Dirangkum dari trilogi novel Ronggeng Dukuh ParukRonggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986) – karya Ahmad Tohari, Sang Penari memfokuskan kisahnya pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk di tahun 1960-an, di masa ketika setiap masyarakat masih memegang teguh aturan dan adat istiadat leluhurnya serta jauh dari modernisasi – termasuk pemahaman agama – kehidupan yang secara perlahan mulai menyentuh wilayah di luar desa tersebut. Salah satu prinsip adat yang masih kokoh dipegang oleh masyarakat Dukuh Paruk adalah budaya ronggeng, sebuah tarian adat yang ditarikan oleh seorang gadis perawan yang terpilih oleh sang leluhur. Layaknya budaya geisha di Jepang, gadis perawan yang terpilih untuk menjadi seorang ronggeng nantinya akan menjual keperawanan mereka pada pria yang mampu memberikan harga yang tinggi. Bukan. Keperawanan tersebut bukan dijual hanya untuk urusan kepuasan seksual belaka. Bercinta dengan gadis yang terpilih sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah bagi masyarakat Dukuh Paruk yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat memberikan sebuah kesejahteraan bagi mereka.

Srintil (Prisia Nasution) adalah seorang gadis yang semenjak lama mendambakan bahwa dirinya akan terpilih sebagai seorang ronggeng. Tidak hanya sebagai wujud terima kasihnya pada sang leluhur, Ki Secamanggala, karena telah memberikan kehidupan maksmur pada warga Dukuh Paruk, namun juga sebagai pengobat bagi rusaknya nama baik orangtuanya yang secara tidak sengaja pernah membunuh banyak warga Dukuh Paruk lewat tempe bongkrek buatan mereka. Dengan bantuan Rasus (Oka Antara), pria yang telah menjadi sahabat Srintil semenjak kecil dan kini memendam perasaan cinta yang mendalam kepadanya, Srintil berhasil terpilih sebagai seorang ronggeng. Dan layaknya seorang ronggeng, Srintil memulai masa tugasnya untuk ‘melayani’ masyarakat. Rasus yang tidak rela berbagi cinta dan kasih Srintil memilih untuk menyingkir dari Dukuh Paruk. Namun, sebuah elegi zaman – dan tragedi pahit – akan kembali mempertemukan mereka dan memberikan kisah akhir pada perjalanan cinta antara keduanya.

Ada banyak hal yang coba disarikan Salman Aristo, Ifa Isfansyah dan Shanty Harmayn dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Namun, konflik cinta segitiga antara karakter Srintil, Rasus serta kecintaan dan pengorbanan Srintil pada dunia ronggeng jelas merupakan sebuah fokus sekaligus kekuatan utama mengapa Sang Penari dapat tampil begitu memikat di setiap perjalanan kisahnya. Layaknya kisah-kisah cinta klasik yang mampu menyentuh setiap penontonnya, Salman, Ifa dan Shanty mampu membangun karakterisasi yang kuat bagi karakter Srintil dan Rasus. Keduanya tampil dengan rasa cinta yang kuat antara satu dengan yang lain. Namun, rasa cinta tersebut kemudian tertutupi dengan ego mereka atas kecintaan mereka terhadap sisi kehidupan lain mereka. Pertentangan inilah yang membuat kisah cinta antara Srintil dan Rasus tidak pernah mampu menyatu dengan baik dan Ifa Isfansyah berhasil membangunnya dengan sangat cermat sehingga mampu membentuk sisi emosional yang kuat dari penonton.

Tak hanya menyuguhi kisah cinta, Sang Penari juga mampu memberikan deretan kisah pendukung yang kuat kepada para penontonnya. Mulai dari bagaimana cara pandang tradisional mengenai kehidupan para ronggeng, merasuknya kehidupan (serta cara pandang) modern secara perlahan kepada kehidupan warga desa Dukuh Paruk, sebuah twist atas tragedi kelam yang pernah menimpa bangsa Indonesia yang kemudian secara cerdas dijadikan benang merah kepada kehidupan para masyarakat Dukuh Paruk. Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk memang adalah salah satu karya sastra penting dalam catatan literatur Indonesia yang mampu mengolah begitu banyak faham, ideologi dan pemikiran di balik kisah cinta yang menjadi menu utamanya. Tidak mengherankan memang, jika ketika berada di tangan yang tepat, Ronggeng Dukuh Paruk mampu diterjemahkan menjadi sebuah film yang benar-benar mampu tampil kuat. Dan Sang Penari, tanpa diragukan lagi, adalah wujud dari terjemahan kuat tersebut.

