Di tahun 2003, Nia Dinata berhasil memberikan sebuah asupan tontonan yang sama sekali belum pernah dirasakan para pecinta film Indonesia sebelumnya. Lewat Arisan!, Nia, yang menulis naskah film tersebut bersama Joko Anwar, memberikan sebuah satir jujur mengenai kehidupan kaum kosmopolitan di Indonesia (baca: Jakarta), tentang bagaimana pergaulan mereka, orang-orang di sekitar mereka hingga hitam putih kehidupan yang menyeruak dalam keseharian mereka. Arisan! juga menjadi film pertama yang mendapatkan rekognisi nasional dalam mengangkat kehidupan kaum homoseksual – yang di kala itu jelas merupakan sebuah terobosan yang sangat berani. Hasilnya, Arisan! sukses menjadi sebuah kultur pop dalam dunia hiburan Indonesia, meroketkan nama Tora Sudiro dan berhasil memenangkan kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2004.

Cukup sulit jika kemudian membayangkan Arisan! yang fenomenal tersebut kemudian diberikan lanjutan kisahnya. Delapan tahun setelah Arisan! dirilis, rasanya semua hal yang dibeberkan Nia Dinata di film tersebut telah menjadi konsumsi masyarakat umum lewat media massa yang semakin mampu menyentuh kehidupan masyarakat yang terpencil sekalipun. Lalu… mengapa Nia Dinata ‘nekat’ untuk menyajikan Arisan  ! 2? Jawabannya sederhana. Melalui alur cerita Arisan! 2, yang kali ini ditulis sendiri oleh Nia, Nia ingin mempersatukan kembali lima karakter sahabat yang sebelumnya telah disajikannya di Arisan! dan memberitahukan pada penonton mengenai kelanjutan kehidupan mereka. Perubahan jelas telah terjadi pada beberapa karakter. Namun, kali ini Nia tidak sekedar membedah karakter-karakternya secara kasat mata. Nia juga mencoba untuk mengeksplorasi kedalaman perjalanan spiritual mereka.

Dalam Arisan! 2, pasangan homoseksual, Sakti (Tora Sudiro) dan Nino (Surya Saputra), sudah lagi tidak memadu kasih. Keduanya juga telah menemukan cinta yang baru dalam kehidupan mereka, walaupun Sakti masih tetap memendam sebuah perasaan sayang terhadap Nino. Lita (Rachel Maryam) masih saja berlogat Batak dalam kesehariannya. Namun, ia telah menjelma menjadi satu sosok pengacara yang kini berniat untuk menjadi salah satu anggota parlemen. Oh, Lita juga kini telah menjadi seorang ibu tunggal dari Talu (Keiko Marwan) dan merahasiakan siapa ayah dari anak yang ia miliki dari siapapun. Andien (Aida Nurmala) telah menjadi janda setelah suaminya meninggal dunia. Walau begitu, Andien mampu untuk tetap tegar dan hidup menyendiri – walaupun malam-malamnya sering diwarnai banyak pria yang berbeda.

Ketika film ini dimulai, Meimei (Cut Mini) sedang berada di sebuah pulau terpencil bersama Talu. Meimei memang semenjak lama telah menjadi ibu angkat bagi Talu karena ia menilai Lita sama sekali tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang ibu. Di pulau tersebut, Meimei berkenalan dengan Tom (Edward Gunawan), dokter tampan yang merawat Meimei baik melalui obat-obatan yang ia ramu sendiri maupun melalui tenaga spiritual yang ia salurkan. Sakti, Nino, Lita dan Andien sendiri mengira kepergian Meimei ke pulau terpencil tersebut – yang telah berlangsung hampir selama dua bulan – adalah untuk kepentingan liburan belaka. Namun, Meimei ternyata menyimpan sebuah rahasia yang ia sembunyikan begitu dalam bahkan  dari keempat sahabat akrabnya.

Tidak seperti Arisan!, Arisan! 2 tidak hanya membicarakan mengenai persahabatan antara kelima karakter utamanya dan hal-hal pribadi yang terjadi diantara mereka. Arisan! 2 membicarakan banyak hal! Mulai dari masalah persahabatan, cinta – baik itu masalah cinta antara lelaki dan perempuan maupun cinta antara pasangan homoseksual, pergaulan kaum sosialita di Jakarta, pandangan sempit beberapa kaum dalam melihat suatu masalah hingga perjalanan spiritual. Begitu banyak sehingga Arisan! 2 seringkali tampil dengan penggambaran banyak hal yang sebenarnya tidak diperlukan – yang akhirnya membuat durasi film ini melebar hingga 120 menit.

Terlalu banyaknya subyek yang ingin dibahas membuat Arisan! 2 sulit untuk dihubungi secara emosional. Padahal, jika ingin menilik secara lebih dekat, beberapa esensi film ini sebenarnya membutuhkan sebuah hubungan emosional yang sangat erat antara jalan cerita yang disajikan dengan penonton yang menyaksikan agar mampu menghasilkan sebuah chemistry yang lebih baik. Contohnya jelas adalah kisah hubungan persahabatan antara kelima karakter utama serta perjalanan spiritual yang dialami oleh karakter Meimei. Karena tumpang tindihnya begitu banyak kisah-kisah pendukung, perjalanan spiritual karakter Meimei tidak pernah berhasil menyentuh pada level bahwa setiap penonton mampu merasakan apa yang ia rasakan. Penonton tahu alasan ia melakukan perjalanan spiritual tersebut, namun penonton gagal untuk turut mengikuti Meimei dalam perjalanan spiritualnya.

