sisa terakhir bahan film dokumenter yang ia buat mengenai sebuah tragedi rasial yang terjadi di satu wilayah perkampungan. Walau diceritakan secara perlahan, thriller supranatural ini berhasil tampil mencekam akibat dukungan teknik pencahayaan yang mampu mengangkat atmosfer cerita dengan sempurna dan, tentu saja, dukungan kemampuan akting para pemerannya yang begitu kuat.

Sama seperti halnya dengan Reckoning, sebagian besar pecinta film horor yang menyaksikan FISFiC Vol. 1 kemungkinan besar akan merasa familiar dengan jalan cerita yang ditawarkan oleh duet Adriano Budiman dan Leila Safira lewat Effect. Seorang pekerja yang sering merasa ditindas oleh pimpinannya yang kejam secara iseng menuliskan nama pimpinannya ketika sebuah situs misterius menanyakan pertanyaan siapakah orang yang paling ingin dilihat untuk mati. Tidak mengejutkan bila kemudian sebuah skenario kematian secara perlahan mulai mengancam kehidupan sang pimpinan yang berujung pada penyesalan mendalam dari sang pekerja. Walau memiliki jalan cerita yang cukup familiar, Adriano mampu menggarap setiap detil penceritaan adegan kematian dalam Effect dengan sangat baik. Perlahan namun mampu tergambarkan dengan baik dan unik. Sita Nursanti tampil sangat meyakinkan sebagai sang dragon lady alias ibu pimpinan yang sepertinya hanya hidup untuk menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Sayang, jalan cerita yang kadang berniat untuk memberikan beberapa kejutan justru meninggalkan banyak plot cerita yang menggantung dan membuat Effect terasa kurang mampu untuk menggigit lebih dalam.

Save the best for last? Mungkin saja. Setelah Rumah Babi, Taksi yang diarahkan oleh Arianjie AZ dan Nadia Yuliani ini merupakan film pendek dengan tatanan produksi yang paling cemerlang. Mampu menghadirkan jalan cerita yang tergarap dengan baik dan berhasil dipresentasikan dengan tata audio visual yang meyakinkan. Ceritanya sendiri berkisah tentang seorang gadis yang harus pulang malam akibat lembur bekerja di kantornya. Takut terlalu lama berada di jalanan sendirian, ia akhirnya menerima tawaran seorang supir taksi yang bersedia menghantarkannya ke tempat tujuannya. Tanpa diduga, perjalanan menuju rumah yang diimpikan ternyata tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Shareefa Daanish yang sepertinya menjadi aktris favorit setiap pecinta film horor Indonesia setelah sukses memerankan Dara dalam Rumah Dara (2010) kembali menunjukkan giginya di sini – dan hal itu berarti sesuatu! Intensitas yang terbangun secara perlahan kemudian terbayar dengan sempurna dengan sebuah twist yang mungkin tidak akan pernah dapat ditebak oleh seorangpun jika saja Shareefa Daanish tidak pernah membintangi Rumah Dara. Pencahayaan dan tata musik yang kelam semakin mengokohkan posisi Taksi sebagai film pendek terbaik dalam kompilasi FISFiC Vol. 1 ini.

Harus diakui, adalah sebuah ide yang sangat brilian untuk mengumpulkan bakat-bakat baru di dunia perfilman Indonesia, khususnya mereka yang gemar akan genre thriller dan horor, untuk kemudian diberikan kesempatan membuat sendiri film mereka seperti yang ditampilkan dalam kompilasi FISFiC Vol. 1 ini. Memang, sepanjang enam kisah dan 119 menit durasi film ini berjalan, FISFiC Vol. 1 tak sepenuhnya mampu tampil memuaskan. Ide cerita yang dimiliki para bakat-bakat baru di industri perfilman Indonesia ini harus diakui memang cukup mengesankan. Namun ternyata tidak semua ide tersebut mampu diterjemahkan dengan baik lewat tampilan audio visual. Well… setidaknya FISFiC Vol. 1 dapat menunjukkan bahwa genre horor Indonesia tidak sepenuhnya berisi orang-orang yang hanya ingin meraih kesuksesan komersial lewat jalur singkat horor/komedi/seks belaka. Sajian yang tidak istimewa namun layak untuk dinikmati.

FISFiC Vol. 1 (Lifelike Pictures, 2011)

FISFiC Vol. 1 (2011)

Meal Time | Directed by Ian Salim Produced by Ian Salim, Elvira Kusno Written by Ian Salim, Elvira Kusno Starring Abimana Arya, Damar Wijanarko, Rudi Raga, Ferouz Afero, Josep Alexander, Purwoko Ari, Rosadi Encek, John Badalu, Andhika Wibisana  Cinematography Freddy Wijaya, Pane

Rengasdengklok | Directed by Dion Widhi Putra Produced by Abdul Rasyid Hermas Sudibya Written by Yonathan Lim Starring Hosea Aryo Bimo, Surja Saputra, Ari Himawan, Errol Tornado, Ari Widasworo, Bemby Firmansyah Music by Yudhi Arfani Cinematography Chynthia Monica Fabella Panggabean Editing by Nanda Komara

Reckoning | Directed by Zavero G. Idris Produced by Putra Sigar, Katharina Vassar Written by Zavero G. Idris, Katharina Vassar Starring Emil Kusumo, Nicole Jiawen Lee, Katharina Vassar Music by Bhismo Kunokini Cinematography Jonathan Hoo Editing by Zavero G. Idris

Rumah Babi | Directed by Alim Sudio Produced by Alim Sudio, Agus Kurniawan Written by Harry Setiawan (screenplay), Alim Sudio, Agus Kurniawan, Adel Maulana Pasha, Harry Setiawan (story) Starring Anwari Natari, Nala Amrytha, Tina Susanti Music by Adel Maulana Pasha, Hariseno, Maman Suparman Cinematography Agus Kurniawan Editing by Harry Setiawan, Agus Kurniawan

Effect | Directed by Adriano Rudiman Produced by Leila Safira Written by Leila Safira, Adriano Rudiman Starring Tabitha, Monika Paska, Sita Nursanti, Darwyn Tse Music by Denny Novandi Ryan Cinematography Xaverius Herman, Kurniawan Wigena Editing by Febian Saktinegara, Adriano Rudiman

Taksi | Directed by Arianjie AZ, Nadia Yuliani Produced by Titis Sapto Raharjo, Arianjie AZ, Nadia Yuliani Written by Arianjie AZ, Nadia Yuliani Starring Shareefa Daanish, Hendra Louis, Manahan Hutauruk, Alex Loppies Music by Aria Prayogi, Fajar Yuskemal Cinematography Dimas Wisnuwardono, Shaakti Siddarta, Erich Silalahi Editing by Rama Nalapraya

Studio Lifelike Pictures Running time 119 minutes Country Indonesia Language Indonesian, English

About these ads
Comments
  1. arfebrina says:

    Baru nonton di DVD kemaren…

    cerita favorit gw memang ‘Taksi’ karena kerasa banget aura-nya, apalg yg dialamin Dennis (cewek sendirian pulang malem) emg sering terjadi di dunia nyata, salah satunya saya… hehehe…

    Stuju banget Rengasdengklok flop salah satunya karena akting para pemainnya, apalg yg jd Bung berbaju putih mukanya datar banget…

    3 film lainnya masih OK-lah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s