Selain mendapat sokongan jalan cerita yang cerdas dan kuat, tata produksi Sang Penari merupakan tata produksi kelas atas yang sangat jarang untuk ditemui di film-film Indonesia belakangan ini. Pemerhatian terhadap detil yang mendukung kekuatan cerita di film ini tampil begitu kuat. Mulai dari tata busana, tata rias hingga dekorasi tata visual yang menjadi latar belakang cerita dihadirkan dengan begitu jeli dan seksama. Tata sinematografi yang diberikan Yadi Sugandi dalam Sang Penari juga benar-benar menghipnotis! Tidak hanya indah, namun mampu berbicara secara emosional. Lihat adegan akhir film ini dimana Yadi menyediakan sebuah gambar dengan lanskap luas atas kepergian karakter Srintil dan Sakum. Sebuah pilihan gambar yang membuat ending film ini terasa begitu pedih dan menyesakkan terlepas dari senyum yang dihadirkan dua karakter yang berada dalam tatanan gambar tersebut. Duo Aksan Sjuman dan Titi Sjuman juga berhasil kembali memberikan dukungan musik yang mampu menghidupkan nuansa setiap adegan dalam film Sang Penari.

Tatanan naskah cerita dan produksi yang demikian kuat kemudian berhasil mendapatkan perwujudan akting yang begitu sempurna dari para pengisi departemen akting film ini. Prisia Nasution dan Oka Antara berhasil memberikan penampilan yang benar-benar mampu tampil hidup untuk kemudian merasuk ke benak setiap penonton Sang Penari. Lihat saja tatapan dan liukan tubuh Prisia ketika karanter Srintil sedang beraksi sebagai seorang ronggeng. Pria mampu melakukannya dengan sempurna! Kemampuan dramatisasi Prisia juga begitu kuat ketika menampilkan karakter Srintil dalam kesehariannya. Penuh kelemahlembutan namun begitu tegar dan sukar untuk dijatuhkan. Begitu pula dengan Oka Antara yang berhasil menghantarkan transformasi kepribadian karakter Rasus dengan baik. Di balik segala keluguan yang diwujudkan Oka untuk karakter Rasus, karakter tersebut sama sekali tidak pernah terlihat lemah maupun palsu. Begitu pula ketika karakter Rasus menjelma menjadi sesosok karakter yang lebih tangguh. Oka Antara berhasil menjadikan transformasi tersebut dengan begitu meyakinkan. Chemistry yang tercipta antara keduanya juga begitu kuat sehingga membuat hubungan cinta antara karakter Srintil dan Rasus begitu memikat sekaligus mampu menyentuh hati dan perasaan setiap orang yang menyaksikan kisah cinta tersebut.

Penampilan apik Prisia Nasution dan Oka Antara juga didukung oleh penampilan kuat para jajaran pemeran pendukung Sang Penari. Para jajaran pemeran pendukung yang diisi dengan nama-nama aktor dan aktris senior seperti Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Tio Pakusadewo hingga Lukman Sardi dan Hendro Djarot mampu mendapatkan pengarahan yang sangat baik dari Ifa Isfansyah yang kemudian berhasil mengeluarkan kemampuan akting terbaik setiap pemeran film ini. Jika terdapat sedikit titik lemah, hal tersebut terdapat pada karakter Bakar yang diperankan oleh Lukman Sardi. Bukan karena Lukman Sardi gagal dalam menghidupkan karakter yang ia perankan. Namun imej seorang Lukman Sardi terkesan terlalu bersih untuk dapat memerankan karakter Bakar yang memiliki agenda tersembunyi dalam setiap kegiatannya. Hasilnya, walau ditampilkan dengan sangat baik, sedikit sulit untuk mempercayai Lukman Sardi dalam peran yang sedikit berbeda dari peran-peran yang perbah ia tampilkan sebelumnya.