Kisah romansa bukanlah sebuah bagian utama lagi dalam Arisan! 2. Penonton masih disajikan intrik cinta antara Nino, Sakti dan kedua pasangan mereka. Namun bagian tersebut tidak pernah disajikan secara mendalam. Nia Dinata lebih tertarik untuk membuat Arisan! 2 sebagai sentilan sekaligus pembuka mata bagi banyak orang dalam memandang kehidupan kota Jakarta. Dihadirkan secara komikal dan menghibur, penggambaran Nia Dinata mengenai kehidupan sosialita Jakarta memang begitu satir. Seandainya jika Arisan! 2 dihadirkan beberapa tahun sebelumnya, mungkin film ini akan sama groundbreaking­-nya dengan film prekuelnya. Namun tetap saja, cara penggambaran Nia Dinata akan karakter-karakternya di film ini mampu tampil begitu hidup dan mengesankan.

Dari departemen akting, kelima karakter utama tidak memiliki begitu banyak perubahan berarti. Aida Nurmala, Tora Sudiro, Surya Saputra, Rachel Maryam (walau kadang logat Batak yang ia ucapkan terdengar cukup mengganggu) dan Cut Mini memang telah begitu mampu menghidupkan karakter yang mereka perankan dengan baik. Para pemeran pendukung lainnya juga tampil tidak mengecewakan – walau keberadaan chemistry yang terjalin antara Edward Gunawan dan Cut Mini seringkali sulit untuk dipercaya. Yang menjadi perhatian utama film ini adalah penampilan dari Rio Dewanto dan Sarah Sechan. Rio berhasil menjelma menjadi sosok lelaki yang begitu kemayu. Di Arisan! 2, Anda akan melupakan sosok jantan Rio Dewanto yang Anda kenal dan berkenalan dengan karakter Okta yang begitu lembut… dan narsis. Kerja yang sangat hebat! Sementara Sarah Sechan… seperti biasa. Sarah memang jagonya jika diberikan karakter-karakter yang sinikal. Dalam Arisan! 2, ia lagi-lagi mampu mencuri perhatian dengan kemampuan aktingnya yang menghibur itu.

Jadi… kemana Arisan! 2 akan membawa penontonnya? Kecuali bagian perjalanan spiritual yang dilakukan karakter Meimei, film ini sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru. Dapat dikatakan Arisan! 2 hanyalah sebuah extended version dari berbagai bahasan yang sebelumnya pernah ditampilkan dalam Arisan!. Bukan berarti Arisan! 2 mengecewakan. Nia Dinata, seperti biasa, memiliki bakat yang luar biasa dalam menghadirkan kisah-kisah yang dialami para karakternya. Bakat itu juga berhasil ia tampilkan dalam film ini. Bakat yang membuat Arisan! 2 mampu tampil menghibur sekaligus berfilosofi – walau kadang hampir menyentuh wilayah preachy – kepada para penontonnya.

Arisan! 2 (Kalyana Shira Films/Ezy Productions/MRA Media Broadcasting, 2011)

Arisan! 2 (2011)

Directed by Nia Dinata Produced by Nia Dinata Written by Nia Dinata Starring Aida Nurmala, Cut Mini, Rachel Maryam, Surya Saputra, Tora Sudiro, Adinia Wirasti, Atiqah Hasiholan, Cynthia Lamusu, Edward Gunawan, Isabelle Patrice, Jajang C. Noer, Keiko Marwan, Lily Harahap, Melissa Karim, Pong Hardjatmo, Ria Irawan, Rio Dewanto, Salmaa, Salwaa, Sapto Soetarjo, Sarah Sechan, Wilza Lubis, Amink, Edwan Handoko, Iwet Ramadhan, Renny Sutiyoso, Rinaldy A. Yunardi, Shanty, Shelomita, Stephanie, Titi DJ Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti, Ramondo Gascaro Cinematography Yudi Datau Editing by Lucky Kuswandi Studio Kalyana Shira Films/Ezy Productions/MRA Media Broadcasting Running time 120 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. Judika B.M. says:

    Yaks! Bner! saking banyaknya bagian2 setiap subjek yg pengen dibahas Nia, kesannya jadi kurang menyentuh pemirsa. apalagi mei2, kurang. akhir kisah nino-sakti kayak gmna juga gaktau.. :D

  2. billy says:

    Namanya juga arisan jadi ya bnyk org yg terlibat kayak arisan ibu2 PKk hehe,,

  3. riana says:

    but I love this movie, menghibur :)

  4. Ryan says:

    Judika, porsi mei2 yg plg byk. Sakti n nino berikutnya. Yg kurang tuntas adalah andien. Kalo lita kan emang di arisan 1 hanya peran pendukung, di arisan 2 juga sama. So far the best indonesian movie for me n friends

  5. arfebrina says:

    Buat gw film-nya terasa ‘berkilauan’, dialog2 sindirannya juga ngena… tapi entah kenapa gw merasa filmnya kurang menawarkan sesuatu dalam emosi…
    Tapi, yang juara banget itu aktingnya Rio Dewanto sbg Okta… aissshhh…
    Si Lita juga mampu memberi dialog2 konyol yang bikin ngakak… contohnya: “Kak Andien, mana ada laki-laki dalam rombongan kita…” *melihat Nino, Sakti, dan Okta

  6. arif azman says:

    Sya org Malaysia, sama sekali amat kagum dgn filmnya.. Penuh dgn pengertian hidup…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s