Sang Penari bukannya hadir tanpa cela — beberapa bagian cerita kurang mampu tergali lebih dalam dan beberapa karakter pendukung juga kurang mampu untuk ditampilkan secara lebih luas. Walaupun begitu, apa yang dicapai Ifa Isfansyah lewat Sang Penari adalah sebuah pencapaian yang sangat fenomenal. Naskah yang diadaptasi Ifa bersama Salman Aristo dan Shanty Harmayn mampu menangkap seluruh esensi emosional yang terkandung dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ifa juga kemudian didukung oleh tim produksi yang solid. Gambar-gambar yang indah karya Yadi Sugandi menyatu dengan sempurna dengan tata musik arahan Aksan Sjuman dan Titi Sjuman serta diperkuat lagi oleh editing yang dilakukan oleh Cesa David Luckmansyah. Di bagian depan kamera, Prisia Nasution dan Oka Antara berhasil memberikan penampilan terbaik yang dapat penonton peroleh dari aktor dan aktris Indonesia sepanjang tahun ini. Untuk mengatakan Sang Penari adalah sebuah karya terbaik tahun ini akan terdengar seperti sebuah perendahan kualitas yang dicapai film ini. Sang Penari adalah salah satu film terbaik yang pernah muncul dalam sejarah panjang industri film Indonesia dan hanya datang sekali dalam beberapa tahun. Sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan!

Sang Penari (KG Productions/Salto Films, 2011)

Sang Penari (2011)

Directed by Ifa Isfansyah Produced by Shanty Harmayn Written by Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn (screenplay), Ahmad Tohari (novel, Ronggeng Dukuh Paruk) Starring Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Happy Salma, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi, Hendro Djarot, Yayu Unru, Arswendi Nasution, Zainal Abidin Domba, Ni Made Aurel, Aji Santosa Music by Aksan Sjuman, Titi Sjuman Cinematography Yadi Sugandi Editing by Cesa David Luckmansyah Studio KG Productions/Salto Films Running time 109 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. ombolot says:

    Itu endingnya emang megang banget, sampe nyesek yg nonton …

    Gak bakal rugi kalo pengen nonton lagi

  2. Rasyidharry says:

    Sebagai orang yang tumbuh dengan bahasa ngapak salut dan kagum banget sama Oka Antara yang bener” luwes haha

  3. Agung says:

    akhirnya ada juga review nya setelah film nya tayang hampir sebulan….

    • Amir Syarif Siregar says:

      Ha! Maaf sedikit terlambat. Medan baru mendapatkan giliran edar ‘Sang Penari’ pada tanggal 1 Desember 2011 yang lalu.

  4. Aku baca trilogi ronggeng dukuh paruk sekitar 14 taun lalu. Sangat terkesan dengan cara Ahmad Tohari menceritakan desa dengan suasana yang begitu detil. Tapi aku tidak keberatan dengan tafsir Ifa atas novel tersebut. Anggap saja masing-masing bercerita dengan caranya. Film yang bagus!

    *mas amir, blognya tak pasang di halamanku yo…*

    • Amir Syarif Siregar says:

      Salman Aristo, Ifa Isfansyah dan Shanty Harmayn dalam keterangannya telah menyebutkan kalau novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ dijadikan inspirasi bagi ‘Sang Penari’. Jadi bukan dijadikan semacam adaptasi langsung. Dan hal tersebut telah diaminkan oleh Ahmad Tohari yang mengizinkan ketiga penulis naskah tersebut untuk mengambil sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang yang ia gunakan dalam novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk.’

      Siap! Nanti blog-nya akan saya tambahkan yah. Salam kenal!

  5. Rahmat fajar says:

    Wah pantesan lama betul saya tunggu2 review bang arif untuk sang penari he2. Diluar pencapaian sempurnanya, sayang sekali film sekelas ini meski sudah sebulan lebih tayang,baru ditonton kurang dari 100.000. Bandingkan dgn poconggg yg dah menyedot 300.000 penonton (data dari filmindonesia.or.id) saya jadi prihatin.padahal penonton mengutuk film murahan, tp pas diksh yg bgs,dilirik pun tidak.miris.

    • Amir Syarif Siregar says:

      Perlahan-lahan, Mas Fajar. Kita gak mungkin mengharapkan mayoritas penonton yang biasanya membuat film-film berkualitas dipertanyakan sebagai film terlaris di Indonesia tiba-tiba saja bisa tersentuh dan berpaling ke film-film sekelas ‘Sang Penari.’ Teman-teman saya saja yang saya rekomendasikan untuk menonton film ini mengaku kalau filmnya bagus… tapi merasa tidak terhubung dengan beberapa bagian cerita. Yahhh… untungnya walau pencapaiannya cuma 100 ribu penonton, tapi masa tayangnya cukup lama. Khususnya di daerah Jakarta dan sekitarnya yah.

  6. Endingnya nyesek banget… Beginilah nasib perfilman Indonesia yang berkualitas, selalu berakhir tragis dengan penontonnya. *maksudnya, penontonnya terlalu minim*
    Di Batam cuma bertahan beberapa minggu saja film ini. -_______-”
    Dan yang paling ironisnya, gue cuma nonton berdua aja bersama teman didalam bioskop selama pertunjukan berlangsung. Hiks…

    • Hary says:

      nah kalau di Batam masih beberapa minggu, di Balikpapan hanya 5 hari, kalah ama Shark Night 3D yang udah hampir dua minggu…pas gw nonton juga cuman 6 orang sama gw, tidak ada satupun anak muda, miris

  7. zee_zou says:

    thanks Bang..
    tunai sudah janjimu mereview Jeng Srintil..

  8. herijanto says:

    SANG PENARI MASIH MENARI-NARI DI KEPALA SAYA. BRAVO!!!!

  9. ardnas20 says:

    kenapa kita selalu sama?
    tahun lalu sama-sama memberikan perfect score buat Minggu Pagi di Victoria Park, dan tahun ini untuk Sang Penari. huehehhehee

  10. Adi Putra says:

    sekedar info aja.. di Pontianak malah belum tayang.. ato mungkin gak ditayangkan di sini ya..

  11. @gunawantrian says:

    Wow….! Perfect score niih….
    Ending terbaik… Sangat menyesakkan…
    Love scene terindah & paling berani… Wohooo!
    Oka logat-nya perfect.. Prisia sedikit kaku di pengucapan..
    Selebihnya….beyond expectation.. ;)

  12. Ijul says:

    memang fantastis….
    sayang, di Jakarta sendiri, film ini hanya “beredar” di beberapa bioskop yang…duhh, bukan langganan penonton. Bioskop “mentereng” tidak ada yang memutar film ini, even Planet Hollywood yang biasanya rutin nayangin film apa saja, ckckck, saya malah kemarin kepikiran apakah film ini kurang dana atau “disabotase”…ups! yg terakhir gak ngawur….#maafkan

  13. Judika B.M. says:

    sayangnya di medan pun film ini cuma bertahan seminggu. Gilaa, mirip seperti ‘?’ cuma 2 minggu.

  14. supri says:

    Aq suks film indonesia,palg yang menang ffi,pasti berkualitas.Aq belum nonton, tp dah seneng baca sinopsisnya. soalnya di korea ngga putar film indonesia.. he he.. jd nnt tunggu download gratis aja… bravo.. buat perfilman indonesia.

  15. [...] “Untuk mengatakan Sang Penari adalah sebuah karya terbaik tahun ini akan terdengar seperti sebuah perendahan kualitas yang dicapai film ini. Sang Penari adalah salah satu film terbaik yang pernah muncul dalam sejarah panjang industri film Indonesia dan hanya datang sekali dalam beberapa tahun. Sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan!” ~ Amira At The Movies [...]

  16. gurubahasa says:

    Ada lo bagian yang ga detail….kalau lebih jeli kita lihat saja penulisan papan “kesenian dukuh paruk” serta beberapa papan lainnya sempat hadir DAN “DITULIS” dalam beberapa bentuk EJAAN.. ada yang EJAAN soewandi (ejaan republik) .. lalu ada “Ejaan van Ophuijsen”..keduanya muncul secara tidak singkron “oentoek rakjat”.. lalu berikutnya “kesenian dukuh paruk”

    tapi overall film ini layak disebut film bagus..

  17. Melky says:

    Misalnya dibuat survey di sluruh Indonesia, mka sy sgt yakin jika film sejenis ini termasuk film yg tdk disukai.
    Susah masyarakat umum suka dgn cerita sperti ini.

  18. Abdul Qadir says:

    pangen sekali menonton Sang Penari, sayang DVD nya masih blum ada

  19. arik says:

    aku inget pas nonton film ini cuma ada 3 orang di bioskop :v

    Miris ya , dikasih film bagus ; g dilirik , udah ga dilirik , minta yang bagus lagi , ga dilirik lagi

    y gitu deh nasib film indo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s